
"Mari masuk!" ucap Halima dengan tenang dan diangguki tamunya itu.
"Terimakasih." ucap Maya dengan sangat sopan.
Di Ruang tamu...
"Aku ingin bertanya benarkah tadi Asma pergi bersama kakaknya aku khawatir dia sendirian." ucap Maya.
"Akh itu benar tadi aku sudah memperingati kakaknya untuk lebih menjaganya karna akupun khawatir usia Asma masih terbilang labil dan kadang bisa saja dibujuk orang jahat." ucap Halimah dengan tatapan khawatir.
"Aku hanya ingatkan lebih baik kau yang menjaganya bisa saja kakaknya akan melakukan hal itu lagi." ucap Maya diangguki Halima faham.
"Entahlah kenapa kakaknya begitu tidak menyukainya." ucap Halima dengan wajah sendu.
"Sudahlah jangan difikirkan lagi kuharap setelah dewasa dia bisa berfikir positif untuk adiknya itu." ucap Maya.
"Amiin terimakasih atas doanya." ujar Halima.
"Tenang saja." ucap Maya dengan santai.
"Hmm"
"Aku tidak menyangka dapat bertemu denganmu lagi setelah kita menikah kita jarang bertemu." ucap Maya yang sangat senang ternyata Alloh mengabulkan doanya lewat perantara menemukan Asma.
"Ya,kesibukan kita membuat kita sudah lupa kontak sahabat lama,maaf jika aku baru bisa menemuimu sekarang." ucap Halima lembut karna ia pun sangat merindukan teman sekolahnya tapi karna ia sadar sudah berkeluarga maka keluarganyalah yang paling utama.
"Tidak apa aku sendiri juga begitu, ini sebuah kebetulan berkat Asma kita dipertemukan,Oh ya dia kah anakmu?" tanya Maya yang sangat berharap dimasa depan Asma bisa menjadi menantunya karna dia begitun menggemaskan dan sangat bisa membawa aura positif.
__ADS_1
"Bukan dia anak dari kakak iparku, mereka telah meninggal setelah kelahirannya,kakak ipar perempuanku meninggal saat melahirkannya dan kakak ipar lelaki mengalami kecelakaan.mereka meninggalkan 3 anak yang hingga kini aku mengurusnya bersama suamiku dengan menganggap mereka putra,putri kami." ucap Halima menatap Asma yang sedang bermain dengan putra Maya.
"Sangat menyedihkan sudah ditinggal Ayah ibu semasa kecil,tapi sungguh mulia dirimu membesarkannya dan aku sangat merasa senang dengan ketabahan mereka yang dengan ketabahan menjalani hidup menuju kehidupan bahagia." ucap Maya yang merasa diingatkan pada saat ayahnya meninggal dan ibunya yang harus menghidupinya.
"Ya,lagi pula aku sudah didiagnosa tidak bisa memiliki keturunan tidak apa yang penting mereka menjadi cahayaku.menyayangi serta menjaga anak yatim piatu adalah sebuah anugrah terindah yang aku dan suamiku miliki." ucapan Halima membuatnya meneteskan mata.
"Apa perkataanku membuatmu sedih Halima?" tanya Maya gelisa karna ia takut membuat temannya membuka luka lama.
"Tidak,aku hanya teringat ketika mereka kesusahan saat suamiku bangkrut tetapi mereka tidak pernah sekalipun mengeluh hingga saat ini usaha kami telah bangkit kembali dan kami sangat bahagia melihat mereka tumbuh dengan semestinya." ucap Halima dengan senang.
"Aku turut berduka dan aku bahagia bisa berjumpa dengan sahabat dengan hati yang lembut sepertimu entah apa yang terjadi jika dahulu aku tidak bersamamu." ucap Maya mengingat kenakalannya dahulu hingga bertemu dengan Halima yang baik hati.
"Itu masa dimana kita saling bisa memahami walau kita tak saling mengenal." ucap Halima mengingat masalalunya bersama teman sebangkunya.
Maya tersenyum bahagia dan menatap anaknya yang sedang bermain bersama Malik dan Asma.
