Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
18.Menjahit


__ADS_3

Asma segera mengangguk dan memberikan kotaknya dan pergi dengan Marsella.


"Kamu yakin kalau si Ali itu bisa menjahir tadi tampangnya gak ada tuh perfesionalnya." ucap Marsella yang kini berjalan beriringan.


"Insyaalloh bisa,lagian dia sendiri kan yang bilang aku tidak memaksa jika dia tidak bisa karna aku sendiri yang akan menjahitkan semisal Ali tidak bisa." ucap Asma.


"Kau yakin??pasti nanti jadi moment special deh gak sabar pas kembali lagi aku yakin si Ali belum bisa memasukkan benangnya." ucap Marsella terkekeh.


"Kau jangan begitu." ucap Asma dan dibalas kekehan Marsella yang membayangkan hal itu.


Beberapa menit kemudian....


Amran menatap datar kearah lain dia kesal pada Ali yang sedari tadi mengoceh tidak jelas membuat Amran kesal karna sudah 3 menit tapi tetap begitu tidak ada kemajuan.


"Aih bagaimana memasukannya sulit sekali jarumnya terlalu kecil dan lihat begitu besar benangnya apa tidak ada yang lain,pembuatnya tidak handal?" ucap Ali frustasi yang masih saja mencoba memasukkan benangnya kedalam jarum yang ia pegang.


"Ran bantu lah ini sangat menyebalkan belum kujahit saja aku sangat putus asa apa lagi sudah menjahit apa yang akan terjadi." ucap Ali pasrah dan merentangkan jarum beserta benangnya.


"Jangan merasa gagal dulu li,pasti akan ada jalan keluarnya coba lagi!" ucap Amran yang hanya mencoba menyemangati,jujur saja ia pun tidak bisa melakukan hal itu.


"Menyebalkan,bukannya membantu." ucap Ali kesal karna Amran tidak membantunya sama sekali.


"Aku hanya bantu do'a lagian kau sendiri yang mengatakan bisa menjahit jadi itu bukan salahku." ucap Amran yang tak terima jika dirinya yang disalahkan jelas Ali yang menerima ucapan Asma padahal dirinya tidak meminta sama sekali pada Asma.


"Ya itukan...sudahlah aku lapar aku tambal saja pakai handsaplas bagaimana?" tanya Ali dengan ide cemerlangnya.


"Tidak mau,itu seperti anak yang malas lebih baik aku yang menutupnya,kita kekantin saja sekarang!" ucap Amran karna dirinya tidak suka mengotori bajunya dengan tempelan-tempelan.


"Tidak!!aku sudah mengatakan akan menjahit pakaianmu pada Asma bagaimana mungkin aku mengingkarinya,jika dia datang apa yang harus aku lakukan,aku tidak mau disebut sebagai lelaki yang tidak beetanggung jawab atas ucapannya." ucap Ali yang mendumel seperti wanita sedangkan Amran hanya pasrah dengan keras kepala temannya itu.


selang beberapa lama Asma dan Marsella masih menatap mereka yang duduk di kursi yang sama tidak berubah sama sekali.

__ADS_1


"Itu bukannya Amran dan Ali mereka sedang berdebat apa ya?" tanya Asma pada Marsella yang ada dipinggirnya.


"Entah lebih baik kita samperin mereka,takutnya mereka ada masah." ucap Marsella.


"Ayo." ucap Asma.


"Kalian belum selesai?" tanya Marsella.


"Belum." Jawab Amran menatap kesal pada Ali yang masih terus mengoceh padahal sudah datang pemilik alat jahitannya.


"Um...Ali." Panggil Asma lembut karna ia bisa melihat Ali yang terus saja sulit memasukkan benangnya.


"Diamlah aku sulit memasukan benang jika tidak fokus akan bertambah sulit!" ucap Ali tanpa menengok.


"Oh maaf" ucap Asma yang merasa bersalah karna mengganggu fokusnya Ali,membuat Ali melotot dan ia sangat kaget karna yang didepannya adalah Asma.


