
🌹HAPPY READING🌹
Menit berganti menit, jam terus berputar, malam berganti siang, bulan berganti tahun. Tidak terasa lima tahun sudah sejak kepergian wanita yang sangat dia cintai dari dunia ini.
Arya memandang dari balik jendela kamar yang selama ini dia gunakan untuk menghindar dari dunia luar. Kamar yang dulu pernah ditempati oleh Akmal, kini kamar tersebut menjadi saksi Arya menumpahkan segala tangis, tawa dan penyesalannya.
"Sekarang aku sekarat, Sayang. Hatiku sekarat sejak kamu pergi," ucap Arya lirih beralih menatap foto Nana yang dipajang di seluruh sudut dinding kamar tersebut.
Arya berjalan menuju meja sebelah ranjang. Dia mengambil foto seorang lelaki yang tidak lain adalah Ayah Mertuanya sendiri. "Ayah pasti bahagia berkumpul bersama anak dan cucumu, kan Ayah. Kenapa kamu egois dan membiarkan aku tinggal sendiri? Kenapa kau membawa mereka semua, Ayah? Minta anakmu kembali. Minta istriku untuk kembali kesini. Penyesalan ini sungguh menyakitkan. Lagi dan lagi, Ayah berhasil membuatku cemburu," ucap Arya sendu.
Setelah itu dia beralih menatap foto hasil USG anak yang bahkan tidak pernah dia ketahui keberadaannya. Foto yang selama ini sangat dia rawat. Hingga sepuluh tahun sudah, foto itu tetap ada bersamanya. "Nak, Papa disini. Ayo minta Mama kamu kembali sama Papa, hiks," tangis Arya sudah tidak dapat dia tahan melihat foto janin tersebut.
Tidak kuat menahan tubuhnya sendiri, badan Arya luruh begitu saja ke lantai bersama tangis yang tak dapat dia tahan. Inilah yang Arya lakukan di kesendiriannya. Menangis, menangis dan menangis. Penyesalan itu terasa sangat nyata dan sangat menyakitkan.
"Berikan jantung kamu untuk cinta pertama saya," kata-kata itu selalu terulang di benak Arya. Kata yang begitu menyakitkan bagi istrinya. Kata keramat yang menyebabkan istrinya harus berkorban. Memberikan sisa hidupnya di dunia ini demi saudara tirinya.
"Kembali, Sayang. Aku mohon, hiks. Jika mungkin, kembali," ucap Arya menjambak-jambak rambutnya sendiri.
Sesak sekali! Sangat sesak. Sakitnya bahkan tidak mengeluarkan darah, tapi ini lebih sakit daripada ditembak oleh peluru beracun.
"Jangan tinggalin aku sendiri. Kembali dan bawa anak kita, Sayang. Aku mohon, ayo kembali, hiks," gumam Arya disela tangisnya.
Tanpa Arya sadari, Acha dan Gilang yang tadinya hendak membesuk Arya menghentikan langkahnya melihat Arya yang menangis seperti itu.
Acha menangis di balik tembok kamar Arya dalam dekapan Gilang. "Kalau bukan karena aku, pasti Arya dan Nana udah bahagia sekarang. Anak mereka pasti tumbuh dengan baik sekarang, hiks," ucap Acha menangis sambil memukul-mukul dada Gilang.
Mata Gilang memerah melihat istri dan sahabatnya yang seperti ini. Kamu menghukum kami semua dengan penyesalan yang sangat dalam, Nana. Kami benar-benar menyesal. Batin Gilang sendu.
__ADS_1
"Sayang, semua bukan salah kamu. Mungkin ini adalah pilihan Nana sendiri. Dia sudah bahagia di sana bersama Ayah dan anaknya. Harusnya kamu tidak seperti ini. Nana akan marah jika melihat saudara yang dia sayangi menangis seperti ini," ucap Gilang menenangkan Acha yang sudah menjadi istrinya itu.
"Andai aku tidak ada, pasti semuanya tidak akan seperti ini," ucap Acha.
Gilang menggeleng. "Bahkan Nana sangat senang saat mengetahui bahwa kamu adalah saudara tirinya. Jangan sia-siakan pengorbanan Adik kamu," ucap Arya.
Acha hanya mampu menangis dipelukan Gilang. Melihat Arya yang seperti itu, siapapun pasti akan merasa iba. Tapi dibalik semua itu, ada sebuah kesalahan yang bahkan tidak akan bisa termaafkan. Tapi Nana, wanita itu dengan ikhlas menjalankan permintaan suaminya. Pengorbanan yang begitu nyata, tapi memberikan luka dan penyesalan yang sangat dalam pada mereka yang ditinggalkan.
