Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 58


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Arya sedang menyantap makan malamnya dengan lahap, ditemani sang istri yang duduk di kursi sebelahnya.


Nana memandangi wajah Arya yang nampak sangat menikmati masakannya itu. Padahal dirinya sendiri tidak yakin dengan makanan yang dia buat.


"Mas, enak banget ya?" tanya Nana.


Arya hanya mengangguk dengan mulut yang masih mengunyah makannya.


"Aku jadi penasaran sama masakan aku sendiri," gumam Nana pelan namun masih bisa didengar oleh Arya.


Tadinya Nana berniat memanaskan kembali makanan yang sudah disiapkan oleh pelayan. Namun Arya meminta nasi goreng buatan Nana sendiri. Tidak ingin mengecewakan Arya, Nana menuruti dan memasak untuk suaminya. Karena selama dia menikah, Nana tidak pernah memasak. Malah Arya yang memasak untuknya.


Pernah dulu Nana memasak makanan untuk Arya saat dia masih mengejar cinta Arya. Dan rasanya lumayan. Tapi kali ini Nana benar-benar penasaran melihat Arya yang rakus dengan makanannya.


"Mas, aku mau cobain dong," pinta Nana penasaran.


Arya menggeleng. Dengan cepat dia menghabiskan makanannya.


"Mas, dikit aja," mohon Nana. Dia benar-benar penasaran dengan masakannya sendiri.


Arya menyudahi aksi mengunyahnya dan menatap Nana. "Beneran mau?" tanya Arya memastikan.


Nana mengangguk antusias dengan wajah polosnya.


"Buka mulutnya," titah Arya menyendok sedikit nasi dan sambal dan menghadapkannya ke mulut Nana.


Nana menurut dan membuka mulutnya.


"Uhuk, uhuk," batuk Nana keluar begitu saja setelah makanan itu masuk ke mulutnya.


"Minum dulu, Sayang," ucap Arya.


Nana meminum air yang diberikan Arya dengan rakus. Setelah tenang, Nana memandang Arya dengan perasaan bersalah.


"Jangan dimakan, ya Mas. Ini asin banget," ucap Nana pelan.


"Aku suka asin," ucap Arya cuek dan melanjutkan makannya.


"Mas, jangan karena ini masakan aku jadi kamu makan semua," ucap Nana mengambil piring makan Arya.


Tapi Arya kembali menarik piring tersebut dan meletakkan kembali didepannya. "Aku suka asin, Sayang," ucap Arya kekeuh dan melanjutkan makannya.


Nana pasrah. Dia membiarkan Arya menghabiskan masakannya. Nana juga tidak tahu mengenai apa yang disuka dan tidak disuka Arya. Mungkin Nanti Nana akan menanyakan kepada mertuanya.


Sedangkan dari arah ruang keluarga, Dinda yang datang bersama Freya dan Atlantik menyaksikan semuanya.


Kamu benar-benar mencintainya, Arya. Padahal kamu tidak suka asin. Batin Dinda salut dengan adiknya sendiri.

__ADS_1


"Sayang," ucap Atlantik memegang bahu Dinda dengan sebelah tangannya. Karena satu tangannya sudah menggendong Freya.


"Eh, iya Mas," jawab Dinda.


"Kita samperin, yuk," ajak Atlantik.


Dinda mengangguk dan mereka berjalan menemui Arya dan Nana.


"Aunty Balbi," ujar Freya senang dan langsung meronta minta turun dari gendongan Atlantik.


Mata Nana berbinar melihat kedatangan Freya yang sudah seminggu ini tidak ditemuinya.


"Freya," pekik Nana senang dan segera membawa Freya kedalam dekapannya.


Nana mengecup seluruh wajah Freya. "Hahaha geli, Aunty," ucap Freya tertawa ketika bibir Nana menyentuh seluruh wajahnya.


"Kapan sampai, Kak?" tanya Arya yang baru selesai dengan makannya.


"Baru aja. Dari tadi ngucap salam nggak ada yang jawab. Jadi langsung masuk aja," ucap Dinda mencomot kentang goreng di meja makan.


"Dasar nggak sopan," gerutu Arya melihat tingkah Kakaknya. Padahal didepannya ada Atlantik, suaminya sendiri.


"Kita ke ruang keluarga aja, Kak, Bang," ucap Nana mengajak Dinda dan Atlantik.


Mereka semua mengangguk dan berjalan meninggalkan meja makan. Sebelum pergi, tidak lupa Arya meminta salah satu pelayan untuk membereskan meja makan.


