Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
49.Pacaran atau Ta'aruf yang lebih baik(season 2)


__ADS_3

Mereka kini memasuki kelas tapi Reisa beda kelas karna ia masuk fakultas kedokteran.


"As,apa kamu gak penasaran dosen kita yang baru?" tanya Aqila sambil berbisik.


"Dosen?" tanya Asma terkejut pasalnya ia hanya mendengar dan ia fikir itu Hoax tapi ternyata realita.


"Iya,dia masuk mulai hari ini mengajar dibidang ilmu fiqih dan eumm sepertinya dia pria karna banyak para mahasiswa berbincang mengatakan dia tampan,tapi entahlah." ucap Aqila acuh.


"Eh la." panggil Asma langsung dibalas menatap.


"Kau tidak tau ya?" kini Aqila yang menjadi bingung.


"Apa?" tanya Aqila penasaran.


"Nanti Lukman akan pindah sekolah kesini jurusan yang sama kayak kita katanya dia akan tinggal di kontrakan biasa dan aku dapat informasi dari paman Malik,karna ayahnya kenalanan paman yang suka ke masjid." ucapan Asma membuat pipi Aqila merona.


"Apa kau masih menyukai Lukman?" menebak.


"Bagaimana tidak lelaki sepertinya idaman para kaum hawa aku sendiri kini lebih suka memakai pakaian syar'i karna melihatmu maka dari itu jika aku berusaha menjadi sholehah maka suamiku harus taat pada agama." ucap Aqila.


"Ingat juga sholehah tidak dilihat dari busana yang kita pakai tapi akhlak dan juga hati kita yang dinilai karna kesempurnaan wanita bukan dilihat dari cara berhiasnya tapi dari hatinya manakala dia harus menghadapi segala ujian didunia ini." kini Aqila mendapat ilmu baru dan dia harus mengamalkan itu.


"Suatu saat jika aku memiliki anak akan kubawa padamu dan memintamu mengurusnya agar dia bisa menjadi sepertimu."ucap Aqila.


" Haha kau lucu sekali memangnya aku itu tempat penitipan anak apa memang berani bayar berapa?"ucap Asma membuat Aqila terkekeh.


"Diskon 5% sehari dapat 5 ribu mau?" tawar Aqila.


"Lebih baik kau titipkan pada pondok pesantren aku tidak minat." Asma kembali membuka buku.


"Aku hanya bercanda kok,tapi jika kau minta calling saja." bisik Aqila membuat Asma menggelengkan kepala.


Pelajaran terus dimulai dan tiba pergantian dosen semua nampak terkejut dengan kehadiran dosen barunya mereka menengok kebelakang sedangkan Asma sibuk dengan membaca bukunya.


"A...as." ucap Latifah sambil menepuk bahu Asma dengan gagap.


"Hmm??" Asma yang masih fokus tidak menoleh.


"As!!" kini tanpa sadar Aqila teriak karna geram.


"Ya apa la?" tanya Asma menatap Aqila yang berwajah kaget.


"I...itu.." menunjuk kedepan.

__ADS_1


"Selamat siang para mahasiswa yang baik saya disini akan menjadi dosen kalian menggantikan pak Iftar yang sudah mengundurkan diri karna suatu alasan disini saya adalah dosen ilmu fiqih dan panggil nama saya Fatir dan nama lengkap saya Fatir Al Gufran." ucapnya sambil tersenyum tetapi matanya tidak pernah hilang dari pandangannya kearah Asma yang terdiam.


Deg


"Kok bisa ya kak Fatir kebetulan sekali mengajar disini?" mengetuk dagu.


"Apa mungkin kak Fatir sengaja,apa kamu lupa As dulu kak Fatir itu menyukaimu dia kan yang selalu mengirim surat apa kau lupa?"


"As..Asma!" suara pekikan itu membuat Asma menoleh.


"Y-ya a-apa?" dengan terbata-bata.


"Kamu mikirin apa si As aneh deh dari tadi gak ngedengerin mulu!" dengan cemberut.


"Maaf kan aku gak lagi fokus." tertawa renyah.


"Terus fokus kamu kemana,ke kak Fatirkan jangan bilang kamu suka sama kak Fatir,ingat ya As aku tuh cuman kasih restu kamu sama Amran gak sama yang lain!" dengan wajah bete.


"Apa sih la kok jadi ngelantur?" menatap aneh pada Aqila.


