
Setelah Asma berganti pakaian di toilet umum dia segera berlari menuju sekolah saat itu pintu gerbang hendak ditutup.
"Tunggu pak!!" ucap Asma yang ngos-ngosan.
"Nak Asma?" ucap satpam yang kenal dengan Asma.
"Pak izinkan Asma masuk ya!" pinta Asma membuat pak satpam menggaruk kepala.
"Baiklah tapi lain kali jangan diulang!" ucap pak satpam itu membuat Asma mengangguk senang.
"Terimakasih pak." ucap Asma.
Setelah masuk Asma segera menuju kelas dan leganya disana gurunya belum masuk ke kelas.
"Darimana saja?" tanya KM yang sudah menunggu semua murid yang terlambat.
"Maaf,dijalan ada masalah jadi terlambat." ucap Asma lembut membuat KM pun merasa iba.
"Lain kali jangan diulang ya!" ucap KM itu,saat Dion akan masuk ia pun ditahan KM.
"Kau darimana saja?" tanya KM dengan nada ketus,
"Maafin gue Sarah gue ada urusan jadi telat." ucap Dion.
"Dari kemarin alasan kamu itu saja,ayo push up 50 kali baru boleh duduk!" ucap Sarah dengan tegas membuat Dion hanya bisa mengangguk pasrah.
"Pagi anak-anak,Dion kamu telat lagi?" ucap wali kelas mereka.
"Iya bu dia terlambat lagi." ucap Sarah.
"Besok jangan diulang,ibu gak mau kamu kena SP!" ucap wali kelas mereka.
"Iya bu maafkan Dion,akan Dion usahakan." ucap Dion.
"Bukan usahakan tapi harus!" ucap wali kelas mereka.
Pelajaranpun dimulai dengan khidmat tapi ada saja suara yang merasa tidak suka pada Asma siapalagi kalau bukan Rizka dan Clarisa.
"Liat tuh bukannya tadi bajunya kotor ya?" ucap Clarisa.
"Iya,mungkin dia nyuri kali." ucap Rizka.
"Yang dibelakang ada apa ya?" ucap wali kelas mereka yang bernama Sri.
"Tidak bu Rizka ingin pinjam penghapus." teriak Clarisa dari belakang.
"Umm,As baju kamu baru ya??" goda Marsella.
"Um,bukan ini sebenarnya baju yang aku temukan." ucap Asma.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Marsella.
"Nanti aku jelasin dikantin." ucap Asma.
Amran yang sedari tadi tidak fokus ia hanya bisa menatap Asma dari belakang.
"Apa terjadi sesuatu padanya semoga Alloh memberinya perlindungan." ujar Amran.
Bel berbunyi semua murid berjalan menuju kantin.
Saat Asma ingin melangkah ia berhenti karna Amran memanggil,ia hanya berbalik saja.
Amran segera berjongkok dan menalikan sepatu Asma yang talinya lepas membuat Asma terkejut bukan main.
"Sudah," Setelah mengucapkan terimakasih Asma melenggang pergi,ia tidak mau ada lagi yang memfitnahnya.
"Apa dia marah??" batin Amran yang menatap kepergian Asma bersama Marsella.
Setelah pergi dari sana mereka pun duduk dikantin dan segera memesan.
"Asma,kau mau pesan apa?" tanya Najla,Asma kini bingung uangnya ia berikan pada ibu dan anak yang kelaparan tapi ia tidak mau juga merepotkan temannya.
"Tidak usah aku sedang berpuasa." ucap Asma.
"Ouh maafkan kami." ucap Marsella.
"Tapi aku lapar..." rengek Aqila.
Najla pun menyenggol Aqila walau mereka tidak saudara tapi mereka bisa memahami satu sama lain ibaratkan mereka gadis yang paling kompak.
"Kenapa tidak pesan makanan saja?" tanya Asma bingung.
"Tidak mungkin kami makan didepan orang yang berpuasa." ucap Najla dengan beralasan sekaligus membuat Aqila sadar sendiri.
"Iya betul gak baik makan didepan yang berpuasa." ucap Aqila.
"Eh kepala kamu kenapa di handsaplas?" tanya Najla.
"Tidak sengaja terbentur meja saat belajar." ucap Asma dengan nada tenang.
