Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
15.Pembagian Kelas


__ADS_3

Keesokan Harinya....


Semua murid saling berdempetan untuk mencari nama mereka yang tertera ada dimana mereka menempati kelas.


"Ran kamu kelas mana nih?" tanya Arfan yang berharap sekelas dengan temannya.


"Ipa 1,kau?" tanya Amran penasaran.


"Ipa 2 bersama Lukman,berarti kau sendiri bagaimana dong kemarin dapat kelompok masih bisa di berikan kesempatan tapi untuk kelas seperti ini akan lebih sulit dan aku tidak yakin bisa pindah kelas apalagi ini tuh pake tes." ucap Arfan kecewa kenapa coba saat tes dia tidak menyontek saja sehingga bisa sekelas dengan Amran.


"Kau ini bagaimana,syukuri saja jelas-jelas kau bisa masuk kesini dengan nilai pas-pasan dan untungnya kau salah satu siswa yang bisa diberikan kesempatan!" ucap Amran.


"Kau mengejekku ya??" ucap Arfan dengan tatapan tajam.


"Tidak,aku hanya berkata sejujurnya agar yang lain tau." ucap Amran.


"Siapa?" tanya Arfan.


"Yang baca cerita ini lah siapa lagi." ucap Amran sambil menepuk jidat.


"Ouh iya aku tidak berfikir begitu,kalau begitu jaga mulutmu jangan sampai aibku ketauan mereka!" ucap Arfan dengan kesal dan langsung diangguki Amran.


Kelas sudah dibagikan sesuai dengan tes mereka masing-masing.Dan setelah mereka semua melihat mading ada yang bersorak bahagia karna sesuai harapan adapun yang bersedih karna tidak sekelas dengan temannya.


"As,kamu kelas apa?" Tanya Najla penasaran ia berharap ia tidak berpisah dengan teman yang sekelompok sewaktu mosh kemarin.


"Aku Ipa 1,kamu?" tanya Asma yang dibalas tatapan kecewa oleh Najla artinya keinginannya tidak terpenuhi.


"Yahh...kita gak sekelas,aku Ipa 2." ucap Najla sedih karna ia berharap bisa selalu bersama dengan teman paling baik menurutnya.


"Gak usah sedih kita berjuang bersama berdoa aja semoga dikelas 11 nanti bisa barengan." ucap Asma menyemangati Najla dan diangguki Najla tanpa adanya senyuman.


"Naj,aku Ipa 2 nih kalo aku liat tadi dimading kita tuh sekelas sama cowok yang pernah sekelompok waktu itu sama Arfan dan Lukman kalo tidak salah." ucap Aqila ditatap senang Najla karna ada teman yang dikenal walau bukan Asma tapi Aqila pun boleh.


"Yaudah aku masuk kelas ya dah..." ucap Najla pada Asma yang hanya sendirian.


"Bismillahirahmanirrahim."ucap Asma.

__ADS_1


.


.


.


Ia memasuki kelas yang sudah banyak muridnya ternyata dia sedikit terlambat,Asma mencari bangku kosong dan ternyata bangku kedua masih kosong tapi sudah ditempati ia menghampiri gadis yang duduk sendiri.


" Assalamualaikum,umm...ini udah ditempatin murid lain gak?"tanya Asma lembut menatap gadis dengan poni itu rambutnya tergurai indah.


"oh..enggak kok,duduk aja lagian emang aku belum punya temen." ucapnya tersenyum dan hanya menatap Asma sekilas.


"Kalau begitu aku temanmu bagaimana?" tanya Asma menjabat tangan dengan senyum manisnya.


"Bolehkah,terimakasih aku akan menerima itu tapi...." ucapnya terhenti kala dia mengingat sesuatu.


"Tapi apa?" Tanya Asma bingung karna menurutnya tidak ada yang salah pada dirinya.


"Aku belum kenal kamu jadi aku takut,makannya sampai sekarang aku biasa menjaga jarak pada siapapun yang belum aku kenal " ucapnya dengan tatapan ragu.


"Aku akan berusaha." ucap Asma dengan tenang.


