
🌹HAPPY READING🌹
Kini Nana sudah berada di apartemen Atlantik. Gilang, Atlantik dan Dinda menemani Nana yang hanya duduk termenung di sofa ruang tamu.
"Sayang," panggil Atlantik kepada Dinda.
"Iya Mas," jawab Dinda menatap Atlantik.
"Buat minum, ya," ucap Atlantik.
Dinda tersenyum. Dia berdiri dan berjalan menuju dapur. Meninggalkan Nana bersama Atlantik dan Gilang.
Air mata Nana tak henti menetes mengenai pipinya. Hanya air mata, tak ada isakan dari mulutnya.
"Na," panggil Gilang lembut.
Nana menoleh. "Iya Kak Gilang," jawab Nana.
"Jangan dengarkan apa yang dikatakan Arya, Na. Dia hanya sedang emosi. Itu semua tidak benar-benar dari hatinya," ucap Gilang mencoba membujuk Nana.
Nana tersenyum getir dan menggeleng. "Justru apa yang dikatakan saat emosi itu adalah yang sebenarnya, Kak," ucap Nana.
Gilang terdiam. Tidak ada yang bisa dia katakan melihat Nana yang benar-benar terpuruk dengan apa yang terjadi.
"Jangan pernah merasa sendiri, Na. Kita semua ada untuk kamu disini," ucap Atlantik memberi semangat kepada Nana.
Nana tersenyum dan mengangguk menatap Atlantik. "Bang, Freya di rumah. Mending Abang sama Kak Dinda jemput Freya. Dan Kak Gilang kembalilah ke rumah sakit. Mereka disana butuh Kak Gilang," ucap Nana pada Gilang dan Atlantik.
Atlantik dan Gilang saling pandang. Mereka paham, mungkin Nana butuh waktu sendiri untuk menenangkan hati dan pikirannya.
"Baiklah, Abang dan yang lainnya pergi, ya. Kamu istirahat disini saja. Gunakan apartemen ini sebagai tempat kamu berteduh. Kita semua sayang sama kamu, Na," ucap Atlantik. Dia takut Nana akan melakukan hal-hal yang diluar nalar mereka.
Nana tersenyum. "Tenang saja, Nana pasti baik-baik aja kok," ucap Nana meyakinkan mereka.
Gilang dan Atlantik berdiri bersamaan dengan Dinda yang baru datang dari dapur dengan nampan ditangannya. "Loh, pada mau kemana?" tanya Dinda heran.
"Nana butuh waktu sendiri," bisik Atlantik pada Dinda.
Dinda menatap Nana. Dia meletakkan nampan di meja dan mendekati adik iparnya itu. "Percayalah, Na. Kaka akan selalu ada untuk kamu. Jangan pernah berpikir pendek, ya," ucap Dinda.
__ADS_1
Nana tersenyum dan menatap Dinda. "Terimakasih, Kak," ucap Nana lembut.
Dinda mengangguk. "Kalau begitu Kakak pergi, ya. Pintu jangan lupa di kunci," ucap Dinda.
"Iya," jawab Nana lembut.
Setelah itu Atlantik, Dinda dan Gilang keluar dari apartemen meninggalkan Nana sendiri.
Setelah memastikan Atlantik, Gilang dan Dinda pergi, Nana membungkuk memegang perutnya yang sejak tadi terasa sangat sakit.
"Nak, Mama mohon bertahan, ya," ucap Nana mencengkram kuat perutnya.
Badan Nana luruh ke lantai karena tidak sanggup menahan sakitnya. Hingga akhirnya kesadarannya hilang di lantai ruang tamu apartemen.
.....
Nana mengercapkan matanya saat cahaya silau mengenai penglihatannya. Hal pertama yang dilihat Nana adalah putih. Nana mengedarkan pandanganya. "Aku dirumah sakit?" tanya Nana entah pada siapa.
Seingatnya kemarin dia pingsan di apartemen. Lalu siapa yang membawanya ke rumah sakit?
Saat pikirannya bertanya-tanya, pintu ruangan terbuka dan masuklah seorang wanita paruh baya. "Kamu sudah sadar, Nak," ucap wanita tersebut.
