
🌹HAPPY READING🌹
"Jawab dengan jujur atau saya cari tahu sendiri!" ucap Arya mengintimidasi Nana.
Nana mengalihkan pandangannya dari Arya. Jika tidak akan sanggup jika harus berkaitan dengan keadaan Ayahnya. Nana belum siap jika Arya mengetahui semuanya.
"Aku jujur kok. Kemarin aku nginap di rumah teman," jawab Nana mencoba untuk menatap Arya.
Arya terdiam, dia memandang lekat mata Naya.
Kamu berbohong, Nana. Batin Arya melihat kegelisahan di mata Nana.
"Baiklah, ayo lanjut makan," ucap Arya.
Nana tersenyum senang dan mengangguk. Setelah itu mereka melanjutkan kegiatan makan siang mereka.
"Aunty, ngantuk," ucap Freya dengan mata yang sudah setengah terbuka. Setelah menghabiskan makannya, rasa kantuk menyerang anak itu. Mungkin karena kelelahan bermain sendiri.
Nana yang sedang membereskan bekas makan merekapun menoleh. "Sebentar ya, Sayang. Aunty beresin ini dulu," ucap Nana.
Freya hanya mengangguk dengan mata yang tidak bersahabat. Arya yang melihat itu mendekati Freya.
"Freya tidur di kamar sama Uncle, ya," tawar Arya.
Freya menggeleng. "Fleya mau sama Aunty Balbi, Uncle," ucap Fleya merengek.
"Na, biar OB saja yang bersihkan. Kamu temani saja Freya tidur," ucap Arya kepada Nana.
"Tapi Sayang-"
"Udah nggak apa, biar OB yang beresin," ucap Arya memotong perkataan Nana.
"Ini dikit lagi kok," ucap Nana kekeuh ingin membersihkan bekas makan mereka.
"Biar OB, Nana!" ucap Arya tegas.
"Baiklah," ucap Nana mengalah ketika mendengar suara tegas Arya.
Nana beranjak mendekati Freya dan mengangkat Freya ke gendongannya. "Ayo kita tidur, Sayang," ucap Nana menggendong Freya.
Dengan lemah Freya mengangguk. Matanya sudah tertutup sempurna saat kepalanya menyandar di bahu Nana.
Setelah kepergian Nana, Arya pergi keluar dari ruangannya. Dia meminta OB untuk membersihkan sisa ruangannya yang berantakan karena sisa makan siang mereka. Setelah itu Arya berjalan menemui Gilang di ruangannya.
.....
"Lang," panggil Arya memasuki ruangan Gilang tanpa mengetuk pintu. Arya sengaja tidak menyuruh Gilang ke ruangannya karena di sana ada Nana.
__ADS_1
"Ngapain Lo?" tanya Gilang yang fokus dengan file di depannya.
"Lo udah makan?" tanya Arya.
"Lo sehat kan, Ar?" tanya Gilang.
"Ck, nggak ada akhlak emang," gerutu Arya kesal.
"Hehe jarang-jarang Pak Bos perhatiin anak buahnya," ucap Gilang cengengesan.
"Ngomong gitu lagi gue kirim ke Jerman Lo," ucap Arya mengancam Gilang.
Gilang hanya tertawa polos sambil mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya membentuk 'V'.
"Apa apa, Ar?" tanya Gilang serius.
"Lang, Gue mau Lo selidiki sesuatu," jawab Arya.
"Apa?" tanya Gilang.
"Nana," satu jawaban yang membuat Gilang bingung.
"Emang Nana kenapa?" tanya Gilang.
Arya mengambil nafasnya berat, dia harus menceritakan semuanya kepada Gilang. Karena tidak ada yang bisa dia sembunyikan dari temannya ini.
Gilang membulatkan matanya terkejut mendengar perkataan Arya. "Terus?" ucap Gilang tak sabaran.
"Nana sudah tahu semuanya, tapi sekarang kita masih pacaran, Lang. Gue ingin mencoba untuk melupakan Acha. Gue akan buka hati gue buat Nana, Lang. Gue nyaman sama dia. Dan gue nggak mau merusak hubungan harmonis Acha dengan Zein," ucap Arya menjelaskan kepada Gilang.
Gilang menghembuskan nafasnya lega mendengar perkataan Arya. "Terus sekarang gue harus ngapain?" tanya Gilang.
