
Setelah masuk ke kediaman Lukman,Lukman pun langsung menanyakan sesuatu pada Ali dan Marsella.
"Kamu yakin sel dengan hijrah kamu untuk lebih taat pada agama?" tanya Lukman.
"Insyaalloh man,aku ingin dengan aku lebih faham agama segala cobaan yang ku alami bisa di pecahkan dengan sabar seperti Asma." ucap Marsella.
"Kakak memangnya belum pernah mengaji?" tanya Hasna.
"Belum dik,kakak selama ini terlalu sibuk dengan dunia sehingga kakak belum paham tentang Al-qur'an." ucap Marsella.
"Sayang sekali ya kak,padahal kakak cantik kalau pandai mengaji bisa aja kak Lukman suka." ucap Hasna membuat Lukman menggelengkan kepala.
"Man,adik kamu itu sangat cerewet ya?" ucap Ali menatap tajam Hasna.
"Bilang aja cemburu wlee..." ejek Hasna lagi membuat Ali ditertawakan Marsella dan Lukman.
"Sudahlah sekarang kita mulai!" ucap Lukman dan meletakan iqranya didepan Marsella.
"Begini saja,kalau Marsella diajari sama Hasna saja dia pandai dan untuk Ali bersamaku biar dia juga lebih pandai dan bisa sampai khatam iqra." ucap Lukman diangguki Ali.
Mereka pun akhirnya mengaji di rumah itu.
.
.
"Asma besok kamu harus semangat ibu sudah ajari semua yang ibu mampu dan juga Amran." ucap Hany.
"Insyaalloh bu." ucap Amran.
"Kami akan berusaha untuk mengharumkan nama sekolah bu dan insyaalloh bisa." ujar Asma.
"Maaf gula di rumah habis bisakah kalian belikan di supermarket?" tanya Mita.
"Boleh." ucap Asma dan Amran.
Mereka pun berjalan menuju supermarket dengan berjalan kaki karena tidak jauh Asma berjalan didepan Amran,Amran memakai jacket berwarna merah dipadukan levis dengan baju lengan yang ditarik keatas sedangkan Asma mengenakan gamis,ia memang suka gamis jika berpergian,karena kebanyakannya dia keluar rumah untuk mengajar ngaji anak-anak,ia memang lebih nyaman menggunakannya.
"Kenapa kamu dibelakang ran?" tanya Asma.
"Tidak baik berjalan berdampingan dan alangkah baiknya perempuan didepan agar terjaga dari sesuatu." ucap Amran membuat Asma senang.
"Kamu benar,paman pernah berkata wanita mesti dijaga bukan di sakiti atau diabaikan karena wanita itu lemah dalam hati namun kuat dalam menjaga diri." ucap Asma membuat Amran tersenyum tipis.
"Sayangnya hati mereka cukup kuat untuk memberi celah hati yang lain jika kau belum tau." ucapan Amran membuat Asma bingung.
"Maksudnya??" tanya Asma.
"Hanya Alloh yang tau." Asma hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Sudah sampai kamu saja yang masuk aku tunggu diluar!" ucap Amran diangguki Asma.
__ADS_1
Amran kini menunggu Asma diluar saat ia menatap sekitar ternyata ada penjual buku novel membuatnya berinisiatif untuk membelinya.
"Assalamualaikum pak,novel ini berapa ya harganya?" tanya Amran.
"Cuman 50.000 ribu saja dek." ucap pria parubaya langsung Amran memberikan uangnya.
"Ini pak makasih ya." ucap Amran memberikan uang seratus ribu dan melenggang pergi.
"Dek ini kembaliannya!" ucap pak tua itu.
"Untuk bapak saja anggap lebihnya adalah rezeki dari Alloh."ucap Amran dan kembali ke tempat tadi dan pas Asma sudah kembali.
"Dari mana?"tanya Asma yang menyadari Amran baru pergi dari tempat lain.
"Tidak ada,ouh ya ini novel untukmu." ucap Amran membuat Asma bingung.
"Untukku?"tanya Asma menatap novel berwarna putih dengan kupu-kupu itu.
" Ya anggap saja pemberian semata,aku tau kamu suka novel agar tidak jenuh baca itu."ucap Amran.
"Ketika cinta berbuah syurga?" ucap Asma.
"Ya,itu karya Habiburrahman El Shirazy beliau sangat terkenal bukan,banyak novelnya yang sudah banyak peminat." ucap Amran.
