
Setelah beberapa hari Latifah sering mengurung diri dikamarnya ia masih kesal dengan semuanya ia marah dengan kakaknya dan adik yang tak pernah ia akui begitu menyebalkan.
Disebuah pasar...
"Kak,bibi bilang kita harus membeli tepung untuk kue lebaran tahun ini,kakak maukan membawa Asma pergi bersama?" ucap Asma yang memegang lengan Latifah dengan mata penuh berharap.
"Diam kau,aku yang memegang uangnya kenapa jadi kau yang bawel ikuti saja perintahku dan jaga isi dikantungnya jangan sampai jatuh!" ucap Latifah menatap jengkel adiknya yang selama ini selalu membuatnya kesulitan dan merasakan sial.
Asma menundukkan kepala karna ia tidak berani jika kakaknya kembali memarahinya lagi.
Brukkk
"Aduh..." Ringis Asma karna ia ditabrak seseorang sehingga belanjaannya tergeletak ditanah ia hanya bisa merintih karna lututnya mencium jalanan.
"Yaampun Asma kau menyebalkan sekali begitu saja tidak becus,aku baru saja memperingatimu!" ucap Latifah kesal dam ia kembali fokus pada Hp nya.
"Kakak tadi Asma ditabrak seseorang." Asma memungut barangnya yang tergeletak dan seseorang membantunya mungkin dia hampir seusianya,ia seorang anak lelaki hidungnya mancung putih mata bulat namun tak sebulat miliknya bibirnya tipis dengan pipi yang tembam dan rambut pendek yang keren.
"Maaf tadi aku buru-buru." ucap anak lelaki itu mengambil bahan-bahan yang tergeletak dijalanan.
"Ada apa Alfian?" tanya seorang wanita mungkin itu adalah ibunya,dengan khawatir ibu itu menatap keadaan anaknya namun tidak ada luka.
Asma hanya bisa tersenyum getir.
Apa seperti itu disayang oleh ibu kandung?_batin Asma.
ibu itu kembali menatap sebelahnya.
"Tadi Alfian menabrak seseorang ummi." ucapnya sambil menunjuk Asma yang mencoba berdiri.
"Aduh maafkan Alfian ya,sinih ummi bantu bereskan." dengan begitu barang yang jatuh sudah beres kembali sedangkan Latifah sudah pergi meninggalkan Asma yang lamban ia tidak perduli jika adiknya menghilang itu adalah salah adiknya yang ceroboh.
"Kau masih kecil,apa kau sendiri kesini?" tanya ibu itu pada Asma membuat Asma merasa ketakutan karna ia tak menemukan kakaknya yang tadi berada disampingnya.
"Tidak bu,Asma bersama kak Latifah." ucapnya dengan tersenyum manis.
"Kakak yang mana?" Asma yang menyadari kakaknya tidak disampingnya sangat ketakutan.dia mulai menangis ia tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya kali ini.
"Hiks... tadi kak Latifah dipinggir Asma hiks...tidak tau sekarang dimana hiks..." ucap Asma dengan wajah sedih dan anak lelaki itu hanya menatap anak perempuan itu menangis.
"Ummi sepertinya kakaknya meninggalkan dia,sebaiknya kita pergi aku lapar Ummi.." ucap anak lelaki itu tanpa sedih membuat ibunya tersenyum.
"Nak jika ada yang butuh pertolongan kita harus menolongnya.Nak rumahmu dimana?apa kau ingat?" tanya ibu itu berusaha mencari petunjuk.
Asma hanya mengangguk.
"Baiklah,ayo kita antarkan sangat berbahaya jika kau kembali sendirian,sebelum itu ayo ibu traktir makan sepertinya kau belum makan." ucap ibu itu akhirnya mereka pergi ke restoran terdekat.
__ADS_1
"Namamu siapa?" tanya ibu itu.
"Asma Anniar bu." ucap Asma yang masih memakan spagetinya.
"Nama yang indah,ini anak ibu namanya..." Sebelum berkata anaknya merengek.
"Ummi ini pedas Alfian tidak kuat." ucap Alfian sambil mengipas tangannya karna memakan saus cabai.
"Aih,Ummi sudah bilang makannya jangan yang itu!" ucap ibu itu sambil memberikan anaknya minuman.
Asma hanya tertawa pelan membuat anak lelaki itu cemberut.
