Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
28.Surat Rahasia 2


__ADS_3

"Umm,aku tidak tau." ucap Asma membuat hati Amran semakin gugup.


"Orang bilang cinta itu timbul dari rasa suka dan menerima orang lain apa adanya,tapi aku juga tidak mengerti dengan itu." ucap Amran dengan suara berat.


"Kenapa kau berkata sedemikian?" tanya Asma dengan wajah menatap arah lain.


"Tidak ada,boleh aku menyimpan nomormu untuk tugas besok?" ucap Amran sedikit gugup.


"Aku tidak menggunakan Hp tapi kau bisa mengirim ke nomor bibiku sesempat mungkin aku meminjamnya sebelum tidur." ucap Asma dengan tersenyum dan memberikan nomor nya.


"Maaf jika kau kurang nyaman,aku hanya tidak ingin kau membenciku." ucap Amran.


Seketika Asma ingin menjahili Amran.


"Aku sebenarnya marah padamu karna kau namaku menjadi buruk dimata orang-orang." Seketika Amran membulatkan matanya karna inilah yang ia takutkan.


"Maafkan aku,maafkan aku,maafkan aku..." Amran terus mengulanginya sehingga ia dan Asma menjadi bahan sorotan.


"Hey kau ini kenapa aku hanya bercanda." ucap Asma membuat Amran merasa dipermainkan.


"Kau menjahiliku ya awas ya!!" Amran pun mengejar Asma yang berlari lebih dulu dan sesampainya mereka ditempat temannya.


"Cie lagi main india-indiaan." goda Ali.


Seketika Asma menduduk merasakan kegugupan didepan temannya,sedangkan Amran ia hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Iri bilang boss." ejek Marsella.


"Elah kayak yang enggak sendirinya." ejek Ali lagi.


"Eh aku sih engga lagian hidupku masih dipenuhi perjuangan dalam belajar." ucap Marsella tak terima.


"Harusnya jangan itu yang dijadikan perjuangan tapi harusnya perjuangan diet!" ucap Ali menekan perkataannya.


Bugghh


"Kau mengejekku awas saja,kau sendiri lihat sudah banyak jukutmu tuh di atas bibir apa mau aku cukur??" dengan sorot mata tajam.


"Aku terlihat dewasa jika seperti ini,jika tidak ada mungkin aku dikira anak sd." ucap Ali.


"Yaya karna kau pendek,lagian kau itu gak cocok punya kumis tipis,kalau Lukman sih pasti cool."ucap Marsella mengejek lagi.


"Aku sendiri belum siap punya kumis."ucap Lukman terkekeh.


"Kamu memang lebih cocok tidak berkumis wajah bersihmu lebih nampak jika begini." ucap Aqila dengan sedikit malu.


"Kalau aku berkumis?" tanya Arfan pada Aqila.


"Najla tidak akan suka." ucap Aqila dengan nada datar.


"Kok kamu bawa nama aku sih?" ucap Najla tak terima.


"Kamu kan gak suka cowok berkumis?" tanya Aqila.


"Memang bener tapi kenapa pertanyaan Arfan disangkut pautin." ucap Najla tak terima.

__ADS_1


"Ya kali aja jodoh." ucap Aqila dengan nada terkekeh.


Najla hanya menampilkan wajah datarnya,entahlah temannya ini selalu saja menjodohkannya walau ia tidak suka itu.


"Sudahlah lebih baik kita masuk kelas!" ucap Amran menghentikan kecanggungan ini.


.


.


"Kau kenapa bersedih sel?" tanya Asma.


"Sebenarnya mamaku marah saat melihat nilai MTK ku." ucap Marsella.


"Memangnya kenapa,apa nilainya tidak sesuai harapan?" tanya Asma hanya diangguki Marsella.


"Jangan khawatir nanti kita belajar bersama,bagaimana jika pulang nanti kau kerumahku untuk belajar?" ucap Asma diangguki Marsella.


"Baiklah aku akan ikut." ucap Marsella antusias.


Sepulangnya....


Diparkiran Asma hendak menaiki ojol pesanan Marsella tapi seseorang berteriak.


"Asma!!" Asma berbalik.


"Ika,ada apa ya?" tanya Asma bingung.


