
"Sela,aku ingin bertanya padamu tapi kuharap kau jujur padaku,sekarang ada di perpustakaan jadi bicaralah perlahan!" ucap Asma yang penasaran.
"..." Marsella diam saja ia tidak tau apa yang harus ia lakukan.
"Katakanlah,tapi jika kau enggan mengatakannya aku tidak akan memaksanya.aku percaya padamu." kini Asma tersenyum membuat Marsella merasa bersalah.
"Ayo ke kantin!"Ajak Asma dengan lembut,Marsella kini merasa lebih bersalah lagi ia sangat takut jika sampai mengatakan apapun.
Sesampainya dikantin.
Plakk
" Kamu itu muna ya Sel,selama ini persahabatan kita itu kamu anggap apa?"ucap Aqila yang sudah marah.
Marsella hanya menunduk sambil memegang pipinya ia merasa sangat sedih karna tidak bisa mengatakan apapun,dilain tempat Clarisa dan Rizka tertawa senang.
"Ouh ya Reisa terimakasih berkat bantuan lo rencana kita semakin berjalan dengan lancar." ucap Clarisa.
"Tenang sa,semuanya serahin sama gue." ucap Reisa.
Flashback.
Brakkk
"Bibi hiks...Latifah hamil!!" teriak Latifah dengan guyuran air mata dan tubuh yang lemas.
Seketika Halima yang selesai sholat pun berlari menuju teriakan putri pertamanya yang selama ini ia doakan untuk kepulangannya.
"Latifah... apa yang terjadi nak??" ucap Halima dengan nada yang sangat khawatir karna keadaan Latifah yang sangat acak-acakan.
"Marsella bisakah kau pulang sepertinya ada masalah keluarga." ucap Asma,dengan anggukan Marsella pun pergi.
"Nanti dilanjut lagi ya As,Assalamualaikum."ucap Marsella.
" Waalaikumsalam."Balas Asma.
Seketika arah tujuannya beralih pada kakaknya.
"Kak Latifah ada apa?" tanya Asma yang merasa khawatir.
"Menjauhlah,semua ini ulahmu!!" teriak Latifah menggelegar membuat Asma membulatkan mata.
"Jangan disini jika ada orang yang tau itu tidak baik." ucap Halima.
Saat itu Raisa yang melewati rumah itu mendengar jelas apa saja yang terjadi selama ini dia selalu menatap iri Asma yang setiap saat dikagumi banyak orang hingga ia sangat benci pada gadis itu.
"Semoga Alloh memberi hidayahnya pada kalian,Assalamualaikum." Setelah mengucapkan itu Asma pun menuntun pamannya untuk pergi dari pada menjadi bahan hinaan.
"Kak tadi siapa?" tanya gadis remaja.
"Hanya pengemis." ucap Fikri.
__ADS_1
Fikri pun menjelaskan pada Raisa kejadian secara rinci membuat Raisa sangat senang dan ingin membuat pelajaran agar Asma tidak berbuat macam-macam lagi.
.
.
"Setelah ini kita akan lihat kehancuran pertemanan mereka." ucap Clarisa dengan senang.
"Aqila hentikan,kenapa kamu jadi berlebihan sih?!" ucap Asma yang kaget.
"Kenapa As,kamu belain dia yang memang udah berani ngehina kamu,apa kamu gak sadar kalau dia itu punya dua muka!" ucap Aqila dengan menatap Marsella benci.
"Udah la,kali aja semua ini salah faham." ucap Najla.
"Aku bingung sama kalian,kalau kalian memang gak nganggep aku yang tulus buat bantu Asma mening kita gak usah temenan lagi deh,aku muak!" Aqila segera pergi dengan wajah marah.
"La,tunggu!" Najla pun pergi menyusul Aqila.
"As,kamu marah sama aku?" tanya Marsella dengan suara bergetar.
"Enggak,cuman bingung aja kenapa sampai bisa kamu bungkam selama ini tapi aku akan tetap sabar menunggu kejujuran kamu." balas Asma sambil menghela nafas.
"Maaf." batin Marsella.
Pulang sekolah.
Brukk
"Maaf ya Asma,aku akan bujuk Aqila." ucap Najla.
