
Setelah menjemput Zulkarnain pulang Asma segera kembali kekampusnya tapi ditengah jalan dia tak sengaja melihat seorang pengemis yang meminta uang dengan pakaian kumuhnya.
Asma merasa hatinya tergerak ia pun berjalan mendekat dan berjongkok.
"Assalamualaikum nek." ujar Asma membuat nenek itu mendongkak.
"Waalaikumsalam." balasnya menatap dengan wajah sayu.
"Nenek kenapa disini sendirian,apakah nenek tidak punya tempat tinggal?" tanya Asma namun dibalas gelengan.
"Nenek tersesat beberapa bulan yang lalu dan dengan meminta dipinggir jalan barulah nenek bisa bertahan hidup." ucapnya dengan wajah yang sudah mengeriput.
"Ah begitu rupanya bagaimana jika nenek ikut Asma pulang insyaAlloh jika ada waktu Asma akan mengantar nenek pulang kerumah." ucap Asma lembut membuat sang nenek tidak merasa takut.
"Terimakasih nak." ucap sang nenek.
Asma kembali pulang kerumah karna waktunya masih tersisa banyak membuatnya tidak takut terlambat lagian dia sudah izin.
Sesampainya dirumah.
"Assalamualaikum..."Asma pun membawa sang nenek masuk.
"Waalaikum'salam,eh kamu bawa siapa As?" tanya Latifah bingung.
"Oh ini kak,Asma tidak sengaja ketemu nenek ini di pinggir jalan kasihan dia tersesat beberapa bulan yang lalu dan Asma akan bantu nenek ini untuk pulang kerumah jadi bisakah Asma titip nenek dulu.Jika sudah pulang kuliah Asma akan antar nenek." ucap Asma langsung diangguki Latifah.
"Yasudah kau berangkatlah biar nenek yang akan kakak urusi." ucap Latifah.
"Nek,ini kakak Latifah dan itu anaknya namanya Zulkarnain jadi nenek tidak perlu sungkan." ucap Asma sembari tersenyum.
"Terimakasih nak,nenek sangat senang bisa dibantu gadis ahli syurga." ucapan nenek itu membuat Asma merona.
"Amiin." Asma pun segera berangkat setelah pamit.
"Nek,bagaimana jika nenek berganti pakaian terlebih dahulu karna tidak baik jika nenek memakai pakaian yang sudah terkoyak." ucap Latifah lembut.
Sang nenek mengikuti semua yang Latifah katakan sampailah dia sudah bersih dan lebih rapi.
"Maaf nek boleh tanya nama nenek siapa?" tanya Latifah.
"Nama nenek Jumanah dan nenek tidak tau rumah nenek dimana." ucapnya.
"Tidak perlu sungkan nek jika memang nenek belum mengingat rumah nenek itu tidak masalah." ucap Latifah sambil tersenyum.
"Nek mau main sama Zulkarnain tidak?" ucap anak itu sambil memperlihatkan barang mainannya.
"Ah inikah anakmu,dia sangat tampan pasti seperti ayahnya karna denganmu tidak mirip." goda Jumanah.
Deg
Latifah jadi teringat siapa anak itu,karna nyatanya memang Zulkarnain lebih cenderung mirip dengan Fikri dari pada dengannya.
__ADS_1
"Ah iya nek hehe..." hanya itu balasan Latifah.
"Kau tengah mengandung juga ya?" goda sang nenek lagi,kini wajahnya merona.
"Dari mana nenek tau,padahal usia kandunganku baru saja 3 bulan." ucap Latifah.
"Terlihat lebih berisi dan sedikit membengkak,nenek pernah mengalami itu.Ah yasudah semoga Alloh memberimu kemudahan dalam persalinan." doa Jumanah.
"Amiin" karna tak sabar Zulkarnain menarik sang nenek kekamarnya.
"Nek ayo main tobot!" ucap Zulkarnain dihadiahi elusan lembut Jumanah.
"Nenek jadi teringat pada cucu nenek yang hilang,dulu nenek sempat bermain dengannya saat usia 3 tahun tapi..." sang nenek terdiam.
"Tapi apa nek??" tanya Zulkarnain.
"Ah sudahlah,ayo main nenek akan jadi peri nya." ucap Jumanah.
"Wah iya nek ayo!" ucap Zulkarnain dengan semangat karna punya teman.
"Siapa yang dibicarakan nenek sepertinya dia kehilangan cucunya." batin Latifah yang tak sengaja mendengar ucapan sang nenek.
.
.
Asma kini sudah sampai di parkiran disana sudah ada Aqila yang menunggu.