.....


"Nggak punya rumah apa, ngapain coba nyuruh anaknya tinggal disini segala. Dasar nggak ada akhlak emang. Suami istri sama aja," gerutu Arya yang disambut kekehan kecil dari mulut Nana.


"Enggak boleh gitu, Mas. Bentar lagi Freya tidur juga, kok. Ini udah jam sepuluh. Lihat aja matanya udah setengah merem gitu," ucap Nana lembut mengusap kepala Freya yang ada dipangkuannya.


Arya mengangguk malas. "Kalau gitu aku ke ruang kerja dulu, ya. Nanti susul aku kalau Freya udah tidur. Ada yang mau aku bicarain," ucap Arya.


"Tentang apa, Mas?" tanya Nana.


"Nanti aja. Aku ke ruang kerja dulu," ucap Arya pamit dan mengecup dahi Nana lembut sebelum pergi.


Nana memandangi punggung Arya yang hilang dari balik pintu. Setelah itu dia menatap Freya yang masih setengah sadar itu. Anak itu memaksa matanya untuk terus terbuka agar tidak ditinggal oleh Auntynya.


"Freya kalau ngantuk tidur aja ya, Sayang. Aunty nggak bakalan pergi kok," ucap Nana lembut.


Freya menguap. Mata anak itu sudah nampak berair dan memerah karena kantuknya. "Usap-usap telus ya, Aunty," ucap Freya.


"Iya," jawab Nana.


Freya memejamkan matanya. Tidak berselang lama, terdengar dengkuran dari mulut mungil Freya yang sedikit terbuka itu.


Nana mengambil bantal untuk menggantikan pahanya dan meletakkan kepala Freya disana. Nana membatasi kasur dengan bantal disetiap sisinya agar Freya tidak jatuh. Setelah itu menyelimuti Freya hingga batas leher.

__ADS_1


Cup.


Nana mengecup dahi Freya dan berjalan keluar kamar untuk menyusul Arya ke ruang kerja.


"Mas," panggil Nana langsung masuk ke ruang kerja Arya.


"Kesini Sayang," ucap Arya menepuk pahanya meminta Nana untuk duduk dipangkuannya.


Nana menurut dan berjalan mendekati Arya. Nana duduk dipangkuan Arya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Arya.


"Mas," panggil Nana lembut.


"Iya Sayang," jawab Arya mengusap lembut rambut Nana.


"Mas, kok aku belum hamil juga, ya. Apa mungkin aku nggak sehat ya, Mas," ucap Nana sendu.


"Sayang ngomong apa sih," ucap Arya dengan nada tak sukanya.


Nana mengangkat kepalanya dan menatap Arya. "Mas, kita melakukannya hampir tiap malam. Kamu selalu keluarin benih kamu di rahim aku. Tapi kenapa aku sampai sekarang nggak hamil juga. Apa aku bermasalah ya," ucap Nana.


"Sayang, kita itu menikah baru seumur jagung. Sabar aja, mungkin emang belum saatnya aja. Banyak orang diluar sana yang bahkan sudah lima tahun nikah baru dikasi anak," ucap Arya.


"Em ... Mas," ucap Nana ragu.


"Ada apa, Sayang?"


"Kita cek kesehatan, yuk," cicit Nana pelan.


"Sayang."


"Ayo kita cek, Mas," ucap Nana memohon.


Arya menghela nafas pelan. Jika sudah begini dia hanya bisa menuruti. "Iya, nanti kita cek. Tapi nggak besok, ya," ucap Arya.


"Kenapa?"


"Sayang, besok aku harus ke Turki untuk urusan pekerjaan," jawab Arya.


Wajah Nana berubah sendu. Ini pertama kali dia ditinggalkan Arya setelah mereka menikah. "Berapa lama?" tanya Nana.


"Tiga hari," jawab Arya.


"Kamu pergi sama Gilangkan?" tanya Nana memastikan. Karena biasanya, urusan keluar negeri seperti ini, dia akan pergi bersama Nana. Karena Nana adalah sekretarisnya dulu. Tapi sekarang dia sudah berhenti, dan Nana yakin pasti Arya pergi dengan Gilang.


Tapi diluar dugaan Nana. Arya menggeleng. "Aku pergi sama Acha, Sayang."


......................


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa.

__ADS_1


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


Maaf karena baru update teman-teman, semoga kalian nggak marah dan tetap suka cerita Nana dan Arya ya 🤗


__ADS_2