
Asma kecil sedari tadi mengurungkan diri di kamarnya dia sedih karna kakaknya Latifah sudah tidak mau bermain bersamanya lagi walau biasanya sang kakak bermain dengan wajah tanpa senyum namun hari ini dia membentaknya membuat Asma sedih.
"Kak Latifah kenapa cepat besar Asma ingin bermain dengan kak Latifah yang dulu yang menemani Asma.." ucapnya diisi dengan tangisan yang mulai menitihkan air mata Asma tidak senang jika kakaknya berubah.
"hiks..Teddy bear kau yang ada disini Asma sekarang sendiri tidak ada kak Latifah yang ingin bermain lagi,menamani Asma." Asma menghapus air matanya yang sudah ia tahan sedari tadi.
"Teddy bear kaulah yang harus selalu bersama Asma kemanapun Asma pergi Asma menyayangimu." Asma memeluk boneka itu tanpa disadar ia pun terlelap karna lelah sedari tadi menangis.
Yaalloh Asma ingin sekali bertemu dengan ayah,ibu,Asma tidak tau mereka seperti apa.Paman bilang Alloh bisa mengabulkannya bisakah Alloh mewujudkan keinginan Asma_batin Asma dalam tidurnya.
"Asma sayang ibu ayah sudah bahagia,kita berkumpul lagi di Syurga ya." ucap seorang wanita dengan pakaian putih bercahaya,di dalam tidurnya Asma tersenyum bahagia.
.
.
.
"Kakak ingin pergi?" tanya Latifah yang tiba-tiba mendekat ia melihat kakaknya yang membawa tas besar.
"Tidak La,kakak hanya akan tinggal dirumah Alm.Ayah dan ibu jadi kakak tidak akan disini lagi..." Latifah langsung memeluk kakaknya dengan memangis sejadi-jadinya setelah kehilangan orang tuanya ia tidak sanggup kehilangan kakak kesayangannya.
"Latifah tidak ingin ditinggal pergi lagi hiks...setelah Ayah ibu dan sekarang tidak untuk kakak hiks...jangan tinggalkan Latifah kak..." ucapnya sambil menangis dan memeluk lebih erat kakaknya itu,Sayyid tidak tega jika sudah begini tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Halima yang melihat itu tersenyum sedih dan menuntun Latifah untuk mendekatinya karna jika sudah begini Halima tau sulit bagi Sayyid untuk menggapai tujuannya.
__ADS_1
"Latifah,paman bibi selalu bersamamu.Kakakmu akan kesini setiap dia kosong jadwal,dia tidak akan melupakanmu dan Asma." ucap Halima lembut membuat Latifah tetap pada keinginannya ia tidak mau jika kakaknya pun meninggalkannya seorang diri.
"Tidak bi,Biarkan saja Asma disini tapi tidak dengan Latifah.Latifah ingin bersama kakak,kemanapun kakak pergi Latifah akan ikut!" ucap Latifah dengan tegas dan kembali berlari pada Sayyid.
"Tidak adikku,Asma sendirian disini dia memerlukanmu jika kita tidak ada dia akan sedih karna tidak memiliki teman." ucap Sayyid mencoba membuat adiknya itu mengerti apa yang dilakukannya demi kebaikan masa depan adiknya juga.
"Apa kakak tidak memikirkan Latifah,hanya kakak yang Latifah punya sekarang." ucap Latifah yang berusia 14 tahun,ia masih manja pada kakaknya karna semenjak orang tuanya tidak ada Sayyid lah yang selali menemani suka dan dukannya.
"Kau sudah besar kau harus menjaga adikmu jika kakak kerja ataupun kuliah!" ucap Sayyid mencoba bersabar dengan sifat keras kepala adik keduannya ini.
"Tidak!!"Latifah dengan cepat mengeleng kepala,ia tidak sanggup hidup tanpa kakaknya.
"Kau harus menjaga Asma,dia adik kita yang masih kecil." ucap Sayyid mengusap kepala Latifah dengan lembut tak lupa ia memberikan senyumnya yang terlihat persis seperti Alm.Ayahnya.
