
Amran pun selesai menulisnya dan meminta seseorang agar kertas itu di berikan kepada Clarisa yang sedari tadi menatapnya namum dirinya tidak berminat sama sekali.
"Apakah dia tidak malu mengirim surat pada laki-laki yang tidak dikenalnya." batin Amran karna baru pertama kali dia siperlakukan seperti itu.
"As,kalau difikir kamu asik juga ya diajak komunikasi." ucap Marsella dengan senang ketika dirinya bisa berbicara bebas dengan Asma.
"Terimakasih." ucap Asma.
"Aku sebenarnya takut As,karna hasil tesku sebenarnya tertukar dengan seseorang dan otakku tidak mampu berada di kelas ipa 1,entahlah keberuntungan atau malah masalah untukku." ucap Marsella seketika membuat Asma kaget.
"Jadi harusnya kau tidak disini,tapi tidak apa kita belajar bersama saja.Temanku ada juga yang kasihan padahal dia pintar tapi dikelas sebelah namanya Lukman." ucap Asma.
"Iya As,semoga semuanya dilancarkan." ucap Marsella.
Clarisa senang bisa menerima surat dari Amran,dengan wajah senang ia pun menatap sombong pada Rizka karna ia berhasil.
"Liat gue jago kan siapapun takluk sama kecantikan Clarisa." ia pun segera membuka kertasnya dengan rasa bangga.
Maaf dalam agama islam pacaran itu dosa dan mendekati zina maka aku tidak mau menanggungnya.
Seketika Clarisa merobek kertasnya ia sangat merasa terhina siapapun yang ia inginkan harus ia miliki dan itu takkan berubah bisa-bisanya Amran menolaknya begitu saja walau tidak secara langsung tetap saja dirinya tidak terima.
"Mana,lo bilang bakal naklukin dia,diterima aja engga." ucap Rizka mengejek.
"Liat aja nanti." ucap Clarisa sombong.
Awas aja lo Amran cuman lo yang berani nolak gue dan gue gak terima penolakan lo udah yang permaluin gue!_batin Clarisa.
"Tadi kertas dari siapa ran?" tanya Ali teman sebangkunya yang penasaran Amran surat menyurat bersama siapa.
"Oh,dari temen sekelas." ucap Amran santai karna tidak ingin membuat temannya merasa curiga.
"Cewek apa cowok?" tanya Ali dibalas tatapan bingung pasalnya Ali sudah dari sd tau tentang cinta monyet.
"Memang harus banget cewek cowoknya yang penting gak berujung masalah aku sih fine aja." Ucap Amran santai karna dirinya tidak mau membuat masalah.
"Ya kali aja kan,kamu tuh keren siapa yang gak suka,kalo cewek wah pasti dia cantik deh." ucap Ali yang memang dia merasa dirinya sangat jauh level dengan Amran walau penampilan Amran sederhana sepertinya tidak ada apapun yang ia rubah mungkin faktor keturunan.
"Percuma cantik tapi hati tidak dipelihara,bagai buah cantik tapi isinya busuk." ucap Amran membuat Ali faham jika temannya sedang mengode sesuatu.
"Eh ran." panggil Ali disahuti Amran yang mengetahui Ali yang ingin bertanya.
"Apa?"tanya Amran dengan wajah santai.
__ADS_1
"Tuh perempuan didepan cantik ya,namanya Asma kan kalo aku sih tertarik apa lagi dia tuh baik katanya apalagi suaranya." ucap Ali dengan menatap terpesona pada Asma sedangkan Amran hanya terdiam dan bertanya.
"Oh yang duduk dibangku kedua?" tanya Amran pura-pura tidak kenal.
"Ya siapa lagi,nama Asma cuman satu." ucap Ali kesal pada Amran yang tidak peka.
"Ya terserah." ucap Amran dengan acuh.
"kau tidak tertarik sama dia?padahal aku aja pingin walau jadi temen dia doang." ucap Ali dengan nada yang berharap.
"Hmm." dehem Amran tanpa menoleh.
