
"Ngapain kesini,Bukannya itu gak baik?"tanya Arfan namun Aqila hanya diam dan setelah menemukan barang yang dicari ia pun menghampiri Arfan.
"Maaf,tidak sengaja ini Salepnya maaf tak bisa membantu kita bukan muhrim.Dan tenang diluar ada temanmu dan temanku juga." Ucap Aqila setelah itu pergi.
"Hai bukankah aku belum berkata memaafkan?" Tanya Arfan yang merasa dirinya diacuhkan begitu saja.
"Kau mau memaafkan atau tidak?" Tanya Aqila yang masih dengan ekspresi datar.
"Tentu jika kau sendiri ikhlas meminta maaf." ucap Arfan dengan enteng dan membiat Aqila merasa kesal namun ia tahan.
"Apa kau ikhlas memaafkanku?" tanya Aqila dengan wajah tanpa ekpresi.
"Tentu saja." ucap Arfan tanpa rasa beban.
"Jika ikhlas jangan di bicarakan lagi." ucap Aqila hendak pergi namun Arfan berkata lagi karna rasanya dia tidak semudah itu memaafkan orang.
"Apa kau sedang membantuku karna iba?" tanya Arfan dengan mata mendelik.
"Apa menolong seseorang harus didasari iba,aku bukannya mengungkit tapi kau sendiri bilang aku harus bertanggung jawab." perkataan Aqila membuat Arfan tersenyum lagi-lagi jantungnya berdebar setiap kali respon yang diberi Aqila.
Tanpa menengok Aqila pergi tanpa menatap Arfan yang tersenyum pada perkataan manisnya.
Ternyata dia baik walau jutek_batinnya.
"Apa sudah?" Tanya Asma yang sedari tadi menunggu sambil berdiri sedangkan Amran menyender ke pintu kaca.
"Sudah." ucap Aqila dengan anggukan dan dibalas senyum Asma.
"Baik ayo pergi!" Ucap Najla menyeret temannya dengan cepat.
"Apa kita pernah bertemu,aku Amran." ucap Amran hendak berjabat tangan karna merasa dirinya tak asing dengan wajah imut dan pipi memerah itu.
Asma menunduk dan berkata.
"Rasulullah bersabda;Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dan besi sungguh lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang bukan mahramnya."ucapan Asma begitu membuat Amran tersadar akan perbuatannya.
" Astagfirullah tolong dimaafkan,aku tidak sengaja."ucap Amran segera meraih jabatan tangannya kembali,itu sungguh memalukan untuknya yang selalu belajar agama.
"Tidak apa,nama saya Asma." Ucap Asma bersalam jarak jauh dan pergi begitu saja tanpa menoleh Amran.
__ADS_1
Tanpa Amran sadar ia masih menatap kepergian Asma dan tersenyum penuh bahagia ternyata tak semua gadis yang ia kenal sama nyatanya Asma begitu berbeda dia lebih baik dalam menjaga kehormatannya.
Amran segera masuk dan melihat temannya yang nampak tersenyum seperti orang gila,entahlah apa yang terjadi pada teman yang selalu bersamanya itu.
"Fan,kau masih sehatkan kenapa tersenyum seperti baru mendapat emas?" tanya Amran yang menatap bingung temannya.
"Perkataan emas baru saja datang aku tak mengira seseorang bersikap jutek mampu merangkai kata indah,aku kalah olehnya." Ucap Arfan dengan senyum bahagia,rasanya ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Yayaya...sekarang bisa berdiri,tidak semua menunggu kita." ucap Amran yang mulai hafal temannya itu memeikirkan seorang gadis siapa lagi jika tidak yang masuk tadi,mungkin.
"Tentu." ucap Arfan segera berdiri tanpa rasa sakit lagi.
Aku pun baru mendengar seseorang mengingatkanku akan hal berdosa dan ia masih ingat hadis yang dikatakan Rosulnya_Batin Amran.
.
.
.
Di Lapangan.
"Ini acara apaan?" tanya Arfan.
