
🌹HAPPY READING🌹
Saat ini Arya bersama Nana sedang berada di kamar Arya. Yang lainnya sudah pamit pulang terlebih dahulu. Nana meminta Bi Mirna untuk tinggal bersama mereka, tapi Bi Mirna menolak. Dia ingin memberi waktu Nana bisa berdua dengan Arya.
Nana nampak gugup menunggu Arya yang masih berada di kamar mandi. "Aku harus ngapain, ya?" tanya Aman pada dirinya sendiri.
Sepuluh menit kemudian, Arya keluar dari kamar mandi dengan handuk sebatas pinggangnya. Menampilkan postur tubuh yang sangat indah. Nana menelan salivanya dengan susah payah melihat Arya. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, Nana memalingkan pandangannya.
Arya yang melihat tingkah Nana tersenyum jahil. Dengan perlahan Arya berjalan mendekati Nana.
"Kamu nggak mandi, Sayang?" tanya Arya dengan sengaja mengibaskan rambut basahnya.
Nana memejamkan mata saat air rambut Arya mengenai wajahnya. "Harus mandi, ya?" tanya Nana polos.
Arya terkekeh pelan mendengar pertanyaan Nana. "Emang kamu mau tidur dengan makeup dan kebaya gitu?" tanya Arya.
Nana menepuk dahinya pelan saat baru menyadari kebodohannya. Tapi sedetik kemudian wajahnya berubah cemberut. "Bukanya susah," ucap Nana menunjuk kancing baju bagian belakang tubuhnya.
"Biar aku bantu," ucap Arya.
Nana berdiri didepan Arya. Arya dengan sigap membuka satu persatu kancing baju Nana.
Tahan Arya, Tahan. Batin Arya begitu melihat punggung Nana yang sangat mulus.
"Sudah, Sayang," ucap Arya mencoba menahan gairahnya.
Nana mengangguk dan langsung berlari menuju kamar mandi. Jantungnya serasa ingin copot saat kulit tangan Arya menyentuh punggungnya tadi.
"Huft, kalau setiap anggota tubuh bisa mengeluarkan suara, mungkin jantung aku udah paling ribut," gimana Nana memegangi dadanya setelah sampai di kamar mandi.
Setengah jam berada di dalam kamar mandi, Nana keluar dengan kimono handuknya. Kaki putih mulusnya dan rambut yang terbungkus handuk sangat menggoda iman Arya.
"Sini, Sayang," ucap Arya menepuk kasur sebelahnya.
Dengan perlahan Nana berjalan mendekat dan naik ke kasur. Arya langsung mendekap erat tubuh Nana memberikan kehangatan untuk gadis itu. Arya hanya menggunakan celana boxer tanpa atasan. Karena memang seperti itu kebiasaan jika tidur.
Tangan Nana melingkar erat di pinggang Arya dengan kepala yang dia sandarkan di dada bidang Arya.
"Sayang," ucap Arya.
"Iya, Ar," jawab Nana.
"Kok panggil nama sih?" tanya Arya sedikit kesal.
__ADS_1
Dahi Nana berkerut bingung. "Terus panggil apa?" tanya Nana.
"Panggil yang sopan sama suami. Enggak boleh asal panggil Nana," ucap Arya.
Nana tersenyum. Sekarang dia mengerti maksud lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. "Iya Mas," ucap Nana lembut.
"Good wife," ucap Arya senang.
Nana tersenyum senang dan semakin membenamkan kepalanya di dada bidang Arya.
"Sayang," panggil Arya lagi.
"Iya, Mas," jawab Nana.
"Papa mau ketemu sama Ayah," ucap Arya hati-hati.
Nana langsung melonggarkan lingkaran tangannya di pinggang Arya begitu mendengar perkataan suaminya. Tapi Arya semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Nana. Dia tidak mengizinkan Nana keluar dari dekapannya.
"Mas, apa semua akan baik-baik saja jika Papa tahu tentang Ayah?" tanya Nana sendu.
"Akan lebih baik Papa tahu, Sayang. Saat ini mereka adalah besan," jawab Arya.
"Apa Papa masih menerima aku jika tahu keadaan Ayah?" tanya Nana menengadah menatap Arya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jika nanti Papa tidak menyukai Ayah, apa kamu akan tetap bersama aku?" tanya Nana lagi. Kali ini air bening itu mengalir dari matanya.
