Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
34.Perpustakaan.


__ADS_3

Kini Asma tidak bisa berkata lagi,semenjak pertemanannya renggang rasanya ia tidak bersemangat melakukan hal apapun lagi.


Asma mengedarkan pandangannya tapi tidak menemukan Aqila maupun Najla saat ia menunggu yang ditunggu datang tapi mereka berjalan lurus begitu saja.


"Apa aku salah besar,aku hanya ingin tidak ada fitnah." guman Asma,seketika botol minuman berada dihadapannya,ia mendongkak dan itu adalah Amran.


"Karna kemarin kau bawakan minum hari ini aku teraktir." ucap Amran dengan tersenyum.


Najla merasa bertambah iri dengan sikap manis Amran rasanya ia juga ingin diposisi itu,sedangkan Clarisa yang faham dengan tatapan Najla tersenyum jahat.


Wah drama baru lagi nih_batin Clarisa.


"Terimakasih,tapi aku tidak mau karna kau berhutang budi,bukannya menolong itu harus ikhlas?" Pernyataan Asma mengingatkan dia pada chattan nya semalam,Amran terdiam dan tersenyum.


"Nih li rezeki mu masih kau yang pegang." goda Amran,dan Ali bersyukur minuman yang tinggal satu itu,yang ia dambakan bisa ia terima secara gratis.


"Ya sudah aku harap Alloh meridhoi." ucap Amran senang.


"Amiin." balas Asma.


"Ouh ya tiga temanmu lagi mana?" tanya Amran.


"Marsella tidak masuk sekolah,sedangkan Najla dan Aqila...." Asma menunduk.


"Katakan!" ujar Amran penasaran.


"Pertemanan kami sedikit renggang karna masalah kemarin jadi kami sedang tidak akur." ucap Asma dan Amran menghela nafas.


"Baiklah hari ini aku dan Ali akan menemanimu saja." Amran pun duduk didepan kursi Asma.


"Maaf ran kayaknya tadi aku di suruh bu kepsek keruangannya." ucap Ali.


"Eh jangan gitu dong tunggu sampai bel ya li,takutnya orang salah faham." ucap Amran.


"Enggak kok,gini aja aku ke perpus mau cari buku jadi gak akan ada yang keberatan." ucap Asma melenggang pergi.


Tapi aku yang keberatan,aku ingin menjagamu saja tapi tidak berani juga terlalu dekat_batin Amran.


"Loh,bukannya dipanggil bu kepsek?" tanya Amran.


Ali menyengir kuda.


"Itu bercanda,tadinya mau ngasih waktu kalian berduaan biar gak dipanggil nyamuk."kekeh Ali,dan Amran menatap temannya ini dengan kesal.


" Kau ini menyebalkan."ucap Amran melenggang pergi.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Ali setengah berteriak.


"Ke perpus!" ujar Amran.


Ali terkekeh geli ternyata temannya ini memang sangat suka pada Asma,dulu saja dia tertarik pada Asma karna sudah cantik baik pula bagaimana tidak jatuh hati.


Di perpus...


"Assalamualaikum,boleh duduk disini?" tanya seorang pria pada Asma.


"Eh,waalaikumsalam boleh kok." Asma menatap pria itu.


"Eh kak Fatir ya?" ucap Asma mengingat insiden tadi ternyata mereka berjumpa kembali,Fatir sangatlah tampan hidung mancung kulit putih mata bulat bibir tipis dan halis yang hitam tebal dengan bulu mata centiknya membuat dia digilai kakak kelas Asma membuat Asma sedikit canggung dan minder.


"Iya,kenapa diam begitu maaf jika kau tidak nyaman." ucap Fatir sedikit sopan.


"Tidak kok kak." geleng Asma.


"Ouh iya,kamu sekelas sama Amran ya?" mendengar kata Amran,Asma langsung menjadi merona.


"Ah iya kak,dia teman sekelasku." jawab Asma walaupun Amran sekelas dengannya tapi usia Amran beda 1 tahun lebih tua darinya.


"Minggu nanti acara ulang tahunnya kau harus datang ya!" pinta Fatir.


"Iya," Angguk Asma yang hendak berbicara lebih lanjut,kini keadaan sedikit sepi membuat mereka canggung.


"Ya?" tanya Fatir.


"Kenapa kakak selalu mengirim surat pada Asma?" tanya Asma meremas rok nya karna merasa takut.


