Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 78


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Arya apa yang kamu lakukan?" ucap Mita marah melihat sikap Arya.


"ISTRI ARYA YANG MENDONORKAN JANTUNGNYA, MA! ISTRI ARYA ADA DI DALAM. ISTRI ARYA!" bentak Arya pada Mita yang terus menghalanginya.


Mereka semua menegang mendengar penuturan Arya. Bi Mirna dengan langkah gemetar mendekati Arya. "Apa yang kamu katakan, Arya?"


Arya memandang Bi Mirna dengan tatapan sendu dan air mata yang sudah mengalir di pipinya. "Nana ada didalam, Bi. Dia yang mendonorkan jantungnya untuk Acha," ucap Arya lirih sambil menunjuk pintu ruang operasi dengan tangan gemetar.


"Hiks," tangis Bi Mirna pecah bersama dengan badannya yang luruh ke lantai. "Cucuku tidak mungkin melakukan itu kan," ucap Bi Mirna sendu.


Arya ikut mensejajarkan tubuhnya dengan Bi Mirna. Dibawanya tubuh bergetar itu kedalam pelukannya. "Maafin Arya, Bi," ucap Arya lirih.


"Kenapa kamu meminta cucuku untuk mendonorkan jantungnya, Arya?" ucap Bi Mirna.


Arya hanya bisa menggeleng dalam tangisnya. Pikirannya kembali terbayang saat dia memarahi Nana dan meminta Nana untuk mendonorkan jantungnya kepada Acha. Dan lebih parahnya lagi, dia tidak menyebut Acha sebagai sahabat, melainkan cinta pertamanya. "Maaf, Bi. Maaf," ucap Arya lirih memeluk erat Bi Mirna.


Mita, Meisya dan Dinda hanya bisa ikut menangis. Tidak pernah mereka bayangkan jika Nana akan melakukan apa yang Arya ucapkan padanya.


Gilang memejamkan matanya menahan air bening yang siap keluar dari sana. Wanita yang dia anggap seperti adiknya sendiri berkorban untuk sahabatnya. Semua ini terjadi karena kecerobohan mereka. Jika mereka bisa menemukan bukti lebih kuat, maka semua ini tidak terjadi.


Atlantik berjalan mendekati Dinda dan menenangkan istrinya itu. Dia takut tangisnya akan membangunkan Freya yang tidur di kursi tunggu. Jika Freya bangun, maka itu akan menjadi petaka besar untuk mereka. Anak itu pasti akan mengamuk dan terus memaksa bertemu Auntynya.


Bumi berjalan dengan lunglai ke depan pintu ruang operasi. Dia melihat dari balik pintu kaca tersebut. Air matanya mengalir tanpa bisa dia cegah. Anak dari kedua sahabatnya sedang berjuang di dalam sana. Yang satu menjadi penyelamat, dan yang satu berjuang untuk sembuh.


"Aku gagal menjaganya, Akmal," gumam Bumi sendu.


Meisya berjalan mendekati Bumi. "Mas Bumi," panggil Meisya dengan suara bergetar nya.


Bumi hanya diam dan tidak menoleh kepada Meisya. "Tolong batalkan operasinya," lanjut Meisya memohon dengan suara tangis yang teredam. Dia yakin Bumi pasti mendengar perkataannya.


Benar saja, Bumi langsung menoleh begitu mendengar perkataan Meisya. "Hentikan kamu bilang?" ucap Bumi menatap Meisya tak percaya.


"Mengapa baru sekarang kamu bilang hentikan? Kenapa tidak kamu saja tadi yang menghentikan semuanya sebelum terjadi? Bahkan kamu menambah luka di hati menantuku diakhir kesempatan hidupnya," ucap Bumi menatap Meisya tajam.


Meisya hanya bisa menangis menyesali semuanya. "Maaf, Maaf," gumam Meisya dengan menangkup kedua tangan di dadanya.


Saat suasana yang sangat mencengkram tersebut, dering ponsel di saku Gilang mengalihkan pandangan mereka. "Kantor Polisi," ucap Gilang.


Mereka semua menatap Gilang. Gilang mengangkat panggilan tersebut dan menekan tombol speaker agar mereka semua bisa mendengar apa yang Polisi katakan.


"Selamat siang, Bapak Gilang," ucap Polisi di seberang sana.

__ADS_1


"Ya, selamat siang, Pak," jawab Gilang. Gilang dan Atlantik memang meminta Polisi untuk menyelidiki bukti dan kasus penabrakan Acha.


"Kami hanya ingin menyampaikan, bahwa pelaku kasus tabrak lari saudari Acha telah ditemukan. Dia sendiri datang menyerahkan diri," ucap Polisi tersebut yang mampu membuat mereka semua memiliki penyesalan semakin mendalam.


"Siapa, Pak?" tanya Gilang hati-hati.


"Saudara Monika," jawab Polisi tersebut.


"Baiklah, terimakasih Pak," ucap Gilang. Setelah itu sambungannya terputus.


"Bukankah Monika sudah meninggal? Kita sendiri yang membuang jasadnya," ucap Bumi tak percaya. Karena sehari setelah Akmal dikuburkan, Bumi tanpa main-main menyiksa Monika begitu keji dan membuang Monika yang saat itu mereka ketahui sudah meninggal ke sungai.