"Lama sekali,kau bukan menjemput Zulkarnain saja kan?" tebak Aqila.
"Reisa sudah menunggu kita di perpustakaan dia minta aku antar kamu kesana sekalian untuk mencari buku tajwid." ucap Aqila.
"Reisa mau belajar ngaji juga,tapi bukannya kita juga mau ke masjid sekalian dia mau jadi mualaf kan?" tanya Asma.
"Biarin aja yang bertujuan baik lebih baik disegerakan."ucap Aqila.
"Kamu benar." Angguk Asma.
Mereka pun berjalan menuju perpus dan disana Reisa sedang sibuk memilah buku-buku.
"Hayo!!" Aqila menepuk bahu Reisa membuat si empunya mengelus dada.
"Astaga kau ini menyebalkan Aqila!" ucap Reisa dengan kesal.
"Hehe,serius amat." ucap Aqila dengan keponya mengambil buku Reisa.
"Cinta dan Mualaf??" ucap Aqila bingung.
"Hehe sekedar kepo katanya ceritanya bagus entahlah tapi seperti pas untukku yang membutuhkan panduan nanti." fikir Reisa.
"Hmm itu bagus sepertinya aku juga tertarik kalau buku religi ada yang baru." timpal Asma.
__ADS_1
"Kau sudah menemukan buku tajwid?" tanya Aqila.
"Sudah,yuk baca disana sekalian kalian ajari ya walau aku belum bisa untuk praktik." ucap Reisa diangguki Asma dan Aqila.
Beberapa menit kemudian.
"Kalian lagi baca buku,boleh gabung?" tanya seorang pria membuat ketiganya menoleh.
"Eh pak Fatir?" ucap Reisa.
"Panggil kak aja kalian kan udah tau." ucap Fatir sambil duduk.
"Tuh kan orangnya gak sopan banget belum juga di persilahkan duduk main duduk aja." batin Aqila tak suka.
"Sepertinya Aqila tidak suka kak Fatir." batin Reisa lalu acuh saja.
"Kalian disini sudah lama?" tanya Fatir basa-basi.
Mereka diam saja tak tau siapa yang merespon dan Fatir menatap ketiganya tak terkecuali Asma.
"Tidak juga kak baru beberapa menit." ucap Reisa diangguki Fatir namun tatapannya tetap terarah pada Asma yang membaca sebuah kitab gundul.
"Emm,kamu suka membaca kitab gundul As?" tanya Fatir sedikit canggung.
"Eh apa kak,maaf tidak memperhatikan." ucap Asma yang merasa dipanggil,karna memang jika sedang belajar ia selalu fokus dan terkadang tak merespon luar lingkungan.
"Tidak apa." senyum Fatir tercetak jelas.
"Ah,suka saja dan memang Asma sedang mempelajarinya jadi sedang ingin baca." ucap Asma membuat Fatir merasa puas atas respon gadis yang ia sukai.
"Maaf kak ini perpustakaan bisakan dijaga suaranya soalnya nanti bu perpus bakal bawel kesini." ujar Aqila membuat Asma menyenggol lengannya pelan.
"Ouh maaf jika mengganggu." ucap Fatir.
"Sangat kak,Aqila tidak suka jika sedang membaca banyak yang bicara menghilangkan mood dan konsentrasi." ucap Aqila blak-blakan.
"Ah seperti itu,maafkan saya sekali lagi." ucap Fatir seperti menahan diri untuk tak bersuara keras.
"Sudahlah ini perpustakaan jangan brisik nanti bu perpus ngehukum kita,maaf ya kak atas perlakuan teman saya yang kurang sopan." ucap Reisa di balas anggukan Fatir,berbeda dengan Aqila yang melotot.
Setelah selesai mereka kembali kekelas.
"Kamu itu mulutnya gak bisa dicerna,gimana kalau kak Fatir kesinggung?" fikir Reisa.
"Emangnya kenapa,itukan fakta benerkan As?" tanya Aqila.
"Itu benar tapi kamu salah dalam bicaranya Reisa benar jika kak Fatir tersinggung dan sakit hati gimana,sebagai umat Rosul beliau mengajarkan kita untuk tidak menyakiti hati orang lain karna setajam-tajamnya pisau jika melukai kulit bisa sembuh tapi setajam-tajamnya mulut jika melukai hati tidak ada obatnya." Kini Aqila sadar atas perkataannya.
"Iya sih tapikan..."
"Sudah,lain kali lebih dicerna lagi jika ingin berargumen."kekeh Asma.
__ADS_1
"Hehe iya-iya."Aqila hanya bisa menggaruk kepala karna merasa paling bersalah.
Bersambung...