Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 24


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Pagi ini Nana datang ke kantor dengan senyum mengembangnya. Dengan segala kekuatan hatinya, Nana mencoba untuk kuat dan melupakan segala hal yang membuat hatinya sakit. Satu tangan Nana menggandeng bekal yang akan dia berikan untuk sang kekasih tercinta, Arya.


Sampai di mejanya, Nana meletakkan tas dan bekalnya di meja. Setelah itu dia bergegas ke ruangan Arya untuk membacakan jadwal lelaki itu.


"Selamat pagi, Pak," ucap Nana dengan ramah dan tidak lupa senyum cerahnya.


"Ya, selamat pagi," jawab Arya.


"Ini jadwal Bapak hari ini, Pak," ucap Nana memberikan iPad yang berisikan jadwal Arya hari ini.


Arya menerima iPad tersebut dan membaca jadwalnya. Setelah itu dia meletakkan iPad tersebut di meja kerjanya.


"Nana, saya ingin membicarakan sesuatu dengan mu," ucap Arya.


"Mengenai apa, Pak?" tanya Nana.


"Saya ingin berbicara sebagai seorang pacar, bukan sebagai seorang atasan dan bawahan," jawab Arya.


Arya berdiri dari duduknya dan berjalan menuju sofa. "Duduklah!" titah Arya meminta Nana untuk duduk di depannya.


Dengan patuh Nana menurut dan duduk di sofa depan Arya.


"Apa semalam kamu melihat saya tidur bertiga dengan Acha dan Gilang?" tanya Arya.


DEG


Jantung Nana sudah berdetak hebat. Perasaannya sudah tidak enak. Rasanya dia tidak ingin mendengar kebenaran yang dapat membuat hatinya terluka untuk saat ini.


Dengan ragu Nana mengangguk.


Arya menghela nafas pelan, setelah itu dia menatap Nana. "Seperti yang kamu lihat, Nana. Saya rasa kamu tidak bodoh untuk mengambil kesimpulan akan semuanya," ucap Arya.


Saat kemarin Nana memasuki kamar Arya, Arya terbangun dan dia tahu bahwa Nana melihatnya tidur dengan memeluk Acha. Semalaman Arya berfikir, dia akan mengatakan yang sebenarnya kepada Nana. Sudah cukup, dia tidak ingin menyakiti wanita ini lebih dalam lagi.


Mata Nana sudah berkaca-kaca. Tapi dia berusaha untuk tersenyum dan kuat di depan Arya. "Bapak mencintai Acha?" tanya Nana spontan.


Arya mengangguk. "Bagus kalau kamu mengerti, Na," jawab Arya.


"Lalu kenapa Bapak meminta saya menjadi pacar Bapak?" tanya Nana.

__ADS_1


"Maafkan saya telah memanfaatkan perasaan kamu, Na. Saya meminta kamu menjadi pacar saya hanya untuk melihat bagaimana reaksi Acha terhadap saya. Saya hanya ingin membuat Acha cemburu. Hanya itu, tidak lebih," jawab Arya.


Nana tersenyum kecut. Hatinya sakit, hancur. Dia harusnya sudah menduga ini dari awal, kenapa dia bisa secengeng ini sekarang.


"Tapi perasaan saya kepada Bapak tulus, Pak," ucap Nana sendu.


"Maafkan saya, Na," jawab Arya.


"Tidak adakah sedikit ruang untuk saya, Pak? Sedikit saja, Pak," ucap Nana dengan suara bergetar sambil menunjukan jari telunjuk dan ibu jarinya.


Arya memandang lekat mata Naya yang sudah berair. Apa sikapnya sudah sangat menyakiti gadis didepannya. Hingga tawa yang selalu ada di bibir itu menjadi tangis sekarang ini.


"Apa tidak ada kesempatan untuk saya memberikan cinta saya kepada Bapak? Sedikit saja tidak apa-apa, Pak. Biar tugas saya yang nantinya memperbesar ruang di hati Bapak untuk saya," ucap Nana. Untuk sekarang Nana benar-benar melupakan harga dirinya. Mengemis cinta kepada lelaki yang selalu memenuhi hati dan pikirannya. Atas keyakinan hatinya, Nana sangat yakin bahwa Arya mampu memberi kebahagiaan untuknya. Cukup Meisya saja yang memberikan kasih sayang kepada Acha, tapi untuk Arya? Tidak bisakah laki-laki itu diciptakan hanya untuknya?


