
Kiara kini sudah mulai berbaur dengan para santri banyak juga yang menyukainya karna dia cantik dan juga cerdas apalagi Kiara lembut hati.
"Assalamualaikum,apa kamu Kiara yang dikirim oleh ustadz Gufran?" tanya seorang wanita.
"Ya kak." ucap Kiara.
"Mulai sekarang aku yang akan menemanimu disini tanyakan segalanya padaku dan kamu bisa panggil aku kak Indi." ucap Indi dengan senang.
"Baik kak Indi terimakasih." ucap Kiara.
.
.
.
.
Esoknya....
"Asma,Amran kalian sudah mempersiapkan keperluan kalian dengan teliti kan?" tanya Hany.
"Iya bu." ucap Asma dan Amran.
Setelah memasukkan barang mereka,mereka pergi menggunakan mobil dari sekolah.
"Apa kalian siap untuk olimpiadenya?" tanya Hany.
"Insyaaloh bu,kami akan berusaha." ucap Asma dengan tenang.
"Ibu akan membimbing kita dulukan sebelum harinya tiba?" tanya Amran.
"Tentu,kenapa ibu meminta itu pada pihak sekolah karna ibu hanya ingin agar kalian lebih fokus untuk belajar kalian." ucap Hany.
Setibanya disana.
"Ini rumah teman ibu jadi kalian jangan sungkan ya." ucap Hany setelah beberapa kali diketuk sang tuan rumah keluar.
"Hany,akhirnya kamu datang eh inikah kedua murid kamu itu?" tanya wanita cantik dengan geraian rambut indah.
"Iya Mita ini kedua murid berprestasiku tidak apakan 2 hari kedepan aku numpang disini?" tanya Hany.
"Tidak usah sungkan,mari masuk!" pinta Mita.
Setelah masuk mereka mngobrol agar lebih kenal.
"Asma sangat cantik mirip sekali dengan artis yang pernah aku kagumi." ucap Mita.
"Ah jangan berlebihan tante,tante juga cantik kok." ucap Asma canggung.
"Panggil kakak aja deh,gak enak rasanya aku lebih tua." ucap Mita.
__ADS_1
"Gak nyadar umur berapa Mit aku aja dipanggil ibu." ucap Hany sambil bergurau.
"Haha...iyalah kamu memang sudah sangat tua." ejek Mita.
"Hm,kamu ini ouh ya biarkan mereka beristirahat Mit!"ucap Hany dan dengan senang hati Mita menunjukan kamarnya.
"Di rumah ini cuman ada 3 kamar jadi lebih baik kalau Hany tidur denganku dan Amran tidur di kamar paling ujung dan Asma di kamar tengah apa kalian tidak keberatan?"tanya Mita.
"Selagi masih diperbolehkan kami akan senang." ucap Asma.
"Bukan hanya wajahmu yang cantik hati mu juga ya pantas saja Hany selalu bercerita sosok kamu yang baik dan ceria." ucap Mita.
"Asma memang begitu kak Mita dia memang selalu merendah diri." ucap Amran.
"Kamu juga gak lupa loh diceritain Hany pokoknya kalian anak paling beruntung,saat masih SMA Hany memang dikenal murid paling berprestasi dan baik kakak juga selalu di ajari dia kalau kesulitan." ucap Mita.
"Sudah jangan melebihkan aku sebaiknya sekarang kalian bersiap kita belum makan!" ucap Hany diangguki Asma.
Beberapa jam kemudian...
"Kak Mita bu Hany apa Asma bisa membantu?" tanya Asma antusias menurutnya memasak adalah hal menyenangkan.
"Ouh ada,kamu bisa memasak tumis gak,kalau bisa masak ya kakak serahin ke kamu soalnya kakak mau buat minuman sama Hany." ucap Mita segera Asma mengangguk.
Ia segera memotong bahannya seperti cabai, bawang putih,bawang merah dan juga tomat setelah itu ia tumis bumbunya dan memasukan sedikit air lalu ia memasukan kubisnya dan menggosrengnya setelah itu ia memasukkan gula dan juga penyedap rasa dan sedikit garam dan setelah matang ia sajikan di piring.
"Wah kamu jago sekali masaknya." ucap Hany.
