Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 71


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Ar, sudah Abang bilang jangan seperti ini," peringat Atlantik kepada Arya.


Arya tidak menghiraukannya. Dia menarik Nana secara kasar dan membawanya keluar rumah. Atlantik yang melihat itu langsung mengikuti Arya dan Nana yang sudah memasuki mobil.


Arya mengendarai mobil dengan sangat gila. Nana hanya bisa pasrah. Dia tidak punya keberanian untuk membuka suara sama sekali. Arya benar-benar menunjukkan sisi iblisnya kepada Nana. Sedangkan dibelakang mobil Arya, ada mobil Atlantik yang mengejarnya dengan kecepatan tak jalan cepat.


Sepuluh menit, mereka sampai di parkiran rumah sakit. Arya turun tanpa mengatakan apapun dan berjalan mengitari mobil. Arya membuka pintu mobil dan menyeret Nana untuk segera turun dan memasuki rumah sakit.


"Mas, tangan aku sakit," ucap Nana lirih memohon agar Arya melepaskan tangannya dan berharap memegangnya dengan lembut.


Arya menghentikan langkahnya dan menatap Nana tajam. "Sahabatku lebih sakit dari ini!" ucap Arya semakin mencengkram pergelangan tangan Nana.


Nana hanya bisa menangis dan terus mengikuti langkah kaki Arya. Satu tangannya yang lain memegang perutnya yang terasa sedikit keram. Mama mohon beri mama kekuatan, Sayang. Batin Nana berbicara pada nyawa yang ada di dalam rahimnya.


Arya dan Nana sampai di depan sebuah ruangan. Dibelakang terlihat Atlantik yang datang dengan nafas gak beraturan. Di depan ruangan sudah ada Bumi, Mita, Dinda, Meisya dan Gilang.


Mita yang melihat kedatangan Nana langsung menghampiri wanita tersebut.


Plak.


Satu tamparan mendarat di pipi Nana yang masih terasa perih. Nana menatap tak percaya pada Mita. "Ma," ucap Nana lirih memegang pipinya yang terasa sakit.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Nana. Disini bukan hanya kau yang terluka atas kepergian Ayahmu, kami semua juga. Tapi kenapa kamu tidak bisa ikhlas dan malah membalas semuanya kepada orang yang tidak bersalah!" ucap Mita menunjuk tepat di wajah Nana.


"Ma," peringat Bumi yang tidak menyukai cara bicara Mita.

__ADS_1


"Dia memang bersalah, Pa," ucap Mita kekeuh.


"Kita belum menyelidiki semuanya, Ma!" ucap Bumi tegas.


"Rekaman CCTV jalan itu sudah memberi bukti bahwa Nana yang menabrak Nana, Pa," ucap Arya memperlihatkan bukti rekaman CCTV jalan raya tempat kejadian.


"Ar, itu belum tentu benar," ucap Gilang buka suara. Sedangkan Dinda hanya bisa diam, dia merasa ragu jika Nana yang melakukan semua ini. Tapi rekaman CCTV itu menunjukan jelas bahwa Nana yang menabrak Acha.


Meisya yang melihat Nana menangis berdiri dan berjalan mendekati Nana. "Kamu marah padaku karena telah memberi luka pada kamu dan Ayahmu, bukan? Lalu kenapa bukan aku yang kamu celakai? Mengapa harus anakku yang kamu jadikan tempat pembalasan? Mengapa Nana?" ucap Meisya sendu menatap Nana.


Sakit! Sesak! Setiap kata yang keluar dari mulut Meisya sangat menyakitkan baginya. "Aku memang marah padamu, tapi aku tidak sejahat itu sampai mengorbankan nyawa seseorang," balas Nana lirih.


"Aku sekarang memang yatim, mungkin lebih tepat disebut sebagai yatim piatu. Aku tidak memiliki Ayah dan Ibu sekarang. Aku memang marah padamu, tapi apakah ada sedikit usahamu untuk membujukku? Apakah ada usahamu untuk menjelaskan bahwa kau sangat menyayangiku? Padahal aku selalu menunggu waktu itu. Tapi kamu memang tidak pernah peduli. Kasih sayangmu memang hanya untuk anak tirimu!" ucap Nana menatap Meisya berani.


Meisya terdiam. Apa yang dikatakan Nana memang benar. Dia memang tidak pernah ada usaha untuk membujuk Nana.