Mereka semua hanya bisa menggeleng tidak bisa menjawab pertanyaan Bumi. Bumi beralih memandang Arya yang mencoba menenangkan Bi Mirna.


"Sekarang menantu saya sudah berkorban untuk cinta pertama kamu itu, apa kamu sudah senang sekarang? Bahkan kamu menuduh menantu saya yang melenyapkan cinta pertamamu itu!" ucap Bumi menatap tajam Arya.


"Pa," ucap Mita menenangkan Bumi.


"Mama juga sama, apa salahnya kalian menunggu sebentar kebenaran daripada harus menghukum orang yang bahkan tidak bersalah seperti ini!" ucap Bumi tegas kepada Mita.


"Maafin Mama, Pa," ucap Mita menyesal. Dia tahu bagaimana sayangnya Bumi kepada Nana. Suaminya bahkan sudah menganggap Nana sebagai anak perempuannya sendiri.


"Jika maaf kalian bisa mengembalikan semuanya, maka aku tidak akan kehilangan seperti ini," ucap Bumi sendu.


Arya membantu Bi Mirna untuk berdiri dan mendudukkannya di kursi. Setelah itu dia mendekati Bumi. "Arya juga kehilangan, Pa. Bukan hanya Papa saja," ucap Arya sendu.


"Pa," panggil Arya sendu.


Arya menangkup kedua tangannya di dada dan memandang Bumi dengan sendu.


"Mungkin Arya memang tidak tahu malu jika mengatakan ini. Tapi jika mungkin, hentikan operasi ini, hiks," ucap Arya menangis di depan Bumi.


Bumi hanya bisa menggeleng. Itu merupakan hal sulit. Jika semuanya dihentikan, maka dua nyawa akan melayang saat ini juga.


"Ayo ke kantor Polisi, Ar," ucap Gilang mengajak Arya.


Arya menghapus kasar air matanya dan mengangguk. Dia harus memberi pelajaran kepada pelaku yang sudah membuat semua ini terjadi. "Sampai Arya kembali, tidak ada yang boleh membawa Nana dan Acha pergi dari ruang operasi!" ucap Arya tegas dan langsung melangkahkan kakinya pergi, disusul Gilang dibelakangnya.


.....


Plak.


Plak.

__ADS_1


Plak.


Tamparan bertubi-tubi mendarat di wajah Monika. Gadis itu nampak menahan sakit, tapi wajahnya memancarkan raut bahagia.


"Kau memang wanita tak punya hati. Kau bahkan melakukan hal menjijikan untuk menghancurkan aku, Monika!" ucap Arya marah.


"Ar, ini kantor polisi," ucap Gilang memperingati Arya.


Arya mencoba meredam emosinya yang sudah memuncak. Monika yang melihat itu tersenyum layaknya seorang anak kecil yang mendapat hadiah. "Apa dia sudah mati? Aku harus memfitnah wanita murahan itu untuk menghancurkannya," ucap Monika semangat.


"Dasar Gila!" ucap Gilang sinis.


"Pak, aku mau dia dihukum seumur hidup," ucap Arya.


"Biar pengadilan yang menentukan. Saudara Monika bisa saja mendapat hukuman mati, karena ini bukan satu-satunya kasus yang dia miliki. Dia juga terlibat kasus pembunuhan terhadap beberapa karyawannya sendiri," ucap Polisi yang ada di sana.


Arya dan Gilang mengangguk menyetujui perkataan Polisi tersebut. Mereka tidak terkejut akan hal itu, karena mereka memang mengetahui bahwa Monika merupakan seorang yang sudah ahli dalam kejahatan. Oleh karena itu mereka membiarkan saat Bumi menyiksa Monika hingga meninggal, tapi nyatanya wanita ini memiliki keberuntungan yang luar biasa.


Tiga jam Arya dan Gilang di kantor Polisi untuk mengurus Monika, sekarang mereka kembali ke rumah sakit. Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah kenapa, air mata itu kembali mengalir dari matanya.


Gilang yang melihat itu hanya diam. Dia mengerti, Arya saat ini diselimuti beribu kecemasan.


Sepuluh menit mereka sampai dirumah sakit. Arya berjalan dengan tergesa menuju ruang operasi.


Tepat sasara. Saat sampai di ruang operasi, dia melihat dua brangkar yang di dorong keluar dari ruang operasi.


"TUNGGU!" teriak Arya menghentikan para suster yang mendorong brangkar tersebut.


Di sana masih ada Bumi, Atlantik, Dinda, Mita, Meisya dan Bi Mirna. Mereka semua setia menunggu operasi selesai.


Mereka semua dapat melihat Acha yang sudah selesai di operasi namun belum sadarkan diri. Hingga pandangan mereka beralih pada brangkar belakang Acha dengan tubuh tertutup kain putih.


"Apakah ini pendonornya?" tanya Arya dengan suara gemetarnya.


Salah satu suster mengangguk menjawab pertanyaan Arya.


Dengan langkah lunglai Arya mendekat. Tangan gemetarnya dengan perlahan membuka penutup tubuh yang sudah tak bernyawa itu. "Pendonor sudah tidak terselamatkan, Pak," ucap Suster.


Arya tidak menghiraukannya. Dia menguatkan hatinya untuk membuka kain putih itu.


"Hiks, sayang."


......................

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


__ADS_2