
Tahun terus berlalu setelah kelulusan Asma sudah berfikir akan kuliah di kampus A dan ia mengambil jurusan sebagai guru pendidikan Agama.
Ia kini masih berfikir bisakah ia melalui ini tapi disetiap doanya ia selalu berfikir sedemikian.
"Asma!!" panggil seorang perempuan sambil memegang spatulanya.
"Eh kak Latifah ada apa kak?" tanya Asma dewasa yang menatap sang kakak yang berpakaian daster itu.
"Gini,kakak belum sempat berdandan jadi bisakah setelah pulang sekolah nanti kamu jemput Zulkarnain disekolahnya?" pinta Latifah.
"Ah bisa kok lagian jadwal kuliah Asma saat ini tidak padat dan um...bisakah kakak memintakan izin pada kak Hafidz untuk membiarkan Asma ke cafe dulu bersama teman?" tanya Asma.
"Eh kenapa tidak kau sendiri saja?" tanya Latifah bingung.
"Kemarin sudah tapi kak Hafidz melarangnya ia berkata takut terjadi sesuatu pada Asma dan sepertinya Asma juga belum berani meminta lagi." Asma menunduk.
"Untung aku sedang hamil dan itu membuat peluang untukmu,tunggu sebentar kau akan mendapatkan izinnya." ujar Latifah.
Asma menengok keruang tamu ia penasaran dengan alasan kakaknya pada suaminya.
"Hiks ....suamiku." rengek Latifah sambil meneteskan air mata.
"Kamu kenapa La?" ucap Hafidz kaget sambil mepetakkan korannya.
"Hiks...aku ngidam lagi." sambil melengkungkan bibirnya kebawah.
"Hah,jadi apa yang kamu mau selagi aku mampu." ucap Hafidz lembut.
"Hiks...aku pingin kamu menuruti apapun keinginan Asma jika tidak aku akan mual didekatmu!" ucap Latifah sambil menatap ekspresi wajah suaminya yang nampak pasrah.
"Hah baiklah aku akan melakukannya,lagian ngidammu ini selalu aneh,kemarin kau ngidam memintaku menjemput Asma disekolah katanya perutmu ingin dielus sama dia eh pas disana aku malah menemukan Asma sedang di palak orang sekarang kamu memintaku menuruti kemauan Asma apa benar karna ngidam?" bertanya lagi.
Astagfirullah maaf suamiku aku berbohong ini bukan ngidam tapi ngidam diriku sendiri bukan bayimu jadi maafkan aku karna berbohong_batin Latifah.
"I-iya." mengangguk sedih.
"Baiklah setelah kau memasak istirahat tidak baik kalau sampai kau kecapean!" ucap Hafidz sambil memeluk Latifah.
__ADS_1
"Tapi aku belum selesai menyuci,pakaian sudah menumpuk banyak." ucap Latifah dengan cemberut.
"Tidak,kalau suami melarang jangan membantah!" ucap Hafidz dengan tegas.
Latifah kini mulai mengeluarkan air mata membuat Hafidz merasa bersalah ia pun mencium kening sang istri.
Cup
"Baiklah,tapi tunggu besok saja menyucinya supaya aku bisa membantumu jadi hari ini dengarkan aku saja dulu kau faham La?" ucap Hafidz dengan tatapan teduh membuat Latifah mengangguk faham.
"Kalau begitu aku dan Asma akan pergi,ouh ya dimana adik iparku yang menggemaskan itu?" menoleh.
"Kak,Asma ada disini." ucap Asma yang sedari tadi menunggu percakapan kakaknya selesai.
"Ayo berangkat!" Hafidz pun membawa helmnya dan menuju keluar rumah,seperti biasa kini tugas Hafidz menggantikan peran Malik yang biasanya mengantar jemput Asma tapi karna sekarang Asma tinggal bersama Latifah dan Hafidz membuat tanggung jawab itu digantikan oleh Hafidz.
Asma menoleh pada Latifah,Asma memberikan jempol dua sedangkan Latifah mengedipkan satu mata dan Asma melirihkan kalimat 'Terimakasih' dibalas anggukan Latifah.
Setelah tiba dikampus.
"Terimakasih kak Hafidz." ucap Asma menunjukkan senyum manisnya.
"Kak...um...." Asma ragu meminta izin seperti kemarin.
"Ada apa katakan saja hari ini kakak sedang baik." tersenyum.
