Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 63


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Apa anak dan suami saya baik-baik saja?" tanya Meisya memandang Arya dengan tatapan sendu.


"Bertemu mereka, dan Tante akan tahu mengenai keadaan mereka setelah Tante tinggalkan begitu saja," jawab Arya menatap Meisya.


Acha memegang tangan Meisya. Dia tahu, Meisya pasti juga sedih atas semua yang terjadi. Ini semua hanya kesalahpahaman di masa lalu yang belum tuntas dan berakibat pada masa depan.


"Ma, kita ke Indonesia, ya. Kita perbaiki semuanya, ya Ma," ucap Acha lembut membujuk Meisya.


Meisya mengangguk yakin. "Mama mau, Nak," jawab Meisya.


Senyum hangat terbit di bibir Acha. Tidak sia-sia dia datang kesini dan membujuk Meisya. Arya bernafas lega karena sebentar lagi ini akan menjadi kejutan yang sangat indah untuk istrinya.


"Nak," panggil Meisya lembut kepada Acha.


"Iya, Ma," jawab Acha.


"Apa kamu tidak marah karena Mama akan bertemu anak kandung Mama?" tanya Meisya hati-hati.


Acha tersenyum dan menggenggam lembut tangan Meisya. "Ma, Acha sudah sangat beruntung dibesarkan oleh Mama. Harusnya Acha minta maaf, karena Acha, Nana harus menjalani perjuangan yang tak mudah, Ma. Dan Acha juga sangat senang ketika tahu bahwa Nana adalah saudara Acha," ucap Acha yakin.


Terbit senyum di bibir Meisya dan Arya ketika mendengar jawaban Acha yang dengan lapang dada bisa menerima semuanya.


"Lalu bagaimana dengan Monika?" tanya Meisya teringat akan kakaknya tersebut.


"Dia berada ditempat yang aman, Tante. Dan satu lagi, jangan terkejut ketika melihat keadaan Kakak Tante nanti," jawab Arya.


Meisya hanya mengangguk. Dia sudah tidak peduli dengan bagaimana keadaan Monika, yang penting saat ini, dia akan bertemu dengan anak dan suaminya.


"Ma, boleh Acha bertanya sesuatu?" ucap Acha.


Meisya mengangguk dan tersenyum mengiyakan. "Dulu Mama sering ke Indonesia bareng Papa, apa Mama tidak pernah singgah atau hanya sekedar lewat untuk melihat Nana dan Om Akmal?" tanya Acha penasaran.


"Tidak banyak yang bisa Mama lakukan. Ada Monika yang selalu mengawasi setiap pergerakan Mama," jawab Meisya sendu.


"Dan setelah ini semua akan kembali membaik, Ma," ucap Acha menenangkan Meisya.


"Terimakasih, Nak," jawab Meisya.


Acha mengangguk dan memeluk Meisya. Meskipun bukan Ibu kandung, tapi kasih sayang Meisya sangat tulus kepada Acha.


"Kapan kita akan ke Indonesia?" tanya Meisya setelah melepas pelukannya dengan Acha.

__ADS_1


"Lebih cepat lebih baik, Tante," jawab Arya.


"Gunakan Jet pribadi milik Papa aja, Ar. Biar lebih cepat dan mudah," ucap Acha menyusulkan.


Arya dan Meisya menyetujui perkataan Acha. Setelah itu Meisya mengajak Arya dan Acha untuk beristirahat sebentar. Arya dikamar tamu, sedangkan Acha tidur ditemani oleh Meisya.


.....


Dibelahan dunia lain, Nana mondar-mandir tak jelas di kamarnya menunggu kabar dari Arya. Sejak Arya pergi sampai sekarang, dia belum mengabari Nana barang sedikitpun.


"Mas Arya kok belum kabarin aku juga sih," ucap Nana khawatir.


"Ini udah lebih dari dua puluh empat jam. Mas Arya harusnya udah sampai dari tadikan. Tapi kenapa nggak ngabarin aku," monolog Nana kesal.


Pikiran-pikiran negatif itu muncul dibenaknya. Nana menggeleng kuat menepis pikiran tersebut. "Enggak-enggak. Mas Arya cuma cinta dan sayang sama aku. Ini murni hanya karena pekerjaan," ucap Nana menenangkan dirinya. Mengingat Arya yang pergi dengan Acha membuat Nana tidak tenang. Ketakutan dalam hatinya masih ada mengenai perasaan Arya terhadap Acha dulu.


"Nak," suara lembut dari depan pintu menghentikan pergerakan Nana.


