
🌹HAPPY READING🌹
Arya, Nana dan Freya sedang bermain di atas kasur Arya. Arya nampak kesal karena Freya memonopoli Nana sesungguhnya.
"Freya, Aunty Barbie itu istri Uncle. Jadi jangan manja-manja sama istri Uncle," ucap Arya kesal dengan Freya yang tidur tengkurap di atas perut Nana.
"Kalau bukan sama Aunty Balbi, Freya manja sama siapa, Uncle?" tanya Freya dengan tatapan polosnya. Dia terus menikmati usapan lembut tangan Nana di kepalanya.
"Ya sama Papa dan Mama kamu lah," ucap Arya.
Freya nampak berpikir sebentar. Anak itu nampak sangat menggemaskan. "Kata Mama, Freya harus sama Aunty Balbi telus," ucap Freya polos.
"Kenapa?" tanya Arya.
"Karena kalau nggak ada Fleya, pasti nanti Uncle ajakin Aunty Balbi olahlaga telus. Kan nanti Aunty Balbi bisa capek," jawab Freya polos memberitahu Arya.
Mendengar perkataan Freya, sontak membuat Arya dan Nana salah tingkah.
"Em ... Freya, Mama Freya hanya bercanda. Aunty dan Uncle itu nggak olahraga kok. Kan kalau malam waktunya tidur," ucap Nana.
"Tapi kata Mama tidulnya sambil olahlaga," ucap Freya kekeuh.
Kak Dinda benar-benar nggak ngerjain gue. Bisa-bisa gue nggak bisa buat Arya junior kalau gini. Batin Arya merutuki kejahilan Kakaknya.
"Enggak, Sayang. Itu nggak benar," ucap Nana mencoba menjelaskan kepada Freya.
"Nggak tahu, Aunty. Fleya pusing. Olang dewasa libet," ucap Freya kembali menyandarkan kepalanya pada dada Nana.
Nana tersenyum melihat tingkah Freya yang sangat menggemaskan. Dia jadi tidak sabar untuk memiliki anak sendiri. Pasti akan sangat menyenangkan.
Ditengah kegiatan mereka, terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Aku buka pintu dulu, Sayang," ucap Arya.
"Iya, Mas," jawab Nana sambil menepuk-nepuk badan bagian belakang Freya dengan lembut. Mata anak itu nampak sudah terpejam. Sepertinya kantuk sudah menghinggapi matanya.
"Kenapa, Tante?" tanya Arya ketika melihat Meisya yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Arya, boleh Tante minta tolong?" tanya Meisya lembut.
"Bantu apa, Tante?" tanya Arya.
"Itu, Acha tidak mau makan. Tante sudah coba bujuk tapi tetap tidak mau. Tante khawatir sama anak dalam kandungannya. Kalau Acha tidak makan, Tante takut akan berdampak pada kandungannya," ucap Meisya menjelaskan.
Arya tampak berfikir sebentar. "Saya akan ke kamar Acha. Tante duluan saja. Sebentar lagi saya menyusul," ucap Arya.
Meisya tersenyum mendengar perkataan Arya. "Baiklah, kalau begitu Tante permisi dulu," ucap Meisya pamit.
Arya hanya mengangguk. Melihat Meisya sudah pergi, Arya kembali masuk ke kamar.
__ADS_1
"Sayang," panggil Arya lembut.
Nana mendongak menatap Arya.
"Freya tidur, Sayang?" tanya Arya.
"Iya, Mas. Mungkin kecapean tadi habis main," ucap Nana.
"Tidurin di kasur, Sayang. Kamu ikut aku bentar," ucap Arya.
"Kemana, Mas?" tanya Nana.
"Ikut aja," ucap Arya sambil mengangkat tubuh mungil Freya dan memindahkannya ke ranjang.
Arya meletakkan Freya ditengah-tengah kasur dan meletakkan guling di sisi kiri dan kanan Freya. Mencegah agar anak itu tidak jatuh nanti.
"Ayo," ucap Arya menggandeng tangan Nana.
Nana dengan patuh menurut dan mengikuti langkah Ary.
Tidak berselang lama, Arya dan Nana sampai di kamar Acha. Terlihat Meisya yang berusaha membujuk Acha untuk makan.
"Arya," panggil Acha ketika menyadari kehadiran Arya dan Nana.