Nana tersenyum sumbang. Secara tidak langsung Meisya ikut menuduh bahwa dia yang telah menabrak Acha. Nana melepaskan tangan Meisya dari tangannya. Tanpa menjawab pertanyaan Meisya, Nana berbalik menatap Arya yang membuang pandangan.


"Mas," panggil Nana sendu.


"Bukan aku yang melakukan itu sama Acha, Mas. Aku memang marah, tapi aku tidak dendam ataupun benci, Mas. Aku sudah menganggap Acha sebagai Kakakku sendiri. Aku tidak mungkin mencelakainya, Mas," ucap Nana sendu.


"Pembohong sepertimu akan selalu mencari alasan untuk membela diri!" ucap Arya tegas.


Nana tersenyum kecut. Sungguh sakit sekali mendengar setiap tuduhan suaminya. Arya yang selama ini menjadi tempat dia bersandar dan berkeluh kesah kini sudah berbalik arah menjadi Arya yang asing seperti dulu.


Nana menatap semua anggota keluarga yang ada disana. Kemudian dia berjalan mendekati Bumi yang berdiri tak jauh darinya. "Pa," panggil Nana lembut.

__ADS_1


Bumi hanya diam, namun dia tersenyum membalas panggilan Nana. "Papa percaya Nana kan. Bukan Nana yang melakukannya. Bukan Nana yang bertanggung jawab atas semua ini, Pa," ucap Nana sendu. Tapi Bumi hanya diam. Sungguh, dalam hati ingin sekali dia memeluk dan memberi ketenangan untuk Nana.


Melihat Bumi yang hanya diam, Nana beralih menatap Gilang, Dinda dan Atlantik. Tapi mereka semua tidak ada yang membalas pandangan Nana. Nana tersenyum kecut dalam hatinya. Ternyata benar, satu kesalahpahaman bisa menghilangkan semua simpati dan empati untuknya.


Nana kembali menatap Arya. Dia masih berharap bahwa suaminya itu akan percaya padanya. "Mas, bukan Aku, Mas. Aku berani sumpah," ucap Nana sendu.


"Bahkan seorang jalang lebih baik dari wanita munafik sepertimu. Kau menghalalkan segala cara hanya untuk membalaskan rasa iri dan cemburumu!" ucap Arya tegas.


"Mas," ucap Nana tak percaya dengan apa yang dikatakan Arya.


"Aku memberikan cinta untukmu dengan mengorbankan cinta pertamaku. Aku bahkan memilih membahagiakanmu daripada sahabat kecil sekaligus cinta pertamaku. Apa kau tahu satu hal, sekarang kau memberi aku penyesalan telah menikahimu. Tidak salah jika Monika selalu menghinamu, ternyata memang kenyataannya kau seperti itu!" ucap Arya tegas memandang Nana tajam.


Air mata Nana mengalir begitu saja mendengar apa yang dikatakan Arya. Dia tidak menyangka, hari menakutkan seperti ini akan ada dalam hidupnya.


Arya menarik Nana ke depan kaca ruangan Acha. Di sana terlihat jelas Acha yang terbaring lemah dengan selang memenuhi tubuhnya.


"Kau lihat dia? Dia seperti itu karenamu!" ucap Arya marah.


Nana mencoba menenangkan hatinya dan menghapus air matanya dengan kasar. Dia berbalik dan menatap semua orang. Mungkin dengan mengakui kesalahan yang tidak dia lakukan akan membuat kesedihan ini cepat berakhir. "Jika memang aku yang melakukannya, apa yang akan kalian lakukan?" ucap Nana yang membuat mereka semua menatapnya tak percaya.


Tangan Arya mengepal erat mendengar perkataan Nana. Dia menahan diri agar tidak mengangkat tangan dan menampar Nana untuk kesekian kalinya.


"Karena perbuatanmu, Acha mengalami kerusakan pada jantungnya. Karena itulah dia terbaring lemah seperti itu. Satu hal yang bisa kau lakukan untuk membantunya," ucap Arya menggantung ucapannya dan menatap Nana.


Nana membalas tatapan Arya. Menunggu kata apa yang selanjutnya akan diucapkan Arya. Bahkan saat ini jantungnya berdegup kencang.


"Berikan jantungmu untuk cinta pertamaku!"

__ADS_1


......................


__ADS_2