
🌹HAPPY READING🌹
"Ayah Nana mengalami gangguan kejiwaan," ucap Arya memberitahu Bumi.
Dada Bumi terasa sesak mendengar perkataan Arya. Jika dugaannya benar, bahwa Nana adalah anak dari sahabatnya, itu berarti sahabat yang selama ini dia rindukan mengalami gangguan jiwa.
"Arya, bisa pertemukan Papa dengan Ayah Nana?" tanya Bumi serius.
"Apa Papa yakin?" tanya Arya.
Dengan pasti Bumi mengangguk.
"Arya harus bilang Nana dulu, Pa. Karena Arya nggak mau Nana marah karena ini. Arya takut Nana belum siap dengan semuanya," ucap Arya.
Bumi mengangguk. "Papa berharap malam ini kita bisa menemui Ayah Nana," ucap Bumi.
"Akan Arya usahakan, Pa," jawab Arya.
.....
Setelah berbincang dengan Bumi, Arya kembali ke kamarnya.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka. Arya melihat istrinya yang tengah melamun dengan tangan yang terus mengusap Freya yang masih tertidur.
Arya berjalan pelan tanpa mau menganggu istrinya. Dengan lekat Arya memperhatikan wajah Nana.
Sejak bertemu dengan Tante Meisya, Nanaku yang dulu ceria kini lebih banyak diam, menurut dan melamun. Aku rindu Nanaku yang selalu agresif, memberontak dan manja. Batin Arya memandang Nana.
Dengan lembut Arya menyentuh bahu Nana.
"Mas," ucap Nana kaget.
Arya ikut duduk disebelah Nana dengan pelan agar Freya tidak terganggu. "Kenapa melamun, Sayang?" tanya Arya.
Nana tersenyum dan menggeleng. "Bukan apa-apa, Mas," ucap Nana.
Arya hanya mengangguk. Dia tidak ingin memaksa Nana untuk memberitahunya. Dia tahu, suatu saat istrinya itu akan bercerita jika dirasa waktunya sudah tepat.
"Sayang," panggil Arya.
"Iya, Mas," jawab Nana.
"Sayang, Maaf," ucap Arya tak enak.
Dahi Nana berkerut. "Maaf untuk apa, Mas?" tanya Nana.
"Sayang, Papa udah tahu tentang Ayah," ucap Arya hati-hati.
__ADS_1
Nana diam sebentar memperhatikan lekat raut wajah Arya. "Kamu yang memberitahu Papa?" tanya Nana.
Dengan ragu Arya mengangguk mengiyakan pertanyaan Nana.
Nana tersenyum. Dengan lembut tangan Nana mengusap pipi Arya. "Sudah saatnya Papa tahu, Mas. Aku nggak marah kok. Kamu sudah melakukan hal yang benar," ucap Nana lembut.
Sungguh, ini diluar dugaan Arya. Dia menduga bahwa Nana akan marah karena perbuatannya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.
"Dan Papa ingin bertemu Ayah, Sayang," lanjut Arya.
Nana mengangguk. "Ayo kita pergi nanti malam bertemu Ayah, Mas. Aku juga ingin memperkenalkan mertua dan suamiku kepada Ayah," ucap Nana.
Dengan semangat Arya memeluk Nana. "Kamu wanita luar biasa. Tidak setiap wanita memiliki hati sekuat kamu," ucap Arya memeluk Nana.
"Aku kuat karena kamu dan Ayah," ucap Nana.
Arya mengangguk dan mengecup pucuk kepala Nana berkali-kali, menyalurkan cinta dan kasih sayangnya.
.....
Sesuai perkataan rencana mereka, kini Arya, Nana dan Bumi sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Jiwa. Arya mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, Bumi duduk disebelah Arya dan Nana yang duduk di kursi belakang.
"Pa," panggil Nana kepada Bumi dari kursi belakang.
Bumi menoleh. "Iya, Nak," ucap Bumi. Sedangkan Arya hanya mendengarkan saja.
"Pa, jika nanti Papa melihat keadaan Ayah, Nana mohon jangan merubah hubungan diantara kita, Pa," ucap Nana sendu.
Bumi tersenyum melihat Nana. "Nak, kamu sumber kebahagiaan Anakku sekarang. Aku tidak mungkin mengambil kebahagiaan Anakku sendiri. Harusnya Papa yang berterimakasih karena sudah mau hidup bersama anak nakal ini," ucap Bumi melirik Arya sekilas.
Nana tersenyum mendengar perkataan Bumi. Sedangkan Arya memasang wajah kesal mendengar perkataan Papanya.
