
Kini Asma sudah tiba didepan sekolah Zulkarnain yaitu keponakannya yang ia sayangi saking gemas dengan pipi bulatnya.
"Tante Asma!!" teriak seorang bocah lelaki dengan manik yang sangat indah membuat Asma tersenyum senang kearahnya.
"Zulkar udah bubarkan,ayo kita pulang ummi mu pasti sudah menunggu!" Asma pun menarik pergelangan tangan keponakannya dan tanpa sadar ia menginjak sesuatu ia melirik kebawah.
Sebuah gantungan burung merpati putih mengingatkannya pada sesuatu yaitu hadiah ulang tahun yang dulu ia berikan pada Amran membuat dia menoleh memastikan ini bukanlah milik Arman karna ia merasa jika dipertemukan lagi dengan pria itu dirinya tidak bisa menahan diri untuk menjauh,entahlah tapi ia merasa cinta tumbuh walau dia hanya bisa berbalas pesan namun setelah pindah dengan Latifah tidak ada komunikasi sama sekali antara dirinya dan Amran.
"Tante Asma lagi bengongin apa?" menatap Asma dengan bingung.
"Eh maaf Zulkar,Tante hanya penasaran berapa nilai matematikamu hari ini,tante ingin mendengarnya karna kemarin tante sampai begadang loh ngajarin kamu." ucap Asma berjongkok didepan keponakannya.
"Umm..itu maaf tante nilai Zulkar 80 bu guru bilang ada kesalahan di nomor 5 dan 7." ucapnya sambil menunduk sedih.
"Baiklah tidak usah sedih nanti kita perbaiki lagi,keponakan tante memang pintar." Asma memeluk Zulkarnain dengan erat.
Saat ia berjalan tak sengaja badannya menabrak dada bidang seorang pria membuatnya kaget dan spontan menjauh sambil menunduk.
"Astagfirullah,maafkan saya karna tidak hati-hati." ucap Asma menunduk sopan.
"Subhanallah inikah Asma Anniar?" tanya pemuda itu.
Kini degup jantung Asma kian bertambah cepat ia hafal betul suara yang tidak pernah berubah,karna suara itu adalah penghantar tidurnya siapa lagi kalau bukan Amran.
Flashback.
Teman
Asma aku akan memberikanmu sebuah tips agar tidurmu nyenyak
Bidadariku
Bagaimana itu?
Teman
Baiklah tunggu beberapa menit akan datang sebuah rekaman.
Setelah pesan itu Asma menunggu dan ia pun memutar apa yang Amran berikan padanya terdengarlah lantunan ayat suci yaitu surah Al-Baqarah ayat 285-286.
Tak lama Asma tersenyum akhirnya mengaminkan surah itu dan telelap tidur.
Teman
Selamat tidur semoga Alloh menjagamu dari kesyirikan Amiin.
Itulah pesan akhir yang selalu Amran berikan suara merdunya membuat Asma tidak bisa menahan kantuk jadi setiap akan tidur Amran akan membacakan surat-surat dalam Al-quran menjelang tidurnya.
Flashback off
__ADS_1
"Hey Man aku akhirnya bisa bertemu Asma." ujar Amran dengan tersenyum.
"Ah ya apa kabar kalian Lukman,Am-ran?" tanya Asma dengan nada gugup mengatakan kata Amran.
"Alhamdulillah kabar kami baik-baik saja dan kami sedang mencari benda milik Amran yang terjatuh." ujar Lukman.
Deg
"Apakah ini?" tanya Asma langsung disambut anggukan Amran.
"Entahlah barang berharga itu dari siapa tapi apa kau tau dimalam pagi maupun siang benda itu selalu berada disisinya mungkin dari ummi nya." ucap Lukman.
Seketika kedua pipi Amran dan Lukman merona mendengar itu,memang Amran tidak pernah menceritakan benda itu dari siapa.
"Hey ini siapa As,apa kau sudah menikah?" goda Lukman.
Amran menatap kesal pada sahabatnya itu.
"Haha iya aku tau jika dia anakmu pasti bapaknya Amran." ucap Lukman sambil tertawa.
"Tidak seperti itu man." ucap Amran sambil menatap tidak suka arah perbincangan Lukman.
"Apa yang tidak perlu disetujui,Hei Zul mau tau rahasia?" tanya Lukman berjongkok.
