Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
02.Mulai hidup baru


__ADS_3

Brakkk


"Latifah,Sayyid dimana ibu kalian?" ucap sang paman dengan tergesa-gesa membuka pintu rumah mereka.


"paman...ibu...hiks...ibu telah wafat" setelah mendengar itu Malik semakin lemas ia tidak mengira jika semua ini akan sangat menyakitkan untuknya sedangkan ia tidak tau harus mengatakan apa pada keponakannya.


"Paman kenapa kau sendirian dimana Ayah?" tanya Latifah yang sedari tadi menunggu kepulangan ayahnya.


"Ayah kalian...."Malik merasa ragu mengatakan kebenarannya karna setelah mendengar kakak iparnya meninggal ia tidak tega melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa paman,katakanlah!!" ucap Sayyid penasaran karna ia yakin terjadi sesuatu yang disembunyikan pamannya.


"Ayah kalian telah wafat." seketika Sayyid terdiam Latifah menangis memeluk sang kakak.


"Tidak paman,Ayah menjemputmukan?" ucap Sayyid dengan nada tidak percaya karna baru saja ayahnya pamit menjemput paman dan bibinya.


"Kau benar dia mengalami kecelakaan ditengah jalan." ucap Malik membuat Latifah menangis semakin keras karna kini ia telah kehilangan ibu sekaligus ayahnya.


"Huhuhu....kakak...Ayah juga meninggalkan kita." dengan sangat tertekan dan merasa lemas, dengan sabar sayyid menepuk pelan punggung sang adik.


"Ini cobaan untuk kita Latifah,Bersabarlah." dengan rasa percaya diri Sayyid meneteskan air matanya dalam diam,ia harus tegar dia sudah besar tidak boleh cengeng ia masih ingat apa saja pesan Alm sang ibu.


Malik yang melihat itu sungguh bangga akan sikap tegar Sayyid sekaligus bersedih akan semua ini, ia menatap Box yang berisi seorang bayi yang mengalihkan pandangannya.


"Siapa bayi itu?" Tanya Malik yang merasa tenang menatap bayi yang mungil itu.


"Dia adik kami paman,namanya Asma Anniar."Ucap Sayyid dengan nada rendah sekaligus menahan tangisnya.


Malik menggendongnya dan tersenyum ia tau bahwa dia dan istrinya belum bisa mendapatkan seorang anak membuatnya bersyukur saat melihat ketiga anak mendiang kakaknya yang bisa ia rawat seperti anaknya sendiri.


"Kita pulang kerumah paman,setelah kita memakamkan kedua orang tua kalian" setelah Malik mengatakan itu segeralah Latifah dan Sayyid mengangguk sedangkan mata Latifah tidak pernah lepas dari sang adik.

__ADS_1


Pemakaman pun dilaksanakan dengan rintihan hujan yang semakin lama semakin menurun,tangis akan kepergian orang tuanya membuat mereka menjadi anak yatim piatu.


"Sayyid,Latifah,mulai sekarang kalian akan tinggal bersama paman dan bibi.Jangan berlarut larut ya karna bibi yakin kalian bisa menjalani hidup tanpa sosok yang paling berharga dalam diri kalian!" ucap Halima lembut,walau dia bukanlah seorang ibu tapi dia juga selalu berusaha untuk menjadi ibu yang baik kedepannya ia bisa melihat atas didikan kakak iparnya anak mereka menjadi sangat tegar dalam kesulitan.


"Bibi kami sangat bahagia jika kalian bisa mengerti kami dan juga dengan ikhlas merawat kami apa lagi Saayid juga masih sekolah jika membiayai adik-adik sayid itu tidaklah mudah." ucap Sayyid dengan tabah.


"Paman yakin besar nanti kau yang akan menggantikan peran ayah untuk adikmu karna kau yang akan dipercaya Ayahmu yang sudah tenang di syurga,janganlah kau berbuat buruk atas segala ujian Alloh karna itu menuntunmu menuju rahmatnya." ucap sang paman dengan nada menyemangati.