"Entahlah nanti juga pasti dijelasin makannya tadi aku gak mau telat gara-gara dirimu itu." ucap Amran dan dibalas senyum kuda oleh Arfan.
"Itu juga karna aku kecelakaan jika tidak aku bisa dengan cepat ada disini sebelum orang lain." ucap Arfan dengan nada PD.
"Hm,terserah kau saja fan." ujar Amran.
"Apa ya yang akan diumumkan semoga bukan hal-hal aneh biasanya mosh tuh kayak gitu harus inilah itulah,iss pokoknya nyebelin kalo lama-lama gini." ucap Najla.
"Kita kan harus berani untuk kedepannya." ucap Asma.
"Nah itu bener yakin aja kalau semuanya bisa kita lalui bersama." ucap Aqila yang berada disisi Asma.
Kini Mc pun mulai naik ke aula dan mengumumkan apa yang akan disampaikannya untuk para murid baru disekolah mereka.
"Baik cari pasangan dari setiap kelompok untuk memainkan permainan balon berjalan maximal 4 orang, 2 laki-laki 2 perempuan." ucap mc dengan menatap semua siswa dan siswi yang sudah siap melakukan kegiatan hiburan tersebut.
__ADS_1
Semua kelompok berunding karna mereka harus bisa menempatkan siapa saja yang cocok untuk memainkan permainan ini.
"Kakak tunjuk orangnya,Arfan Amran Asma dan Aqila." ucap Amellya yang lebih mengenal nama anak yang menurutnya mudah bersosialisasi dan juga aktif di grup mereka.
"Tidak kak,Arfan sedang sakit dia tidak mungkin mengikuti ini bagaimana jika diganti saja?" Tanya Asma yang ia fikirkan adalah akibat yang akan diterima jika Arfan terlalu memaksakan dirinya untuk ikut bermain bersama.
"Kau benar baiklah,umm Lukman Hafidz itu namamukan?" Tanya Amellya yang sempat mengingat nama lelaki itu.
"Ya kak" Ucap Lukman dengan sopan karna dia tipe lelaki kalem dan tidak suka berbelit belit.
"Kau yang ikut!" Ucap Amellya diangguki Lukman karna ini juga untuk kelompoknya jadi ia juga harus berjuang bersama.
"Kak,saya bisa ikut kok." Ucap Arfan keras kepala saat mendengar ada Aqila rasanya ia juga ingin ikut menjadi bagian dari permainan ini.
"Tidak fan,kakimu sakit sedangkan permainannya mengejar waktu." ucap Amran yang sudah tau aturan mainnya seperti apa.
Arfan hanya mengangguk dengan sedih karna tidak dapat bermain,tapi ia hanya bisa berdoa untuk kemanangan tim nya.
"Jika ada saatnya kau pun akan ada giliran." Ucap Aqila membuat Arfan merasa disemangati walau nada Aqila sedikit dingin dan tidak menyadari raut bahagianya.
"Terimakasih." ucap Arfan sedikit(lebih) senang.
"Karna main balonnya didepan jidat kita jadi,kita harus menjaga jarak.Aku berfikir aku dengan Aqila akan menjadi teman satu tim dan Amran dan Lukman menjadi pemain pasangan 2 bagaimana?" tanya Asma.
"Ide bagus,mata bisa berzina dan zinanya adalah pandangan." ucap Lukman yang sama-sama mendalami ilmu agama.
Aqila sempat tertegun dengan apa yang dikatakan Lukman tanpa nada getar sekalipun.
"Sudah Ayo kita mulai!" Ucap Asma memberikan semangat.
"Bismillahirahmanirrahim." Ucap mereka bersamaan.
"Manjjada wa jadda " ucap Asma meyakinkan yang lainnya bahwa mereka pasti bisa.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak dan jangan lupa like coment...
coment lebih membantu menyemangati Author hargailah penulis karna membuat sebuah karya tidaklah mudah fikiran dan cara kerja dilakukan bersamaan sehingga kalian sendiri bisa membayangkan bagaimana membuat cerita itu....terimakasih😊
__ADS_1
See you next part...