"yeh malah ngedehem,itu tuh jawaban unfaidah." ucap Ali dibalas tatapan puas karna Amran melihat Ali kesal.
"Yaya....aku tidak akan melakukan itu lagi,kau beruntung karna menjadi teman pertamaku." ucap Amran dengan kekehan.
"Apanya yang beruntung malah kekesalan yang ada kau itu sebenernya cowok yang seperti apa sih??" ucap Ali menatap Amran dari atas sampai bawah.
"Jangan terpesona padaku karna aku itu normal." ujar Amran membuat Ali tidak minat menerka-nerka lagi.
"Emang aku tidak,lama-lama jiwaku tergoncang kalau kau selalu berkata yang menyebalkan!" ucap Ali.
"Justru itu tingkatkanlah otakmu agar bisa membalas perkataanku!" ucap Amran.
.
.
.
kringg....
"Baiklah anak-anak istirahat sudah tiba jadi kalian bisa istirahat sekarang perkenalan sampai disini dulu" ucap guru itu dan segera melenggang pergi.
"As kekantin yuk!" ujar Marsella diangguki Asma yang masih membereskan peralatan tulisnya.
"Tapi aku kekelas Ipa 2 dulu temenku ada disana." ucap Asma dan hanya dibalas anggukan Marsella bagaimana pun teman Asma pasti akan menjadi temannya juga.
"Oke deh." balas Marsela dengan senyum indahnya.
Mereka pun berjalan berdampingan namun saat tiba dijalan keluar pintu ternyata Asma dan Amran jalan bersamaan sehingga mereka terjepit disana.
Asma dan Amran saling menatap terkejut,Asma langsung memelingkan wajah ia kaget dengan itu Amran merasakan jantungnya berdetak lebih cepat ia memalingkan wajah kaget serta memerah.
__ADS_1
"Kalian mau terus seperti itu atau mau dibantu?" tanya Ali merasa gerah dengan mereka yang diam saja tanpa ada yang memulai untuk melepas diri dari jepitan di pintu itu.
"Ya As,sini aku bantu tarik!" ucap Marsela mencoba menarik Asma dari depan pintu yang hanya bisa muat untuk satu orang saja.
.
.
.
Seettt
Setelah terlepas Asma mengetahui bahwa terjadi masalah dengan Amran karna dia yang memegang baju lengan sebelah kirinya.
Ia faham sepertinya bajunya sobek karna paku dipinggirnya tadi saat ia ditarik.
Amran dan Ali hendak pergi.
"Tunggu disini!!" ucap Asma lembut pada mereka sehingga mereka merasa terpanggil dan saling menatap.
"Mau kemana dia??" tanya Ali dengan bingung.
"Kau buta ya,dia kan masuk kelas!" ucap Marsella karna kesal dengan pertanyaan bodoh Ali.
"Aku tau maksudku mau apa?" ucap Ali dengan kesal.
"Nanti juga tau kalau dia kembali lagi kesini." ucap Marsella yang tak mau memperpanjang percakapannya lagi.
Asma segera masuk kekelas dan membawa sebuah kotak kecil dan ia pun menatap mereka.
"Ummm...M..Maaf..kau Ali kan?" tanya Asma menunduk karna ia belum terlalu kenal dengan Ali baru pertama kali bertemu saat ia sekelas.
"Ya betul." jawab Ali senang karna ternyata ada teman yang bisa mengetahui namanya.
"Bi..bisakah kau menjahit baju lengan Amran sepertinya bajunya sobek." pinta Asma yang langsung menatap pakaian Amran yang memang sobek,Ali melotot dan segera langsung mengangguk.
Sebenarnya ia tidak bisa menjahit tapi karna jika dijahitkan Asma nanti Amran keenakan.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak dan jangan lupa like coment...
coment lebih membantu menyemangati Author hargailah penulis karna membuat sebuah karya tidaklah mudah fikiran dan cara kerja dilakukan bersamaan sehingga kalian sendiri bisa membayangkan bagaimana membuat cerita itu....terimakasih😊
__ADS_1