
Setelah selesai makan Amran dan Asma melanjutkan belajar mereka diruang tengah dipandu oleh Hany.
"Bu jika kita tidak mendapatkan juara satu apa sekolah tidak akan kecewa?" tanya Asma.
"Tidak,mereka malah bangga jika kalian berusaha,berdoalah yang terbaik semoga kalian sukses untuk olimpiadenya." ucap Hany.
"Benar jangan dulu berfikiran negatif jalani saja semuanya dengan tenang karna segala sesuatu akan dipermudah jika kita terus berusaha." ucap Mita.
"Iya kak,bu." ucap Asma.
"Melihat mereka mengingatkanku saat dulu pacarmu menembak,dengan beralasan Farid mengajakmu untuk mengajarinya pelajaran Ipa haha...dan setelahnya malah kalian benar jadi sepasang suami istri." goda Mita.
"Ya aku suka pemuda yang pantang menyerah dulu nilainya jauh dibawahku kalau dihitung nilai dia 50 itu paling besar sehingga dia selalu memintaku mengajarinya." ucap Hany.
"Ya aku ingat sampai waktuku bermain bersamamu jadi mengurang setelahnya dia malah memintamu menjadi pacar,aku ingat dia pernah ditolak sama kamu dengan alasan tidak mau mengganggu belajar." ucap Mita.
"Memang benar pacaran hanya membuat kita lupa waktu untuk belajar." ucap Hany.
"Haha...kamu benar aku juga merasakan saat Dika memintaku berpacaran nilaiku anjlok dari yang selalu dapat 8 jadi 4 bayangkan aku malu sekali." ucap Mita.
"Iya aku tau itu,masa depan tidak ada yang tau. Sekarang kau kan bersama yang lain,kapan menikahnya?" goda Hany.
"Perkiraan 4 bulan lagi." ucap Mita.
"Aku doakan yang terbaik." ucap Hany.
"Bu kami sudah menyelesaikannya." ucap Asma.
"Kalau begitu istirahatlah!" ucap Hany diangguki Asma dan Amran.
Malam pun tiba.
Asma kini bosan ia lupa membawa buku novelnya karna ia merasa bosan tidak terhibur biasanya diwaktu senggang ia akan membaca novel islami,ia pun berinisiatif keluar kamar dilihatnya suasana sepi.
"Apa aku tanya kak Mita kali aja dia punya." Asma perlahan menuju kamar Mita dan hendak mengetuk sebelum seseorang memanggil.
"Mau apa As?" tanya Amran sambil memegang teh manis.
"Ouh itu anu....aku bosan ran." ucap Asma.
"Terus kenapa mau ketuk pintu kak Mita,kasian loh kayaknya mereka udah tidur." ucap Amran dan Asma menunduk.
"Ah,aku hanya ingin menanyakan apakah dia punya novel atau tidak aku ingin pinjam." ucap Asma.
"Pergi keluar yuk,kau bilang bosan kayaknya gak enak ganggu kak Mita atau bu Hany." Asma sempat berfikir tapi tidak apalah.
"Yasudah." angguk Asma.
Diluar rumah.
"Wah ran bintangnya indah ya?" ucap Asma dengan wajah yang sangat senang membuat bibir ranumnya terlihat menawan.
__ADS_1
"Jelas sekali ciptaan tuhan mana yang bisa kau elak keindahannya,segalanya terjamin dan tercipta olehnya dengan penuh kasih sayang." ucap Amran sambil melirik Asma.
"Benar makannya ada ayat dengan arti nikmat tuhan manakah yang engkau dustakan? Alloh memberikan segalanya dengan penuh kasih sayang dan kita selalu mendustakan itu." ucap Asma.
"Aku senang dimalam berbintang ditemani ciptaan Alloh yang lembut hati." ucap Amran membuat atensi Asma menjadi menatapnya.
"Maksudnya?" tanya Asma.
"Alloh menciptakan segalanya dengan sekejap mata dan manusia tidak ada yang bisa menandinginya tapi bisakah aku meminta sesuatu darinya yang bukan milikku dan bahkan dirikupun sendiri adalah milik-Nya." ucap Amran membuat Asma terheran.
"Maksudmu?" tanya Asma.
"Tunggu,sebelum itu aku ada sedikit barang yang dibeli karna ada sisa uang,kamu mau menerima atau tidak aku tidak keberatan." ucap Amran menyodorkan sebuah kotak.
"Ini apa?" tanya Asma.