"Kenapa kamu bisa seyakin itu berteman denganku dan juga membuatku harus percaya padamu??" tanya gadis itu yang tidak faham dengan maksud Asma.


"Ada hadis mengatakan Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya oleh karenanya perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian." ucap Asma ditatap bingung apa yang dimaksud perkataannya.


"Jadi maksudnya jika kau dekat dengan teman yang seperti apa maka kau akan menjadi sepertinya maka dari itu kau harus melihat kebiasaanya bagaimana,aku akan menjadi contohnya kau bisa percaya atau tidak denganku karna berteman itu meningkatkan rasa percaya diri seseorang,jika kau tidak nyaman bersamaku aku tidak memaksamu berteman denganku kok." Ucap Asma lembut.


"Hmm,aku akan mencoba,namaku Marsella Umammah panggil Sela boleh kok."ucap Marsela berjabat tangan dengan nada ragu.


" Ah,namaku Asma Anniar panggil Asma saja."ucap Asma tersenyum karna Marsella mulai mau menjadi temannya.


Tak lama kemudian seorang guru masuk membawa beberapa buku.


"Anak-anak hari ini hari pertama kalian menjadi siswa/i disini jadi mohon patuhi tata tertib disini kalian mengerti?" tanya ibu guru dengan wajah dingin dan hanya memiliki sedikit senyum tipis.


"Ya bu." ucap semua murid yang ada di kelas 10 Ipa 1.

__ADS_1


"sekarang ayo perkenalan agar semua temannya tau!" ucap sang guru dengan nada sedikit lebih kalem berbeda dari yang sebelumnya.


mereka masing-masing mengenalkan diri dan alasan apa sehingga memilih sekolah disana.


.


.


.


"Naj,Asma duduk sama siapa ya?" tanya Aqila yang penasaran karna Asma dikelas itu sendiri tanpa ada mereka berdua.


"Sama manusia lah." Tiba-tiba suara lelaki membuat mereka menengok ke belakang dan terlonjat kaget.


"Hai cantik." ucap Arfan dengan mengangkat kedua halisnya dan tangan yang memberikan gerakan menyapa.


"Kenapa kau duduk disini?" Tanya Aqila mulai kesal pasalnya ia selalu berdoa agar dia tidak sekelas tapi tuhan tidak mengabulkan,jika itu terjadi lebih baik dia menjauh walau dilingkup yang sama,memang sebelumnya ia tau jika Arfan akan sekelas tapi ia fikir bukan Arfan yang ini ia fikir Arfan ada banyak kalau Lukman tidak diragukan lagi.


"Kau seperti tak suka padaku,apa kau tidak melihat jika aku begitu tampan?" tanya Arfan dengan nada percaya dirinya itu.


"Naj apakah lelaki dibelakang tampan tapi yang hanya percaya diri ini saja yang aku maksud " ucap Aqila menatap Najla karna dialah yang asik diajak berbicara.


"Tidak,dia bukan tipeku." ucap Najla membuat Aqila tertawa lepas,bisa-bisanya lelaki dihadapannya percaya diri temannya saja tidak berminat padanya.


"Haha...lihatlah dia pun berkata begitu jadi jangan sombong jadi orang apa kau tidak punya etika?"tanya Aqila mengejek.


" Dan sebenarnya menertawakan seseorang itu sama dengan tak menghargai sesuatu karna itu akan membawa kerugian baginya."ucap seseorang disebelahnya membuat Aqila terdiam malu.


"Hai,apakah kalian tidak merasa kehadiranku?" ucapnya dengan wajah kalem tapi tetap mempesona bagi yang melihatnya.


Aqila langsung menundukkan wajahnya,rasanya ia tidak sanggup jika harus memperlihatkan wajahnya yang sudah merona akibat perkataan yang dilontarkan oleh Lukman.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak dan jangan lupa like coment...


coment lebih membantu menyemangati Author hargailah penulis karna membuat sebuah karya tidaklah mudah fikiran dan cara kerja dilakukan bersamaan sehingga kalian sendiri bisa membayangkan bagaimana membuat cerita itu....terimakasih😊

__ADS_1


__ADS_2