"Gue mau Lo cari latar belakangnya Nana, Lang. Gue merasa ada banyak rahasia dalam hidupnya. Ada banyak luka yang dia sembunyiin Lang. Gue bisa lihat dari matanya, Nana terlalu kuat menutupi kesedihannya," ucap Arya.
"Gue juga merasa gitu, Ar. Gue akan selidiki ini," ucap Gilang.
"Dan satu lagi Lang," ucap Arya menatap Gilang.
Gilang menaikkan sebelah alisnya menatap Arya.
"Gue mau nikahin Nana," ucap Arya yang mampu membuat Gila tersedak ludahnya sendiri.
"Ar, Lo jangan becanda. Pernikahan bukan cuma buat main-main. Pernikahan itu ibadah panjang kita, Ar," ucap Gilang.
"Gue tahu, entah kenapa hati gue sangat ingin melakukan itu, Lang. Karena dengan begitu, gue bisa semakin membuka diri terhadap Nana," ucap Arya mantap.
Gilang mengangguk. "Kapan rencana Lo?" tanya Gilang.
__ADS_1
"Setelah Acha menikah, gue akan segera melamar Nana," ucap Arya yang mampu membuat Gilang menghela nafas lega. Karena dia sudah berfikiran bahwa Arya akan menikahi Nana besok.
"Gue keruangan dulu, dan gue mau info nya sudah ada besok," ucap Arya.
"Oke," jawab Gilang yakin.
Gue berdoa yang terbaik untuk Lo, Ar. Batin Gilang melihat punggung Arya yang menghilang dari balik pintu.
.....
Arya kembali keruangannya setelah mengatakan semuanya kepada Gilang. Kaki Arya melangkah ke kamar pribadi yang ada di ruangannya. Dapat dia lihat Freya yang tertidur dengan memeluk erat tubuh Nana. Jika dilihat, mereka seperti Ibu dan Anak yang sedang tertidur. Sudut bibir Arya tertarik melihat pemandangan di depannya.
Dengan perlahan, Arya berjalan mendekati ranjang. Dengan hati-hati Arya duduk di tepi ranjang. Dengan seksama, Arya memperhatikan wajah Nana yang tidur dengan damai.
Terimakasih karena tidak berhenti berjuang mendapatkan hati saya. Kamu berhasil mengetuk hati saya, Na. Batin Arya.
Entah apa yang kamu sembunyikan, saya berharap itu bukan hal yang buruk untuk hubungan kita. Lanjut batin Arya.
Entah dorongan darimana, Arya membungkukkan badannya mencium lembut dahi Nana. Setelah itu senyum terbit di bibir Arya. Tidak ingin mengganggu tidur ponakan dan kekasihnya, Arya bangun dan keluar dari kamar pribadinya dengan hati-hati. Setelah itu Arya kembali melanjutkan pekerjaannya.
.....
Sedangkan di tempat lain, seorang wanita nampak memandangi tubuh seorang lelaki yang sudah terikat dengan rantai di ujung ranjangnya.
"Aku rindu kamu, Mas," gumam wanita tersebut dengan air mata yang sudah mengalir di balik kaca mata hitamnya.
"Sungguh besar kesalahanku hingga kamu harus seperti ini. Dimana anak kita, Mas? Apa dia baik-baik saja? Dengan siapa dia tumbuh, Mas. Kenapa kamu tidak menjaga anak kita dan malah berakhir disini," lirih wanita tersebut.
Kaki nya melangkah maju ke ranjang lelaki tersebut. Beruntung baginya karena lelaki itu sedang tidur sekarang. Tangannya terulur mengusap rambut lebat yang sudah mulai memutih itu. Dengan seksama dia memperhatikan setiap sudut wajah lelaki yang masih berstatus suaminya itu.
"Kamu masih sangat tampan. Aku percaya, anak kita telah tumbuh menjadi gadis yang cantik," gumam wanita tersebut.
Setelah puas memandangi wajah lelaki tersebut, wanita itu berbalik dan segera pergi dari ruangan tersebut.
Setelah kepergian wanita itu, lelaki yang masih terbaring di ranjang itu membuka matanya. Setitik air mata menetes di sudut matanya.
HATIKU SAKIT! Batin lelaki tersebut memandangi pintu kamar yang sudah tertutup sempurna.
......................
Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @yus_kiz
Jangan lupa baca karya ku yang lain, ya "Derajat Rumah Tanggaku" Author sayang kalian 🌹🌹😘
__ADS_1