Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
13.Lukman


__ADS_3

Aqila menceritakan perihal yang terjadi dan itu membuat Asma dan Najla sungguh merasa bangga atas keberanian Lukman.


"Subhanallah,aku tidak menyangka Lukman begitu baik jika tidak sesuatu akan menimpamu La." Ucap Najla merasa bangga pada temannya ini.


"Cepatlah berganti rok,aku takut semua menjadi salah faham,aku antar!" Ucap Asma dan segera pergi.


.


.


.


Pulang sekolah..


Lukman pulang Berjalan kaki faktor Ekonominya membuatnya tidak bisa mempergunakan sepeda maupun kendaraan yang biasa digunakan orang kaya seperti Bondan yang dengan sombongnya memamerkan motor ninja untuk para perempuan.


Tin


Tin


Lukman menatap kearah bunyi suara yang ia yakini adalah sebuah mobil.


"Yakin bisa jalan dengan kaki ceker ayam?" ejek Bondan dengan tawa temannya yang satu mobil.


"Mau kita kasih duit buat ongkos kita tau lo gak ada duit apa lagi orang tua lo cuman tukan jualan ikan asin,besok keluarga gue borong deh." ejek teman Bondan berambut gondrong.


"Kalian memang sanggup membelinya?" tanya Lukman.


"Apa yang gak bisa kita beli." ucap Bondan dengan nada sombong.


"Ahklak yang baik yang kalian gak bisa beli,punya saja kalian tidak sungguh orang yang bodoh." ucap Lukman tanpa takut.


Bondan pun menyetir mobilnya sampai mengepul sehingga membuat Lukman terbatuk karna debu untung dia segera menutup hidung,sedangkan Bondan menertawakan kemalangan Lukman.


Semoga mereka mendapatkan hidayahmu yaAlloh_batin Lukman.


Matahari sangat terik di jam pertengahan yaitu jam 12 siang,jarak rumahnya cukup jauh sekitar 10km.


ia hanya bisa pasrah uang yang ia kantungi hanya cukup untuk ongkos sehingga ia tidak mau jika uangnya ia pergunakan dan habis seketika,hanya satu jalannya yaitu dengan berjalan kaki uangnya akan ia tabungkan jika senggang ke masjid dia akan menginfakkannya.

__ADS_1


sesampai dirumah....


Lukman menatap rumah sederhananya lingkungan yang dikelilingi bunga dan juga ada beberapa kandang ayam,selain orang tuanya yang bekerja Lukman sering merawat ayam itu setelah beranak ia akan menjualnya ke pasar untuk tambah-tambah tabungannya.


"Assalamualaikum." ucap Lukman yang menatap keadaan rumahnya sepi karna kini orang tuanya masih bekerja.


Keadaan rumah yang sederhana dengan gelaran tikar ditengah rumah tak pernah ia sesali bahkan ia bahagia sewaktu-waktu tempat itu menjadi tempat berkumpulnya keluarga Ayahnya hanya seorang buruh bangunan dan ibunya penjual ikan Asin jika ada tawaran untuk didagangkan.


"Waalaikum salam." ucap seorang gadis kecil mungkin berusia 6 tahunan.


"Adik kakak yang cantik belum pergi mengaji?" tanya Lukman sambil mencubit gemas pipi adiknya itu.


"Belum kak,mamah bilang adik harus nunggu kakak pulang dulu." ucap sang adik dengan nada senang.


"Loh kenapa?" tanya Lukman bingung.


"Ya karna mamah bilang hari pertama kakak masuk pasti capek, mau Hasna buatin teh?" tanya sang adik dengan semangat dan Lukman hanya mengangguk pelan.


"Boleh." ucap Lukman dan bergegas mengganti pakaiannya.


"kakak kakinya kenapa?" tanya Hasna yang melihat luka perban yang jelas membelit kaki kakaknya.


"Tadi keseleo jadi diperban dik." ucap Lukman agar Hasna tidak khawatir.


Hasna takut darah sehingga jika dia tau maka dia akan heboh dan segera lapor orang tuannya.


