
Setelah itu bel pulang berbunyi....
"Asma ayo pulang!" Ucap Najla dan Aqila yang sudah menunggu didepan kelasnya.
"Ayo." ucap Asma.
"As,kita tau kok tadi kamu jaitin baju Amran,kalian cocok kok kita sih dukung aja untuk kebahagiaan kamu." ucap Najla pada Asma.
"Kaliam tuh apaan sih lagian aku masih sekolah dan belum ada fikiran berdekatan dengan cowok mau baik atau pun tidak." ucap Asma dengan wajah merona.
"Haha...kami memang baru menjadi temanmu tapi jika kau tersipu malu pipimu akan merona merah rasanya kami yang menjadi perempuan juga gemas melihatnya." ucap Aqila menatap Asma.
"Kalian jangan berlebihan,aku tidak pernah berubah memang seperti ini." ucap Asma.
"Wah sangat ajaib,kami iri denganmu yang punya wajah sempurna,kalau kita itu ibaratkan langit dan bumi." ucap Najla.
"Kalian ini..." ucap Asma yang hanya menggeleng merasa heran dengan fikiran temannya yang selalu ceria tapi selalu mengatakan iri.
.
.
.
setelah mereka sampai ditengah lapang seseorang mencegah mereka berjalan dan itu adalah Bondan bersama kawan-kawannya.
"Huh kita bertemu disini." ucap Bondan membuat Asma kaget karna baru saja ia akan melangkah Bondan sudah berada didepannya.
"Astagfirullah,mengagetkan saja.Apa maumu?" tanya Asma dengan nada biasa,karna ia tau pasti Bondan ingin mengganggunya.
"Gue maunya Lo!" ucap Bondan membuat Asma kaget sedangkan dia tersenyum senang melihat ekspresi Asma yang terkaget.
"Maaf aku tidak mau berdekatan dengan lelaki yang bukan Mahramku." ucap Asma hendak pergi namun Bondan berkata.
"Huh munafik,tadi saja kau berdekatan dengan Amrankan?" tanya Bondan dengan mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Asma sedangkan Asma hanya terkejut dia tidak mau hal itu membuat orang salah faham.
"Kau salah faham tadi aku hanya membantunya tidak ada yang lain, lagian menolong sesamakan itu kewajiban seorang muslim." ucap Asma menjelaskan kebenaran.
"Udah deh jangan banyak ngomong gue tau sesuatu antara lo sama Amran,kalo lo gak mau jadi pacar gue,gue laporin lo pacaran sama Amran lagian lo cantik gak pantes sama si Amran itu yang cuman cowok gak berguna!" ucap Bondan memegang dagu Asma sedangkan Asma sudah mulai marah atas sikap lancang Bondan.
Asma menepis lengan Bondan yang lancang.
"Aku lebih suka lelaki yang menjaga sahwatnya dari pada yang kurang ajar sepertimu!" ucap Asma mulai marah,ini adalah pertamanya Asma merasa direndahkan.
"Wah...tenang dulu jangan marah,kalau lo jadi pacar gue lo bakal dapetin apapun yang lo mau." ucap Bondan dengan seringaiannya.
__ADS_1
"Iya,bos gue tuh duitnya gak pernah habis 7 turunan juga makannya lo bakal bahagia deh." ucap salah satu temannya.
.
.
.
Flashback.
"Bon gue tantang lo dapetin cewek itu nanti gue kasih motor keluaran baru buat lo mau gak?" tanya Clarisa sambil mengintip Asma yang menjaitkan baju Amran.
"Dapetin Lo aja gimana?" Tanya Bondan diberikan jitakan oleh Clarisa yang merasa kesal.
"Gak gue maunya sama cowok itu bukan lo!" ucap Clarisa kesal atas fikiran Bondan yang terlalu jauh.
"Oke lagian cewek yang itu lebih cantik dan menarik dari pada lo." ucap Bondan menatap Asma yang sedang menjahit pakaian pemuda dipinggirnya dam hanya dibalas delikan Clarisa.
"Iss lo ya.." balas Clarisa kesal memukul lengan Bondan yang seenaknya berkomentar.