Setengah jam kemudian, mobil mereka sampai di Rumah Sakit Jiwa.
"Arya ini," ucap Bumi menunjuk ke arah Rumah Sakit Jiwa.
Arya mengangguk. "Iya, Pa. Ayah Nana dirawat di Rumah Sakit yang sering Papa kunjungi," ucap Arya.
Bumi hanya mengangguk mendengar perkataan Arya. Mereka bertiga berjalan memasuki rumah sakit. Tangan Arya tidak lepas menggenggam tangan Nana.
Mereka sampai diruang rawat Akmal. Dengan perlahan, Nana membuka handel pintu.
Terlihat Akmal yang tidur dengan memunggungi pintu. Kakinya masih terikat rantai diujung ranjang.
Nana berjalan lebih dulu, Arya dan Bumi mengikuti dari belakang.
"Ayah," panggil Nana lembut.
Akmal yang belum tidur membalikkan badan ketika mendengar suara.
__ADS_1
DEG
Jantung Bumi berdetak cepat melihat lelaki yang terbaring dengan kaki terikat rantai itu.
Dengan langkah pelan namun pasti, Bumi mendekati ranjang.
"Akmal," panggil Bumi lirih.
Nana segera menoleh begitu Bumi memanggil nama Ayahnya. Begitu juga Arya, yang heran dengan Papanya.
"Papa kenal Ayah?" tanya Nana.
Bumi mengangguk pasti. "Sahabat yang selama ini aku rindukan adalah besanku sendiri," ucap Bumi dengan pandangan tak lepas dari Akmal.
Sedangkan Akmal hanya memandangi Nana, Bumi dan Arya dengan pandangan kosong.
Nana duduk di tepi ranjang Akmal.
"Ayah, ada sahabat Ayah datang menjenguk," ucap Nana lembut mengusap kepala Akmal layaknya anak kecil.
Sedangkan Akmal hanya diam.
"Nak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Bumi.
"Ayah sudah seperti ini selama dua puluh tahun, Pa," ucap Nana lirih. Sungguh, dia tidak ingin mengungkit masa lalu, tapi Bumi berhak tahu. Selain besan, Bumi juga sahabat Ayahnya.
"Selama itu?" tanya Bumi tak percaya.
Sedangkan Arya sudah berdiri di belakang Nana yang duduk di tepi ranjang menghadap Bumi yang duduk di kursi.
Nana mengangguk. "Sejak Mama pergi, Papa selalu hilang kendali dan selalu mencoba mengakhiri hidupnya. Hingga Bi Mirna, orang yang selama ini membesarkan Nana layaknya cucu sendiri memilih memasukkan Ayah kesini. Semua demi kebaikan Ayah," ucap Nana dengan terus memandang Akmal yang memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Apa Akmal hanya diam seperti ini, Nak?" tanya Bumi.
Nana menggeleng. "Terkadang Ayah menangis, terkadang tertawa. Ayah bahkan pernah mencoba menusuk dirinya sendiri dengan pisau, Pa. Dua puluh tahun Ayah selalu berada dalam ruangan ini. Jika Ayah keluar, maka pasien lain akan menjadi korban pelampiasan Ayah," ucap Nana dengan mata berkaca-kaca.
"Lalu jika Akmal kambuh?" tanya Bumi.
"Nana yang akan menjadi pelampiasan sekaligus penenang Ayah, Pa," ucap Nana sendu.
"Sayang," ucap Arya lembut merangkul istrinya.
Bumi berdiri dan berjalan mendekati Akmal. Dengan perlahan Bumi memegang tangan Akmal.
"Akmal," panggil Bumi.
Akmal menoleh kepada Bumi. Dia menatap Bumi, tapi pandangannya kosong. Mata Bumi berkaca-kaca melihat sahabat yang menemaninya sejak SMP itu dalam keadaan seperti ini. Dan mereka berpisah saat lulus SMA. Bumi yang melanjutkan kuliah di luar negeri dan Akmal yang melanjutkan kuliahnya di Indonesia. Sesekali mereka tetap bertemu saat Bumi kembali ke Indonesia, tapi saat tahun ketiga mereka kuliah, mereka hilang kontak karena Akmal yang hilang bak ditelan Bumi.
"Kenapa seperti ini, Akmal? Dimana sahabatku yang dulu tegas dan bijak?" ucap Bumi sendu.
__ADS_1
Akmal tetap memandangi Bumi dengan pandangan kosong. "Ambil nyawaku," gumam Akmal seperti orang linglung.
......................