
"Ehh Lukman ya?" tanya Najla yang belum merasakan keberadaan Lukmam, Lukman hanya mengangguk begitu saja.
"Iyup."ucap Lukman dan menyenderkan kembali tubuhnya dikursinya.
"Kenapa dia jadi diam,sepertinya dia lupa untuk mencari jawabanmu man." ucap Arfan yang sedari tadi menatap Aqila yang tidak berbalik lagi setelah Lukman berbicara.
"Tidak begitu juga aku rasa dia sedang kesulitan nafas,tapi entah karna apa karna dia nampak diam saja dan entah dalam detik berapa dia bernafas lagi." ucap Lukman masih mengamati Aqila yang menunduk.
Segera Aqila berbalik dan ia memegang kedua pipinya takut ketahuan apa yang sedang ia alami saat ini.
Kenapa begini....batin Aqila.
Najla yang hafal terjadi sesuatu segera menatap Aqila yang nampak memerah ia faham sepertinya terjadi sesuatu saat temannya ini salah tingkah.
"Kau kenapa memerah,apa itu terjadi karna Lukman?" tanya Najla dengan menggoda sambil berbisik membuat Aqila semakin malu rasanya dirinya sedang dipermainkan oleh temannya.
"Diamlah!!" ucap Aqila kesal pada Najla yang tidak henti-hentinya menggodanya dengan berbagai kata-kata.
"Haha....lucu sekali kau,tapi Lukman memang baik aku jamin dia adalah lelaki sholeh dan banyak dikejar wanita."ucap Najla sambil menyenggol Aqila.
"Hai para gadis kalian berbisik apa,sesungguhnya jika kalian berbisik dihadapan seseorang maka ketiganya adalah setan."ucap Arfan karna penasaran apa yang mereka bicarakan apa memang semua wanita itu selalu suka menyembunyikan dari pada mengumbar cihh begitu sulit jika sudah begitu.
"Dan sesungguhnya setan itu adalah kamu." ucap Najla membuat Arfan kaget karna perkataan Najla.
"Ehh aku juga yang kena,man apa aku terlihat seperti setan?" tanya Arfan menunjuk dirinya sendiri karna ia merasa wajah tampannya tidak cocok disebut seperti itu.
"Sedikit." Arfan memukul pelan lengan Lukman karna jawabannya begitu terlalu apa adanya membuat Arfan tidak puas.
"Aww,ternyata tenagamu lemah,apa kau tidak makan madu sebelum tumbuh dewasa?" ucap Lukman dengan bertanya-tanya.
"Aku sih beli tepi tidak memakannya karna rasanya tidak enak." ucap Arfan sambil membayangkan sebelumnya.
"Madu itu obat herbal alami dan rosul pun menyukainya karna banyak manfaatnya untuk kesehatan tubuh." jelas Lukman.
"Entahlah aku tidak begitu suka." ucap Arfan sekenannya karna memang dari kecil ia selalu menjauh jika orang tuanya memberikan madu.
"Aneh." ucap Lukman menatap tak percaya jika madu tidak disukai orang padahal rasanya enak,manis dan juga kental ia pun harus berjuang dulu untuk mendapatkan sarang lebah aslinya karna banyak orang yang bilang madu sangat bagus untuk kekebalan tubuh.
"Kau ini tidak bisa memihakku ya,jika disini ada Amran pasti..."sebelum menyelesaikannya ucapan Arfan dipotong Lukman
"Kau ditinggal lagi." ejek Lukman membuat Arfan kesal.
__ADS_1
"Kau ini temanku atau musuhku jika kau Bondan sudah ku baku hantam saking menjengkelkannya." Jelas Arfan mengingat perbuatan Bondan pada Lukman membuat Lukman melotot.
"Apa kau tau sesuatu?" tanya Lukman,karna yang tau hanyalah Aqila selebihnya ia sembunyikan.
"Sebenarnya waktu itu aku tidak sengaja lewat dan aku melihat kau dibully nya tapi saat aku tau ada Aqila aku tidak begitu khawatir." ucap Arfan dengan suara yang sebisa mungkin dibuat biasa saja walau rasanya ia iri pada Lukman yang mendapat perhatian lebih.
