Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 79 (Ending)


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Arya tidak menghiraukannya. Dia menguatkan hatinya untuk membuka kain putih itu.


"Hiks, sayang," tangis Arya pecah melihat wajah yang sangat pucat dan dingin itu adalah istrinya. Itu adalah wanita yang sangat dia cintai. Wanita yang sudah dia sakiti hatinya dalam sekejap.


Meisya yang melihat itu adalah Nana langsung luruh ke lantai. Tangisnya pecah melihat anak kandungnya sendiri mengorbankan nyawa untuk anak sambungnya. "NANA!" teriak Meisya menyesali setiap ucapannya.


Gilang yang melihat Meisya meraung seperti itu langsung mendekat. "Mungkin ini jalan yang dipilih Nana, Tante," ucap Gilang dengan mata merah menahan tangisnya.


"Kembalikan Nana, Gilang, hiks," ucap Meisya mengiba kepada Gilang.


Gilang yang tidak kuat melihat Meisya langsung memeluk tubuh tua yang bergetar karena tangis.


Bumi hanya bisa pasrah menguatkan dirinya. Sedangkan Dinda sudah menangis dipelukan Atlantik.


Bi Mirna yang melihat itu langsung mendekati ranjang dan memeluk erat tubuh Nana. "Hiks, mengapa tinggalkan Bibi sendiri, Nak. Mengapa tidak memikirkan Bibi sama sekali," ucap Bi Mirna menangis memeluk Nana.


Bi Mirna mengangkat kepalanya dan mencium setiap wajah Nana. "Kamu ternyata lebih menyayangi Ayah dan Anakmu. Semoga disana kamu mendapat kebahagiaan yang sebenarnya, Nak. Semoga disana kamu tidak menemukan orang yang tidak berguna seperti kami ini. Berbahagialah di alam lain, Nak," ucap Bi Mirna sendu.


Setelah itu Bi Mirna beralih menatap Arya yang menangis. "Arya," panggil Bi Mirna.


"Nana, Bi," ucap Arya lirih.


"Bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya Bi Mirna.


Pertanyaan yang keluar dari mulut Bi Mirna membuat penyesalan yang sudah dalam ini kini semakin menjurang. "Maaf, Bi. Maaf," ucap Arya.


"Cucuku memang seperti ini. Dia rela berkorban untuk kebahagiaan orang yang dia cintai. Dulu dia berkorban untuk kesembuhan Ayahnya, sekarang dia berkorban untuk kebahagiaanmu bersama cinta pertamamu, Arya," ucap Bi Mirna lirih memandangi wajah Nana.


Mita, Meisya, Bumi dan mereka semua yang mendengar perkataan Bi Mirna serasa dihantam ombak besar. Rasanya lebih sakit dari ditusuk bilah bambu runcing.


"Bi, jangan buat kami semakin menyesal," ucap Kita sendu dengan wajah yang sudah penuh dengan air mata.


Suster yang ada di sana juga tidak bisa membendung air mata mereka. Terlepas dari apa yang mereka ketahui, siapapun yang melihat ini pasti akan ikut menitikkan air matanya.


Arya memandangi wajah teduh dan damai istrinya. "Sayang," panggil Arya lembut.


Tangan terulur mengusap pipi mulus Nana yang terasa sangat dingin. Arya mensejajarkan wajahnya tepat didepan wajah Nana. Bahkan air matanya jatuh mengenai pipi Nana.


"Sayang, bangun yuk. Jangan pergi. Aku minta maaf atas perkataan aku. Kenapa kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang serius, Sayang. Kamu tahu aku lagi marah, harusnya kamu tenangin aku, Sayang. Bukan seperti ini. Jangan tinggalkan penyesalan yang sangat menyakitkan ini, Sayang, hiks," ucap Arya dengan tangis yang semakin dalam.


"Hatiku sesak sekali, Sayang. Jika aku rindu, aku harus pergi kemana? Jika aku bangun, siapa yang harus aku cium nanti, Sayang? Kalau aku mandi siapa yang siapin pakaian aku, Sayang? Kalau aku makan, siapa yang akan menyiapkannya? Kamu harus kembali, Sayang. Aku mohon, kembali Sayang. Aku mohon, hiks," ucap Arya memohon kepada Nana yang sudah tak bernyawa.