"Tadi jadwal piketku saat membersihkan bangku mu aku menemukan ini aku fikir ini milikmu yang tertinggal." ucap Ika dan segera Asma menerimanya.


"Itu apa?" tanya Marsella.


"Bukan apa-apa." balas Asma diangguki Marsella.


Sesampainya dirumah.


"Assalamualaikum bi." ucap Asma dan dengan wajah senang akan kepulangan putrinya Halima hanya bisa terseyum.


"Waalaikum salam,eh ini siapa?" dengan mata menatap Marsella.


"Teman sekolah,katanya mau belajar bareng bi." ucap Asma diangguki Halima.


"Ayo masuk!" ucap Halima.


"Terimakasih bu." ucap Marsella sopan.


"Kamu berganti pakaian dulu saja biar bibi buatkan camilan untuk kalian." ucap Halima.


"Iya bi." Asma segera menuju kamarnya ia pun berganti pakaian.


"Rumahnya dimana Marsella?" tanya Halima yang sudab membawa camilan.


"Tidak jauh dari sekolah bu." ucap Marsella sopan.


"Ouh,orang tua kerja apa?" tanya Halima.

__ADS_1


"Sekarang papa sudah jadi manager sedangkan mama karyawan biasa." ucap Marsella dengan sopan.


"Sendiri dirumah?" tanya Halima, Marsella hanya mengangguk tanda benar.


"Kamu memang anak hebat,semoga kamu bisa lebih sukses dari orang tuamu." ucap Halima mengelus surai Marsella yang tergerai indah.


YaAlloh diperhatikan begini sunggu bahagia jika mama begini aku akan selalu berusaha menjadi anak yang mereka harapkan,beruntungnya Asma_batin Marsella.


Asma sudah berganti pakaian namun sebelum pergi ia ingat barang sebelumnya.


"Ini apa ya?" Asma pun membukannya.


Assalamualaikum kuharap surat ini kau baca...


Jika kita bertemu lagi aku ingin kau menjadi calon masa depanku karna aku yakin kita akan bertemu,kau bagaikan wanita yang diturunkan dari syurga untuk menuntunku menuju hijrah pada sang pencipta,aku tunggu dirimu Asma.


Secret addmirer


Kini mata Asma membulat ia merasa takut,jujur sekian lama ia tidak menemukan surat dari pengagum rahasia, ia kembali ketakutan mendapatkannya lagi.


"Amran tidak mungkin...Astagfirullah kenapa aku berfikiran jauh." Asma segera membuka kotak itu yang dipenuhi dengan permen.


"Aku tidak berhak untuk ini lebih baik aku simpam semoga saja aku bisa segera tau siapa yang selalu memberikan ini padaku." batin Asma dan ia pun menyimpannya dilaci.


.


.


.


"Lama sekali." keluh Marsella.


"Maaf." ucap Asma.


Halima tau apa yang sedang putrinya alami,ia pun mendekat dan bertanya pada putrinya itu.


"Bicaralah mungkin kau akan lega." ucap Halima.


Asma memeluk Halima dengan wajah sendu.


"Hiks...adalagi yang mengirim Asma surat bi,Asma takut Asma tidak mau seperti ini.Ini mengganggu Asma bi." ucap Asma dengan nada gemetar membuat Halima hanya bisa membuat ketenangan pada ponakan sekaligus putri angkatnya.


"Suttt,serahkan pada Alloh,jalani segalanya dengan penuh ketabahan suatu saat semua akan terungkap dan kau harus mempersiapkan diri." ucap Halima diangguki Asma yang mulai tenang.


"Makasih bi." ucap Asma ditatap lembut oleh Halima.


Jika saja saat kesulitanku mama bisa berlaku begitu aku akan menjadi anak yang paling bahagia didunia ini,tapi itu hanyalah sebuah harapan_batin Marsella ia hanya bisa berandai-andai jika pun memang harapannya bisa terwujud tekadnya untuk berhijrah seperti Asma akan ia lakukan dengan segera.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak dan jangan lupa like coment...


coment lebih membantu menyemangati Author hargailah penulis karna membuat sebuah karya tidaklah mudah fikiran dan cara kerja dilakukan bersamaan sehingga kalian sendiri bisa membayangkan bagaimana membuat cerita itu....terimakasih😊


See you next part...

__ADS_1


__ADS_2