"Lain kali berhati-hatilah lagi,Ouh iya ceritakan seragam barumu itu ya aku penasaran!" ucap Marsella membuat Asma menatapnya dengan berfikir kenapa harus diungkit lagi.
"Ouh iya seragammu baru,wah dapet THR nih?"goda Aqila.
"THR gimana?ramadhan aja 2 bulan lagi." ucap Najla membuat Aqila cengengesan.
"Kalau begitu bisakah kamu ceritakan!" ucap Marsella diangguki Asma.
"Jadi saat aku berangkat kesekolah aku jalan kaki karna tertinggal bus,lalu aku berjalan dan saat di tengah jalan mobil seseorang melaju kencang dan menyipratkan air kubangan dan mengenai bajuku..."
__ADS_1
"Mobil siapa,jujurlah pada kami jangan menutupinya Alloh tidak tidur!" ucap Aqila tegas.
Seketika Asma terdiam jika menyangkut dosa ia minder dan sangat ketakutan.
"C-clarisa." ucap Asma gugup seketika darah semakin memuncak dikepala Aqila.
"Nenek sihir itu beraninya melawan tuan bidadari kita awas saja akan kupukul dia dengan bogem!" geram Aqila.
"Lalu??" tanya Najla yang memberikan ketenangan pada temannya.
"Lalu ada ibu dan anak yang kelaparan aku pun memberikan makanan dan uangku pada mereka setelah itu aku berniat pergi dan saat itu aku lupa memberi minum seketika mereka menghilang dan ada baju ini di sana segera aku mengganti pakaianku yang kotor." ucap Asma panjang lebar.
"Wah sepertinya mereka bukan orang biasa deh mana ada orang yang langsung menghilang begitu cepat." ucap Aqila.
"Iya kayaknya mereka itu diutus buat nolongin kamu yang kesusahan." ucap Najla.
"Seperti malaikat saja." gurau Marsella.
"Bisa saja,Alloh raja dari segala raja dia bisa melakukan hal apapun,dan masalah ini kecil baginya." ucap Najla membuat semua bungkam.
"Dan atas kebohonganmu itu kami marah tapi untuk saat ini kami maafkan,Marsella cepat pesan makanan untuk 4 porsi!" Ucap Aqila membuat Asma membulatkan mata.
"Kau berbohong pada kami jika kau berpuasa,jika benar kenapa kau bawa makanan dan uang jajan isshh kau ini tidak pandai berbohong." kini Asma hanya terkekeh ternyata jika ia menyembunyikan sesuatu maka hal itu tidak akan tersimpan lama.
Setelah mereka menikmati makan bersama mereka pun berjalan menuju kelas masing-masing.
"Asma!!" panggil Arfan dari jauh membuat Asma dan yang lainnya berbalik menatap arah suara.
"Eh ada apa?" tanya Asma bingung dengan kedatangan Arfan besama temannya yang lain.
"Amran ingin bicara denganmu!" ucap Arfan,seketika mata Asma tertunduk kembali dengan tatapan Amran padanya.
"Apa kau marah padaku?" tanya Amran dengan suara bergetar,Asma kini gugup.
"Beps yok kita pergi dari sini,hawanya panas." Arfan bun menggandeng Aqila pergi dan yang lain ikut kecuali Asma dan Amran.
"Aku tidak marah padamu kok." ucap Asma yang masih tertunduk.
"Wajar saja jika kau marah karna aku disini yang bersalah." ucap Amran penuh penyesalan.
"Kau tidak bersalah,ini ujian dari Alloh sehingga semuanya menyimpulkan dari apa yang dipikirkan bukan dari apa yang terjadi." ucap Asma.
Amran kini lega dengan jawaban Asma ia tidak mau jika Asma membencinya gadis yang ia sukai selama ini membencinya karna hal yang tidak disengaja.
"Asma apa kau percaya dengan cinta??" ucap Amran seketika membuat Asma merona.
Bersambung.....
coment lebih membantu menyemangati Author hargailah penulis karna membuat sebuah karya tidaklah mudah fikiran dan cara kerja dilakukan bersamaan sehingga kalian sendiri bisa membayangkan bagaimana membuat cerita itu....terimakasih😊
__ADS_1