
🌹HAPPY READING🌹
DEG
Tubuh Nana menegang saat matanya bersitatap dengan mata seorang wanita yang sangat dia rindukan. Wanita yang memberinya kehidupan, sekaligus wanita yang memberinya luka dalam bersama Ayahnya.
Mama.
Kata yang sudah sangat lama tidak Nana ucapkan. Akhirnya terucap hari ini ketika dia melihat wanita tersebut. Walaupun hanya terucap dalam hati, tapi waktu serasa berhenti untuk Nana. Ingin sekali dia merengkuh tubuh wanita itu dan menumpahkan segala kerinduannya.
"Nana," panggil Mita membuyarkan lamunan Nana.
"Eh, iya Ma," ucap Nana mengalihkan pandangannya kepada Mita.
"Kenalkan Na, dia Meisya. Mamanya Acha yang baru datang dari Turki," ucap Mita memperkenalkan wanita di depannya.
Apalagi ini? Wanita yang meninggalkannya dengan seribu luka, malah memberikan kasih sayang untuk orang lain. Itu berarti Acha adalah saudara tirinya? Pikiran Nana bertanya-tanya.
"Perkenalkan, saya Nana," ucap Nana menyalami tangan Meisya. Ada kehangatan saat Nana menyentuh tangan yang dulu merawatnya saat kecil hingga berusia tiga tahun. Tangan ini yang dulu selalu menghapus air mata saat dia jatuh karena belajar berjalan. Tangan ini dulu yang menyuapinya makan. Tangan ini dulu yang menghapus bekas makanan yang menempel di bibir mungil Nana kecil.
Sungguh, Nana sangat merindukan Mamanya ini. Tak terasa setetes air mata Nana jatuh mengenai punggung tangan Meisya.
"Kamu menangis, Nak?" tanya Meisya lembut ketika merasakan punggung tangannya basah.
Semua orang yang ada di sana mengalihkan pandanganya kepada Nana, termasuk Arya.
"Ah, maaf Tante. Saya hanya merindukan Ibu saya. Anda mirip dengan Ibu saya. Bolehkan saya memeluk anda?" tanya Nana spontan.
Semua yang ada di sana terkejut mendengar penuturan Nana yang spontan. Bahkan ini baru pertama kali mereka bertemu.
Dengan senyum manisnya, Meisya mengangguk. Nana yang melihat itu langsung memeluk erat tubuh Meisya. Hanya beberapa detik, Nana kembali melepaskan pelukannya.
"Terimakasih, Tante," ucap Nana.
Meisya hanya mengangguk dan tersenyum manis kepada Nana.
"Ya sudah, kalau begitu kita langsung makan saja. Nanti makannya keburu dingin," ajak Mita pada semuanya.
Semuanya menurut dan berjalan ke meja makan. Meja makan itu kini penuh dengan canda tawa. Tapi tidak dengan Nana. Hatinya ngilu dan sesak melihat betapa wanita yang melahirkannya begitu memanjakan Acha dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Tuhan, Nana juga ingin di manja Mama. Batin Nana menjerit pilu. Nana mencengkram kuat roknya. Berharap sesaknya bisa berkurang dan menyembunyikannya dari semua orang.
Semua yang di lakukan Nana tidak luput dari pandangan Arya yang duduk di sebelahnya. Entah dorongan darimana, Arya menggenggam erat tangan Nana dari bawah meja.
Nana menoleh ketika merasakan ada yang menyentuh tangannya. Di dapatnya tangan Arya yang menggenggam erat tangan Nana. Meskipun pemuda itu tidak melihatnya, tapi Nana bersyukur, setidaknya ada sedikit perhatian dari Arya untuknya.
"Aunty," suara mungil Freya menyadarkan Nana.
Nana menoleh, dan mendapati Freya yang berdiri di sebelah kursinya. "Iya, Sayang," jawab Nana.
"Suapi Fleya," ucap Freya manja.
"Freya makan sendiri, Nak," ucap Atlantik menasehati Freya.
Bibi Freya mengerucut kesal mendengar perkataan Papanya.
"Tidak apa-apa, Bang. Nana bisa menyuapi Freya," ucap Nana yang tidak tega melihat Freya.
"Tapi itu akan merepotkan kamu, Na," timpal Dinda.
