Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
56.Bertemu Kembali(season2)


__ADS_3

Setelah mereka sampai pada tujuan,mereka pun langsung mengetuk pintu.


Tok


Tok


"Assalamualaikum..." ucap mereka bersamaan.


"Waalaikum'salam." ucap sang tuan rumah.


"Eh Kalian,masyaAlloh sudah sampai mari masuk!" pinta Malik dengan raut senang.


Mereka pun berjalan dan memasuki kediaman Malik dan duduk diruang tamu,Asma mengedarkan pandangannya setelah lama ia tinggal di rumah kakakknya di kota C rumah milik pamannya ini tidaklah berubah.


"Paman,dimana Bibi?" tanya Asma.


"Bibimu ada dikamar,kemarin baru saja keluar dari rumah sakit." ucap Malik diangguki Asma dan langsung disusul Aqila yang ingin tau keadaan Halima.


Cklek


"Bibi..." panggil Asma lembut membuat si empunya membuka mata dan terkejut sekaligus senang.


"Asma,keponakan bibi tersayang sini nak!" ucap Halima dengan keadaan yang masih berbaring.


Asma beserta Aqila pun duduk dipinggir ranjang tak luput dari penglihatan Reisa dan Latifah yang juga ingin tau keadaan,mereka berdiri diambang pintu.


"Bibi sakit apa?" tanya Asma yang merasa kasihan dengan keadaan sang bibi yang biasanya belum pernah sampai masuk rumah sakit.


"Hanya demam." ujar Halima sambil tersenyum.


"Hm,bibi harus banyak istirahat biar cepat sembuh." Asma mencium punggung tangan Halima membuat Halima meneteskan air matanya.


"Asma berjanjilah pada bibi." ucap Halima lirih.


"Apapun bi InsyaAlloh Asma akan mengabulkannya." ucap Asma sambil tersenyum.


"Jika suatu saat kau bimbang dalam memilih apapun ikuti kata hatimu jagalah orang yang memang tulus untukmu dan bibi harap kau bisa bijak dan dewasa dalam menggapai sesuatu." ucap Halima dengan sayu.


"Bi...Asma akan ingat itu tapi kenapa bibi mengatakan hal yang bahkan bisa bibi sampaikan kapanpun." ucap Asma.


"Tidak nak,umur tak ada yang bisa tentukan karna Alloh lah yang tau kapan manusia hidup dan mati atas kuasanya kita bisa mendapatkan itu semua." ujar Halima.


"Iya bi,Asma mengerti bibi istirahatlah Asma akan buatkan bibi minuman hangat." ucap Asma.


"Iya." balas Halima.


Tak terasa air mata Asma mengalir dipelupuk matanya melihat keadaan bibi nya yang seakan lemah membuat hatinya sakit,entahlah hatinya berkata terjadi sesuatu yang ia tidak tau.


"Em..kak Hafidz,Asma buatkan teh dulu." ucap Asma.


"Ya,sekalian buat Lukman dan Amran." ucap Hafidz yang tengah mengobrol dengan Lukman dan Amran.


"Iya kak." mengangguk.


Setelah Asma menyiapkan teh tak lupa minuman jahe agar bibinya lebih hangat karna biasanya Asma selalu dibuatkan minuman jahe jika demam.

__ADS_1


"Silahkan kak,man,ran." ucap Asma.


"Ouh ya As,kapan kita jenguk Marsella?" tanya Lukman.


"Sepertinya sore nanti,kalian pulang saja dulu nanti sore kita janjian dan berangkat bersama." ucap Asma diangguki mereka berdua.


"Ouh ya masalah Marsella kakak sudah dengar dia sudah di rumah dengan keadaan sehat alhamdulillah kemarin dia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya." ucap Hafidz.


"Alhamdulillah..." ujar mereka.


"Baiklah kita tetap kesana sekalian silaturahmi." ucap Amran.


"Ide bagus,katanya Ali selalu kerumah Marsella karna dia takut kondisi Marsella memburuk jadi lebih baik kita kesana sekalian bertemu Ali." ucap Lukman.


"Hm,itu bagus juga." tambah Asma.


"Kami pamit ya semoga Bi Halima cepat sembuh,besok kita berangkat bareng saja janjian di rumah Asma?" ujar Lukman.


"Boleh." semuanya mengangguk.


"Kami pamit,Assalamualaikum" ucap Amran dan Lukman.


