
🌹HAPPY READING🌹
Akmal tetap memandangi Bumi dengan pandangan kosong. "Ambil nyawaku," gumam Akmal seperti orang linglung.
Bumi menggeleng kuat mendengar perkataan Akmal. "Kamu akan sembuh, Akmal. Kita akan membesarkan cucu kita bersama-sama," ucap Bumi lembut.
Tanpa diduga, Akmal menangis mendengar perkataan Bumi. Air mata Akmal mengalir membasahi pipinya. Akmal menangis dalam diam. Tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Bahkan tidak terdengar suara tangis.
Nana yang melihat itu langsung menghapus air mata Akmal dengan lembut. "Pa, biarin Ayah istirahat dulu, Pa," ucap Nana lembut.
Bumi mengangguk mengiyakan.
"Ayah, istirahat, ya," ucap Nana sambil membantu Akmal untuk berbaring.
Akmal merebahkan dirinya dengan posisi memunggungi mereka semua. Tangan Nana dengan lembut mengelus rambut Akmal agar lebih cepat tidur. Lama kelamaan terdengar dengkuran halus dari mulut Akmal.
"Mas, aku nginap disini, boleh ya," ucap Nana meminta izin kepada Arya. Dia masih sangat ingin disamping Akmal. Entahlah, perasaan Nana tidak enak jika harus meninggalkan Akmal sendiri.
Arya mengangguk. "Kita akan nginap disini, Sayang," ucap Arya.
"Terus Papa?" tanya Nana. Karena jika Arya ikut menginap disini, lalu Bumi akan pulang bersama siapa nantinya.
"Itu soal mudah, Nak. Papa bisa pulang dijemput sopir," ucap Bumi.
"Maaf, Nana merepotkan Papa," ucap Nana tak enak.
Bumi tersenyum. "Tidak apa-apa, Nak," ucap Bumi.
.....
Saat ini, tinggal Arya dan Nana diruangan Akmal. Bumi sudah pulang setengah jam yang lalu bersama supir.
Nana dan Arya merebahkan dirinya di atas sofa yang lumayan besar. Muat untuk mereka berdua. Arya sebenarnya bisa saja meminta perawat menyediakan kasur lebih, tapi Nana melarang dan ingin di sofa saja.
"Sayang, kenapa kita nggak minta kasur aja sih," ucap Arya.
"Enggak, Mas. Aku lebih suka gini. Bisa peluk-peluk kamu. Kalau kasur nanti luas, jadi nggak seru," ucap Nana tersenyum.
Arya mencubit hidung Nana pelan. "Kamu kapanpun dan dimanapun boleh peluk aku, Sayang," ucap Arya.
Nana semakin membenamkan kepalanya di dada bidang Arya. Sedangkan kedua tangan Arya memeluk Nana layaknya guling.
"Sayang," panggil Arya lembut.
"Iya, Mas," jawab Nana mendongak menatap Arya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Arya.
__ADS_1
Nana mengangguk diiringi dengan senyum manisnya.
"Em ... Sayang, apa kamu sebelumnya sudah mengenal Tante Meisya?" tanya Arya hati-hati.
Nana diam. Tapi beberapa detik kemudian dia menggeleng. "Enggak, Mas," jawab Nana.
Arya hanya mengangguk mendengar perkataan Nana. "Yasudah, sekarang tidur, ya," ucap Arya lembut. Arya tahu, Nana menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi Arya tidak akan memaksa. Dia akan mencaritahu sendiri apa yang terjadi.
Arya yang melihat Nana sudah tidur, dengan perlahan melepaskan pelukannya dari Nana. Arya bangun dan berjalan keluar kamar Akmal. Dia mengeluarkan ponsel yang ada di sakunya untuk menghubungi Gilang.
"Halo, Lang," ucap Arya saat Gilang mengangkat panggilannya.
"Iya, Ar. Ada apa?" jawab Gilang dari seberang sana.
"Lang, bawa Bi Mirna ke apartemen gue sekarang. Ada sesuatu yang harus gue pastiin, Lang," ucap Arya.
"Lo yakin sekarang. Pasti Bi Mirna udah tidur," ucap Gilang.
"Gue percaya sama Lo," ucap Arya memutus panggilannya tanpa mendengar jawaban Gilang.
Sedangkan Gilang diseberang sana sedang mengumpati Arya yang bertingkah seenaknya. Ini sudah malam, berarti dia harus ekstra berusaha untuk mengajak Bi Mirna.
Arya kembali memasuki kamar Akmal setelah menelpon Gilang. Arya berjongkok di depan sofa memandangi Nana yang tidur dengan nyenyak.
"Cup. Aku pergi sebentar, Sayang," ucap Arya mengecup singkat dahi Nana. Setelah itu Arya keluar dari kamar hendak ke parkiran untuk segera menuju apartemennya.
......
Ceklek.
Arya membuka pintu apartemen. Dia melihat sudah ada Bi Mirna dan Gilang yang duduk di ruang tamunya. Gilang bisa dengan mudah memasuki apartemen Arya, karena dia mengetahui sandi apartemen Arya.
"Selamat malam, Bi," ucap Arya duduk di depan Bi Mirna.