"Ouh itu,kan sudah kakak bilang kalau kakak itu pengagum kamu." ujar Fatir menatap Asma lekat sedangkan Asma menunduk.


"Tapi kak kenapa,maksunya kenapa kakak kagum padaku aku sendiri tidak akrab dengan kakak." ucap Asma bingung,saat menatap mata Fatir jantung Fatir berdetak cepat saat pandangan mata Asma menatapnya.


"Um...ahaha...." Fatir hanya tertawa renyah karna kekonyolannya yang terhipnotis sorot mata Asma.


"Kenapa kak,ada yang lucu?" tanya Asma.


"Kau yang menggemaskan,pertanyaan mu tadi membuatku sedikit minder ouh masalah itu aku akan ceritakan nanti kau hanya perlu tau aku pengagummu!" ujar Fatir.


"Hm." Asma mengangguk Faham.


"Kau kenapa hanya membawa satu buku,buku ipa pula?" tanya Fatir bingung.


"Ouh aku masuk olimpiade ipa bersama Amran bulan depan kami dipilih menjadi perwakilan sekolah." ucapan Asma membuat Fatir senang sekaligus iri pada Amran.

__ADS_1


"Amran ya?" ucap Fatir dengan nada kecewa.


"Kenapa kak,kakak kenal dekat Amran?" tanya Asma.


"Dia adikku." balasnya,membuat Asma membulatkan mata.


"Ouh kebetulan ya kak pantas saja kakak mengenaliku karna Amran memang temanku juga." ucap Asma dengan tersenyum.


Senyuman Asma membuat Fatir merasa tidak ingin jauh darinya karna senyuman itu memberi penyemangat untuknya agar tetap bangkit,andai dia jadi Amran mungkin dia akan langsung mengatakan jatuh cinta pada Asma,tapi sayang dia bukan Amran melainkan kakak kelas Asma.


"Ah kau benar." ucap Fatir.


"Kakak kalau sudah lulus mau bagaimana?" tanya Asma.


"Ta'ar...eumm maksudku mungkin kuliah dulu sekali-kali mencari pekerjaan untuk biayanya." Seketika Asma tersenyum cerah.


"Kuliah dimana kak?" tanya Asma.


"Mungkin di kota A." ucap Fatir.


"Wah,Asma juga berharap masuk ke situ soalnya disana itu fasilitasnya terjamin dan juga hanya dimasuki oleh mahasiswa terpilih dan berprestasi." ujar Asma.


"Mendengar itu kakak turut senang karna adik kelas kakak ada yang sama kesana." ujar Fatir bahagia.


"Ya itu juga kalau diizinkan paman dan bibi hehe..." Obrolan mereka kian memanjang dengan suara pelan karna berada di perpus.


Tak disangka Amran melihat kedekatan mereka wajahnya kini berubah menjadi khawatir karna menatap mereka dengan bercandaan,apa lagi Asma terlihat sangat bahagia dan cerita seketika matanya tertuju pada kakaknya yaitu Fatir,sorot wajahnya menunjukan rasa simpati.Tapi Amran menampiknya mungkin kakaknya hanya sedang mengibur Asma ia tidak mau suudzan.


Yaalloh apakah dugaan ku hanya karna aku merasa tidak suka lelaki mendekati Asma jika ia jauhilah sifat itu dari hamba_batin Amran.


Ia pun tidak sadar seorang perempuan menatapnya dari jauh.


"Najla,kamu suka Amran?" tanya Aqila yang menatap Najla sedari tadi menatap kearah Amran yang memegang buku.


Najla terdiam sejenak dan mengangguk.


"Ouh yaampun Naj bagaimana bisa,Amran itu sukanya sama Asma!" ujar Aqila.


"Makannya aku bingung,kamu mau bantu aku deketin Amran gak soalnya Asma aja kayak gak perduli sama Amran." ucap Najla.


"Aku sih bingung Naj takutnya kamu nanti ditolak dan malah sakit hati sama Amran." ucapan Aqila membuat Najla merasa kalah sebelum berperang ia pun pergi meninggalkan Aqila.


Najla berlari dan menabrak seseorang.


Brukkk

__ADS_1


"Kalo lo mau Amran,gue bantuin asal lo jangan temenan lagi sama Asma!" ujarnya seketika Najla mengangguk.


Bersambung....


__ADS_2