Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
08.Kelompok 16


__ADS_3

"Baiklah semua sudah mendapatkan kelompok sekarang kalian bisa bergabung!" ucap ketua osis yang sedari tadi mengurus para siswa baru.


"Baik kak." ucap semua siswa/i yang sedari tadi mendengarkan arahan dari osis itu.


"Kak saya dapat no 16 dan saya menukar dengan lelaki ini jadi kelompok pertama!" ucap Bondan dengan lantang tanpa memperdulikan tatapan dari orang-orang.


"Tidak..." seseorang berbisik pada ketua osis yang hendak memberikan peraturan yang sudah ditetapkan tapi anggota osis lainnya yang tau siapa Bondan mencoba menjelaskan.


"Dia anak kepala sekolah jadi biarkan dia dapatkan yang diinginkannya soal pindah kelompok bukan menjadi masalahkan?" ucap salah seorang rekannya yang sudah tau Bondan dari awal.


"Tapi sesuai yang sudah ditentukan kita harus mentaatinya,mau dia siapa peraturan tetap peraturan." ucap ketua osis yang memang sangat tegas pada para siswa.


"Tapi sesuai apa yang dikatakan kepala sekolah kita juga harus mempertimbangkannya dia bilang anaknya harus senang disini." ucap rekan lainnya.


"Tapi itu sama saja kita bertindak tidak adil pada yang lain." ucap ketua osis,karna dia fikir jika keuntungan didapatkan seseorang bisa-bisa yang lain tidak setuju dan bisa berakibat buruk pada kegiatan ini.


"Tapi jika kepala sekolah tau bisa kau yang kena masalahnya." ucap rekannya,membuat dia mempertimbangkan dua kali,memang jika menyangkut kepala sekolah apa boleh buat dia hanya ketua osis.


"Baiklah,kau bisa pindah kelompok tapi selama apapun yang terjadi tidak ada yang bisa kau pertanyakan lagi!" ucap ketua osis dengan tegas dan dengan segera Bondan menyahut.


"Iya." jawab Bondan dengan sombong dan tidak suka jika dirinya selalu dipersulit.Baginya apapun mudah baginya.


"Liat tuh,aku denger dia anak kepala sekolah gayanya seperti lelaki sombong mau jadi apa besar nanti." ucap Najla yang sedari pertama memang tidak menyukai sifat lelaki itu yang selalu seenaknya sendiri.


"Baik jeleknya seseorang itu sudah menjadi amalnya kita jangan sampai seperti apa yang tidak baik diperbuatnya." ucap Asma membuat Najla menunduk dan ia sadar memang dirinya tidak boleh berfikiran buruk pada orang lain,karna belum tentu dirinya baik dimata orang lain.


"Ya Asma aku faham tapikan,kau tau jika melakukan hal semaunya itu namanya tidak adil." ucap Najla merasa bahwa dirinya memang berfikir positif.


"Apa keadilan harus kau pertanyakan,biar Alloh yang akan memperadilnya." ucapa Asma membuat Najla faham bahwa dia juga tidak boleh egois.


"Aku tidak menyukainya" ucap Najla dengan acuh karna lelaki seperti itu tidak akan pernah berubah jika dibiarkan.


"Tidakkah kamu rugi?Naj kau tau jika kau tidak menyukai seseorang artinya kau pun tak menyukai sang penciptanya jika kau menggunjingnya maka Alloh akan membalasnya.Kau tau kan apa yang dimaksud perkataanku?" tanya Asma dengan nada selembut mungkin agar Najla tidak salah faham.


"Kau benar As,aku tidak berfikir kesana.Ya Alloh apunilah aku yang khilaf ini " ucap Najla sambil merentangkan tangannya keatas berharap dosanya diampuni.


.


.

__ADS_1


.


kelompok 16.


"Baiklah,perkenalkan nama kakak Amellya Rizky putri kalian bisa panggil kak Amel,disini kakak adalah ketua pembimbing kalian segala yang dipertanyakan kalian boleh menanyakan langsung pada kakak!" ucap Amellya dengan tersenyum ramah agar murid barunya tidak canggung dan merasa nyaman.


"Baik kak." ucap semua kelompoknya yang sudah berkumpul didalam kelas kelompok 16.