"Rahasia apa om,bukannya rahasia harus dijaga, kata ummi jika punya rahasia jangan sampai orang lain mendengar." ucap Zulkarnain yang berusia 8 tahun.
"Ouh kalo yang ini rahasia yang boleh om dan kamu saja yang tau,denger ya tante kamu sama om Amran itu saling suka apa kamu mau punya keponakan dari om Amran,kamu ingetkan dia siapa yang pernah nolongin kamu disungai beberapa tahun lalu." ujar Lukman.
"Eh kalian bicara apa,kau Lukman jangan mengotori pikiran suci nya!" ujar Amran.
"Ouh ya,aku rasa tidak karna aku mengatakan hal fakta." ucap Lukman.
"Misalnya?" tanya Asma membuat Lukman tak bisa berkata lebih lanjut.
"Ponakanmu sendiri yang akan mengatakannya." ucap Lukman langsung diangguki Asma.
"Ingat ya perkataan manis akan berbuah indah dan perkataan pahit akan berdampak pada dirinya jadi jangan samakan Zul yang masih polos!" ucap Amran dengan tegas.
"Ouh ya kok kalian bisa ada di kota C?" tanya Asma.
"Kau lupa ya As aku pindah kesini sekalian aku ingin mandiri." ucap Lukman.
"Ya aku tau tapi Amran?" tanya Asma.
"Bertemu kamu." Seketika hening.
"Astagfirullah maksudnya untuk menemani Lukman belajar disini Arfan sendiri sekolah diluar negri." ucap Amran.
"Ouh." ucapan itu membuat Amran merasa lega.
__ADS_1
Kamu ini tidak pandai menjaga mulut sampai hal sepele saja kau tidak bisa menjaganya_batin Lukman.
"Kalau begitu aku permisi dulu,Assalamualaikum." ujar Asma menunduk dan melangkah.
"T-tunggu!" ucap Amran membuat langkah Asma terhenti dan berbalik.
"Ada apa?" tanya Asma sambil menggandeng erat tangan keponakannya.
"Kalau boleh tau dimana rumahmu?" tanya Amran sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ouh rumah ya Om,rumah kami ada di jalan XXX paman akan menemukannya tidak jauh dari sekolah Zulkarnain." ucap Zulkarnain sambil tersenyum.
"Ouh ya Om tau itu terimakasih anak jagoan." ucap Amran dengan gemas.
"Oke Om." Mengangguk.
Setelah selesai Asma pun segera pamit.
"Assalamualaikum." ucap Asma dibarengi dengan Zulkarnain.
...
"Kau ini sangat membuatku ingin tertawa sobat hahaha..." tawa Lukman kini terdengar jelas membuat Amran membekapnya.
"Bisakah jangan tertawa sungguh jika tidak ada Asma aku mana mau mengikutimu yang bawel." ucap Amran menatap kesal.
"Haha lagian kau juga tidak pernah di filter jika bicara." ejek Lukman.
"Mana tau,lagian memang aku selalu jujur jadi jangan salahkan mulut yang tak pernah berdosa." ucap Amran.
"Yakin tidak pernah berdosa,kau fikir kau suci?" ucap Lukman mendelik.
"Tidak,aku tidak bilang diriku suci lagian segala hal yang baik dikembalikan lagi pada sang pencipta." ucap Amran dan diangguki Lukman.
"Kau untuk apa menanyakan alamat,memalukan sekali bisakan menanyakannya nanti saja pada Aqila misalnya?" ucap Lukman.
"Hanya untuk silaturahmi,lagian hal yang baik lebih baik dikerjakan lebih awalkan dan tidak baik ditunda-tunda." perkataan Amran langsung diangguki Lukman karna ia juga tau itu.
"Lagian kau sendiri berubah dulu tidak semenyebalkan ini." fikir Amran.
"Sejak Asma pergi aku mengikutimu dan terbawa arus sesatmu." terkekeh.
"Sesatpun tampan." kini Amran yang tertawa.
"Amiin."menengadah
"Apa yang kau aminkan."menautkan kedua halis.
"Semoga keinginanmu terkabaul ingin tampan."ucap Lukman
__ADS_1
"Dasar kau,mengejekku tidak tampan."menatap kesal,dan dihadiahi kekehan Lukman.
Bersambung...