Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 31


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Ya Allah, dia sudah dapat kasih sayang Mama, jangan Arya juga, Ya Allah. Batin Nana sendu melihat bagaimana Arya membujuk Acha.


Nana hanya memandang sendu Arya dan Acha. Arya dengan lembut mengelus punggung Acha yang bergetar karena menangis. Arya seolah lupa keberadaan Nana. Hingga tanpa sadar Nana meremas tangan Freya yang ada di genggamannya.


Freya yang merasakan tangan sedikit di teman oleh Nana mendongak melihat Aunty kesayangannya. Dia dapat melihat Mata Nana berkaca-kaca. Freya mengusap lembut air mata yang keluar di sudut mata Nana.


Nana mengalihkan pandanganya ketika merasakan sesuatu yang lembut menyentuh kulitnya. Nana tersenyum begitu melihat Freya yang tersenyum kepadanya.


"Jangan sedih, Aunty Balbi," ucap Freya berbisik kepada Nana. Setelah itu Freya mengangkat sedikit tubuhnya dan mencium kedua mata Nana dengan lembut. Mendapat perlakuan seperti itu membuat Nana senang tersenyum, lalu dia memeluk erat tubuh mungil Nana.


Semua itu tidak lepas dari pandangan Dinda. Dinda tersenyum senang melihat interaksi anaknya dengan Nana.


"Cerita sama aku ada apa, Cha?" ucap Arya mengalihkan pandangan mereka semua kepada Arya dan Acha.


Acha melepaskan pelukannya dari Arya dan mengusap air matanya. Acha mengeluarkan ponsel dari saku celana yang dia gunakan dan memperlihatkan berita yang ada di ponsel tersebut.


Mata Arya membola melihat berita yang ada di ponsel. "Kecelakaan pesawat?" tanya Arya memastikan pada semuanya.


Nana yang mendengar itu menutup mulut gak percaya, sedangkan mereka yang lain mengangguk mengiyakan pertanyaan Arya.


"Bagaimana bisa? Bukannya tadi pagi Arya masih di rumah?" tanya Arya heran.


"Tadi pagi dia dapat telfon dari perusahaan pusat yang ada di Turki. Di sana lagi ada masalah, jadi Zein harus ke sana untuk menyelesaikan masalah perusahaannya," ucap Acha menjelaskan kepada Arya.


"Terus udah di cek ke Bandara?" tanya Arya.


"Belum, Ar. Kami juga dapat kabarnya baru," ucap Meisya menjawab pertanyaan Arya.


"Kalau gitu biar Arya yang ke Bandara," ucap Arya berdiri dari duduknya.


"Aku ikut," ucap Acha langsung berdiri. Arya mengangguk. Dengan menggandeng tangan Acha, Arya membawa Acha keluar rumah.


Semua itu tidak lepas dari pandangan Nana. Hatinya sakit, sungguh sakit. Dia bagaikan bulan di siang hari. Ada, namun tidak di anggap keberadaanya.

__ADS_1


Air mata Nana mengalir tanpa bisa dia cegah. Dia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk cemburu, tapi salahkah dia jika hatinya merasakan sakit melihat semua ini? Acha memang sedang membutuhkan Arya, tapi apa harus sampai melupakan dirinya?


Dengan cepat Nana menghapus air matanya agar tidak ada yang tahu bahwa dia menangis. Tapi terlambat, Meisya melihat segala pergerakan Nana. Meisya berdiri dan berpindah duduk ke sebelah Nana.


Nana tersentak kaget ketika Meisya menggenggam salah satu tangannya yang ada di perut Freya. Karena saat ini dia tengah memangku Freya.


"Ta-Tante," ucap Nana gugup.


"Maafkan atas sikap Acha kepada Arya tadi, Nak. Mereka memang seperti itu sejak kecil. Saat ini Acha lebih membutuhkan Arya dari siapapun, Tante mohon jangan berburuk sangka padanya," ucap Meisya. Dia tahu bahwa Nana adalah kekasih Arya, jadi Meisya merasa tak enak kepada Nana atas sikap Acha.