"Tidak apa-apa, Kak. Nana senang menyuapi Freya," ucap Nana.
Senyum mengembang di bibir Freya. Nana mengangkat Freya dan mendudukkan di pahanya. Dengan telaten Nana menyuapi Freya bergantian dengan dirinya.
Kamu wanita yang sangat baik, Na. Tapi entah kenapa hati saya tidak untuk kamu. Jika saya boleh meminta, maka saya ingin cinta saya untuk kamu. Ucap Arya dalam hati.
Gilang yang tidak sengaja melihat Arya memperhatikan Nana sedikit tersenyum. Gue harap hati Lo sedikit tersentuh karena ini, Ar. Batin Gilang. Entah kenapa Gilang sangat ingin Arya dan Nana bersatu. Gilang merasa Nana adalah wanita yang tepat untuk Gilang.
.....
Makan malam telah usai. Kini mereka semua sudah duduk di ruang keluarga untuk berbincanh-bincang.
"Gimana persiapan pernikahan kamu, Nak?" tanya Meisya kepada Acha.
Acha yang sedang bermain PlayStation bersama Zein dan Gilang langsung menoleh kepada Meisya yang duduk di sebelah Mita.
"Gedung sama catering udah aman, Ma. Fitting baju juga udah. Tinggal tunggu undangan siap cetak aja. Acha dibantuin Kak Dinda juga," jawab Acha.
"Baguslah, Mama harap semuanya lancar," ucap Meisya.
__ADS_1
Mereka semua uang ada di sana mengaminkan perkataan Meisya.
Kini pandangan Meisya beralih kepada Nana yang sedang bercanda dengan Freya. Mereka duduk di karpet berbulu, dengan posisi Freya tidur dengan paha Nana sebagai bantalan. Dan Arya yang duduk di sebelah Nana. Sedangkan Bumi, Dina dan Atlantik duduk di Sofa depan Meisya dan Mita.
"Nana," panggil Meisya lembut.
"Iya, Tante," jawab Nana lembut.
"Maaf, kalau boleh saya tahu, Mama kamu kemana?" tanya Meisya hati-hati. Karena dia takut ini akan menyinggung Nana. Jujur saja, dia semakin penasaran karena tadi Nana menangis saat mencium tangannya.
Semua orang yang ada di sana mengalihkan atensi kepada Nana. Menunggu jawaban Nana. Entah mengapa pertanyaan ini membuat suasana semakin, ah entah lah.
Nana tersenyum lembut. "Mama Nana sudah lama pergi Tante," jawab Nana. Dia berusaha tegar menjawab dengan memandang dalam manik mata Meisya.
"Pergi?" tanya Meisya.
Nana mengangguk. "Mama pergi saat Nana berusia tiga tahun, Tante," jawab Nana.
"Mama kamu meninggal?" kali ini Mita yang bertanya. Dia juga di buat penasaran. Karena mereka memang tidak mengetahui keadaan keluarga Nana.
"Bukan. Mama pergi untuk kehidupan yang lebih layak," jawab Nana memandang dalam manik mata Meisya.
Meisya membalas tatapan Nana. Ada perasaan aneh saat dia memandangi mata itu.
"Mama kamu pergi kerja jauh, Na?" ucap Dinda ikut bertanya.
"Bukan, Kak. Mama pergi untuk mencari kebahagiaan bersama orang baru. Suami baru dan anak baru," jawab Nana dengan mata yang berkaca-kaca.
Semua yang ada di sana terkejut mendengar jawaban Nana. Mereka kira gadis ini memiliki keluarga utuh dan bahagia. Melihat bagaimana Nana yang selalu bisa mencairkan suasana.
Sebenarnya bagaimana dengan kehidupan kamu, Na? Siapa kamu sebenarnya? Ucap Arya dalam hati memandangi Nana yang duduk di sebelahnya.
"Maaf jika pertanyaan saya membuat kamu sedih, Nana. Lalu bagaimana dengan Ayah mu, Nak?" tanya Meisya lagi. Ada sebuah dorongan dalam dirinya untuk mengetahui lebih banyak tentang gadis ini.
......................
Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
__ADS_1
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @yus_kiz
Jangan lupa baca karya ku yang lain, ya "Derajat Rumah Tanggaku" Author sayang kalian 🌹🌹😘