"Ummi dia mengejekku dia menertawaiku apa aku seperti badut??" tanya anak lelaki itu dengan polos sedangkan ibunya hanya menggeleng.
"Dia tertawa karna kau memakan apa yang tidak seharusnya." Alfian hanya bisa mengangguk saja.
"Ibu,Alfian sepertinya tidak kuat makan pedas ya?" ucap Asma.
"Memang begitu dari dulu,dia lebih suka rasa keju tapi dia selalu ingin menjadi yang kuat padahal dia tidak kuat." ucap ibu itu sambil menyusut sisa saus pada Alfian.
"Apakah Asma bisa berteman dengan Alfian?" tanya Asma.
"Kenapa tidak,lagian Alfian hingga saat ini belum bisa berinteraksi hanya dengan kakaknya saja dia bisa bermain." ucap ibu itu sambil tersenyum gemas dengan wajah Asma yang begitu imut.
"Besar nanti Asma akan menjadi teman selanjutnya karna Asma yakin Alfian tidak akan sendirian terlebih ada ibu yang menyayanginya." ucap Asma.
"Kau menyukaiku kan karna pipiku merah,pingin cubit?boleh kok." ucap Asma tanpa takut.
Alfian tadinya tertunduk dan ia pun berani mencubitnya.
"Pipi nya kenyal kayak squisy kalau aku bisa terus mencubitnya." ucap Alfian sedih membuat Asma terkekeh.
"Untuk saat ini boleh karna saat Asma sudah besar tidak ada yang akan berani melakukannya lagi." ucap Asma polos.
"Kenapa?" tanya Amran bingung.
"Karna tidak sembarang orang boleh menyentuh Asma yang sudah besar itu jadi dosa nantinya." ucap Asma kecil.
Seketika Alfian terus saja mencubitnya saat mereka hendak pulang karna gemas,dan Asma hanya membalas dengan kekehan,ternyata Alfian punya rasa malu yang hanya ada di awal.
akhirnya mereka pulang menuju rumah paman dan bibi Asma,sedari tadi bocah lelaki itu hanya mengikuti dibelakang Asma sesekali dia menatap lekat saat Asma menengok lelaki itu menatap pandangan kearah lain,sang ibu yang mengatahui itu hanya tersenyum melihat bagaimana keduanya berinteraksi sejak di restoran juga mereka melakukan hal sedemikian.
.
.
.
__ADS_1
"Aku pulang" Ucap Latifah dan langsung duduk dikursi.
"Dimana Asma?" tanya Halima
"Dia lagi,dia aku tinggal karna lamban" ucap Latifah dengan santai membuat Halima kaget.
"Apa?!!"teriak Halima yang langsung membuat Malik menghampiri sumber suara.
"Ada apa Halima?" tanya Malik.
"Suamiku,kau tau Latifah meninggalkan Asma sendirian dijalan apakah aku harus pergi sekarang?" ucap Halima dengan khawatir.
"Biar aku saja" ucap Malik dengan cepat membawa kunci motornya.
"Latifah,kau sudah besar apa kau tidak takut terjadi sesuatu dengan Asma?dia masih kecil" ucap Halima dengan nada tinggi
"Aku tau kalian hanya menyayangi Asma tapi setidaknya jangan bebankan anak itu untukku aku tak sudi menganggapnya adik"ucap Latifah dan segera masuk kamarnya.
" Astagfirullah Latifah..kenapa kau begini"Halima lemas karna khawatir keadaan Asma apa lagi diusianya yang membuat Halima sangat takut jika terjadi sesuatu.
.
.
.
.
Malik hendak menyalakan motornya tetapi suara yang jelas terdengar ditelinganya...
"Paman" panggilnya.
Malik segera menengok dan ternyata dia adalah Asma yang dicarinya ia langsung memeluknya.
"Asma keponakanku,kau kemana saja paman sangat khawatir Alhamdulillah kau sudah datang dengan selamat.Halima!!!" teriak Malik
Dengan segera Halima datang.
"Asma" dengan cekatan Halima mencium serta memeluk Asma sambil berjongkok
"Bibi,Asma tidak apa" ucap Asma dengan lembut.
"Halima" panggil ibu yang menolong Asma pulang.
"Maya?" ucapnya bersamaan dengan senyum keduanya.
Bersambung...
__ADS_1