"Waalaikumsalam." ucap mereka.


"Oh ya Asma aku juga pulang kerumahku ya soalnya udah lama gak ketemu keluarga." ujar Reisa.


"Iya santai aja Rei kamu bisa kesini kapan aja kok." ucap Asma.


"Aku pamit Assalamualaikum." ucap Reisa.


"Boleh yuk!" ucap Reisa.


Esoknya.


"Ayo kita kerumah Marsella." ucap Aqila nampak bersemangat.


"Eh tunggu dulu Reisa kemana?" ucap Asma merasa ada yang kurang dan benar saja Reisa belum datang.


"Kau WA saja nanti dia pasti nyusul,lagian udah mau sore nih besok kita harus masuk kuliah lagi." ujar Aqila.


"Em...."


"Ayolah As..." pinta Aqila.


"Iya As nanti biar Reisa aku jemput aja kita berangkat berempat dulu." ucap Amran.


"Yasudah." pasrah.


Dilain tempat.


Plakkk


"Kamu beraninya melanggar kepercayaan keluarga kita!!" dengan suara lantang.


"Maaf Ayah,Reisa sudah memantapkan diri." ucap Reisa memegang bekas tamparan sang ayah.

__ADS_1


"Pergi kamu,kamu bukan anakku lagi jika berani menampilkan wajahmu dihadapanku jangan harap aku menengok,kau dihapus dari daftar keluarga Cerlos!" ucap ayah Reisa dengan lantang.


Fikri menatap iba sang adik ia memeluknya dengan sayang karna ialah satu-satunya adik yang sangat ia Sayangi.


"Hiks...kakak apakah kakak juga akan membenci Reisa?" dengan nada lirih.


"Tidak,keputusanmu adalah kehendakmu kakak tidak akan memaksa jika kau percaya pada yang mana saja yang penting kau jangan berubah itu saja pesan kakak." ucap Fikri lembut.


"Huhuhu...jika mama tau apakah mama juga akan membenciku diatas sana?" tanya Reisa.


"Tidak akan karna mama menyayangimu,maafkan kakak yang tidak bisa membantumu jika menyangkut dengan ayah." ujar Fikri membelai kepala yang tertutup hijab itu.


"Hm,baiklah Reisa akan pergi kak maafkan Reisa tidak menepati janji untuk selalu disamping kakak." ucap Reisa lirih.


"Kakak juga minta maaf,ini ambilah uangnya kamu bisa pakai untuk keperluan jika sewaktu-waktu memerlukan." menyodorkan uang dengan berat hati Reisa mengambilnya dan memeluk Fikri.


"Uang ini akan Reisa simpan sebagai bukti kasih sayang kakak." ucap Reisa.


"Pergilah,kakak selalu berdoa semua tuhan memberikan yang terbaik untukmu." tersenyum.


"Hm,Assalamualaikum." ucap Reisa melenggang pergi sedangkan Fikri menatap sendu kepergian adiknya.


Kamu berubah dik_batin Fikri.


Fikri nampak pusing dan ingin menjernihkan fikirannya dan berakhirlah ia akan pergi ke mini market saja berbelanja sesuatu yang dingin.


Ia segera melesat dengan menggunakan mobilnya.


Saat mobilnya melesat dengan keadaan stabil tiba-tiba anak kecil berjalan didepannya membuat dia spontan menginjak rem.


Citttt


Brakkk


"Kamu tidak apa dik?" menatap dengan khawatir.


"Tidak apa paman maaf karna sudah berjalan kesini." ujar anak itu,tak bisa dipungkiri rasa senang dengan keadaan baik-baik saja pada anak lelaki itu,hatinya tergerak untuk memeluk.


Hap


"Namamu siapa dik?" tanya Fikri.


"Zulkarnain,aduh kamu itu bandel Ummi udah bilang jangan lari jauh-jauh!" ucap Latifah.


Deg


"Suara itu..." ucap Fikri ia menengok dan mereka sama-sama terkejut sedangkan Zulkarnain berlari dan memeluk kaki Latifah.


"Maafkan Zulkarnain Ummi,nanti gak akan bandel lagi." ucap Zulkarnain dengan raut wajah bersalah.


"Latifah..." ujar Fikri dan pandangannya menatap kearah bocah lelaki yang bersembunyi dibelakang Latifah.


"Apa anak lelaki itu adalah...." Sebelum Fikri mengatakan kelanjutannya Latifah menghentikannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2