Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
04.Pergi


__ADS_3

Setelah mendengar kata Asma,Sayyid pun memeluk Asma sambil berdiri dengan kedua lututnya menyejajarkan dengan tinggi sang adik.


"Kakak mencintaimu karna Alloh,kakak mencintai Latifah karna Alloh.Jagalah amanat kakak bawalah kakak ke syurga kalian!" dengan menetes air mata Sayyid bangkit dan mulai pergi dari tempat dan keluar kamar disusul Asma disisinya.


"Kakak kenapa meneteskan air mata?" tanya Asma yang belum mengerti apa-apa.


"Kakak kena debu matanya jadi sedikit perih." bohong Sayyid dengan nada berat Asma sendiri hanya bisa memahami itu.


"Sini Asma tiupin!" Sayyid berjongkok dan pura-pura kesakitan setelah Asma meniupnya ia tersenyum.


"Terimakasih adikku!" ujar Sayyid dengan senyumnya.


"Asma kak Sayyid akan pergi." ucap Halima dengan nada khawatir jika Asma pun tidak ingin jika Sayyid pergi.


"Bibi Asma sudah tau,Asma senang akan hal itu." ucapnya tanpa rasa sedih karna yang ia tau kakaknya akan membawakan cita-cita untuk pulang.


Sungguh Halima memang menatap berbeda saat Asma dan Latifah bagaimana cara mereka berkata dan juga cara mereka melepaskan kepergian sang kakak.


"Apa kau tidak keberatan Kak Sayyid pergi?" Tanya Malik pada Asma yang digendongnya.


"Tidak paman,kakak bilang ia ingin pergi ke cita-citanya setelah pulang dia akan datang memperlihatkan cita-citanya pada Asma." Malik tertegun dengan setiap kata Asma yang tidak dimiliki Latifah kata-kata Asma lebih mirip dengan kakaknya yang selalu berfikiran dewasa.


"Apa kau tidak sedih?" tanya Malik lagi untuk memastikan tidak ada kebohongan dari keponakannya itu.


"Tidak paman,sedih adalah hal yang wajar tapi dengan alasan Asma tidak masalah kakak pergi." Dengan usia yang masih kecil ucapan Asma dapat membuat keraguan Sayyid telah hilang sepenuhnya ia sangat bangga pada adik kecilnya yang selalu membuatnya tidak takut untuk meninggalkan mereka.


"Sayyid pergi paman bibi,bujuk Latifah agar ia bisa faham seperti Asma dia tidak akan mendengarku karna keinginannya hanya ingin aku berada disampingnya.sekali lagi terimakasih paman bibi,jagalah Asma sebagaimana kalian menjagaku waktu dulu,setelah berhasil aku akan menjemput kedua adikku yang berharga ini." dengan senyum Sayyid pergi dan mencium kedua telapak tangan Hilma dan Malik.


"Dah kakak." lambaian tangan Asma seperti sebuah sayap pelindung bagi Sayyid untuk berjuang di tempat yang jauh.


"Dah..." balas Sayyid yang sudah mulai menghilangkan punggungnya.


"Paman Bibi setelah kakak pergi apa kalian tidak sedih?" tanya Asma polos membuat Halima dan Malik terkekeh,karna seharusnya itu kalimat pertanyaan untuknya sendiri.


"Bibi bertanya kenapa kau tidak sedih?" tanya Halima kembali membuat Asma hanya menggelengkan kepalanya.


"Karna kakak punya alasannya." ucap Asma dengan nada tidak ada keraguan sama sekali.

__ADS_1


"Bagitu juga pemikiran kami Asma,kau anak penuh dengan pemikiran positif bisa kah kau membuat kak Latifah berfikiran sepertimu?" tanya Halima yang berharap Latifah bisa seperti Asma yang punya kelembutan hati dan tidak memikirkan sesuatu dengan amarah.


"Kak Latifah,ada apa dengannya?" Tanya Asma yang merasa khawatir terjadi sesuatu pada kakak perempuannya itu.


"Dia masih marah karna kakakmu pergi dan dia tidak menerima hal ini" Asma pun menunduk.


