Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
07.Beberapa Tahun kemudian


__ADS_3

"Bi,dimana buku Diary Asma?" Tanya Asma yang kini mulai belajar di Sekolah Menengah Atas,ia terus mencarinya sampai ia menatap boneka taddy bear yang selalu ia sayangi dan ia simpan apik diatas meja belajarnya,ia pun meletakkannya kembali dan mencari lagi Diary yang ia butuhkan karna setiap hari dia akan mengeluh tentang kesulitannya di diary pemberian kakaknya.


"Apa tidak ada As,kemarin bibi menyimpan di rak bukumu kok." ucap Halima dengan menghampiri kamar Asma yang nampak sedikit berantakan.


"Tidak ada bi,hiks...Diary itu pemberian kak Sayyid saat pulang kemarin." Tangisan Asma mulai terdengar dan Halima mencoba mencari lagi sekalian membereskan yang sedikit berantakan.


"Brisik Asma,nih Diarynya tadi dipinjem sebentar sama kakak." ucap Latifah dan mulai memasuki kamarnya lagi setelah menyodorkan dan memberikannya pada Asma yang senang jika bukunya sudah kembali lagi.


Asma membuka Diarynya dan ternyata semua rusak,ada yang di coret ataupun dirobek kini ia merasa sangat sedih karna tidak bisa menjaga apa yang sudah di amanatkan untuknya,ia pun menyimpannya di laci tempat barang yang menurutnya penting.


"Latifah makin hari,makin menjadi jadi sabarlah Asma bibi yakin kau bisa menghadapinya." Ucap Halima mencoba menyemangati Asma,Asma sendiri tidak akan kalah karna sifat Latifah yang memang sudah seperti itu.


"Tidak apa bi,setiap pulang kak Sayyid selalu mengajariku berapa besar rasa sabar seseorang adalah suatu kunci menuju syurga sang ilahi." ucapan Asma begitu membuat Halima semakin menyayanginya dan tidak khawatir akan menimbulkan hal buruk.


"Cepat berangkat pamanmu sudah menunggu!" ucap Halima,dengan tergesa-gesa Asma mencium tangan bibinya dan berpamitan.


"Hei Asma Bekalmu!" teriak Halima yang sudah bisa berperan sebagai ibu yang begitu melindungi anaknya.


Asma berbalik dan ia pun menepuk jidatnya karna selalu lupa membawa bekal yang disiapkan bibinya.


"Astagfirullah hampir saja lupa,terimakasih bibi." ucap Asma dan segera berangkat menuju sekolah.


Tibalah disekolahnya.


"Hari ini pertamamu sekolah kan Asma,jadi Belajarlah dengan giat Paman selalu mendoakanmu yang terbaik." Malik mengelus kepala Asma keponakan tersayangnya dan segera Asma memcium telapak tangan pamannya itu sebelum ia pergi.


cupp


"Ya paman hati-hati dijalan setelah pulang Asma langsung ke masjid saja ya." ucap Asma yang sudah tak sabar ingin mengetahui sekolah barunya itu.


"Hari ini tidak perlu karna paman akan membawamu ke suatu tempat sepulang sekolah kerumah saja dulu."ucap Malik yang merasa Asma menjadi tidak sabaran dalam menuntut ilmu.


" Baiklah paman,Assalamualaikum"ucap Asma


"Waalaikum salam" jawab Malik setelah ia melihat Asma menghilang baru ia pergi dari sekolahan putrinya itu.

__ADS_1


Selama ini keinginannya hanya kebahagiaan pada putrinya sekaligus keponakan jika merema bahagia maka tidak akan salah lagi jika dia dan istrinya bahagia.


.


.


.


Asma menatap sekolahnya yang begitu besar dan bertingkat rasanya ia bisa tenang dan juga merasakan nyaman sekolah ditempat ini.


