
🌹HAPPY READING🌹
"TANTE MEISYA!" teriak seseorang yang berjalan dengan cepat kearah mereka.
"JAGA UCAPAN TANTE KEPADA ISTRIKU!" ucapnya tegas.
"Mas," ucap Nana lirih.
Sedangkan Meisya terdiam dengan keterkejutannya. Dia tidak menyangka bahwa Arya akan pulang secepat ini dari kantornya.
"A-Arya," ucap Nana gugup.
"Tante, saya diam karena saya menghargai Tante sebagai Mama sahabat saya. Saya menghargai Tante karena Tante istri dari sahabat Ayah saya. Tapi jangan pernah Tante menghina istri saya seperti itu!" ucap Arya tegas menunjuk wajah Meisya dengan berani.
Sungguh, Arya tidak bisa melihat wanita yang dia cintai dihina dengan kata-kata yang begitu kejam. Arya memantau setiap apa yang terjadi melalui CCTV rumah yang terhubung langsung dengan ponselnya. Saat melihat gerak-gerik Meisya yang mencurigakan, Arya tanpa ragu langsung beranjak meninggalkan kantor dan segera pulang. Ternyata benar, istrinya sedang tidak baik-baik saja.
"Arya, bukan begitu maksud saya," ucap Meisya mencoba memberi penjelasan.
"Saya tidak bertanya maksud Tante, saya sangat tidak suka dengan perlakuan Tante. Ingat Tante! Tante dirumah ini hanya menumpang, kapan saja saya bisa mengusir Tante dari rumah ini. Persetan dengan status Tante sebagai Mama Acha. Saya tidak akan tinggal diam siapapun menyakiti hati istri saya!" ucap Arya.
"Kamu sangat membela wanita tidak jelas ini daripada saya, Orang tua sahabat kamu sendiri," ucap Meisya tak percaya.
"JAGA OMONGAN TANTE. ISTRI SAYA MEMPUNYAI KELUARGA YANG JELAS!" teriak Arya marah.
Sedangkan Nana hanya bersembunyi di belakang punggung Arya. Dia memegang erat tangan suaminya.
"Dia memang anak tidak jelas, Arya. Pantas saja dia ditinggal pergi oleh Ibunya."
"TANTE!"
"MAS!" pekik Nana kaget menghentikan tangan Arya yang akan menampar Meisya.
"Mas, jangan," ucap Nana memegang tangan Arya yang menggantung di udara.
"Kamu berani menampar Tante hanya karena dia, Arya?" ucap Meisya tak habis pikir dengan Arya.
"Bahkan saya akan membunuh siapapun yang melukai istri saya. SIAPAPUN!" ucap Arya menekankan kata terakhirnya.
"Mas," ucap Nana menggeleng dengan tangisnya.
Arya mengusap wajahnya kasar melihat istrinya yang memohon untuk tidak melanjutkan ucapannya. Sungguh, emosi Arya sedang meronta untuk diluapkan kepada Meisya.
"Saya peringatkan, Tante. Suatu hari Tante akan menyesal karena berani menghina istri saya!" ucap Arya tegas dan berlalu meninggalkan Meisya dan Nana.
Nana yang melihat Arya pergi langsung mengejar suaminya itu. Tapi sebelumnya dia menemui Freya yang masih asik bermain dengan Kelincinya. Saking asiknya, anak itu tidak mendengar suara marah Arya.
__ADS_1
Setelah memastikan Freya bermain dengan aman, Nana berlari memasuki rumah menyusul Arya.
Nana sampai di depan kamar dan dengan perlahan membuka pintu kamar.
"Mas," panggil Nana lembut. Arya yang sedang berdiri menghadap jendela luar menoleh.
"Sayang," ucap Arya.
Nana langsung berlari dan menubruk tubuh Arya dengan tubuhnya. Tangis Nana pecah dalam dekapannya suaminya.
"Mas, hiks," ucap Nana dalam tangisnya.
Arya mengelus lembut punggung Nana memberikan ketenangan. "Kenapa tidak melawan, Sayang?" tanya Arya.
Nana menggeleng. Dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Arya. Haruskah dia memberitahu Arya bahwa Meisya adalah Ibu kandungnya?
"Kita tidak akan berdosa jika melawan orang tua seperti itu, Sayang. Dia sungguh tidak patut untuk dihargai," ucap Arya memancing Nana. Arya berharap Nana mengatakan kejujuran itu padanya.