"Terimakasih paman,jika sudah begini Sayyid tidak akan takut untuk melangkah menuju titik terang." ujar Sayyid.


.


.


.


6 Tahun Kemudian...


"Kakak...." Teriak seorang gadis yang imut dengan mata bulat dan kulit putih bercahayanya hidung mancung dan rambut panjang tergurai indah.


"kakak apa kau tau dimana kak Latifah?"tanya sang adik dengan nada sangat imut


"Latifah sedang belajar dikamarnya kau bisa menemuinya disana." ucap Sayyid yang sedang meminum Teh manisnya,ia sebentar lagi sudah mau berangkat kuliah.


"Baik kak." dengan langkah mungilnya ia pun berlari menuju kamar kakaknya yang tidak dikunci.


Cklek


"Kak Latifah ayo bermain bersamaku,paman memberiku boneka teddy bear tadi." ucap Sang adik namun Latifah masih fokus dengan Buku dan Penanya ia tidak menatap adik kecilnya sama sekali.


"kakak..." ucapnya menunduk karna hanya hawa dingin yang ia rasakan.

__ADS_1


"Diam kau Asma,apa kau buta? aku sedang mengerjakan tugas sekarang pergilah aku sedang pusing!!" Teriak Latifah dengan nada kesal membuat adiknya itu tidak bisa berkata apa-apa karna ia takut jika kakaknya akan memarahinya lagi.


.


.


.


"Paman usiaku sudah 21 tahun dan aku ingin menanggung beban adik-adikku sendiri apa paman mengizinkan kami untuk tinggal dirumah mendiang kedua orang tua kami?" tanya Sayyid dengan sopan membuat Malik sedih sekaligus bahagia melihat Sayyid telah dewasa.


"Keinginanmu sungguh mulia dengan ingin menjaga kedua adikmu yang masih kecil,tapi paman takut terjadi sesuatu pada Asma dia masih kecil sedangkan disini bibi dan paman masih bisa menjaganya." Ucap Malik.


"Benar Sayyid bibi menyayangi kalian terutama Asma sejak dari bayi dia dirawat oleh kedua tanganku ini." ucap sang bibi sambil merentangkan kedua lengannya.


"Bi Halima kau sangat baik lagi lemah lembut kami sudah merepotkan kalian sedangkan kami belum bisa membalas budi kalian" ucap Sayyid.


"Sayyid,kami tidak mengharapkan balas budi kalian dengan kalian tetap bahagia dan selalu berdoa untuk kami itulah kunci kebahagiaan kami" ucap Halima menatap sang suami.


"Benar,kami semakin tua dan kami mengharapkan dimasa tua kami,kalian tumbuh bahagia.Tinggalah sebentar lagi setelah kau lulus kuliah baru kita bicarakan lagi bagaimana?" tanya Malik


Sayyid menghembuskan nafasnya dan mengangguk faham.


"Baiklah paman Sayyid akan melaksanakannya.Tapi agar lebih baik Sayyid akan tinggal dirumah Alm.Ayah ibu sedangkan Latifah dan Asma disini" ucapan Sayyid membuat kedua paman bibinya menautkan halis bingung.


"Kenapa?" tanya mereka kompak


"Jangan salah faham paman bibi,Sayyid hanya ingin mandiri dengan keadaan dan usia Sayyid.Lagi pula rumah terlantar tidak dihuni akan sangat disayangkan.bukannya Rasulullah pun pernah bersabda bahwa kita tidak boleh membangun sesuatu sedangkan tempat itu tidak digunakan?" tanya Sayyid membuat sang paman terharu.


"Anakku kau sudah Dewasa,pergilah dan tunaikan apa yang menjadi hajatmu.jangan lupa selalu kesini karna jarak rumahmu dan rumah paman cukup jauh jadi jangan lupakan itu" ucap Malik


"Ya paman" ucap Sayyid

__ADS_1


Tanpa disadari ternyata Latifah mendengar perbincangan mereka karna sedari tadi Asma terdiam membuatnya akan menyusul tapi karna seseorang berbincang membuatnya penasaran dan memilih mendengarkan.


Bersambung...


__ADS_2