"Nama kakak Nirmala kalian bisa panggil kak Mala tidak usah sungkan kakak pembimbing kedua kalian." ucapnya tak kalah sopan membuat semuanya nyaman jika bertanya.


"Baik kak." ucap semua peserta kelompoknya dengan suara sekenannya.


"Baiklah kita disini akan absen jika namanya dipanggil tolong angkat tangan!" ucap Nirmala yang sudah mulai mengambil kertas absen yang ada di meja.


"Amran Alfian." panggil Nirmala sambil menatap semua penjuru tempat.


"Saya kak." ucap Alfian dengan lantang dan setelah berdiri ia duduk kembali.


"Asma Anniar." panggil Amellya menatap dan orangnya ada dibangku paling ujung membuatnya sedikit menengok agar terlihat jelas orangnya yang mana.


"Saya kak Amel."ucap Asma lembut membuat semua orang menatapnya karna suaranya membuat orang-orang suka walau bersuara sebentar tapi sungguh membuat hati berdebar.


" Wah suaramu sepertinya merdu jika bernyanyi sudah kutebak,dan terimakasih sudah mengingat nama kakak."ucap Amellya dengan senang karna mendapat adik kelas yang baik.


Tanpa disadar seseorang mendelik tak suka atas pujian itu membuat dia memalingkan wajah.


"Arfan Daiyan." panggil Amellya dan orangnya trpat dibangku paling depan.


"Saya kak." ucapnya sambil mengedipkan mata membuat Amel seketika terkejut,karna baru pertama kali murid baru berlaku seperti itu.


"Jaga matamu adikku." Ucap Amellya membuat seisi kelas tertawa.


"Aqila Sajiddah Nurmala." panggil Nirmala dan tersenyum menatap Aqila.


"Saya kak Mala " ucapnya dengan tersenyum tenang karna ia juga berfikir bahwa tersenyum itu lebih baik walau sebenarnya ia orang yang sedikit acuh.


"Nama belakangmu hampir sama denganku apa kita berjodoh?" ucap Nirmala menggoda murid barunya.


"Kakak akan segera mempunyai adik yaitu aku kak." ucapan Aqila membuat Nirmala terkekeh.

__ADS_1


"Kau benar." Ucap Nirmala dan mencentang absen Aqila.


"Clarisa Angraeni Maunah." ucap Amellya menatap siapa yang dipanggil seketika orang itu bersuara.


Clarisa adalah anak yang sangat kesal tadi pada Asma ia berkesempatan berbicara dengan percaya diri ia berkata selembut mungkin


"Saya kakak." ucapnya berdiri menjadi bahan tontonan.


Akhirnya aku menang_batinnya.


"Clarisa apa suaramu sedang bermasalah,atau memang sudah dari sananya?" Tanya Amellya yang memang tidak tau.


"Bffttt,Lihatlah begitu konyolnya dia" tunjuknya pada Clarisa.


"Fan kau diamlah" ucap Amran yang geram melihat tingkah konyol temannya itu.


"Lucu sekali hahaha.." Tawa Arfan menjadi bahan sorotan.


"Kau memalukan." ucap Amran.


"Hei ran gini-gini juga kan sahabatmu seperti pada siapa saja." ucap Arfan tanpa malu.


"Terserah kau saja." Ucap Amran dengan nada kesal.


"Lukman Hafidz." panggil Amellya.


Lukman hanya berdiri dan tersenyum.


"Terakhir Najla Jahiddah." Panggil Nirmala.


"Saya bu,eh kak." Ucap Najla ditertawai berkat kata konyolnya.Najla hanya malu karna salah menyebutkan.


"Tidak kah kau ingin tertawa,dia melakukan hal yang lebih konyol." Ucap Amran menyindir temannya itu.


"Haha...dia tidak begitu lucu." Ucap Arfan menatap biasa saja pada Najla.


"Hari ini kau berkata itu besoknya beda lagi." Ucap Amran di balas tatapan acuh Arfan.


"Kau saja aku tidak akan berubah ran." jawaban Arfan hanya dibalas gelengan Amran yang entahlah menurutnya sifat temannya yang satu ini memang sangat menjengkelkan namun menyenangkan juga.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2