Arya turun dari sofa dan berjongkok di depan Nana. Ada rasa iba di hatinya melihat wanita di depannya ini. Ada luka mendalam yang disembunyikan gadis didepannya ini dibalik sebuah senyuman. Tangan Arya terulur untuk memegang kedua tangan Nana yang meremas kuat ujung roknya. Ini pertama kalinya bagi Arya menyentuh tangan Nana. Ada sedikit kenyamanan dalam hatinya menyentuh tangan lembut itu.


Arya memandang lekat mata Nana yang sudah berair. "Bantu saya melupakan cinta kepada seseorang yang sudah ditakdirkan hanya menjadi sahabat saya, Na. Bantu saya menumbuhkan cinta yang baru untuk kamu," ucap Arya pasti. Arya sadar kesalahannya sudah sangat fatal. Dia tidak mungkin menjadi perusak hubungan Zein dan Acha yang akan menikah. Arya harus ikhlas dan memulai hidup baru dengan cinta yang baru.


DEG


Nana mematung, apakah ini nyata?


"Apakah ini nyata?" tanya Nana.


Tangis Nana pecah saat itu juga. Tanpa basa-basi, Nana memeluk Arya yang berjongkok di depannya. Tangan Arya dengan perlahan terulur membalas pelukan Nana dan mengusap lembut punggung gadis itu. "Saya mohon, tolong jangan berikan saya luka lagi, Pak. Cukup mereka saja," ucap Nana tanpa sadar.


Sebenarnya bagaimana kehidupan kamu, Na. Ucap Arya dalam hati. Dia hanya menjawab perkataan Nana dengan anggukan tanpa banyak bertanya.


Arya sudah bertekad akan membuka hatinya untuk Nana. Toh keluarganya juga mendukung hubungannya dengan Nana. Tidak ada yang salah dengan gadis ini, hanya saja hati Arya yang dulu buta karena cinta masa kecilnya.


Nana melepaskan pelukannya dan tersenyum kepada Arya. "Terimakasih," ucap Nana dengan senyum tulusnya.


Arya mengangguk. "Ajari saya mencintai kamu, Na. Agar nanti cinta saya bisa memberikan kenyamanan dan kebahagiaan untuk kamu," ucap Arya lembut.


Nana menggeleng. "Cintai saya dengan cara Bapak. Walaupun mungkin tidak manis, setidaknya tidak sampai memberikan rasa pahit yang tak mampu saya telan," ucap Nana kepada Arya.


Arya mengangguk. Entah dorongan dari mana, tangan Arya terulur menghapus air mata di pipi Nana. Nana tersenyum senang melihat perlakuan Arya. Perasaan tidak enaknya kini berganti dengan kabar bahagia yang memberikan warna dalam hidupnya. Walaupun Arya hanya memberi sketsa, biarkan Nana yang mengisinya dengan warna agar lebih indah.


"Kalau begitu saya keluar dulu, Pak. Selamat bekerja," ucap Nana.


Arya mengangguk dengan senyum tampannya kepada Nana. Melihat Nana yang berjalan keluar dari ruangannya, Arya kembali duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Semoga ini yang terbaik. Dia gadis yang baik, dasarnya hati gue aja yang buta," gumam Arya mengatai dirinya sendiri.


.....


Nana duduk di kursi kerjanya dengan senyum mengembang. Matanya sedikit bengkak, tapi itu tak menghilangkan raut bahagia di wajahnya. Setelah itu, Nana kembali melanjutkan pekerjaannya.


Saat sedang asik berkutat dengan komputernya, Gilang datang menghampiri Nana.


"Selamat pagi, Na," sapa Gilang.


Nana mendongak dan tersenyum kepada Gilang. "Selamat pagi, Pak," jawab Nana ramah.


"Apa Arya ada di dalam, Na?" tanya Gilang.


"Ada, Pak. Pak Arya ada di ruangannya," ucap Nana.


Gilang memperhatikan wajah Nana yang sedikit sembab. "Kamu habis menangis, Na?" tanya Gilang.


Nana mengangguk dengan senyum sempurnanya. "Ini tangis bahagia saya, Pak," jawab Nana.


"Em ... Pak Gilang, terimakasih," lanjut Nana.


"Untuk apa?" tanya Gilang bingung.


"Atas semangatnya agar saya gak menyerah," jawab Nana.


Gilang tersenyum dan mengangguk kepada Nana.


"Kalau begitu saya keruangan Arya dulu, Na," ucap Gilang.


Nana mengangguk. Setelah itu Gilang pergi meninggalkan Nana dan masuk ke ruangan Arya.


......................


Maaf sudah membuat kalian semua menunggu, nantikan selalu updatenya ya 😘


Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @yus_kiz

__ADS_1


Jangan lupa baca karya ku yang lain, ya "Derajat Rumah Tanggaku" Author sayang kalian 🌹🌹😘


__ADS_2