"Tidak!!" Latifah tetap menggeleng dan berhambur memeluk kakaknya.
"Hiks...kakak jahat...semua jahat...jika kakak benar akan pergi Latifah akan marah pada kakak!" dengan sedih Latifah berlari kekamarnya dan mengunci diri ia tetal tidak mau jauh dari kakaknya.
Sayyid yang melihat adiknya nampak marah itu,ia hanya bisa menghela nafas dengan kecewa ia merasa bimbang antara pergi atau ia akan selalu menyulitkan paman dan bibinya.
"Janganlah kecewa dengannya,dia masih anak-anak dia belum memahami keinginanmu.Pergilah biar kami yang akan membujuknya nanti!" ucap Malik diangguki Sayyid ia merasa bersyukur pamannya bisa memahami bebannya.
Sayyid pergi menuju Kamar adik bungsunya dengan wajah khawatir ia takut jika Asma pun akan berfikir sedemikian.
ia menatap penuh senang sekaligus sedih ia mendekat pada Asma melihatnya tertidur lelap membuatnya merasa tenang.Sumber cahaya dan kekuatannya hanya Asma dia sangat menyayangi adik bungsu sekaligus berlian terindahnya,setelah ia bisa melihat kedua adiknya bahagia barulah dia bisa tenang tetapi jika adiknya dalam masalah ia malu pada apa yang sudah ayahnya dulu pesankan.
__ADS_1
"Asma jadilah gadis penuh dengan kehormatan karna kau kunci kakak menuju Syurga." ucap Sayyid mengecup kening adiknya dan mulai melangkah jauh tanpa disadar Asma terbangun dari tidurnya.
"Kak Sayyid,apa yang kakak lakukan disini dan kenapa koper itu kakak bawa?" tanya Asma kecil bingung karna baru bangun dari tidurnya yang ia impikan adalah ia bertemu ayah ibunya walau dia tidak tay sosok mereka seperti apa.
Sayyid justru tidak tega jika sudah menyangkut Asma dialah yang harus dijaganya dengan baik berlian dan juga permata berharganya.Jika dibanding dengan Latifah dia sudah bisa percaya jika Latifah bisa menjaga diri walau memang diapun harus memantaunya.
"kakak mau kemana?apa kita akan berlibur?" tanya Asma polos karna jika berlibur biasanya mereka akan membawa beberapa barang.
"Kita akan berlibur setelah kakak ada waktu senggang." ucap Sayyid lembut dan memindahkan Asma kepangkuannya.
"Kapan,tapi kenapa barangnya hari ini?" tanya Asma dengan wajah polosnya.
"Entah,hari ini kakak akan pergi untuk kuliah dan akan mewujudkan cita-cita kakak" ucap Sayyid tersenyum,mencoba menahan rasa sedihnya.
"Cita-Cita itu apa kak?" tanya Asma dengan raut wajah bingung.
"Cita-Cita adalah sebuah impian yang diinginkan seseorang untuk masa depannya nanti." ucap Sayyid mengelus lembut surai sang adik.
"Kalau begitu pergi ke cita-cita kakak saja,pulang dan bawa cita-cita kakak jika cita-citanya sudah dapat Asma ingin melihatnya dan memeluk kakak." Ucapan Asma menjadi sebuah penyemangat Sayyid Agar segera lulus dan bisa membawa adiknya kemanapun ia inginkan.
Sayyid merasa berliannya membawakan sebuah arah terang lurus dan semangat dalam dirinya berkobar.
"Kakak menyayangimu,jangan nakal patuhi paman dan bibi.Kakak sesekali akan kesini menjenguk kalian kakak menyayangimu." sekali lagi Sayyid mencium berliannya dengan bertubi-tubi rasanya melepas kedua adiknya ditempat asing membuatnya takut jika terjadi sesuatu pada mereka nantinya.
"Kak,Asma mencintaimu karna Alloh paman berkata kau adalah harapan Asma dan kak Latifah jadi apapun keinginan kakak Asma maupun kak Latifah akan senang" ucapan Asma lagi-lagi membuat Sayyid merasa tidak ada beban untuk meninggalkannya.
__ADS_1
Bersambung....