Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 69


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Gundukan tanah itu menjadi saksi bagaimana seorang wanita menangis pilu. Menangisi kepergian laki-laki yang sangat dia cintai di dunia ini selain suaminya.


"Ayah," panggilnya sendu dalam tangis yang tiada henti.


Di sana hanya menyisakan keluarga saja. Sedangkan orang-orang yang melayat sudah pergi terlebih dahulu setelah mereka memanjatkan doa bersama untuk Akmal.


"Sayang, kita boleh menangis, tapi jangan diratapi. Ayah pasti nggak akan senang jika kamu seperti ini terus, Sayang," ucap Arya menenangkan istrinya.


"Bilang ini semua mimpikan, Mas," ucap Nana sendu menatap Arya.


Arya menggeleng. "Kamu harus ikhlas, Sayang. Kita semua pasti akan dapat giliran untuk menyusul Ayah," ucap Arya.


"Hiks, kenapa Ayah buat pengorbanan aku selama isi sia-sia, Mas? Kenapa Ayah tidak memberi aku waktu sedikit saja untuk merasakan kasih sayang seorang Ayah yang sesungguhnya?" tanya Nana menangis memandang Arya dengan mata penuh buliran kristal itu.


Meisya yang mendengar setiap kata keluar dari mulut Nana hanya bisa menangis menyesali semuanya. Acha yang melihat Meisya ikut terpukul memeluknya dari samping. "Om Akmal butuh doa kita, Ma," ucap Acha tegar.


Meisya mengangguk dan kembali memandang nisan Akmal. Semoga ditempat yang baru, kita akan bertemu lagi sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai, ya Mas. Percayalah, hatiku hanya untuk kamu, Mas. Tidak ada yang lain. Maafkan aku. Batin Meisya sendu.


Sedangkan Bi Mirna yang melihat Nana begitu terpukul ikut sedih. Wanita yang sudah dia anggap sebagai cucunya itu kini sangat terpukul. Ingin sekali Bi Mirna memeluk Nana, tapi sekarang sudah ada Arya yang mampu memberikan kenyamanan untuk Nana. Bi Mirna hanya berharap bahwa Arya bisa mengobati setiap duka yang Nana alami.


Bumi yang berjongkok di sebelah Arya memandang nanar batu nisan milik sahabatnya itu. Baru saja dia bahagia karena bertemu dengan Akmal, kini mereka harus terpisah secara abadi. Bukan hanya beda kota, tapi mereka berbeda alam. Setetes air mata Bumi jatuh dibalik kaca mata hitamnya.


Aku akan menggantikan tugasmu sebagai Ayah dari anakmu, Akmal. Aku akan menyayanginya layaknya anak kandung sendiri. Semoga disana kebahagian selalu bersamamu, Akmal. Kamu akan merasa lebih nyaman sekarang. Batin Akmal.


Sedangkan Mita mengusap lembut bahu suaminya yang sedikit bergetar. "Ayo kita kembali, Mas," ucap Mita.


Bumi mengangguk. Dia berdiri dan menatap Meisya yang masih menangis disana. "Ayo kita kembali. Tidak baik meratapinya seperti ini," ucap Bumi.


Meisya mengangguk. Dia melirik Arya agar mengajak Nana untuk pulang.


"Kalian duluan saja. Biar Arya temani Nana dulu disini," ucap Arya.

__ADS_1


"Baiklah. Segera kembali, Nak," ucap Bumi. Setelah itu mereka pergi dari makam Akmal. Di sana hanya menyisakan Arya dan Nana.


"Sayang," panggil Arya lembut mengusap bahu Nana.


Nana menatap Arya dengan mata sembabnya. "Mas," ucap Nana sedih.


"Ayah memang udah nggak ada di dunia, Sayang. Tapi dia selalu ada disini," ucap Arya menunjuk dada sebelah kiri Nana.


"Ayah selalu mengawasi kita dari atas sana. Ayah selalu bersama kita, Sayang. Jangan seperti ini, Ayah pasti nggak akan suka," ucap Arya.


"Kalau saja Mama tidak datang, pasti semua tidak akan seperti ini," ucap Nana kalut.


"Istighfar, Sayang. Jangan membenci dalam keadaan seperti ini," ucap Arya.