"Tidak adikku." ucap Lukman meyakinkan dan mengelus lembut kepala sang adik yang selalu ia jaga dan ia sayangi itu.


Hasna selesai membuat teh nya Lukman yang baru keluar kamar ia pun menatap adiknya yang bersusah payah memegang gelas yang berisi teh hangat sedikit bergetar.


"Sini kakak bantu!" ucap Lukman mengambil gelas dari sang adik.


saat ia duduk dan mulai minum Hasna berdiri tepat didepannya dengan penuh penasaran.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Lukman yang mulai meminum teh nya.


"Kakak."Ucap Hasna menghadap Lukman yang sudah mendekatkan gelasnya dibibir.


"Ada apa dengan kakak?"tanya Lukman mengangkat sebelah halisnya.

__ADS_1


"Apa kakak akan suka atau tidak dengan teh buatan Hasna."ucap Hasna terus terang karna ia tidak pernah membuat teh.


Seketika Lukman tersenyum dan hanya berkata iya' ia mulai meminum teh nya, hampir ia tersedak karna teh nya begitu Asin,tapi karna ia tak mau mengecewakan sang adik ia tetap meminumnya hingga setengah.


"Bagaimana kak?" tanya Hasna kecil dengan harapan teh nya enak dan kakaknya menikmati itu.


"Enak sekali,wah besar nanti Hasna jadi koki saja ya!" ucap Lukman mengelus kepala Hasna.


dengan cepat Hasna mengambil teh itu karna penasaran dan meminumnya,seketika Hasna memuntahkannya karna sangat asin dan membuatnya ingin muntah.


"Asin kak." ucap Hasna mengelap bibirnya yang masih basah karna air teh asin itu.


"Oh ya?" ucap Lukman pura-pura tidak tau.


"Hiks...Hiks..."menggesek matanya dengan lengannya dengan sudut bibir yang melengkung ke bawah.


"Kok jadi nangis sih dik?"Lukman merasa kasihan dan merasa jika dirinya bersalah membuat adiknya menangis.


"Hiks....kakak boong tadi bilang enak hiks...Hasna naruh garam hiks...Hasna susah bedain gula sama garam tapi kakak malah minum teh asinnya." ucap Hasna menangis sesegukan dengan mata sedikit merah.


Melihat itu Lukman merasa sedih ia memeluk adiknya dan mengelusnya dengan sayang sesekali menepuknya pelan.


"Hasna teh itu memang Asin tapi karna Hasna yang buat teh itu jadi sangat manis kalau benar asin kakak gak mungkin mau ngehabisin teh nya kan?" tanya Lukman membuat Hasna tersenyum kembali Lukman memang orang yang bisa membuat hati orang bersedih kembali senang dengan perkataannya itu.


"kakak memang baik." ucap Hasna memeluk sang kakak dengan erat dan sesekali mencium pipinya.


"Ayo makan!" ucap Lukman yang berdiri menuju ke arah dapur.


"Kak,mamah belum masak tapi diatas meja ada ikan asin yang belum di masak,Hasna gak bisa masak takut gosong." ucapnya dengan nada sedih karna ia tidak bisa membuat kakaknya senang dan tidak kerepotan karna dirinya.


"Jangan bilang gak bisa masak,bilang belum bisa karna jika kamu bilang gak bisa masak nanti ucapanmu itu jadi doa, dan terjadi untuk kedepannya apa Hasna mau?" tanya Lukman menakuti dan dengan segera Hasna menggeleng cepat.


"Gak mau,ya Hasna belum bisa masak." ucapnya ketakutan.


"Kakak yang masak,sebentar lagi Ashar sekalian kakak sholat di masjid." ucap Lukman mulai menggoreng ikannya.


"Oke kak." ucap Hasna semangat sambil menunggu kakaknya di tempat biasa mereka makan bersama.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dan jangan lupa like coment...


coment lebih membantu menyemangati Author hargailah penulis karna membuat sebuah karya tidaklah mudah fikiran dan cara kerja dilakukan bersamaan sehingga kalian sendiri bisa membayangkan bagaimana membuat cerita itu....terimakasih😊


__ADS_2