Arya berjalan mendekati Acha. "Kamu harus makan, Cha. Ada janin yang harus kamu jaga," ucap Arya.
"Tapi nggak nafsu, Ar," jawab Acha.
Arya menerimanya. Sedangkan Nana hanya memperhatikan setiap perlakuan Al dan Meisya kepada Acha.
"Sini, Sayang," ucap Arya memanggil Nana agar duduk di dekat Acha.
"Kamu pasti bisa bujuk Acha buat makan," ucap Arya menyerahkan piring tersebut kepada Nana.
"Mas-"
"Coba, Sayang," ucap Arya memotong perkataan Nana.
Entah keajaiban darimana, Acha tersenyum senang melihat Nana yang akan menyuapinya. "Nana, suapi aku sama ponakan kamu, ya," ucap Acha.
Nana dengan tulus tersenyum kepada Acha. Dengan telaten Nana mulai menyuapi Acha. Acha menerima setiap suapan dari Nana dengan lahap.
"Aku keluar dulu, Sayang," ucap Arya yang dibalas anggukan oleh Nana.
Arya membalikkan badannya untuk segera pergi keluar kamar Acha. Tapi sebelum benar-benar pergi, Arya berhenti sejenak dan mendekatkan mulutnya ke telinga Meisya.
"Seribu usaha Tante menyakiti istri saya, sejuta cara saya untuk menggagalkannya," ucap Arya berbisik. Setelah mengatakan itu, Arya benar-benar pergi meninggalkan kamar Acha.
Sedang Meisya, tangannya mengepal kuat menahan amarah karena mendengar bisikan Arya.
__ADS_1
.....
Arya menuruni anak tangga hendak pergi ke ruang keluarga untuk menonton televisi. Tapi saat melihat ke taman belakang, tidak sengaja Arya melihat Papanya yang sedang duduk sendiri di bangku taman belakang. Dengan langkah pastinya, Arya berjalan menemui Bumi.
"Pa," panggil Arya.
Bumi yang tengah melamunpun mengalihkan pandangannya kepada Arya. "Ada apa, Arya?" tanya Bumi.
Arya mendudukkan dirinya di kursi sebelah Bumi. "Pa, sampai kapan Acha dan Tante Meisya tinggal disini?" tanya Arya.
Bumi menggeleng. "Mereka akan tinggal disini, Arya. Papa harus menjaga amanah Papanya Acha untuk menjaga mereka," ucap Bumi.
"Tapi keberadaan Tante Meisya tidak baik untuk rumah tangga Arya dan Nana, Pa," ucap Arya to the point.
"Itu tugas kamu untuk menjaga dan mempertahankan rumah tangga kamu, Arya. Anggap saja Meisya adalah salah satu ujian untuk memperkuat hubungan kalian," ucap Bumi.
Dengan pasti Arya mengangguk. "Itu sudah pasti, Pa," jawab Arya.
"Arya," panggil Bumi pelan.
"Iya, Pa," jawab Arya.
"Jangan buat Papa penasaran dengan Ayahnya Nana, Arya," ucap Bumi. Sungguh, dia sangat penasaran mengenai hal ini.
Arya hanya diam dan menghela nafas pelan.
"Kamu tahu, Papa bisa menyuruh orang-orang Papa untuk mengetahui semuanya. Itu hal mudah untuk Papa. Tapi Papa ingin menghormati kalian, makanya Papa hanya diam," ucap Bumi.
"Pa, jika Arya memberitahu, apa yang akan Papa lakukan?" tanya Arya.
"Apa yang Papa lakukan?" tanya Bumi memastikan. Arya mengangguk.
"Tentu saja Papa akan menemui besan Papa dan saling bertukar cerita mengenai masa kecil kalian. Papa akan membangun hubungan baru dengan besan Papa. Membesarkan cucu kami bersama dan mencurahkan kasih sayang untuk anak-anak kal-"
"Tapi itu tidak mungkin bisa terjadi, Pa," ucap Arya memotong perkataan Bumi.
Bumi memandang Arya intens. "Kenapa Arya?" tanya Bumi serius.
"Ayah Nana mengalami gangguan kejiwaan."
......................
Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @yus_kiz
Baca juga novel aku yang lainnya, dan tinggalkan juga sedikit jejak kalian "DERAJAT RUMAH TANGGAKU"
__ADS_1
Author sayang kalian, Terimakasih 🌹🌹