Asma tau kok kakak sudah diminta memenuhi permintaan Asma lewat ngidam,jadi kakak tidak perlu memberi alasan lain hihihi_batin Asma.
"Sore ini Asma ada kerja kelompok bersama teman-teman bolehkah Asma kesana?" pinta Asma langsung diangguki Hafidz membuat Asma kegirangan.
"Sungguh kak?" dengan wajah bahagia.
"Pergilah asal kau jaga mata hati dan fikiran jangan menengok ke sembarang pria,kakak tidak mau kamu salah bergaul.Pulanglah sebelum jam 7 malam,karna kakakmu pasti sudah masak banyak!" perkataan Hafidz langsung diangguki patuh oleh Asma.
Hafidz sendiri melakukan itu karna ia takut hal serupa menimpa Asma setelah Latifah membuat ia overprotektif terhadap Asma apa lagi dia adalah berlian yang Malik amanahkan untuk dijaga hingga kelak suaminya bisa membawa Asma dengan keridhoan dari Alloh, sempat terbesit Hafidz ingin menangis mendengar perjalanan kehidupan Asma tapi ia sadar Asma tidak patut ditangisi tadi diberi sebuah penghargaan yang bernilai tinggi.
"Kalau begitu Asma pergi dulu kak Assalamualaikum." ucap Asma melenggang pergi setelah mencium tangan Hafidz.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Setelah melihat Asma menjauh Hafidz segera pergi kekantornya.
sesampainya di koridor.
"Hayo!!" seseorang mengagetkan Asma dari belakang membuat Asma kaget sambil memegang dada.
"Astagfirullah Aqila kamu ini mengejutkan orang terus apa gak ada kerjaan lain?" ucap Asma sambil bernafas degdegan.
"Hehe gimana gak ngejutin orang kamunya aja yang selalu serius." ucap Aqila dengan tawanya.
"Asma jadikan ke cafe sungguh As karna hadist yang selalu kamu katakan padaku aku merasa sejuk dan sadar aku yakin menjadi mualaf." ucap Reisa yaitu teman sewaktu SMA nya.
"Subhanallah Alloh sudah memberikanmu hidayah Rei baiklah setelah di cafe nanti kita ke masjid bertemu dengan pamanku dia akan mengajarimu untuk menjadi seorang muslim bagaimana."ucap Asma.
"Aku ikut,kan harus ada saksi juga."ucap Aqila cengengesan.
" Ouh ya orang tuamu berapa lama dinas disini apa jika sudah selesai kau pindah kampus?"tebak Asma.
"No,aku tidak akan melakukan itu karna sahabatku disini dan juga sebenarnya aku kangen Marsella." ucap Aqila.
"Ouh ya terakhir aku menjenguknya lagi saat akan masuk kuliah semester awal dan keadaannya belum bisa diprediksi apakah kita menjenguk kesana lagi?"tanya Asma.
"Aku ikut berdosanya aku yang menyebabkan hal itu karna sebenarnya..." Reisa menunduk.
"Apa Rei?" tanya Aqila penasaran.
"Sebenarnya dalang dibalik itu semua adalah Clarisa,dia meminta anak buah ayahnya untuk menabrak motor Ali dan juga Marsella aku tau karna aku sempat mendengar perbincangan Rizka dengan Clarisa sempat aku ingin mengabari Marsella ataupun Ali untuk berhati-hati tapi aku lupa kalau aku belum memiliki nomor mereka." penjelasan Reisa membuat Aqila dan Asma sama-sama terkejut.
"Kurang ajar nenek sihir itu,dia tidak tau itu sangat membahayakan orang lain." ucap Aqila geram.
"Aku akan membalasnya karna saham ayahku lebih besar dari pada tuan Johan jadi ayahku bisa membalas penderitaan Marsella selama ini." mengepalkan tangan.
"Jangan berfikir dengan hati yang panas la,semua itu tidak baik diselesaikan dengan amarah karna berujung mala petaka.Apa kau lupa ada Alloh yang akan membalas semua perbuatan manusia mau itu baik atau buruk?" Kini ucapan Asma menyadarkan emosi Aqila.
"Astagfirullah,jangan sampai kejadian karna emosiku terulang setelah aku salah sangka pada Marsella membuatku malah menjadi orang paling bodoh,makasih As sudah mengingatkan." Tersenyum dan langsung dibalas senyum tulus Asma.
Bersambung...
__ADS_1
Kembali lagi jangan lupakan sehabis baca Like,Rate,Vote nya juga dan Coment terimakasih😘