"Selamat malam, Nak. Ini ada apa, ya? Apa Nana baik-baik saja? Apa Nana melakukan kesalahan?" tanya Bi Mirna beruntun.
Arya tersenyum dan menggeleng. "Istri saya baik-baik aja, Bi. Dia juga tidak melakukan kesalahan apapun," jawab Arya.
"Lalu kenapa Bibi dibawa kesini, Nak?" tanya Bi Mirna.
"Bi, ada sesuatu hal yang ingin saya ketahui dari Bibi. saya yakin, Bibi bisa menjawab semua pertanyaan saya," ucap Arya.
"Tentang apa, Nak?" tanya Bi Mirna. Sedangkan Gilang hanya diam memperhatikan. Dia hanya akan bicara saat dirasa perlunya saja.
"Bi, dimana Ibunya Nana?" tanya Arya langsung tanpa basa-basi.
Bi Mirna terdiam sebentar mendengar pertanyaan Arya. Dia menatap lekat mata Arya. Ada keraguan di hati Bi Mirna jika sekarang dia memberitahu Arya. Nana yang lebih berhak untuk itu.
__ADS_1
"Nak, bukannya Bibi tidak ingin memberitahu. Tapi alangkah lebih baiknya jika kamu mengetahui secara langsung dari Nana, Nak," ucap Bi Mirna.
"Jika Nana memberitahu saya, saya tidak akan bertanya pada Bibi," ucap Arya.
Bi Mirna menghela nafas pelan. Nana memang akan sangat tertutup mengenai Ibunya.
"Mama Nana pergi bersama keluarga barunya, Nak," ucap Bi Mirna memulai ceritanya.
Arya dan Gilang dengan serius mendengar cerita Bi Mirna.
"Saat Nana berusia tiga tahun, keluarganya mengalami masalah ekonomi yang sangat berat. Ayah Nana dituduh korupsi di perusahaan tempat dia bekerja hingga akhirnya dipecat. Seminggu Ayah Nana tidak ada pekerjaan, hidup kami sangat susah. Hingga akhirnya Mamanya Nana meninggalkan Nana bersama Ayahnya dan saya. Bahkan Nana menyaksikan sendiri bagaimana pertengkaran Ayah dan Mamanya," ucap Bi Mirna sendu.
"Apa Ayah Nana terbukti korupsi, Bi?" tanya Arya.
"Satu bulan sejak kasus itu, ternyata terbukti Ayah Nana tidak melakukan korupsi. Dia hanya dijadikan kambing hitam oleh rekan satu perusahaannya. Tapi semua sudah terlambat, Nak. Ayah Nana sudah berada di rumah sakit jiwa saat itu," ucap Bi Mirna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nana tumbuh besar dengan Bibi. Bibi menganggap Nana sudah seperti cucu Bibi sendiri. Nana sudah menjalani hidup yang keras sejak dia masih kecil. Dia menyembunyikan luka lewat tawanya," lanjut Bi Mirna.
Ada penyesalan di hati Arya setelah mendengar cerita Bi Mirna. Secara tidak langsung, penolakan dan kata kasar yang dulu selalu dia sampaikan kepada Nana menambah luka wanita itu.
Maafkan aku, Sayang. Batin Arya sendu.
"Bi, apa setelah itu Bibi tidak pernah lagi bertemu dengan Mamanya Nana?" tanya Gilang membuka suaranya.
Bi Mirna menggeleng. "Mamanya Nana benar-benar pergi tanpa pernah kembali. Bahkan untuk melihat anaknya saja tidak. Untuk biaya hidup kami, Nana berjualan kue yang saya buat saat dia masih sekolah. Dan itu dia lakukan dari SD sampai SMA," ucap Bi Mirna dengan air mata yang tidak bisa dia tahan.
Arya memejamkan matanya mendengar setiap kesakitan yang dialami istrinya. "Bi, setidaknya beri saya petunjuk mengenai Mamanya Nana, Bi," ucap Arya memohon.
Bi Mirna memandang Gilang dan Arya secara bergantian.
"Arya, kamu tahu Nana memiliki tanda lahir?" tanya Bi Mirna.
Arya berfikir sebentar. Setelah itu dia mengangguk mengiyakan. "Nana punya tanda lahir berbentuk hati di bawah pusar sebelah kanan, Bi," ucap Arya menjawab.
Bi Mirna mengangguk. "Mamanya Nana juga memiliki tanda lahir yang sama, hanya saja dia di bagian kiri," ucap Bi Mirna.
Arya dan Gilang menghela nafas frustasi. Melihat tanda lahir orang di bagian tubuh yang tidak mungkin dapat mereka lihat, akan mempersulit mereka.
"Apa tidak ada petunjuk lain, Bi?" tanya Gilang.
Bi Mirna menggeleng. "Bahkan Mama Nana tidak meninggalkan peninggalan apapun untuk anaknya."
"Arya, jika kamu bisa membujuk Nana. Itu akan lebih mudah untuk kamu. Maafkan Bibi, bukan hak Bibi untuk memberitahu kamu," lanjut Bi Mirna.
"Bahkan untuk memberitahu namanya pun Bibi tidak bisa?"
......................
__ADS_1