Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
20.Sabar


__ADS_3

"Tidak kak Sayyid,benarkan Asma?" ucap Latifah dengan menekan dan memelototi Asma membuat Asma sadar dan langsung menjawab.


"I-iya kak Sayyid." ucap Asma gugup,rasanya berbohong itu tidak enak.


"Baiklah,jadilah adik yang baik kakak selalu kangen kalian." ucap Sayyid memeluk kedua afik kesayangannya itu.


"Iya kak." jawab mereka bersamaan Sayid melepas pelukannya dan menatap kedua adiknya itu dengan lamat-lamat.


"Kakak gak bisa lama jadi kakak berangkat kerja dulu ya,baik-baik jangan buat paman bibi marah!" ucap Sayyid yang selalu mengatakan itu jika dia sudah akan berangkat bekerja lagi,pertemuan mereka singkat karna Sayyid tidak pernah datang dan menginap hanya melihat mereka dengan keadaan sehat saja ia sudah bersyukur jika pekerjaannya tidak banyak mungkin dia akan menginap tapi sayang karna bisnisnya baru tugasnya pun harus lebih di prioritaskan.


Latifah dan Asma hanya mengangguk faham.Sayyid mengecup kening mereka berdua lama karna rasa rindunya tak terhitung,ia bahagia melihat adiknya semakin besar dan semakin cantik.


"Kakak pergi,Assalamualaikum." ucap Sayyid menenteng tas kerjanya yang ia bawa dari rumah.


"Waalaikumsalam." ucap mereka bersamaan setelah melepas rindu pada kakak tersayang.


Asma segera pergi kekamarnya dan Latifah segera masuk dengan kesal kekamar Asma.


"Jangan pernah bilang apapun ke kak Sayyid,dan jangan jadi sok paling baik didepan kak sayyid kamu fikir kamu itu sempurna jangan sok ingin dikasihi,aku muak sama wajahmu itu cih.." setelah memaki Latifah pergi sambil menggebrak pintu membuat Asma kaget.


Brakk


"Astagfirullah..." Asma hanya bisa pasrah akan sikap kasar kakaknya ia selalu berdoa agar Alloh memberinya hidayah dan memaafkan kesalahan yang entah apa itu dia pun tidak tau.


"Hiks...kakak kenapa selalu begitu...hiks....Asma gak mau dibenci kakak,Asma sayang kakak." ucap Asma dengan terisak sedih.


Tak lama ketukan pintu terdengar dari pintu luar kamarnya.


Asma segera menghapus air matanya dan membuka pintu.


Cklek


"Asma kita mengaji setelah kau makan dan berganti pakaian, paman tunggu kamu." ucap Malik diangguki Asma,Malik menyadari kalau keponakannya ini menangis karna matanya sembab dan hidungnya yang memerah.


"Kau menangis?" tanya Malik khawatir pada keponakan kesayangannya itu,rasanya Malik pun merasakan kesedihan jika Asma menangis.

__ADS_1


"Tidak paman hanya kelilipan,kalau begitu Asma siap-siap dulu." ucap Asma diangguki Malik yang tidak bisa memaksa keponakannya itu untuk berbicara jujur.


"Bersabarlah Asma,paman akan selalu melindungimu." ucap Malik diangguki Asma ternyata pamannya tak bisa dibohongi ia pun memeluk Malik erat,Malik mengelus kepala Asma dengan lembut.


"Barang siapa yang dikehendaki oleh Alloh menjadi orang baik maka ditimpakan musibah(ujian)kepadanya HR.Bukhari"


Malik tau jika Asma selalu tertekan dengan perlakuan Latifah tapi ia percaya bahwa Asma bisa menyingkirkan fikiran Latifah yang terbawa emosi.


"Paman apa Alloh akan selalu mengujiku dengan ujian yang mungkin membuatku tidak tahan?" tanya Asma sambil menangis,rasanya batinnya sangat lelah menghadapi semua ujian yang menimpanya itu.


"Hey dengarkan paman,ingat ini Alloh tidak akan pernah menguji hambanya diluar kemampuan mereka dan Alloh percaya semua ini bisa kau lalui karna kau orang yang sabar." ucap Malik menghibur keponakannya yang begitu lemah namun nyatanya dia kuat bagaimanapun ia melihat hingga saat kini Asma selalu ceria karna ketabahannya.