"Hehe...maaf aku fikir bukan kau." ucap Ali menggaruk kepala yang tak gatal bukannya apa ia sangat malu membentak Asma yang selama ini ia kagumi.


"sebenarnya aku tidak pandai menjahit percuma kau bantu masukan benangnya juga." ucap Ali yang jujur apa adanya.


"Begini saja,kau belikan makanan untukmu dan Amran dikantin,sedangkan aku yang akan menjahitkan pakaian Amran agar kalian tidak kelaparan!" ucap Asma diangguki Ali.


"Yasudah dari pada aku tak makan." ucap Ali segera berlari kekantin karna sudah tidak kuat untuk makan dia dari tadi menahan laparnya demi seuntas benang dan jarum.


"Yaudah As,aku kekelas ya." ucap Marsella hendak pergi karna rasanya dirinya tidak diperlukan.


"Tidak,aku tidak mau ada yang salah faham,kau tetap disini temani aku!" ucap Asma diangguki Marsella yang tau jika Asma ingin menjaga dirinya dari fikiran buruk orang lain.


Dengan segera Asma mengambil jarum dan benangnya dengan mudah dia memasukannya dan perlahan dia mengambil bagian baju Amran yang sobek tanpa mengentuh kulit Amran karna itu bisa membuat orang lain berfikir yang tidak-tidak.


Dengan teliti dia menjahit atas dan bawah membuat Amran terpesona dengan keahlian Asma yang membuat jantungnya berdegup lagi,karna ia baru tahu bukan hanya pintar mengaji dan belajar Asma juga pintar melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukannya.

__ADS_1


Sungguh tak pernah ku menemukan wanita sebaik Asma apakah Asma seorang wanita ahli syurga ya Alloh jika benar semoga saja...batin Amran.


"Sudah jangan menatap temanku seintens itu,apa kau lupa berkedip?" ucap Marsella menggoda membuat Amran sadar dan mengalihkan tatapannya kearah lain agar dirinya bisa lebih leluasa menghirup udara yang menyesakkan.


Asma semakin menunduk karna malu jika ditatap intens walau ia tidak tau tapi perkataan Marsella baru saja membuatnya malu akan hal itu.


setelah selesai ia pun menutup kotaknya dan segera berdiri dan berpamitan.


"Aku sudah jahitkan pakaiannya maaf karna masalah tadi pakaianmu sobek lebih baik besok ganti saja,aku dan Marsella pamit Ali akan datang sebentar lagi." ucap Asma


"Aku tau,terimakasih." ucap Amran dan hanya dibalas anggukan pelan oleh Asma dan ia pun memasuki kelas.


Amran memegang pakaian yang dijahitkan Asma dan tersenyum,ternyata dekat dengan wanita yang selalu muncul difikirannya begitu membuat hatinya merasa senang.


"Senyum aja gak mau cerita nih?" Tanya Arfan yang datang bersama Lukman,mereka mengintip apa yang terjadi sehingga mereka tidak segan menggoda temannya yang satu ini.


"Tidak ada yang terjadi kok fan." ucap Amran yang ternyata tercyduk dan sekarang malah salting karna godaan temannya.


"Itu bajumu kenapa ran?" Ucap Lukman yang pura-pura tidak tau apa-apa.


"Haha...habis dijahitin seorang bidadari." Goda Arfan yang nampaknya kali ini Amran tidak bisa mengelak dari sifat jahilnya.


"Wah...sepertinya teman kita sedang bahagia fan,haha..." ucap Lukman menatap Amran yang memendam senyumnya yang sepertinya membuatnya terbawa suasana.


"Wah iri aku haha..." balas Arfan sambil merangkul Amran yang hanya diam saja mendengar celotehan Arfan dan juga Lukman.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak dan jangan lupa like coment...


coment lebih membantu menyemangati Author hargailah penulis karna membuat sebuah karya tidaklah mudah fikiran dan cara kerja dilakukan bersamaan sehingga kalian sendiri bisa membayangkan bagaimana membuat cerita itu....terimakasih😊

__ADS_1


__ADS_2