.....
Sedangkan di kediaman Bumi, Mita terbaring lemah di ranjang kamarnya. Sejak kematian Nana, kesehatan Mita menurun dan sering sakit-sakitan.
"Ma, kita minum obat, ya," ucap Bumi membujuk Mita.
Mita menggeleng lemah. "Menantu Mama, Pa," ucap Kita memandang Nana dengan mata yang sudah beekaca-kaca.
"Mama malu kepada Akmal, Pa. Mama malu karena tidak mempercayai anak yang sudah dia titipkan untuk menjadi menantu kita," ucap Mita sendu.
"Ma, jika Akmal masih ada, tentu dia akan marah. Tapi dalam keadaan seperti ini, hanya doa kita yang diperlukan. Mereka semua butuh doa kita untuk keselamatan mereka di sana, Ma," ucap Bumi.
"Sekarang Mama makan dan minum obat, ya," lanjut Bumi membujuk Mita.
Mita mengangguk dan menuruti perkataan Bumi. Dengan telaten, Bumi menyuapi istrinya, dan dilanjutkan dengan minum obat agar Mita dapat beristirahat.
Beruntung ada Gilang dan Atlantik yang mengurus perusahaan. Karena jika tidak, bisa dipastikan keluarga Bumi akan mengalami kebangkrutan.
Meisya? Wanita itu dan Bi Mirna meninggal setelah tiga tahun kepergian Nana.
__ADS_1
.....
Di depan gundukan tanah yang kini sudah dipenuhi bunga itu, seorang anak berusia delapan tahun dan seorang anak berusia tiga tahun sedang duduk sambil memanjatkan doa untuk wanita kesayangan mereka. Sedangkan di belakang mereka ada Dinda dan Atlantik yang menemani.
Ya, dia adalah Freya dan Ghaza. Ghaza memilih untuk ikut Freya ke makam Nana dari pada ikut Acha dan Gilang ke tempat Arya.
Tangan mungil nan putih milik Freya terulur mengelus batu nisan Nana. "Aunty," panggil Freya dengan suara bergetar.
"Aunty datang dong dalam mimpi Freya. Freya kangen Aunty. Apa Aunty tidak kangen sama Freya? Sekarang Freya udah bisa sebut nama sendiri dengan lancar, Aunty. Aunty di sana bahagia sekali, ya. Sampai-samoi tidak mau bertemu Freya. Titip salam Freya untuk Kakek Akmal dan Adik ya, Aunty. Bilang sama mereka kali disini Freya semakin cantik. Mirip sekali dengan Aunty Barbie," ucap Freya menghibur dirinya sendiri.
Tidak kuat berlama-lama di depan nisan Nana, Freya berdiri dan langsung berbalik memeluk Atlantik. Tangis Freya tumpah begitu saja dipelukan Papanya. "Freya kangen banget sama Aunty, hiks," ucap Freya dalam tangisnya.
Atlantik mengangkat Freya ke gendongannya dan mencoba menenangkan anaknya. "Kalau Freya rindu Aunty, Freya harus ..."
"Berdoa," jawab Freya.
"Freya harus banyak-banyak berdoa untuk Aunty, Kakek dan Adik, ya. Biar suatu saat nanti, kita bisa berkumpul bersama di surga," ucap Atlantik.
Freya mengangguk dan mencoba meredakan tangisnya Isak kecil masih keluar dari mulutnya.
Sedang Ghaza, anak kecil itu hanya memandangi nisan Nana. "Ghaja tidak tahu apa yang teljadi, tapi yang pasti, Mama bilang kalau Aunty adalah seorang malaikat yang turun ke bumi. Kalena itu Ghaja panggil Aunty pacal. Suatu saat nanti, Ghaja pasti bisa punya pacar seperti Aunty," celetuk Ghaza yang membuat senyum terbit di bibir Dinda. Dinda membawa Ghaza kedalam gendongannya.
Bahkan setelah tiada, kamu masih dikenal baik oleh anak-anak kami, Na. Batin Dinda menatap nisan Nana.
......................
Hai teman-teman, sekian extra part yang bisa aku kasih, ya. Semoga kalian menikmati dan suka dengan cerita aku.
__ADS_1
Jangan lupa baca karya baru aku "PAINFUL MARRIAGE" tinggalkan jejak di sana, ya. Dukungan kalian sangat berarti untuk aku. Terimakasih, aku sayang kalian 🌹🌹🌹🌹🌹🌹