"Buka saja!" ucap Amran.
Saat dibuka ternyata jilbab bermotif bunga yang indah.
"Wah indah sekali." ucap Asma.
"Apa kau suka?" tanya Amran.
"Sangat,aku sangat suka jilbab yang bermotif lucu seperti ini." ucap Asma.
"Jadi aku berikan padamu,untung kau suka." ucap Amran.
"Terimakasih." ucap Asma dengan tersenyum merona.
"Iya." ucap Asma.
Dilain tempat.
"Marsella udah mama bilang jangan bergaul lagi sama Asma kamu tau karna itu Clarisa mengadukannya pada ayahnya dan ayahya adalah direktur perusahaan tempat mama bekerja!" ucap mama Marsella.
"Iya kamu itu bisa diandalkan gak sih??" ucap papa Marsella.
Marsella menunduk.
"Cukup ma,pa Marsella lelah batin dan fisik jika kalian tetap membuat Marsella melakukan hal yang salah lebih baik Marsella pergi!!" Marsella pun pergi dengan marah.
"Kamu anak kurang ajar mama sumpahin ditengah jalan ketemu orang jahat!" ucap mama Marsella dengan emosi.
Marsella keluar dari rumahnya dengan keadaan sedih dan marah tepat dipersimpangan jalan ia dicegat oleh para preman yang ingin menodainya.
"Hallo manis sini temenin abang!" ucap lelaki berkulit hitam itu.
"Tidak jangan!!" teriak Marsella.
"Tolong!!!" teriak Marsella karna lengannya ditarik.
__ADS_1
Bugghh
Krakkk
Lengan preman itu patah membuatnya kesakitan dan pergi menjauh.
Seseorang memakaikan jaket pada Marsella memang salahnya tidak mengenakan baju panjang membuat lelaki mungkin tergoda,Marsella mendongkak.
"A-Ali?" ucap Marsella dengan sembab ia terpanah pesona Ali,kini ia bisa melihat jelas ketampanan pemuda yang selama ini selalu berdebat dengannya kumisnya sudah hilang dan rambutnya tersusun rapi.
"Habis nyalon jadi mukaku lebih gantengkan?" goda Ali.
"Hiks...Ali makasih udah nyelamatin aku." ucap Marsella.
"Udah gapapa lain kali kalau keluar jangan pakai baju pendek itu ngundang syahwat lelaki." ujar Ali langsung diangguki Marsella.
"Sekarang mau pulang,aku antar." ucap Ali,tapi Marsella menggelengkan kepala.
"Eh kenapa?" tanya Ali lagi.
"Aku sedang bertengkar dengan orang tuaku." ucap Marsella.
"Terus gimana dong udah malem gini,gimana kalau dirumahku,tenang ada ibu dan ayahku kok." ucap Ali diangguki Marsella.
Sesampainya....
"Eh ini siapa Li?" tanya ibu Ali.
"Ini temen sekelasku bu namanya Marsella Ummamah,dia tadi habis di cegat preman untung Ali tepat waktu sekalian pulang dari salon." ucap Ali.
"Kamu ini terlalu berlebihan,tukang cukur kok di bilang salon." ucap ibu Ali.
Marsella tidak pernah menyangka rumah Ali sangatlah besar seperti rumah konglomerat tapi anehnya ia orangnya sederhana.
Akhirnya Marsella diperkenankan duduk dan menceritakan hal yang terjadi.
"Jadi selama ini bukan kamu yang menyebarkan aib itu??" ucap Ali kaget.
"Iya Li,selama ini Clarisa dalang dibalik semua ini dan yang membocorkan semua ini adalah Reisa dia gak sengaja denger percakapan Asma saat dirumahnya." ucap Marsella.
"Kurang ajar!" ucap Ali emosi.
"Kamu tenaglah li,semuanya selesaikan dengan musyawarah!" pinta ibu Ali.
"Ali hanya kesal bu kenapa banyak orang jahat yang iri pada Asma yang baik." ucap Ali.
"Karena tidak ada yang tau hati setiap manusia." ucap Ibu Ali.
"Tante boleh gak Marsella belajar berhijab seperti tante rasanya sangat menyejukkan,melihat Asma pun sama." ujar Marsella.
Seketika Ali membulatkan mata dan ibunya tersenyum.
__ADS_1
"Berhijrah itu baik dan tidak baik juga untuk ditunda,besok ibu siapkan pakaianmu!" ucap ibu Ali.
Bersambung...