Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 74


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Di tempat lain, Arya duduk di depan ruang rawat Acha. Setelah tadi berbicara dengan Dokter mengenai keadaan Acha, hati Arya semakin kacau karena kondisi Acha semakin buruk. Dia harus segera mendapat donor jantung untuk menyelamatkan nyawanya.


Arya menyendarkan kepalanya ke dinding dan menengadah melihat langit-langit rumah sakit. "Istriku," gumam Arya sendu mengingat apa yang kemarin dia sampaikan kepada Nana. Arya percaya, pasti Nana sangat sakit hati dengan apa yang dia katakan.


Wajah Arya nampak lesu dak tak bersemangat. Dari semalam dia tidak pulang karena ingin menemani Acha. Saat asik dalam lamunannya, tepukan terasa di pundaknya. Arya menoleh dan melihat Meisya yang menatapnya.


"Kamu pulanglah, Nak. Biar Tante yang menemani Acha," ucap Meisya.


Nana mengangguk. Dia juga merasa lelah. Badannya juga terasa lengket karena dari semalam belum mandi sama sekali. Dia juga ingin menemui Nana yang dia yakin berada di rumah.


"Arya balik dulu, Tante," ucap Arya pamit.


"Hati-hati dijalan, Nak," ucap Meisya.


Arya mengangguk. Dia berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan Acha.


Dua puluh menit, Arya sampai dirumahnya. Dari pintu masuk Arya mendengar suara tangis Freya yang begitu kencang. Dia berjalan cepat memasuki rumah. Arya melihat Freya yang menangis dipangkuan Dinda. Ada Atlantik dan Bi Mirna juga di sana.


"Freya," panggil Arya.


Freya yang mendengar suara Unclenya langsung turun dari pangkuan Dinda dan berlari memeluk kaki Arya.


Arya mengangkat tubuh Freya ke dalam gendongannya. "Bidadari Uncle kenapa menangis, Hem?" tanya Arya lembut.


Freya hanya diam. Dia terus menangis di gendongan Arya. Arya beralih menatap Dinda dan Atlantik. "Freya kenapa, Kak, Bang?" tanya Arya.


Dinda hanya diam. Dia tidak ingin bicara dengan adik bodohnya itu. "Dia bangun tidur mencari Aunty Barbie nya. Tapi tidak menemukannya," ucap Atlantik menjawab pertanyaan Arya.

__ADS_1


"Nana tidak ada dirumah, Bi?" tanya Arya pada Bi Minta.


Bi Mirna menggeleng. "Tidak tau, Nak. Bibi juga cemas, Nana tidak ada di rumah," ucap Bi Mirna khawatir.


Arya terdiam. Jika semalam dari rumah sakit Nana tidak pulang, lalu kemana?


"Nak Arya, sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Bi Mirna pada Atlantik.


Arya tidak langsung menjawab. Dia duduk di sofa dan mendudukkan Freya yang sudah mulai tenang di pangkuannya. Setelah itu Arya menceritakan semuanya kepada Bi Mirna.


"Nana tidak mungkin seperti itu, Nak!" ucap Bi Mirna tegas kepada Arya. Wajah Bi Mirna nampak merah karena emosi dengan Arya.


"Tapi bukti menunjukkan semuanya, Bi," ucap Arya.


"Dan kamu percaya?" tanya Bi Mirna yang membuat Arya terdiam.


"Jika kamu benar-benar mencintainya, bukan seperti itu cara kamu, Arya!" lanjut Bi Mirna.


"Uncle," panggil Freya dengan sesegukan.


"Iya, Sayang," jawab Arya lembut.


"Aunty kemana? Kenapa Aunty tinggalin Fleya tidul sendili?" tanya Freya sendu kepada Arya.


Arya hanya diam. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana kepada Freya.


"Aunty bohong sama Fleya. Aunty bilang Fleya mau jadi kakak, dan Aunty minta Fleya buat jagain adik di pelut Aunty, tapi Aunty pelgi nggak ajak Fleya, hiks," ucap Freya kembali menangis.


Arya menegang mendengar perkataan Freya. Begitu juga dengan Bi Mirna. "Ka-kakak?" ucap Arya bertanya kepada Freya untuk memastikan apa yang dia dengar.

__ADS_1


Freya mengangguk. "Sebenalnya kemalin malam Fleya sama Aunty nungguin Uncle pulang kelja. Kita mau kasih kejutan sama Uncle kalau sekalang ada adik di dalam pelut Aunty. Tapi sebelum Uncle pulang Fleya ketidulan. Apa Aunty malah kalna Fleya ketidulan, Uncle?" tanya Freya menatap Arya.


Arya terdiam mencerna setiap kata yang disampaikan Freya.


Dinda yang melihat itu segera mengambil Freya dan mengangkatnya kepangkuannya sendiri. "Aunty tidak marah, Sayang," ucap Dinda membujuk Freya.


"Em ... Freya, coba jelaskan sama Mama kenapa Freya bisa tahu kalau di perut Aunty ada adik?" tanya Dinda memancing Freya.


"Kemalin Aunty ajak Fleya ke lumah sakit. Kita beldua aja. Kalna Aunty mau kasih kejutan untuk Uncle," ucap Freya.


"Setelah ke rumah sakit?" tanya Freya.


Freya terdiam. Dia sudah tidak menangis, tapi sesegukan masih keluar dari mulutnya. Freya nampak berfikir dan setelah itu melanjutkan bicaranya. "Setelah dali lumah sakit langsung pulang, Ma," jawab Freya.


"Tidak ada pergi ke tempat lain? Seperti ke super market gitu?" tanya Dinda.


Freya langsung menggeleng. Karena yang dia ingat kemarin mereka memang langsung pulang. Arya saling pandang dengan Dinda dan Atlantik.


Dinda berdiri dan menggendong Freya. "Nikmati penyesalanmu!" ucap Dinda menatap sinis Arya dan langsung pergi membawa Freya ke luar rumah.


"Bang," ucap Arya memanggil Atlantik dengan mata memerah.


"Kenapa?" jawab Atlantik.


"Dimana istri Arya?"


......................


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.

__ADS_1


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


__ADS_2