SMAN 1 Bandung


Taman yang luas dan juga kantin yang tidak jauh semakin menundangnya untuk masuk dan duduk diantara lara siswa atau siswi yang siap untuk belajar menuntut ilmu dengan harapan kedepannya mereka bisa lulus dan membawa kabar gembira dengan hasil yang selama ini mereka tekuni,Asma pun sama ia berharap setelah lulus kakaknya pun sudah menjadi orang yang dikagumi banyak orang tapi tidak pernah lula juga akan segala kewajibannya untuk membahagiakan adik-adiknya yang selama ini menunggunya pulang dan membawa keceriaan dimasa depan.


Asma akan berjuang demi semuanya_batin Asma.


"Masya alloh gedungnya indah sekali,jika begini aku akan semangat belajar." Asma menatap dari luar banyak yang berlari karna takut terlambat hingga ada yang menabraknya.


Brukkk.


"Aku baik,makasih...ehh kau murid baru ya?" tanya perempuan itu yang menabrak Asma.


"Ya." jawab Asma singkat dengan senyumnya.


"Kenalkan aku Najla Jahiddah panggil Najla saja ngomong-ngomong nama kamu siapa?" tanya Najla dengan sopan,ia juga tidak ada teman disini mungkin gadis didepannya mau berteman dengannya.


"Namaku Asma Anniar." ucap Asma lembut


"Nama yang indah,ayo kita segera masuk jika tidak kita akan dihukum apalagi kita siswi baru disini." ucap Najla


Asma tersenyum ternyata banyak teman yang masih baik tanpa pandang siapa dia.


"Baik,saya disini adalah ketua osis tahun kemarin jadi disini saya hanya akan mengumumkan bagi siswa maupun siswi baru bisa membagi kelompok sesuai dengan yang sudah ditentukan di mading sebelah kanan kalian."dengan tertib sesuai arahan, mereka mencari dengan bersabar tapi ada juga yang tidak.


"Minggir dong!!" ucap seseorang dengan keras dan tanpa rasa sopan sedikit pun.

__ADS_1


"Ehh bisa gak jangan kasar,semua juga harus kebagian." ucap pemuda yang satu lagi.


"Apa yang lo fikir hah,gue juga butuh tau bukan cuman yang lain, lo jangan sok jadi pembenar deh." ucap lelaki itu dengan sombong.


"Siapa pembenar siapa yang tersinggung?" ucap pemuda itu dengan cuek.


"Diem lo,gue gak butuh perkataan lo!" ucapnya dan segera menyingkirkan murid yang menghalanginya.


"Gue no 16 elah...napa 16, gue kan pingin pertama." ucap pemuda itu yang ia harapkan ialah yang mendapat yang pertama dari siapapun.


"Amran kamu masuk no pertama chaa doa kamu terkabul akhirnya,selamat." ucap temannya dan menatap lelaki sombong tadi dengan acuh.


"kamu no berapa fan?"tanya Amran penasaran juga.


"Aku no 16" ucap temannya.


"gak sama,padahal aku pingin sama."ucap Amran sedih walaupun keinginannya terkabul tapi ia juga tidak mau berpisah dengan teman dekatnya.


"Ehh lo bilang apa?gimana kalo kita tukeran lo kan yang ngomong sok bijak tadi?"tanya lelaki itu dengan nada bersahabat.


"Terserah sih,asal gak ada masalah." ucap Amran dengan nada pasrah.


"gue Bondan lo panggil Bon aja dan gue harap lo gak akan lupa sama gue!" ucapnya dengan smrik yang membuat orang bingung.


"Amran kamu yakin mau nuker nomor yang selama ini kamu harapin?" tanya Arfan yang tidak ingin keputusan sahabatnya ini membuatnya menyesal dikemudian hari.


"Aku sudah membuat keputusan dimana saja bukan menjadi hal sulit." ucap Amran diangguki Arfan.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak dan jangan lupa like coment...


coment lebih membantu menyemangati Author hargailah penulis karna membuat sebuah karya tidaklah mudah fikiran dan cara kerja dilakukan bersamaan sehingga kalian sendiri bisa membayangkan bagaimana membuat cerita itu....terimakasih😊


See you next part...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2