"Gue sih jujur aja lagian gue bosen sama cewek yang terlalu berambisi." Ucap Bondan dan ia pun pergi meninggalkan Clarisa.
"Gue gak akan biarin Asma dapetin Amran,apasih cantiknya rambut aja gak keliatan gimana kalo dia botak." kesal Clarisa.
.
.
.
.
.
.
"Jadi gimana?" tanya Bondan.
"tetep enggak lagian jika kamu bisa memenuhinya aku yakin takkan mampu." ucap Asma menantang ia tidak bisa diam saja pada orang yang seperti Bondan.
"Haha...apapun bisa Bondan lakukan,karna aku punya semua yang tidak dimiliki siapapun." ucap Bondan sombong sambil meremtangkan tangannya.
"Baiklah,besok bawa apa yang tidak akan pernah bisa aku beli!" ucap Asma membuat Bondan bingung karna Asma tidak mrngatakan apa yang diinginkannya.
"Apa itu?" tanya Bondan.
__ADS_1
"Cari tau sendiri!" ucap Asma acuh,rasanya ia tidak takut akan hal ini,karna Alloh selalu menolongnya memberikannya ide untuk membuat orang lain sadar akan kesombongannya itu.
"Huh aku tau besok aku akan membelikannya untukmu." ucap Bondan menyeringai.
"Gimana sih As kenapa malah dikasih begituan dia tuh banyak uang pasti apa yang kamu mau dia bakalan bisa wujudin." ucap Najla yang khawatir jika tantangan Asma bisa dipenuhi Bondan.
"iya As,uang dia itu banyak mana mungkin tantangan kamu bisa dia tidak penuhi." ucap Aqila merasa takut dan ngeri apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kalian tenang saja,dia tidak akan pernah tau apa yang aku maksud karna aku tau setiap manusia seperti bagaimana,terlihat jelas dari sikap mereka dan keinginanku juga tidaklah bisa dikabulkan oleh kalian maupun diriku sendiri." ucap Asma tersenyum.
"Maksudmu?" ucap Najla bingung.
Asma hanya tersenyum tanpa berkata apapun lagi pada Najla maupun pada Aqila.
"pokoknya kalo sampai si Bondan tau apa yang kamu maksud kita bakalan dukung kamu." ucap Aqila.
Asma tersenyum...
.
.
.
sesampainya dirumah...
"Asalamualaikum..." ucap Asma dan dibalas paman dan bibinya yang duduk di ruang tamu.
"Waalaikum'salam." ucap mereka yang tengah duduk di ruang tamu.
Asma membulatkan mata dan bahagia karna kakaknya pulang kesini dan ia bahagia karna sudah lama tidak bertemu matanya pun berlinang air mata saking bahagiannya.
"Kak Sayyid." peluk Asma dengan erat dia sangat rindu dengan kakaknya ini yang selalu ia tunggu kepulangannya.
"Minggir aku juga pingin peluk!" ucap Latifah membuat Asma menunduk dan melangkah mundur ia sadar jika bukan dirinya saja yang merindukan kakak lelakinya tapi kakak perempuannya juga.
"Kakak,Latifah seneng kakak pulang,kapan kita tinggal barengan lagi?" ucap Latifah sambil bergelayut manja,dari dulu memang begitulah sifat Latifah tidak pernah berubah membuat Sayyid harus punya banyak alasan agar bisa membujuknya.
"Takkan lama lagi." Ucap Sayyid mengelus kepala Latifah dan ia sadar bahwa Asma menatap sedih entah karna apa dia begitu tapi mungkin karna Latifah yang sedari dulu bersikap cuek pada adiknya.
"Latifah apa kau masih begitu pada adikmu?" tanya Sayyid dan Latifah menatap tidak suka pada Asma ia merasa jika dirinya selalu disalahkan dalam hal apapun.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak dan jangan lupa like coment...
__ADS_1
coment lebih membantu menyemangati Author hargailah penulis karna membuat sebuah karya tidaklah mudah fikiran dan cara kerja dilakukan bersamaan sehingga kalian sendiri bisa membayangkan bagaimana membuat cerita itu....terimakasih😊