Lalu bagaimana dengan hatiku, Ma. Aku juga anakmu, kenapa bukan darah daging mu yang kau bela. Batin Nana sambil memandang sendu Meisya.


Nana mencoba tersenyum. Dia mengangguk menjawab perkataan Meisya. "Nggak apa, Tante. Nana mengerti," ucap Nana lembut.


"Terimakasih, Nak," ucap Meisya lembut.


Mama bahkan mengucapkan terimakasih untuk orang lain. Ya Tuhan, bisakah Mama mengucapkan terimakasih untukku juga? Batin Nana.


Setelah itu Meisya melepaskan tangannya. Nana hanya tersenyum kecut dan memaklumi semua yang terjadi. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk saat ini.


.....


Nana memandang jauh keluar jendela Taksi. Hujan turun mengguyur bumi seakan mengerti keadaan hatinya saat ini. Disepanjang jalan Nana melihat orang-orang yang berteduh. Lagi-lagi Nana tersenyum pedih mengingat bagaimana Arya tidak menganggap keberadaannya.


Mereka mengatakan hujan itu bisa menyembunyikan tangis, tapi kenapa tidak langsung menghilangkannya saja? Biar tidak ada luka yang tersisa. Batin Nana memandangi setiap air yang turun mengenai jendela Taksi.


Selang beberapa menit, taksi sampai di depan Rumah Sakit Jiwa tempat Akmal di rawat. Setelah membayar ongkos taksi, Nana berlari kecil ke dalam rumah sakit agar tidak terlalu basah.


Nana berjalan cepat ke dalam ruangan Akmal. Air mata seakan sudah memberontak untuk keluar.


Nana membuka pintu ruangan Akmal dengan cepat dan menutupnya kembali.


"Hiks, hiks," tangis Nana pecah saat kepalanya sudah bersandar di dada sang Ayah.


"Ayah, hati Nana sakit lagi, hiks," ucap Nana kepada Akmal.

__ADS_1


"Mengapa mereka semua tidak ada yang memikirkan Nana, Ayah? Mengapa harus Nana yang selalu tersisih? Mengapa harus Nana yang menerima semua ini, Ayah?" ucap Nana mengadu sambil menangis kepada Akmal yang di ketahui Nana sedang tidur.


"Hiks, Ayah, cepat sembuh Ayah. Ayo kita bahagia dan pergi jauh untuk hidup yang baru, Ayah. Nana mohon sembuh, Ayah, hiks," ucap Nana dalam tangsi nya.


Tanpa Nana ketahui, setetes air mata keluar dari sudut mata Akmal.


.....


Sedangkan di Bandara kini tengah ramai oleh keluarga korban kecelakaan pesawat. Arya dan Acha menunggu konfirmasi dari petugas bersama keluarga korban yang lainnya.


Saat sedang menenangkan Acha yang terus menangis, tiba-tiba tangan Arya di tarik oleh seseorang.


"Acha, kamu sama Tante dan Mama mu dulu, ya," ucap Bumi. Ya, yang datang adalah Bumi bersama Mita dan Meisya.


Mita dan Meisya mendekati Acha dan menenangkan gadis tersebut.


Bumi langsung menarik tangan Arya dengan sedikit kasar untuk menjauh dari Acha.


"Dad, Daddy kenapa sih?" tanya Arya tak mengerti.


Bumi berbalik dan melepaskan tangannya dari lengan Arya. "Kamu yang apa-apaan, Arya," ucap Bumi menunjuk wajah Arya.


"Dad, Arya harus temani Acha, Dad. Dia lagi butuh Arya sekarang," ucap Arya.


"Dia sudah ada Mama dan Meisya yang menemani," ucap Bumi.


"Dad, disaat seperti ini Arya yang dibutuhkan Acha. Arya harus menghibur Acha," ucap Arya kekeuh.


"Menghibur Acha dan melupakan Nana?"


DEG


......................


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.

__ADS_1


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @yus_kiz


Jangan lupa baca karya ku yang lain, ya "Derajat Rumah Tanggaku" Author sayang kalian 🌹🌹😘


__ADS_2