Nana menoleh ke pintu dan melihat Mita yang sedang berdiri di sana dengan senyum hangatnya.


Mita berjalan mendekati Nana dan mengajak menantunya itu duduk di tepi ranjang. "Kamu kenapa kayak orang cemas gitu?" tanya Mita.


"Mama udah dari tadi berdiri di sana?" ucap Nana tanpa menjawab pertanyaan Mita.


"Mas Arya belum kasih kabar juga, Ma," ucap Nana lirih menunjukkan ponselnya kepada Mita.


"Nak, apa kamu masih takut mengenai Arya dan Acha?" tanya Mita mengerti perasaan menantunya.


Acha mengangguk lemah. Mita yang melihat itu mengusap lembut rambut Nana. "Nak, kita memang tidak mengetahui isi hati setiap orang, tapi kita merasakan bagaimana dia terhadap kita," ucap Mita lembut.


"Maksud Mama?" tanya Nana.


"Mama memang tidak tahu isi hati Arya, tapi satu yang pasti. Tidak ada wanita yang diperjuangkan Arya seperti dia memperjuangkan kamu, Nak. Bahkan Acha sekalipun," ucap Mita.


Nana menunduk mendengar perkataan Mita. Dia merasa bersalah karena sudah mencurigai hal yang bahkan belum tentu terjadi.


"Mama paham, Nak. Kamu hanya khawatir. Coba kamu telephon Arya duluan daripada kamu cemas seperti itu," ucap Mita.


"Em ..."


"Mama akan keluar dulu. Kamu telepon Arya ya. Nanti kalau sudah selesai turun dan makan malam dibawah," ucap Mita. Tujuannya untuk memanggil Nana makan malam bersama harus terganti dengan menenangkan kegelisahan menantunya itu.


"Iya, Ma. Terimakasih nasehatnya, Ma," ucap Nana tulus.

__ADS_1


"Tidak ada terimakasih untuk seorang ibu dari anaknya, Nak. Karena seorang ibu selalu tulus memberikan apapun untuk anaknya," ucap Mita yang sudah menganggap Nana sebagai anaknya sendiri.


Nana mengangguk semangat. "Mama bukan mertua, tapi Mama Ibu yang dikirim Tuhan untuk menyayangi Nana," ucap Nana terharu bahagian memeluk Mita.


Mita membalas pelukan Nana. "Yasudah, Mama turun dulu nyusul yang lain, ya. Kamu jangan lupa makan nanti," ucap Mita.


Nana mengangguk dengan senyum mengembangnya. Setelah itu Mita beranjak pergi meninggalkan Nana sendiri di kamarnya.


Mita dan Bumi memang menginap disini. Mereka ingin menemani Nana selama Arya tak ada. Lagian di rumah mereka juga tidak ada siapa-siapa. Atlantik, Dinda dan Freya sedang liburan ke Singapura atas keinginan Freya yang menagih janji Papanya.


Nana mencari kontak Arya di ponselnya. Setelah ketemu, Nana menekan tombol panggilan.


.....


Arya sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Melepas penat setelah tadi dia selesai bicara dengan Meisya. Saat baru memejamkan mata, ponsel dalam saku celananya berdering. Arya mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon.


Arya reflek terduduk melihat nama Mine tertera dilayar. "Sial, gue lupa hubungin Nana," gumam Arya kesal dengan dirinya sendiri.


Arya menekan tombol hijau mengangkat panggilan Nana.


"Halo, Sayang," ucap Arya.


"Mas, kenapa nggak hubungin aku?" ucap Nana diseberang sana dengan suara bergetar.


Arya menghela nafas pelan. Merutuki kebodohannya yang bisa lupa menghubungi istri sendiri.


"Maaf, ya Sayang," ucap Arya menyesal.


Arya mengalihkan panggilannya kepanggilan video. Wajah cemberut Nana terpampang jelas setelah Nana menerima permintaan Arya.


"Jangan ngambek, ya," bujuk Arya menatap Nana dari layar.


Nampak dari layar ponsel Arya jika Nana sudah menangis dan terisak kecil. "Sayang, jangan nangis, ya. Aku minta maaf, ya," ucap Arya lagi.


"Hiks, aku minta maaf karena udah curiga sama kamu," ucap Nana menyesal.


Arya tersenyum lembut. "Aku suka kamu khawatir. Itu artinya kamu sayang banget sama aku," ucap Arya.


Nana tersenyum senang menatap Arya dilayar ponselnya. Setelah itu mereka melanjutkan obrolan mereka layaknya sepasang remaja yang baru saja menjalin hubungan.


......................


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.

__ADS_1


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


__ADS_2