"Gak ada alasan apapun jika sutu saat kamu harus memilih aku saranin pilih Amran walaupun perjuangan kak Fatir lebih besar dari Amran!" pinta Aqila.


"Ih kamu itu ngaco deh lagian kak Fatir udah aku anggap kakak dan aku menghormatinya sebagai kakak." ucap Asma.


"Bagus dan lebih baik hormati sebagai kakak ipar!" ucap Aqila seperti memerintah.


"Huft memang sabar itu penuh ujian." menghela nafas dan mengikuti apa yang Asma lakukan.


Terimakasih Ya Alloh berkatmu aku dipertemukan lagi degan gadis pujaan hatiku_batin Fatir sambil terssenyum lega.


Kini bel istirahat berbunyi.


"As kamu mau makan apa?" tanya Aqila.


"Aku makannya nanti saja la,sekarang aku jemput dulu Zulkarnain karna dia udah jam nya bubar sekolah." ujar Asma diangguki Aqila.


"Yasudah hati-hati." Aqila sudah tau itu jika dia menyarankan untuk mengantar Asma selalu menolak takut merepotkan jadi Aqila nampak sudah biasa.


"Oke makasih,Assalamulaikum." ucap Asma melenggang pergi.


Aqila kini duduk dipojokan tempat ia biasa makan sesekali menatap kearah luar yang memperlihatkan Asma yang sudah menaiki angkutan umum.


"Dia itu tidak pernah berubah." tersenyum.

__ADS_1


"Permisi,apa boleh gabung?" perkataan itu membuat Aqila kaget.


"Eh pak." menunduk sopan.


"Gak usah panggil pak,kak saja seperti di SMA dulu!" Aqila hanya mengangguk saja ia sesekali memasukan kentang goreng ke mulutnya.


"Ouh ya kenapa sendiri saja?" tanya Fatir menatap kanan kiri.


"Kan masih jomblo kak." tersenyum paksa.


"Ouh maksud kakak kenapa gak sama Asma?" tanya Fatir.


"Kakak nyariin Asma,apa mau makan dikantin?" tanya Aqila penuh selidik.


"Ah itu,sebenarnya dua-duanya." ucap Fatir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Serakah sekali_batin Aqila.


"Ouh gitu ya kak,maaf tapi Asma pulang dulu ada urusan." ucap Aqila sedikit acuh.


"Urusan,memang urusan apa?"tanya Fatir sedikit canggung karna sikap Aqila yang ia lihat seperti acuh tak acuh.


"Mana saya tau kak,lagian urusan orangkan privat." ucap Aqila kembali memasukan kentang gorengnya.


"Apa kamu tidak suka pada saya?" menatap ekspresi Aqila yang sedikit dingin.


"Jelas kak karna saya sudah punya orang yang saya sukai." meminum air putih yang dibotol.


"Ah maksud saya bukan suka yang sedemikian tapi suka kehadiran saya?" ucap Fatir memperjelas.


"Ya begitu kak,jika saya tidak suka maka tentu saya akan mengusir kakak sekarang juga." ucap Aqila dan langsung dimengerti Fatir.


"Hm,berapa lama Asma akan kembali lagi?" tanya Fatir.


"Mungkin setengah jam saja juga udah balik, lagian dia gak akan pernah ngebuang waktunya buat hal yang gak berdampak positif misalkan dekat dengan lelaki ataupun juga hal semacam pacaran dia lebih suka Al-qur'an dan mukena." ucap Aqila sekenannya.


"Hm,kalau begitu saya permisi." Fatir melenggang pergi.


"Tuhkan memang beda,kalau Arfan pamit pasti ngucapin salam sama kayak Asma mereka jodoh dan untuk kak Fatir sepertinya ada yang lebih cocok lagi tapi bukan Asma." batin Aqila.


Disepanjang jalan Fatir mengingat kata-kata Aqila.


"Mungkin setengah jam saja juga udah balik, lagian dia gak akan pernah ngebuang waktunya buat hal yang gak berdampak positif misalkan dekat dengan lelaki ataupun juga hal semacam pacaran dia lebih suka Al-qur'an dan mukena." ucap Aqila sekenannya.

__ADS_1


"Sepertinya jika aku berpacaran dengan Asma tidak akan mungkin dia mau karna Aqila sendiir berkata Al-quran dan mukena itu lebih disukainya apa mungkin ta'aruf lebih baik?" batin Fatir yang masih bergelut dengan hati dan fikirannya.


Bersambung...


__ADS_2