"Paman." panggil Asma dilirik Malik karna sepertinya keponakannya menginginkan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Malik sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Jika seseorang marah pada kita apa yang kita lakukan?" tanya Asma membuat Malik tersenyum.


"Meminta maaf adalah hal paling utama." ucap Malik dengan tersenyum.


"Jika tidak dimaafkan?" tanya Asma lagi karna posisinya ia seperti itu,padahal ia sudah meminta maaf pada kakaknya tapi Latifah sama sekali tidak merespon.


"Biar Alloh yang memaafkan.jika kau masih merasa bersalah carilah cara agar kau dimaafkan karna meminta maaf sebuah kewajiban demi menjaga tali silaturahmi " ucap Malik membuat Asma mendapat nasihat baru yang perlu ia simpan.


"Paman bibi,Asma akan membujuk kak Latifah sekarang." ucap Asma dan berlari mengetuk pintu sang kakak.


Hilma dan malik hanya bisa berdoa semoga Asma bisa membujuk kakaknya yang keras kepala itu.


"Iya,aku juga ingin suatu saat keluarga ini bisa berbahagia,sekian lama aku ingin seorang anak Alloh mengabulkannya walau mereka bukan darah dagingku tapi aku selalu bersyukur,semoga Alloh memberkahi keluarga kita." ucap Malik.


"Amiin." Balas Halima.


.


.


.


Tok


Tok


"kakak..." panggil Asma dengan suara lembut dan sangat menggemaskan.

__ADS_1


"...."namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar.


"kakak..." Teriak Asma mulai keras.


"...."namun tak ada respon sama sekali.


"Kak,jangan mengurung diri!" ucap Asma yang takut jika kakaknya kenapa-napa.


"Paman dan bibi bilang kalau lampu mati nanti banyak hantu." ucap Asma dengan wajah ngeri walau Latifah tidak bisa melihatnya.


"..."tetap saja hanya ada hawa dingin tanpa ada sahutan dari dalam kamar kakaknya.


"Kak kata paman bibi jika kita merasa pusing dan banyak fikiran membaca Al-Qur'an bisa menurunkan rasa stres dalam diri seseorang." ucap Asma tanpa mereka sadar selama ini apa yang mereka ucapkan Asma bisa mengingatnya dalam otak kecil bersihnya.


"Brisik Asma,pergilah aku pusing!" seketika Asma mundur selangkah dari pintu kakaknya.


"Kak,Asma minta maaf Asma janji akan bermain hanya dengan Teddy bear kakak hanya sedang sakit sehingga marah." ucap Asma yang mencoba membujuk Latifah yang sedang marah.


"Jangan sok tau kau,aku pusing karna dirimu!" teriak Latifah dengan nada membentak.


Hiks...tuhan jauhilah semua duka dalam hidupku_batin Latifah.


"Asma minta maaf." ucapnya lagi,Asma masih belum menyerah untuk mendapatkan maaf dari kakaknya karna Sayyid selalu menyuruhnya agar mereka akur dan tidak pernah saling membenci.


"Maafmu tidak akan membuat kak Sayyid kembali.sedangkan dia pergi karna dirimu!" ucap Latifah dengan nada penuh kebencian.


"Tidak,kak Sayyid pergi untuk cita-cita" ucap Asma menyanggah semua pola fikir Latifah.


"kau masih kecil apa yang kau tau sehingga kau seperti mengajariku,pergilah Asma aku tidak ingin mendengarmu!!" ucap Latifah marah dan ia pun menutup kupingnya.


"Kak Asma janji akan menuruti kakak tapi,Asma hanya ingin kakak menerima maaf Asma." ucapan Asma membuat Latifah membuka pintu ia bisa menatap Latifah yang sembab dan juga ekspersi datar tanpa senyum terukir.


cklek


"Ya aku memaafkanmu,kau puas?sekarang pergilah dari kamarku!!" setelah kalimat itu Asma merasa bersalah selalu merepotkan kakaknya dengan perkataannya,walau ia tidak mengerti letak kesalahan terbesarnya itu apa sehingga kakaknya acuh padanya.


Brakk

__ADS_1


Kak maafkan Asma...


Bersambung...


__ADS_2