
Setelah keluar dari tempat itu Amran menatap kesal Fatir yang menertawakannya.
"Nih kak lain kali jangan libatkan aku untuk keinginanmu!" ucap Amran dengan kesal.
"Haha...aku salut padamu kau memang tampan tapi ternyata mereka kira kau melakukan make up ala oppa-oppa apalah itu." ejek Fatir yang masih tertawa.
"Berhentilah kak jangan membuatku marah." ucap Amran dengan nada dingin.
"Oke-oke." ucap Fatir.
"Sekarang mau apa lagi?" tanya Amran.
"Begini sisa uang yang abbi kasih masih ada 4 juta nah kamu pakai 2 juta lagi dan kakak pun sama,belikan yang kamu mau!" ucap Fatir langsung diangguki Amran.
Mereka akhirnya melaju ke tempat pakaian.
Namun kerumunan orang membuat mereka penasaran dan yang lebih parahnya seorang wanita berlari dengan menangis sedih jilbabnya sudah tidak menentu entah karena apa.
Bughh
"Aww..." rintih gadis itu yang menabrak Amran.
"Kamu tidak apa?" tanya Amran yang melihat gadis itu menangis dengan wajah merah.
"Hiks...tolong saya,saya dikejar mereka hutang ayah saya belum saya lunasi." ucap gadis itu membuat Amran merasa kasihan.
"Berapa hutangnya?" tanya Amran.
"1.500.000 ribu." ucapnya dengan sedih.
"Ini pakailah uang punyaku dan kakak bisa memakainya untuk membayar itu." ucap Amran.
"Ah,tidak perlu saya bisa..."
"Hey!!jangan kabur!" ucap seorang lelaki dengan wajah seram.
"Tunggu,ada apa kalian mengejarnya??" tanya Amran.
"Ayah dia berhutang 1.500.000 pada bos kami dan dia tidak membayarnya." ucap lelaki berbadan besar.
"Ini,aku bayarkan dan ingat hutang ayahnya tidak lagi berpengaruh padanya karena dia tidak tau apapun!" ucap Amran diangguki lelaki seram itu.
"Baiklah,yang penting hutangnya lunas." ucap lelaki yang satunya.
"Hiks....sekarang ayahku pergi entah kemana hiks...aku tidak punya sanak saudara." ucapnya menangis.
__ADS_1
"Eum,kak kalau dilihat sepertinya usia kakak diatasku." ucap Amran.
"Sekarang aku kelas 11 SMA karena tidak ada biaya aku tidak lanjut sekolah." ucapnya membuat Amran merasa kasihan.
"Bagaimana jika kakak ikut kami pulang disana kakak bisa mengajar di pesantren milik abbi,apa kakak bisa mengaji?" tanya Amran.
"Selama ini soal agama aku selalu mendapat juara satu,aku hafidz juga jadi insyaalloh bisa mengajar." ucapnya.
"Alhamdulillah." ucap Amran.
"Apaan sih ran,kita gak kenal dia mana bisa kita bawa dia semau kita!" ucap Fatir.
"Kak dia juga manusia punya hak untuk bahagia." ucap Amran.
"Tapi..." ucapnya terhenti.
"Kakak belanja saja,kakak ini akan ikut Amran ke sebelah sana!" ucap Amran dan dihadiahi anggukan pasrah Fatir.
"Tadi siapa,maaf lancang." ucapnya.
"Tidak usah canggung kak,aku Amran Alfian panggil sesuka kakak,ouh iya nama kakak siapa?" tanya Amran pemasaran.
"Namaku Kiara ardani." ucapnya.
"Nama yang cocok untuk kakak,ouh ya kakak gak papa nemenin aku belanja?" tanya Amran,dengan segera Kiara mengangguk.
"Kalau untuk wanita lembut cocoknya apa ya kak?" tanya Amran membuat Kiara tersenyum.
"Pasti untuk pacarmu ya..." goda Kiara.
"Haha...gak juga sih." kini Amran merasa malu.
"Jilbab adalah hal yang paling disukai wanita sholehah,itulah sebuah perisai yang mampu melawan nafsu lawan jenis maka dari itu wanita yang baik akan selalu mementingkan hijabnya dan menjadikan barang itu sebagai barang kesayangannya." ucapan Kiara membuat Amran bersemangat mencarinya.
"Terimakasih kak,tapi uangku tinggal 500.000 cukup tidak ya untuk membelinya." seketika Kiara tersenyum.