"Apa dia anakmu?"tanya Halima yang menatap anak lelaki yang nampak tampan walau dari jauh.
"siapa namanya?" tanya Halima penasaran
"Amran Alfian," ucap Maya dengan tersenyum.
"Subhanallah nama yang indah apakah suamimu seorang ustadz?" tanya Halima yang penasaran karna bagaimana pun saat temannya menikah ia tidak tau bahkan tidak ada yang mengundangnya mungkin faktor berumah tangga.
"Ya,apa kau tau dia orang yang dulu menyukaiku tapi aku menolak setelah dia sukses dia melamarku membuatku kaget." ucap Maya dengan wajah yang malu-malu membuat Halima ingin menggoda temannya.
"Apa dia Gufran?" tanya Halima sambil menggoda temannya yang dulu sangat gatang itu.
__ADS_1
"Ya." ucap Maya sedikit merona karna ia mengingat berapa juteknya ia saat masih sekolah.
"Subhanallah aku sangat senang,dahulu dia orang yang selalu menolongku akhirnya bersanding bersamamu juga." ucap Halima menggoda sahabatnya dan menatapnya penuh arti.
"Ya aku mencintainya sekarang karna sikap lembut dan penuh tanggungjawab membuatku terpesona padanya." ucap Maya mengingat masanya setelah menikah dan pacaran.
"Haha...kau sangat unik,pantas saja Gufran menyukaimu.saat Gufran masih bocah kau menolak mentah-mentah dan sekarang saat dia kembali kau mencintainya,ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan,dulu dia selalu curhat padaku haha.." ucap Halima mengingat masa sekolahnya yang dulu Gufran hanya penghapal al-qur'an,tidak ada kerennya menurut para wanita namun itu semua tidaklah berguna tanpa adanya ahklah yang baik dan pemahaman agama.
"Dia jodohku yang mungkin sebelumnya Alloh telah tunjukkan,aku dulu berfikir bahwa kalian saling suka." ucap Maya yang memang saat itu dia merasa tidak enak pada Halima.
"Masya Alloh,aku hanya turut senang jika kau memilih lelaki yang soleh lagi pandai dia yang selalu menasihatiku,kami tidak ada rasa karna aku sudah punya seseorang yang selalu menunggu." ucap Halima menatap Malik.
"Bukannya kau bilang Malik sahabat jauhmu yang selalu menasihati,aku sampai tidak sadar loh?" tanya Maya.
"Tidak,Malik hanya mengatakan hal seadanya tetapi dulu Gufran selalu menunjukan sesuatu padaku sehingga aku menjadi Halima baik hati," ucap Halima mengingat Gufran teman yang bisa diajak obrolan yang baik.
"Sungguh,aku tidak tau suamiku begitu mulia " ucap Maya yang sedari tadi hanya melihat Gufran orang yang terlalu pendiam padahal dia hanya menjaga syahwatnya.
"Berbanggalah dengan apa yang kau terima,Alloh akan selalu menyertimu dalam doanya karna Gufran selalu berucap jika dia selalu tahajud dan berdoa memilikimu dimasa depan." ucap Halima membongkar curhatan Gufran padanya.
"Hmm,terimakasih Halima karna telah memberitahuku hal yang selama ini disembuyikan suamiku,pulang nanti aku akan mengerjainya." mereka berpelukan dengan erat sebelum berpisah kembali.
"Aku harus kembali suamiku sudah menunggu,aku pulang jika suatu saat ada waktu aku akan mengunjungimu lagi. Assalamu'alaikum." ucap Maya dan memanggil putranya untuk pulang karna sebentar lagi akan magrib tidak terasa jika sudah menceritakan masa lalu.
"Wa'alaikum salam." ucap Halima dan ia pun mengantarnya hingga depan gerbang rumahnya dan melambaikan tangan saat sahabatnya itu sudah pergi.
"Apa dia sahabat yang pernah kau ceritakan dulu?" tanya Malik yang melihat wanita yang sepertinya sangat akrab dengan istrinya.
__ADS_1
"Ya,ia teman masa laluku." ucap Halima dan tersenyum senang akan masalalu bersama teman seperjuangannya itu.
Bersambung...