Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 60


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


“Akmal,” panggil Bumi memegang lembut tangan Akmal.


Akmal yang merasakan sentuhan ditangannya menoleh. Matanya memandang Bumi dan Mita secara


bergantian. “ Bumi,” ucap Akmal lirih.


Seketika Bumi dan Mita membeku mendengar suara lembut Akmal. Sedetik kemudian senyum terbit dibibir keduanya. “Kamu ingat kami, Mal?” tanya Bumi tak percaya.


Akmal mengangguk kaku. “Sahabat lamaku,” jawab Akmal pelan.


Bumi mengangguk senang dan langsung memeluk tubuh Akmal. Bumi memeluk Akmal dengan erat. Menyalurkan


rindu yang sudah lama ada, namun harus tertahan karena kondisi Akmal.


Pandangan Akmal beralih kepada Mita yang duduk di sebelah Bumi. “Princess kami,” panggil Akmal lembut


dengan senyumnya.


Air bening yang tadi mengenang dipelupuk mata Mita kini sudah mengalir mengenai pipinya. Dengan


senyum bahagianya Mita mengangguk. “Boleh aku memeluk para pelindungku?” tanya


Mita sendu.


Bumi mengangguk senang, sedangkan Akmal hanya diam. Tanpa menunggu jawaban Akmal, Mita langsung berdiri


dan memeluk kedua lelaki yang dulu merupakan pelindungnya saat duduk di bangku SMA, Bumi yang kini menjadi suaminya dan Akmal yang dari dulu sudah dia anggap sebagai kakaknya.


“Mengapa baru sekarang, Akmal? Kau memberi waktu lama kepada anakmu untuk berjuang keras dalam


hidupnya.” Ucap Mita dalam pelukan mereka. Mereka berpelukan layaknya teletabis. Bagaikan remaja yang sudah lama tidak bertemu.


“Kamu tahu Akmal, anak kita sudah menjadi sepasang suami istri. Sungguh takdir yang sangat indah


bukan? Anakmu memberikan banyak keajaiban dalam keluargaku, Mal,” ucap Mita setelah pelukan mereka terlepas.


Akmal dengan setia mendengar perkataan Mita. Sedangkan Bumi hanya tersenyum dan mengangguk membenarkan apa yang dikatakan suaminya.


“Anakmu memberi kehidupan baru untuk anakku. Anakmu merupakan penyebab aku bertemu dengan sahabat yang sudah lama aku rindukan. Secara tidak langsung dia mengobati rinduku,” ucap Mita semangat membanggakan Nana.


“Terimakasih,” ucap Akmal kaku.


Mulut Mita rasanya sangat gatal untuk menanyakan hubungan Akmal dengan Meisya. Tapi dia sadar, jika dia menanyakan hal itu maka akan berdampak buruk untuk kesehatan jiwa dan pikiran Akmal.


“Masa lalu kembali,” ucap Akmal tiba-tiba.


Sontak perkataan Akmal membuat Mita dan Bumi memandang Akmal dengan lekat. “Ma-maksud kamu?” tanya


Mita terbata.


“Ibu dari anakku,” ucap Akmal memandang Mita dan Bumi sendu.


“Mal-“


“Jangan salahkan dia. Aku yang merenggut kebahagiaanya dulu,” ucap Akmal sendu.


Tanpa mereka sadari, Nana menyaksikan dan mendengar pembicaraan Akmal, Bumi dan Mita. Dia sengaja berdiri


di pintu balkon karena tidak mau mengganggu waktu sahabat lama itu untuk melepas rindu.

__ADS_1


Mata Nana berkaca-kaca mendengar Akmal membahas Meisya. Begitu besar pengaruh Meisya hingga Akmal,


seorang yang dalam masa pemulihan kejiwaannya mengingat wanita itu.


“Jangan salahkan dia,” ucap Akmal lagi sambil menggelengkan kepalanya.


Nana yang melihat kondisi Ayahnya kembali labil segera mendekat. “Ayah,” panggil Nana lembut sambal meletakkan nampan di meja.


Akmal terus menggelengkan kepalanya dan bergumam mengatakan bahwa Meisya tidak bersalah. Tangannya


menjambak-jambak rambutnya sendiri melampiaskan perasaannya.


Nana memberi kode kepada Bumi dan Meisya agar ikut membujuk Akmal yang sudah kembali seperti orang


linglung.


“Iya, Akmal. Dia tidak bersalah,” ucap Mita menuruti apa yang dikatakan Akmal tadi.


“Kami tidak menyalahkannya, Mal,” ucap Bumi ikut membujuk Akmal agar berhenti dengan aksinya.