"Kau ingat kisah Rosulullah yang dilempar kotoran oleh Abu jahal tapi dia tetap bersabar menghadapi pamannya yang jahat padanya, dan untuk itu kita harus mengambil hikmah yang Rosulullah ajarkan." ucap Malik diangguki Asma yang kini mulai merasa baikan.


"Iya paman." ucap Asma,dan Malik pun mengusap pipi Asma yang basah dengan air mata.


"Setelah ujian ini kau akan mendapat kebahagiaan keponakanku karna paman ingin memberimu yang terbaik." batin Malik.


.


.


.


"Banyak sekali paman,apa ada acara?" tanya Asma yang melihat setiap penjuru disana banyak sekali anak kecil,remaja maupun dewasa.


"Hari ini kita kedatangan ustadz Gufran,dia akan ceramah disini bersama anak didiknya." ucap Malik dibalas senang oleh Asma selama ini dia sangat mengagumi seriap Ceramah dari ustadz Gufran.


"sungguh Ust.Gufran paman?Asma mendengar bahwa dia berhati baik dan setiap ceramahnya bisa membuat banyak orang sadar." ucap Asma antusias menunggu kedatangan ustadz Gufran.


"Ya." balas Malik dengan bahagia karna ia tau sedari dulu Asma berharap ada acara yang mengundang ustadz Gufran.


Paman akan lakukan apapun yang membuatmu senang karna kebahagiaanmu adalah kebahagiaan paman juga_batin Malik.


.

__ADS_1


.


.


Terlihatlah sebuah mobil yang datang didepan masjid dan di iringi sholawat bersama dengan begitu acara penyambutan diiringi dengan suka cita.


Asma senang bisa langsung bertemu Ust.Gufran selama ini dia mendengar pelajaran yang selalu beliau ceramahi selain pamannya bedanya sekarang dia bisa melihat dengan tatap muka tidak hanya lewat layar monitor.


Keluarlah Gufran dengan seorang anak lelaki yang masih remaja dan juga tampan, Asma terkejut dia siapa karna ia mengenal lelaki itu.


"Assalamualaikum Malik." ucap Gufran memeluk Malik erat,ia sangat rindu dengan teman masa kecilnya walau tidak terlalu dekat tapi pertemanan mereka selalu terjalin hingga kini berkat pertemanan kedua istrinya pula mereka bisa lebih dekat.


"Waalaikumsalam Ust.Gufran." Balas Malik.


"Formal sekali Ust.Malik." balas Gufran dengan candaan.


Ia pun menatap seorang gadis cantik disebelah Malik.


"Apa dia putrimu?" tanya Gufran menatap senang pada wajah Asma yang begitu bercahaya dalam penglihatanya.


"Dia keponakanku tapi ayah ibunya telah wafat,dia diasuh olehku." ucap Malik menatap Asma.


"Namamu siapa nak?" tanya Gufran dengan segera Asma bersalam dan tersenyum hangat rasanya ia tidak percaya dengan siapa dia bertatap muka.


"Saya Asma Ust,sebuah anugrah saya bisa bertatap muka langsung dengan Ust saya selalu mendengar Ust hanya di ponsel,Alloh mengabulkan doa Asma sekarang." ucap Asma dengan tulus karna setiap doanya dia selalu berharap dapat dipertemukan dengan Gufran yang menjadi guru keduanya walau Gufran sendiri tidak tau akan hal itu.


"Subhanallah,semoga Alloh menjagamu dari keburukan, kau anak baik Asma." ucap Gufran mengelus kepala Asma dengan lembut rasanya senang bisa menatap Asma dengan raut wajah senangnya.


"Ah ini pasti...." ucap Malik menunjuk lelaki disamping Gufran yang tak lain adalah pemuda tampan yang sedari tadi menjadi bahan perbincangan para gadis yang ada di masjid.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dan jangan lupa like coment...


coment lebih membantu menyemangati Author hargailah penulis karna membuat sebuah karya tidaklah mudah fikiran dan cara kerja dilakukan bersamaan sehingga kalian sendiri bisa membayangkan bagaimana membuat cerita itu....terimakasih😊


__ADS_2