
🌹HAPPY READING🌹
Dokter dan para tim terus melakukan yang terbaik untuk Akmal. Tubuh Akmal tiba-tiba mengalami kejang saat Dokter telah berhasil mengeluarkan peluru yang menyakitinya.
"Dok, detak jantung pasien melemah," ucap seorang Suster.
Dokter tersebut mengambil alat untuk mengejutkan jantung Akmal dengan harapan detak jantungnya kembali normal. Setelah beberapa kali mencoba, Dokter menghela nafas dan menggeleng. "Pasien sudah kembali ke tempat yang sesungguhnya," ucap Dokter tersebut memandang sendu wajah Akmal.
Suster yang dari tadi menghapus air mata yang keluar dari sudut mata Akmal memandang lekat wajah Akmal. Dia melihat ketenangan disana. "Dia seperti orang tidur, Dokter," ucap Suster tersebut.
Dokter mengangguk menyetujui pendapat Suster. Setelah itu dia meminta suster untuk membersihkan semua peralatan yang ada di tubuh Akmal dan berjalan keluar untuk menemui keluarga yang ada diluar.
Ceklek.
Pintu UGD terbuka dari dalam. "Bagaimana Ayah saya, Dokter?" tanya Nana cepat begitu melihat Dokter berdiri di ambang pintu.
Dokter menghela nafas pelan dan menggeleng."Maaf, pasien tidak dapat kami selamatkan. Peluru yang menembus tubuh pasien mengenai organ vital. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Dengan berat hati kami mengatakan, bahwa pasien telah meninggal dunia," ucap Dokter tersebut.
"ENGGAK!" teriak Nana ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter. Badannya luruh ke lantai mendengar bahwa lelaki yang selama ini hidupnya selalu dia perjuangkan, lelaki yang selama ini kesehatannya selalu dia utamakan pergi meninggalkannya hanya dalam waktu sekejap.
Arya berhambur memeluk istrinya yang menangis di lantai. Acha memeluk erat Meisya yang sudah tersedu di kursi tunggu. Sedangkan Mita dan Bi Mirna hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa suara. Jika mereka yang sudah tua ikut meraung seperti itu, maka siapa yang akan menenangkan anak-anaknya.
"Sayang," panggil Arya lirih. Mata lelaki itu nampak merah menahan tangis.
"Hiks, Ayah nggak mungkin ninggalin aku sendirikan, Mas. Yang dibilang Dokter nggak benarkan. Yang dikatakan Dokter tadi salahkan, Mas, hiks," tangis Nana begitu pilu terdengar menyakitkan ditelinga Arya.
"Sayang, sabar ya. Ayah butuh doa kita sekarang. Ayah udah nggak ngerasain sakit lagi. Ayah udah ditempat yang paling indah, Sayang," ucap Arya membujuk Nana.
"Enggak, enggak. Aku nggak mau kehilangan Ayah. Nggak mau, hiks," ucap Nana menangis memukul-mukul dadanya sendiri.
Arya dengan sekuat tenaga menahan tangan Nana. "Sayang, udah ya. Nanti dadanya sakit," ucap Arya.
Namun Nana tetap melakukan aksinya. Hingga akhirnya kesadarannya hilang. Nana ambruk dalam pelukan Arya.
"Sayang, hey bangun, Sayang," ucap Arya memukul-mukul pelan pipi Nana.
"Arya bawa Nana kedalam," ucap Mita agar Nana diperiksa.
Arya mengangguk patuh dan membawa Nana kedalam UGD.
__ADS_1
"Dokter periksa istri saya," ucap Arya meletakkan Nana di atas brangkar.
Dokter dengan segara memeriksa Nana. Pandangan Arya kini beralih pada tubuh tanpa nyawa yang kini telah ditutupi oleh kain putih hingga batas leher.
Mata Arya memanas melihat lelaki yang menjadi objek cemburunya terhadap sang istri, karena Nana lebih banyak waktu untuknya dari pada Arya sendiri.
Arya mendekat dan memegang tangan Akmal yang terasa dingin. "Ayah terlihat sangat tenang. Apa Ayah tidak berpikir, istriku sedih karena kepergian Ayah," ucap Arya sendu.
"Dia begitu terpukul. Aku mohon, jika bisa kembalilah. Jangan buat perjuangan istriku selama ini sia-sia," ucap Arya dengan setetes air mata yang jatuh di pipinya.