Tapi Akmal masih terus menjambak-jambak rambutnya. Nana yang melihat Ayahnya seperti itu tidak kuat


menahan tangisnya. “Ayah, udah ya. Nanti rambutnya rontok,” ucap Nana dengan suara bergetar.


Nana membawa Akmal kedalam pelukannya. Mengambil tangan Akmal yang terus menjambak rambutnya.


Dengan perlahan Akmal menurut, tapi mulutnya terus menggumamkan bahwa Meisya tidak bersalah.


“Iya Ayah. Dia tidak bersalah. Sudah ya,” ucap Nana lembut mengusap kepala Akmal layaknya anak


kecil.


Mendapat sentuhan lembut dari tangan Nana memberikan kenyamanan untuk Akmal. Hingga beberapa lama Akmal


“Pa, bias bantu Nana bawa Ayah ke Kasur?” tanya Nana pada Bumi.


Bumi mengangguk. “Biar Papa yang angkat Ayah kamu, Nak,” ucap Bumi.


“Papa sendiri?” tanya Nana tak percaya mengingat Bumi yang sudah tak muda.


Mita tergelak mendengar pertanyaan polos menantunya. “Biar Mama minta bantuan sama sopir dan satpam


buat bantu angkat Akmal. Papa tidak akan kuat sendiri. Nanti kalua sakit, Mama yang repot,” ucap Mita berdiri dan berjalan keluar.


Bumi melongo mendengar perkataan istrinya sendiri. Setelah itu dia tertawa tanpa dosa kepada Nana. “Umur


sangat berpengaruh, Nak,” ucap Bumi.


Nana terkekeh pelan mendengar perkataan Bumi. Ternyata mertuanya juga memiliki selera humor yang


lumayan untuk menghibur.


Setelah beberapa menit, Mita kembali dengan seorang satpam dan seorang supir dibelakangnya. “Tolong


angkat ke Kasur, ya,” ucap Mita lembut menunjuk Akmal yang tidur sambal duduk


dalam pelukan Nana.


Sopir dan Satpam mengangguk patuh. Mereka mengangkat Akmal ke Kasur dan dengan perlahan


meletakkannya di kasur.

__ADS_1


“Terimakasih, ya, Pak,” ucap Nana ramah kepada Satpam dan Supir.


“Sama-sama, Nyonya,” jawab mereka tak kalah ramah.


“Kalau begitu kami permisi dulu, Nyonya, Tuan Besar,” ucap Satpam mewakili dirinya dan supir


kepada Nana, Mita dan Bumi.


Nana, Mita dan Bumi mengangguk mengizinkan Satpam dan Sopir pergi melanjutkan pekerjaan mereka.


“Pa, Ma, kita makan siang dulu, yuk!” ajak Nana setelah menyelimuti tubuh Akmal.


“Tapi Akmal-“


“Tidak apa, Ma. Ayah tidurnya akan lama jika seperti tadi. Lebih baik kita makan siang dulu. Nana


juga udah laper,” ucap Nana memotong perkataan Mita sambil mengusap perutnya


yang sedikit keroncongan.


Bumi dan Mita mengangguk. Setelah itu mereka bertiga keluar dari kamar Akmal dan berjalan menuju lift


untuk turun ke lantai satu.


.....


Sedangkan ditempat lain, Gilang keluar dari ruangannya dengan emosi yang memuncak. Dengan langkah


tergesa, Gilang keluar kantor menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan


pintu utama kantor.


Gilang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bibirnya tak henti mengumpati nama Meisya yang membuat


emosinya terpancing.


“Meisya anjing! Kalau bukan karena tua, udah dari kemaren-kemsren gue bunuh,” umpat Gilang.


Saat sedang asik dengan beberapa file kerjasamanya, Gilang mendapat telepon dari anak buahnya yang


menjaga Meisya ditempat penyekapannya.


Bos, Meisya berulah. Tiga kata dari anak buah Gilang dan Arya yang mampu menghidupkan kemarahan Gilang.


Dua puluh menit kemudian, Gilang sampai di tempat penyekapan Meisya. Para bodyguard nampak membungkuk


hormat ketika melihat Gilang. Tanpa menghiraukan para bodyguardnya, Gilang langsung berlari keruangan tempat Meisya disekap.


Mata Gilang membulat sempurna dengan mulut menganga melihat ruangan penyekapan Meisya yang penuh


dengan darah. Gilang melihat tiga orang bodyguardnya tergeletak di lantai dan sudah tak bernyawa. Sedangkan Meisya menyeringai jahat dengan pisau penuh darah digenggamannya.


Tangan Gilang mengepal kuat menahan emosinya. Karen ruang penyekapan Meisya yang kedap suara, para


bodyguard yang berada diluar ruangan tidak mengetahui apa yang terjadi.


“Meisya bangsat!”


......................


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa.

__ADS_1


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


__ADS_2