Tangan Arya tergerak menghapus air mata Nana. "Apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama, Sayang. Kamu tahu, tidak ada gadis yang lebih tepat untuk aku selain kamu," ucap Arya.
"Acha?" tanya Nana.
"Dia sahabat aku, Sayang. Aku sadar, rasaku dulu terhadapnya hanya sebatas cinta masa kecil, tidak lebih. Dia memang sahabat aku, aku pasti akan memberikan kasih sayang layaknya sebagai sahabat. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, Sayang. Aku nggak mau istri aku terluka. Sekarang kamu prioritas aku," ucap Arya yakin.
"Apa aku bisa percaya kamu, Mas?" tanya Nana sendu.
"Jangan percaya aku, Sayang. Tapi percaya sama permintaan kamu kepada Tuhan. Aku percaya, kamu pasti meminta yang terbaik untuk aku kepada Tuhan," ucap Arya.
Nana tersenyum menatap Arya. "Terimakasih sudah mempertahankan aku, Mas," ucap Nana.
"Aku yang berterimakasih karena sudah berjuang sejauh ini," ucap Arya.
Nana mengangguk dan tersenyum dalam dekapan Arya.
"Sayang, aku udah nggak tahan," ucap Arya serak.
__ADS_1
Nana mengangkat kepalanya.
CUP.
Bibir mereka saling bersentuhan tanpa sengaja, karena Arya yang menunduk melihat Nana. "Bolehkah, Sayang?" tangan Arya.
Dengan malu Nana mengangguk. Sudah kewajibannya untuk memberikan mahkota yang selama ini dia jaga untuk suaminya.
Dengan perlahan, Arya mendekatkan kembali wajahnya. Arya melahap lembut bibir mungil Nana. Nana membuka sedikit mulutnya memudahkan Arya menjelajahi bibir Nana.
Arya tersenyum senang dengan Nana yang mengerti keinginannya. Dengan lembut Arya merebahkan tubuh Nana. Kini Nana hanya bisa pasrah di bawah kungkungan Arya.
Rambut Nana yang basah menambah keseksian wanita itu. Arya masih asik dengan leher Nana. Memberi tanda cintanya di seluruh tubuh Nana. Desahan lolos dari mulut Nana ketika Arya melahap gunung kembar Nana. Entah siapa yang memulai, kini tubuh mereka sudah tidak tertutup oleh sehelai benang pun.
Kasur yang tadinya rapi kini sudah sangat berantakan. Bantal dan selimut sudah tergeletak tidak berdaya di lantai.
"Aku masukin ya, Sayang," ucap Arya.
Nana membuka mata yang tadi terpejam menikmati sensasi yang Arya berikan. Arya tampak semakin tampan dengan rambut yang sudah acak-acakan dan bibir pink yang sedikit bengkak.
"Pelan-pelan," ucap Nana lembut.
Arya mengangguk. Dengan perlahan Arya memasukkan miliknya kepada milik Nana. Nana memekik kaget saat punya Arya masuk ke dalam miliknya. Setitik air mata Nana keluar dari sudut matanya.
"Sakit, hiks," ucap Nana memandang Arya sendu.
"Berhenti aja, ya," ucap Arya tak tega. Meskipun nafsunya sudah di puncak, tapi melihat Nana yang kesakitan dia jadi tak tega.
Nana menggeleng. "Lanjut aja, Mas. Aku ikhlas," ucap Nana mencoba tersenyum.
"Gigit atau cakar bahu aku kalau sakit, ya," ucap Ary lembut.
Nana mengangguk. Dengan lembut dan pasti, Arya kembali memulai usahanya.
Bles.
Dengan sempurna punya Arya sampai pada tempatnya. Dengan sangat lembut Arya memberikan kenikmatan kepada Nana. Kamar itu kini dipenuhi suara merdu penyatuan cinta Nana dan Arya. Decitan ranjang menambah bunyi romantis dari kegiatan yang memberikan kenikmatan kepada mereka.
"I love you, Nana," ucap Arya diakhir pelepasannya.
Nana hanya mengangguk. Tenaganya sudah terkuras habis akibat kegiatan mereka. Tapi senyum cantik terukir di wajah Nana. Kini dia sudah menjadi istri sesungguhnya dari Arya.
"Terimakasih, Sayang," ucap Arya mesra mengecup kedua mata Nana yang mengeluarkan air mata.
__ADS_1
......................