"Terimakasih aku menyukai itu,aku tau beliau, aku sangat suka dengan semua karyanya untungnya yang ini aku belum baca,terimakasih." ucap Asma dengan senang hati.
"Sama-sama." Balas Amran.
Mereka akhirnya berjalan untuk pulang disana mereka menemukan seorang anak kecil menangis.
"Adik kenapa?" tanya Asma lembut sambil menatap anak lelaki itu.
"Layang-layang Bima nyangkut diatas pohon,Bima gak bisa ambil." ucap anak bernama Bima itu.
"Ran,kamu bisa ambil gak?" Dengan cepat Amran mengangguk.
Amran segera memanjat dengan cepat dan ia berhasil mengambil layangan itu.
"Ini,lain kali kalau mau main layangan bagusnya dilapangan supaya gak nyangkut kamu mengerti?" ucap Amran,anak itu menyuruh Asma dan Amran mendekat dan mengecup mereka berdua bergantian.
Cupp
Cupp
"Terimakasih kakak cantik dan tampan,sekarang Bima gak akan ngulangi lagi kesalahan Bima,Bima pergi dulu dah..." Bima pergi dan Asma pun tersenyum senang.
"Ternyata menyenangkan membantu anak kecil hehe." tawa Amran yang baru pertama kali dicium anak kecil.
"Membela kebenaran akan selalu menyenangkan karena kita ikhlas melakukannya." ujar Asma.
"Pertama kali aku dicium begitu." ucap Amran.
__ADS_1
"Aku hampir setiap hari oleh anak pengajian mereka bilang pipiku sangat lembut hehe,mereka sangat menggemaskan." ucap Asma.
"Boleh aku mencoba?" goda Amran.
"Gak boleh,kita bukan muhrim!" ucap Asma malu.
"Apaan sih As,maksudku aku ingin mencoba dicium anak muridmu dan dikatakan sama sepertimu." ucap Amran membuat Asma malu karena kebodohannya ia pun memukul kepalanya sendiri.
Asma dimana letak malu mu_batin Asma
Menggodannya sangat menggemaskan,sampai terlihat pipi merahnya_batin Amran tertawa.
Sesampainya dirumah.
"Asma kenapa wajahmu merah begitu?" tanya Mita.
"Um..." Asma sangat gugup,diperjalanan ia mati-matian menahan malu didepan Amran.
"Mungkin diluar panas kak." goda Amran.
"Ah,yang betul kamu sendiri biasa saja tuh." goda Mita yang mulai mengerti.
"Sudah cukup menggoda Asma,ayo sini gulannya ibu mau bikin teh manis!" ucap Hany membuat Amran dan Mita terkekeh.
.
.
Di kediaman Guso
"Apa kamu bersedia menjadi istriku?" tanya Hafidz.
"Bukan kah pertanyaan itu yang harusnya aku tanyakan,rasanya aku malu padamu fid." ucap Latifah.
"La,aku sudah memantapkan diri setiap sholatku aku hanya ingin menikahi satu perempuan yang aku cintai yaitu kamu,dan senangnya Alloh menerima doaku." ucap Hafidz.
"Tapi dalam keadaan kotor,apa kamu tidak merasa jijik padaku fid?" tanya Latifah.
"Aku menerimamu karena Alloh jadi jangan pernah berfikir macam-macam tentang diriku." ucap Hafidz ingin memeluk Latifah karena rasa kasihan.
"Ekhem,kalian belum muhrim!" ucap Sayyid.
"Eh kak Sayyid." ucap Hafidz menunduk karena malu.
"Haha...bercanda,tapi memang kalian jangan berdekatan apa lagi pernikahan kalian sudah ditentukan." ucap Sayyid.
"Iya kak,terimakasih mempercayaiku untuk menjaga Latifah." ucap Hafidz menatap Latifah penuh cinta.
"Kamu lelaki terbaik yang pantas menjaga adikku,dulu kau selalu memintaku untuk memberikan Latifah kini aku bersungguh-sungguh.Harusnya aku malu meminta itu dengan keadaan Latifah yang hamil anak orang lain,tapi karena cinta kamu tulus untuk adikku aku tidak bisa menolak takdir ini." ujar Sayyid.
"Kakak,terimakasih." ucap Latifah memeluk Sayyid.
__ADS_1
"Iya,berdoalah untuk pengampunan atas dosamu pada Alloh!" ucap Sayyid dan langsung diangguki Latifah.
Bersambung...