Amran yang melihat itu tertegun bukan hanya pintar dan cantik bakan Asma menguasai hal yang bersangkutan didapur rasanya ia semakin jatuh hati pada Asma.
"Kak kenapa tv nya tidak menyala?" tanya Amran yang tadi bosan menunggu.
"Ouh beberapa hari yang lalu tv nya sempat meledak gak tau kenapa kakak belum membenarkannya ke service." ucap Mita.
"Kak ada alat perkakas gak?" tanya Amran.
"Ada tuh dibawah tv!" ucap Mita segera Amran mengambilnya.
Ia pernah mempelajari barang elektronik dan mungkin dia bisa membantu dan memang ternyata ada kerusakan dikabel yang meleleh ia segera mencari cara untuk membetulkannya.
"Kak kalau gudang dimana?" tanya Amran.
"Disebelah toilet!" ucap Mita segera Amran kesana dan mencari benda yang ia butuhkan.
"Entah apa yang dia lakukan." ucap Hany.
Setelah masakan selesai Amran pun selesai dengan kegiatannya dan jrengg tv sudah bisa menyala kembali.
"Wah kamu hebat ran." ucap Mita.
"Mumpung di pelajaran ipa ada tentang kabel gitu Amran coba cek aja lagain Amran juga pernah mencoba membenarkan blender ummi yang rusak." ucap Amran dengan tersenyum senang,Asma menundukkan kepalanya ia bergumam dalam hati.
__ADS_1
Dia memang pemuda yang bisa diandalkan_batin Asma.
"Ayo dimakan nanti keburu dingin loh!" ucap Mita langsung diangguki semuanya.
.
.
Setelah sampai di kota C semuanya turun dari mobil.
"Ini kan...." Tunjuk Latifah pada rumah yang tidak asing baginya.
"Ya ini rumah miliki pak Guso teman ayah waktu dulu kita kesini pernah berkunjung saat umur kamu 5 tahun." ucap Sayyid.
"Untuk apa kita kesini kak?" tanya Latifah.
"Memberi hukumanmu!" ucap Sayyid.
"Jadi kakak mau biarin Latifah tinggal disini,gak mau kak Latifah gak mau ninggalin paman bibi dan yang paling penting Asma." ucap Latifah membujuk.
"Haha...dulu aja kamu rela Asma ditinggalin kali ini kakak yang akan berbuat begitu." ucap Sayyid sambil tertawa jahat.
"Kakak ipar,kak Sayyid jahat..." rengek Latifah.
"Engak kok La,suamiku cuman bercanda jangan dibawa hati ya!" pinta Hanum membuat Latifah lega.
"Kakak jahat jahilin adik sendiri." ucap Latifah.
Kemudian muncul keluarga Guso.
"Assalamualaikum paman." ucap Sayyid ramah langsung dihadiahi pelukan Guso.
"Maafkan paman yid,paman tidak datang saat pemakan orang tuamu karna saat itu juga keluarga kami ada masalah keuangan." ucap Guso.
"Tidak apa paman,Sayyid mengerti." ucap Sayyid.
"Terimakasih juga berkat perusahaanmu,usaha paman bisa menjadi tumbuh pesat dari sebelumnya jika kamu tidak membantu mungkin usaha paman sudah gulung tikar." ucap Guso.
"Paman,kami sekeluarga juga merasa senang bisa menolong paman,selama ini persahabatan paman dan Ayah sudah terjalin dengan baik jadi disaat saling membutuhkan kenapa tidak saling membantu." ucap Sayyid.
"Kamu persis seperti Alm.Ayahmu,ditengah keluarga sederhana Ridwan tidak pernah mengeluh dan tetap tegar menghadapinya dan juga paman bahagia kalau kamu sudah sesukses sekarang." ucap Guso.
"Ah itu sudah keseharusan bagi Sayyid yang memang anak lelaki sekaligus pengganti ayah yang sudah tiada." ucap Sayyid dengan meneteskan air mata ia kembali teringat dimasa dia kehilangan orang tuanya.
"Sudah kak kita harus bisa tegar dengan semua ini." ucap Latifah.
"Iya kakak hanya mengingat sedikit kenangan itu." ucap Sayyid.
"Baiklah mari masuk!"ucap Guso.
Bersambung...
__ADS_1