"Cukup sekali,maaf ya uangnya jadi terpakai olehmu suatu saat akan aku ganti." ucap Kiara.
"Tidak perlu kak,aku ikhlas membantu kakak tanpa balas jasa." entahlah Kiara sangat menghormari tutur kata Amran zaman sekarang banyak orang yang sudah melupakan agama dan menjadikan uang sebagai alasan mendapatkan sesuatu.
"Kau pemuda yang baik,maka pacarmu juga baik." ucapan itu membuat Amran gugup.
"Kakak kan paham agama kenapa masih bilang pacaran." Seketika Kiara tersenyum.
"Kau benar maaf sudah mengatakan hal yang berlebihan." ucap Kiara.
__ADS_1
"Tidak apa kak." ucap Amran.
Setelah membelinya Amran sangat senang karena jilbab pilihannya adalah jilbab yang hanya ada satu sehingga jarang modelnya ada lagi.
"Kau sudah membeli barangmu,sekarang kita pulang." ucap Fatir dan melenggang pergi.
Sesampainya dirumah.
"Assalamualaikum." ucap Fatir dan Amran.
"Waalaikumsalam,eh kalian udah pulang ayo masuk!" ucap Maya.
"Ini siapa?" tanya Gufran melihat seorang gadis.
"Kami menemukannya di mall,si Amran yang ingin membawanya pulang." ucap Fatir dan masuk kekamarnya.
Maya hanya menggeleng dengan sikap acuh putra pertamanya.
"Mari duduk sekarang jelaskan maksud semua ini!" ucap Maya lembut.
"Nama saya Kiara ardani paman bibi,saya gadis sebatang kara karna ayah saya sudah meninggalkan saya dan tidak perduli pada saya lagi,rumah saya sudah dijual ayah karena hutang yang banyak akibat berjudi,setelah itu ayah saya berhutang lagi dan saya dikejar anak buah dari bos yang dihutangi ayah saya sampai di mall jilbab saya ditarik agar saya tidak kabur hingga keadaan saya kacau,semua orang berkerumun hanya menyaksikan tanpa menolong hingga saya berhasil keluar dari sana saya pun tidak sengaja menabrak Amran hingga saya ditolongnya dia membayarkan hutang ayah saya dan dia pun membawa saya kesini paman,bibi begitulah ceritanya." Sungguh Maya memang mengharapkan putri perempuan karena menurutnya putri perempuan mahkota yang sangat mulia.
"Kalau begitu tinggallah bersama kami." ucap Maya.
"Maksud tante?" tanya Kiara.
"Kamu akan kami anggap anak karena kamu sudah tidak punya siapa-siapa lagi." ucap Maya.
Kiara menggeleng pelan.
"Tidak paman,bibi Kiara tidak mau jika menjadi beban kalian." ucap Kiara dengan sopan.
"Amran sendiri membawanya ingin memberi kak Kiara kesempatan abbi,jadi tadinya Amran ingin menyarankan kak Kiara untuk membantu abbi di pesantren." seketika Gufran ingat ia sangat mengharapkan Asma untuk menolongnya di pesantren tapi ia ingat Asma banyak kegiatan di masjid juga.
"Apa kamu tidak keberatan nak Kiara,lalu apa kamu sudah memahami ilmu agama dengan matang?" tanya Gufran.
"Tenang abbi,kak Kiara gadis yang cerdas ia selalu mendapat peringkat pertama dan lebih mendominan di ilmu agama,dia juga sudah menguasai al-qur'an dan menjadi hafidz." ucap Amran.
"Benarkah sungguh bagus jika benar karena abbi membutuhkannya untuk mengajari murid yang sedang belajar untuk menjadi hafidz." ucap Gufran.
"Nak,kamu memang gadis yang baik sekarang panggilah kami abbi dan ummi!" ucap Maya yang memeluk Kiara dengan hangat.
"Baiklah abbi ummi." ucap Kiara senang dan tidak lupa juga Gufran beserta Maya turut senang.
"Mulai besok kau akan abbi ajak ke pesantren untuk malam ini kau tidurlah dengan istriku karena malam ini kemungkinan abbi ada banyak acara sampai besok." ucap Gufran diangguki Maya dan juga Kiara.
__ADS_1
Kiara sangat senang,dari dulu ia mendambakan orang yang tulus menyayanginya dan kini ia sangat bersyukur karena Alloh mau mengabulkan doanya.
Bersambung...