Nana hanya mampu menangis menahan segala sesaknya. Menatap nisan Akmal dengan sendu dan pandangan kosong. Nana menghapus air matanya dengan kasar dan menoleh kepada Arya. "Aku mau pulang, Mas," ucap Nana.


Arya mengangguk. Sebelum berdiri, Nana mencium batu nisan Akmal lama. Begitu juga dengan Arya. Setelah itu mereka berdiri dan berjalan menjauh dari pemakan Akmal.


Dinda berdiri dan memeluk Nana yang baru memasuki pintu rumahnya. "Adik Kakak harus kuat, ya," ucap Dinda menyemangati Nana.


Nana tersenyum dengan wajah sembabnya. "Terimakasih, Kak," ucap Nana tulus.


Saat mereka berpelukan, ada sebuah tangan kecil menarik-narik ujung baju Nana. Nana melepaskan pelukannya dengan Dinda dan menunduk. Di sana ada Freya yang menatapnya dengan wajah yang sudah basah dengar air mata sambil sesegukan.


Nana bersimpuh menyamakan tinggi badannya dengan Freya. Senyum kecil terbit di bibir Nana. Tangannya terulur menghapus air mata di pipi Freya. "Ponakan kesayangan Aunty kenapa, Hem?" tanya Nana lembut.


"Hiks, Mama bilang Aunty Balbi sedih kalna ditinggal Kakek Akmal. Aunty jadi nggak punya Ayah lagi, hiks," ucap Freya kembali menangis. Dinda memang mengatakan kepada Freya. Karena jika tidak, maka anaknya itu tidak akan pernah berhenti bertanya.


"Freya," peringat Atlantik pada Freya. Dia takut Nana akan kembali sedih karena perkataan anaknya.


Namun Nana malah tersenyum. Dia tidak menunjukkan kesedihannya kepada Freya. "Tapi Aunty masih punya Freya kan. Freya nggak akan ninggalin Aunty kan?" tanya Nana lembut.


Freya mengangguk yakin dengan sesegukannya. "Aunty bisa anggap Papa Fleya sebagai Ayah Aunty. Kata Papa, kita halus belbagi kebahagiaan. Dan Fleya mau bagi kebahagiaan Fleya sama Aunty Balbi. Bial Aunty nggak sedih lagi," ucap Freya yang mampu menerbitkan senyum dibibir mereka semua, termasuk Nana.

__ADS_1


"Terimakasih, Sayang," ucap Nana.


"Mau temani Aunty ke kamar?" tanya Nana.


Freya mengangguk antusias. Dia juga sangat merindukan Aunty kesayangannya ini. Nana mengangkat tubuh Freya kedalam gendongannya. Setelah itu dia menatap Arya yang masih berdiri disampingnya. "Aku ke kamar duluan, Mas," ucap Nana pamit.


Arya mengangguk. Setelah itu Nana menatap semua anggota keluarganya untuk pamit terlebih dahulu.


Kini mereka semua selain Nana dan Freya sedang berkumpul di ruang tamu kediaman Arya. "Bagaimana dengan Monika, Arya?" tanya Meisya dengan wajah yang masih sembab.


Arya menggeleng. "Papa dan Gilang yang mengurusinya kemarin, Tante," ucap Arya.


Meisya tersenyum mendengar Arya masih memanggilnya Tante. "Panggil Mama, Arya. Kamu sudah jadi menantuku," ucap Meisya.


"Iya, Ma," ucap Arya kaku. Dia masih belum terbiasa memanggil Meisya dengan sebutan 'Mama'.


Meisya tersenyum dan beralih menalar Gilang dan Bumi. "Bagaimana Monika, Mas Bumi, Gilang?" tanya Meisya pada mereka berdua.


"Monika ada di tempat yang seharusnya," ucap Bumi.


"Monika harus menerima pembalasan, Tante," ucap Gilang menyambung jawaban Bumi.


"Izinkan aku menemuinya."


......................


Sebentar lagi kita akan memulai puasa. Author mau bilang mohon maaf lahir bathin sama readers semua yang sangat author sayangi.


Semoga di bulan penuh berkah ini semua yang kita doakan dapat terwujud, semoga kebaikan selalu bersama kita ya teman-teman. Dan satu lagi, Author doakan rezeki kalian mengalir semakin lancar di bulan yang suci ini agar terus bisa beli kuota buat selalu baca novel author, yaa.


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2