"Iya gapapa." balas Asma lembut.
Rasanya tidak enak teman-teman menjauh_batin Asma.
"Hallo Asma,udah lama gak ketemu babang Bondan kangen nih." goda Bondan sambil memegang bahu Asma,seketika Asma menjauh.
"Maaf Bondan,jangan sentuh aku,seenak mu!" ucap Asma dengan lembut.
"Cih,lo itu terlalu jual mahal,kalo gak ada yang suka bagaimana,paling lo bersimpuh di depan gue!" ucap Bondan membanggakan diri.
"Siapa bilang tidak ada yang menyukai Asma,aku suka padanya dia tidak murahan seperti gadis lainnya." ucap Amran yang sudah berdiri di depan Bondan.
"Ck lo lagi,lo mau jadi perusuh hah??" sentak Bondan.
Asma kini merona mendengar perkataan Amran yang membuat hatinya senang.
"Enggak kok,cuman mau peringatin kalian semua kalau Asma itu tidak berhak dirusak!" ucap Amran dengan pandangan tajam.
"Alah,bilang aja lo juga suka sama dia!" ucap Bondan.
"Memang nya kalau ia kenapa,lagian Asma juga gak keberatan kok." ucap Amran yang mulai kesal ia tidak sadar dengan apa yang dikatakannya Asma sendiri sudah merasa malu mendengarkan perkataan Amran.
__ADS_1
Deg.
Amran apa yang kamu katakan,sadarlah kamu sedang emosi_batin Asma
"Denger gak temen-temen Amran katanya suka Asma,cih lo bisa ngalahin gue basket baru lo bisa dapetin dia!" ucap Bondan dan dengan segera Amran mengangguk.
Semua orang berkerumun dilapang basket mendengar pengumuman Bondan tentang pertandingannya bersama Amran.
"Satu,lawan satu!" ucap Bondan.
Permainan pun dimulai cetak skor pertama didapatkan bondan sampai babak pertengahan,Asma merasa khawatir karna Amran masih belum memasukan bolanya ke ring.
Amran dan Bondan beristirahat semua teman Bondan memberikan minum dan mengipasinya Bondan menatap sombong pada Amran.
"Amran tidak sebaiknya kamu melakukan ini." ucap Asma menyodorkan air putih dan membawa handuk kecil.
"Aku tidak suka kau diganggunya terus." ucap Amran.
Asma tersenyum tanpa disadar ia mengelap cucuran keringat Amran dan menyemangatinya.
"Bismillah dulu lalu melawannya Alloh akan selalu membantumu,Semangat!!" ucap Asma menggenggam tangannya keatas.
Amran seketika merasa bersemangat setelah melihat senyum dari Asma.
"Hm,terimakasih." ucap Amran.
.
.
"Denger ya kalau aku menang selanjutnya kau harus berjanji menjauhi Asma!" ucap Amran.
"Cih siapa takut,dan jika gue menang lo jauhin Asma,dan lo harus jadi babu gue!" tunjuk Bondan.
Permainan pun dimulai dan kini point pertama di menangkan oleh Amran hingga poin mereka kini selisih tipis dan jika Amran memasukkan bolanya maka ia jadi pemenang didetik akhir.
Ya Alloh bantulah Amran_Batin Asma
Ting...
Amran berhasil mengalahkan Bondan,dan Bondan mebanting bolanya kesal semua siswi sangat terpesona dengan kelincahan permainan Amran berbeda dari sebelumnya.
Amran mendekati Asma dengan tersenyum sedangkan Asma hanya bisa menunduk.
"Terimakasih atas dukunganmu aku bisa menjadi lebih kuat dan terimakasih memberikan senyuman manismu untukku." ucap Amran dan pergi meninggalkan lapang.
Asma kini merona pipinya yang putih halus semakin terlihat memerah entahlah Amran bisa membuatnya sangat senang.
Disisi lain seorang wanita kesal menatap Asma yang menjadi penyemangat Amran ia sangat benci Asma sampai ia rasanya ingin melenyapkan gadis itu.
"Sialan lagi-lagi dia yang unggul." ucapnya dengan kesal.
__ADS_1
Bersambung...