Arya sengaja tidak mengatakan bahwa Meisya adalah Ibu kandung Nana tadi, dia berharap istrinya sendiri yang akan berkata jujur padanya.
"Itu hanya akan menambah masalah, Mas," ucap Nana.
Arya melepaskan pelukannya dan menatap lekat istrinya.
"Kamu jangan hanya diam, Sayang. Kamu berhak membela diri sendiri!" ucap Arya tegas. Sisa kemarahannya pada Meisya masih ada saat ini. Melihat Nana yang masih saja membela Meisya, membuat emosi Arya kembali naik.
"Kamu tidak mengerti, Mas. Kamu tidak tahu apa yang terjadi," ucap Nana.
"Apa yang tidak aku ketahui?" tanya Arya menantang Nana.
Nana menggeleng. "Tidak ada yang perlu dilawan dari perkataan Tante Meisya, Mas. Semuanya itu benar," ucap Nana sendu.
"TIDAK NANA!" ucap Arya marah mendengar perkataan Nana.
"Aku tahu semuanya. Aku tahu semuanya, Nana!"
"Mas."
"Ya, aku tahu bahwa Tante Meisya adalah Ibu kandung kamu," jawab Arya.
"Kamu tahu darimana, Mas?" tanya Nana dengan raut terkejutnya.
"Tidak penting aku tahu darimana. Yang pasti, aku tidak akan tinggal diam jika dia menyakiti kamu," ucap Arya.
"Tapi dia Mama aku, Mas," ucap Nana lirih sambil menunduk.
__ADS_1
"Dia bukan Ibu yang pantas kamu tangisi, Sayang," ucap Arya.
"Itu karena Mama nggak tahu yang sebenarnya," ucap Nana kekeuh membela Meisya.
"Mau dia tahu atau tidak, jika dia memang orang baik, dia tidak akan mungkin tega menghina dengan begitu kejamnya," ucap Arya.
"Jika ini kembali terulang, jangan salahkan aku membongkar semuanya," ucap Arya.
"Mas, jangan," ucap Nana memegang tangan Arya.
"Ini tidak bisa didiamkan, Sayang. Dia menghina anak kandungnya sendiri, dia menghina darah dagingnya sendiri," ucap Arya.
"Tapi bagaimanapun dia Mama aku, Mas. Mertua kamu," ucap Nana.
"Sayang," ucap Arya tak habis pikir dengan istrinya itu.
"Aku mohon, Mas. Biar aku yang mengatakan semuanya nanti. Akan ada saat yang tepat, Mas," ucap Nana.
"Sayang, kita boleh jadi orang baik, tapi jangan sampai bodoh!" ucap Arya tegas.
Nana menunduk mendengar perkataan Arya. Menyembunyikan tangis yang tak kunjung berhenti.
Arya menghembuskan nafas kasar melihat Nana sepeti itu. "Sayang, aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Tante Meisya sudah sangat keterlaluan. Kamu dan Ayah menderita hanya karena keegoisannya, Sayang," ucap Arya lembut memegang kedua bahu istrinya.
"Mas, dengan melihat Mama setiap hari saja aku sudah senang, Mas," ucap Nana lirih.
"Tapi dia harus tahu kebenarannya," ucap Arya.
"Mas, aku mohon, aku hanya tidak ingin Mama merasakan penyesalan yang sangat dalam, Mas," ucap Nana memohon mengatupkan kedua tangan di dada.
Arya yang tidak kuat melihat istrinya seperti itu langsung membawa Nana kedalam dekapannya. "Aku hanya ingin memastikan kamu bahagia, Sayang. Maaf, aku tidak bermaksud marah sama kamu," ucap Arya menyesal telah meninggikan suaranya kepada Nana.
"Hiks, jangan tinggalin aku sendiri, Mas," ucap Nana menangis dalam pelukan Arya.
Arya mengangguk sambil terus memeluk Nana. Arya mengecup singkat pucuk kepala Nana berkali-kali.
Maafkan aku, Sayang. Tapi Tante Meisya harus menerima balasan atas semua kesalahannya. Batin Arya.
......................
Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa.
Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹
Jangan lupa, ikuti juga kisah di novel aku yang lain dengan judul "Derajat Rumah Tanggaku" dijamin nggak kalah seru.
__ADS_1