"Tapi jika ini pilihanmu, berbahagialah. Semoga dari tempatmu yang baru, kau selalu melihat kami yang kau tinggalkan dengan luka yang sangat membekas. Aku menyayangi dan menghormatimu sebagai Ayahku sendiri. Jika memang takdir yang mempertemukan kita dengan singkat, aku ikhlas. Aku akan menjaga putrimu dengan sepenuh hati. Selamat jalan, Ayah," ucap Arya membungkuk dan mencium lembut dahi Akmal yang terasa dingin.
.....
Sedangkan ditempat lain, Bumi dan Gilang sedang memandang wanita yang nampak tersenyum jahat didepan mereka. Tangan dan kaki yang dirantai membuat wanita itu pasrah dan tak bisa melawan.
Disebelah wanita itu sudah disediakan air panas yang mendidih. Api masih membara dibawah tungku yang sudah disediakan.
"Kau memilih mati sekarang atau mati perlahan? Wanita Iblis!" ucap Bumi memandang Monika dengan tatapan dinginnya.
Monika tertawa sumbang layaknya orang gila. Wanita ini benar-benar tidak waras setelah apa yang telah dia lakukan. "Bunuh saja aku. Aku akan pergi bersama dengan pria yang aku cintai," ucap Monika tanpa takut.
Tanpa aba-aba, Bumi menampar wajah Monika. Dia sungguh muak melihat wanita ini. Tapi jika membunuhnya sekarang, itu akan terlalu ringan sebagai hukuman untuk Monika.
"Mati itu pasti akan kau terima. Tapi sebelum itu, kita nikmati dulu waktu untuk bersenang-senang," ucap Bumi.
Bumi dan Gilang saling pandang. Gilang mengangguk mengerti akan kode yang Bumi berikan. Gilang berjalan maju dan mengambil gayung di meja yang ada disebelahnya. Gilang menimba air mendidik tersebut.
Byuur.
"Aakkhh," pekikan kesakitan terdengar dari mulut Monika ketika air tersebut menyentuh kakinya.
"Pana, panas, panas," ucap Monika bagaikan cacing kepanasan.
Gilang dan Bumi tersenyum puas. "Ini belum seberapa, Nyonya Monika yang terhormat," ucap Gilang tegas.
Saat akan melanjutkan aksinya, ponsel Gilang berdering. Gilang mengambil ponsel disaku celananya, dan tertera nama Acha disana.
"Acha, Om," ucap Gilang menatap Bumi.
__ADS_1
"Angkat Lang," ucap Bumi.
Gilang mengangguk dan menekan tombol hijau. Setelah itu dia mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Halo, Cha," ucap Gilang.
Dahi Gilang berkerut mendengar suara isakan dari Acha diseberang sana. Perasaannya berubah khawatir, takut sesuatu yang buruk terjadi. Gilang menakan tanda loudspeaker agar Bumi juga mendengar apa yang Acha katakan.
"Acha, ada apa, Nak?" tanya Bumi saat Acha tak kunjung menjawab. Hanya isakan dan tangis yang terdengar disana.
"Om Bumi, Gilang, Om Akmal udah nggak ada," ucap Acha dengan suara bergetar.
DEG.
Tubuh Bumi menegang mendengar perkataan Acha. Begitu juga dengan Gilang. Ponselnya hampir jatuh jika dia tidak cepat cepat menahannya.
"Acha, kamu jangan becanda, Nak," ucap Bumi mencoba tetap berpikir jernih.
"Hiks, Acha nggak bohong. Kalian cepat kesini, ya," ucap Acha sendu dari seberang sana dan langsung mematikan ponselnya. Dia tidak sanggup lagi untuk harus berbicara banyak.
Pandangan Bumi benar-benar menyiratkan kemarahannya kepada Monika. Bumi maju dan langsung mengambil air mendidih tadi.
Byur.
"Aakkhh," pekik Monika lagi ketika air mendidih itu mengenai wajahnya.
Tidak sampai disitu, Bumi menampar pipi Monika. "Nyawa dibalas Nyawa!" ucap Bumi tegas.
"Jangan, Om!" ucap Gilang mencegah Bumi yang akan menusuk Monika dengan belati kecilnya.
"Itu akan terlalu mudah untuknya. Biarkan dia merasakan kesakitan ini dulu. Kita harus kembali ke rumah sakit, Om. Mereka semua butuh kita. Biar bodyguard yang menjaganya," ucap Gilang.
Bumi mengangguk menyetujui perkataan Gilang. Membunuh Monika sekarang akan terlalu mudah untuk wanita itu. Dia harus mendapatkan sesuatu yang lebih menyakitkan.
Setelah itu Gilang meminta para bodyguard untuk menjaga Monika. Setelah itu, Gilang dan Bumi pergi meninggalkan tempat tersebut dan segera melaju ke rumah sakit.
......................
Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.
__ADS_1
Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