"Kumohon jangan biarkan semua orang tau biarlah itu menjadi rahasia ku." ucap Lukman.
"Tidak man,orang seperti Bondan harus diberi pelajaran biar jera,seenaknya sendiri dia melakukan hal kejam pada temanku yang baik ini." ucap Arfan.
"Berarti kau mengakui jika aku orang yang baik?" goda Lukman membuat Arfan berubah ekspresi menjadi datar dan tak minat memujinya lagi.
"Kau menjengkelkan man." ucap Arfan dan tanpa disadar seseorang mendengarkannya.
"Tapi lebih baik kejahatan dibalas dengan kebaikan bukan?" ucap Lukman.
"Iya sih tapi tetap saja rasanya belum puas membuatnya sadar akan perbuatannya itu." ucap Arfan dan hanya dibalas kekehan oleh Lukman.
Hal itu tidak akan pernah aku lupakan disaat dimana aku bisa menolong orang yang aku kagumi berkatnya aku terhindar dari mara bahaya_batin Aqila dengan perasaan senang.
.
.
.
"Eh itu si Bondan yang pernah tukeran kelompok sama si Amran kan?" ucap Arfan menunjuk orang yang baru saja ia bicarakan.
"Ya aku tau." ucap Lukman,ia masih ingat begitu jahatnya Bondan saat ia tertusuk paku dan Bondan sengaja menginjak luka dikakinya sehingga darah tak berhenti keluar,seharusnya ia membantu tapi ia malah merasa menjadi pemenang dengan cara curang.
"Man apa kau sudah sadar kali ini jika dia memang salah dan kau tau itu?" tanya Arfan jika benar Arfan tidak akan tinggal diam,walau dia terkesan sedikit menyebalkan tapi jika menyangkut teman dia tidak akan diam saja dia akan berjuang untuk temannya jika itu adalah kebenaran.
"Tidak apa,kau duduk diam saja!" Ucap Lukman tulus membuat rasa curiga Arfan menghilang walau memang dia sudah ingin memukul Bondan.
.
.
.
"Namaku Ali Abdurrahman panggil Ali maaf tadi menyuruhmu pindah aku kira kau mau menggeserku." ucap Ali menyesal.
__ADS_1
"Tidak apa,namaku Amran Alfian panggil sesukamu saja umm...lagian temanku dikelas sebelah jadi aku tak ada teman disini." ucap Amran diangguki Ali.
"Baiklah,terimakasih sudah mau berteman denganku." ucap Ali diangguki Amran.
.
.
.
"Clarisa tu cowok keren juga ya." ucap salah satu temannya.
"Yang mana Riz?" tanya Clarisa mengamati siapa yang ditunjuk Rizka.
"Itu!" tunjuknya.
"Oh dia,emang gue suka dari pertama ya walau dia kesannya alim tapi gue suka tantangan jadi dia gue cap sebelum lo!" ucap Clarisa.
"Elah...pelit amat lo" ucap Rizka.
"tapi gue kesel sama tuh cewek,dia tuh sok suci,polos dan alim gue rasa dia bakal jadi rival gue" ucap Clarisa menatap Asma.
"Siapa emang dia?" tanya Rizka.
"temen sekelompok kemarin dia tuh caper gue eneg liat dia" ucap Clarisa menulis sesuatu.
"Oh,lo nulis apaan?" tanya Rizka.
Clarisa melempar kertas kepada Amran membuat Arman mengambilnya dan membuka.
Gue pingin jadi pacar lo mau ya!! Clarisa.😘
Amran menatap orang itu,dia tau siapa Clarisa karna pernah sekelompok dengannya.
"Gila lo berani banget nanti ajarin gue ya kaya lo tadi" ucap Rizka teman karibnya.
"Iya in deh" ucap Clarisa dan kembali menatap Amran yang sedang menulis sesuatu.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak dan jangan lupa like coment...
__ADS_1
coment lebih membantu menyemangati Author hargailah penulis karna membuat sebuah karya tidaklah mudah fikiran dan cara kerja dilakukan bersamaan sehingga kalian sendiri bisa membayangkan bagaimana membuat cerita itu....terimakasih😊