Nana mengangguk. "Maaf, Ibu siapa ya?" tanya Nana.
"Terimakasih, Bu ..."
"Bu Inah. Nama saya Inah," ucap Bu Inah melihat kebingungan Nana.
Nana tersenyum lembut. "Terimakasih, Bu Inah," ucap Nana.
"Bu Inah, apa Ibu memberitahu Pak Atlantik mengenai keadaan saya?" tanya Nana hati-hati.
"Belum, Nak. Saya menunggu kamu sadar baru saya akan beritahu," ucap Bi Inah.
"Tidak usah, Bu. Biar saya saja yang menelpon Bang Atlantik. Saya saudara iparnya," ucap Nana.
Bi Inah hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah sama-sama diam, Nana teringat akan anaknya. Dia meraba-raba perutnya. Ada sedikit berbeda dari seperti biasanya. "Bu Inah," panggil Nana.
"Iya, Nak," jawab Bu Inah.
__ADS_1
"Anak saya?" tanya Nana hati-hati.
"Maaf, Nak. Saat Ibu membawa kamu, anak kamu memang sudah tak terselamatkan. Dan untuk menyelamatkan nyawa kamu, Dokter terpaksa harus mengambil tindakan dan mengeluarkan janin kamu, Nak," ucap Bi Ina menjelaskan apa yang tadi Dokter katakan saat Nana masih belum sadar.
Nana memejamkan mata menahan air matanya. Deritanya terasa semakin lengkap karena berita ini. Tidak ada lagi harapannya untuk tetap bertahan. Anak dan Ayahnya sudah pergi meninggalkannya. Kenapa kalian pergi tidak membawa Nana juga? Batin Nana bertanya sendu.
"Nak," ucap Bi Inah memegang tangan Nana dengan wajah menyesalnya.
Nana mencoba tersenyum. "Tidak apa, Bu. Bukan salah Ibu. Saya yang terlalu kelelahan kemarin. Mungkin memang bukan takdir saya untuk terus menjaga amanah yang Tuhan berikan," ucap Nana mencoba kuat.
"Kamu harus kuat untuk orang tersayang kamu, Nak," ucap Bi Inah mencoba menguatkan Nana.
Nana hanya tersenyum kecut. Orang tersayang? Bahkan Nana tidak memiliki mereka semua sekarang.
"Bu, bisa tinggalkan saya sendiri?" pinta Nana lembut.
Bu Inah mengangguk. Setelah itu dia berjalan keluar ruangan Nana.
Setelah memastikan Bi Inah pergi dari ruangannya, Nana mencoba bangun. Dia meringis merasakan perutnya yang masih sakit dan sedikit nyeri. Nana mencabut infusnya dan berjalan keluar ruangannya. Dia ingin segera pergi dan menjauh dari segala kehidupannya. Nana melihat ke kiri dan ke kanan, ternyata tidak ada Bu Inah.
Nana berjalan sekuat tenaga. Hingga langkahnya terhenti ketika matanya tak sengaja menangkap sosok laki-laki yang sangat dia cintai sedang berbicara dengan seorang dokter. Nana baru sadar jika dia dibawa ke rumah sakit yang sama tempat Acha dirawat. Nana bersembunyi di balik pilar besar dan mendengar pembicaraan Arya dengan Dokter tersebut.
Nana tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi satu hal yang Nana tangkap bahwa keadaan Acha semakin memburuk.
Nana teringat perkataanya semalam kepada Arya. Dia akan memberikan jantungnya untuk Acha. Aku akan berikan kehidupan aku untuk cinta pertama kamu, Mas. Batin Nana.
Setelah melihat Arya pergi, Acha berjalan mendekati Dokter tersebut.
"Dokter," panggil Nana.
Dokter wanita tersebut berbalik. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter wanita itu ramah melihat Nana yang memakai pakaian pasien.
"Bisa kita bicara sebentar, Dokter?" tanya Nana.
Dokter tersebut diam. Tapi semenit kemudian dia mengangguk. "Mari bicara di ruangan saya," ucap Dokter tersebut.
Nana mengangguk dan mereka berjalan dengan pelan menuju ruang Dokter tersebut.
......................
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.
Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