__ADS_1


"Sayang bangun! Bangun Sayang!" ucap Arya terus mengguncang bahu Nana.


Meisya yang melihat itu melepaskan diri dari dekapan Gilang dan mendekati Nana. Dia ingin melihat wajah anak kandungnya sendiri. "Nak, bahkan kita belum bahagia bersama, Nak," ucap Meisya sendu.


Meisya membungkukkan tubuhnya dan mencium seluruh permukaan wajah Nana. "Kamu anak terbaik Mama. Maafkan Mama, Nak, Maaf. Penyesalan ini akan selalu ada. Penyesalan ini akan selalu menjadi pengingat betapa jahatnya Maka sama kamu dan Ayah, Nak. Penyesalan ini akan menjadi bukti bahwa Mama adalah Ibu terburuk, Nak, hiks," ucap Meisya memandangi wajah Nana yang nampak sangat damai dan tenang.


Tidak berselang lama, Dokter Miranda keluar dari ruangan dengan amplop coklat ditangannya.


"Arya," panggil Dokter Miranda langsung kepada Arya.


Arya mengangkat kepalanya dan menatap Dokter Miranda dengan mata sembabnya. "Ya Dokter," jawab Arya pelan.


"Ada sesuatu untuk kamu dari Nana," ucap Dokter Miranda menyerahkan amplop tersebut kepada Arya.


Arya memandangi amplop tersebut. Dengan tangan bergetar dia menerimanya.


"Nana berpesan kepada saya bahwa dia ikhlas dengan apa yang dia lakukan. Dia sengaja meminta saya untuk menyembunyikan identitasnya sebagai pendonor sebelum operasi itu terjadi. Karena dia tidak ingin membuat kalian semua sedih. Dia hanya ingin melakukan pengorbanan diakhir hidupnya. Dan Nana juga bilang pada saya, dengan melakukan ini, setidaknya dia berguna bagi orang yang dia cintai," ucap Dokter Miranda yang mampu membuat hati mereka semua yang mendengarnya begitu sakit dan sesak. Udara seakan-akan habis ditempat itu saat ini juga.


"Tidak baik terlalu meratapi kepergian seseorang. Doa dari kalian yang Nana butuhkan, bukan penyesalan yang sudah tidak ada guna seperti ini. Kalau begitu saya permisi," ucap Dokter Miranda pamit dan melangkah pergi meninggalkan mereka semua.


.....


Tangan Arya terulur menerima jenazah yang sudah terbalut kain kafan itu. Dengan menguatkan hati dan tubuhnya, Arya meletakkan dengan perlahan jenazah Nana dibantu Bumi dan Gilang.


Arya mengangguk menjawab pertanyaan Gilang. "Adzan, Ar," ucap Gilang.


Arya mengangguk dan mengumandangkan Adzan dengan suara gemetar menahan tangisnya. Hari ini dia menyaksikan sendiri bagaimana istri yang sangat dia cintai hidup tenang di tempat istirahat terakhirnya.


Mereka semua yang mendengar Adzan Arya tidak kuasa menahan tangisnya. Terdapat cinta yang begitu besar di sana. Ada hati yang sangat terluka dibalik suara Adzan Arya yang bergetar kerena menahan tangis.


Setelah selesai, dengan perlahan liang lahat ditutup. Bongkahan tanah itu menutup kuburan istri yang sangat Arya cintai.


Tidak berselang lama, kini sudah ada gundukan tanah didepan mereka semua. Tangis yang keluar tidak.ada hentinya sejak tadi.


Setelah dilantunkan doa, satu persatu pelayat pergi meninggalkan makam. Kini hanya menyisakan keluarga yang masih berjongkok di depan kubur Nana.


Arya hanya menatap kosong batu nisan di depannya. Hanya ada keheningan dan suara isakan yang keluar dari mulut mereka semua.


"Aku tahu ini sudah tidak mungkin, tapi jika bisa kembalilah," ucap Arya lirih.


.....


Arya duduk termenung sendiri di kamarnya. Matanya tak henti mengikuti bayangan Nana yang selalu memenuhi penglihatannya. Hingga mata Arya berhenti pada amplop coklat yang ada di atas meja sebelah ranjang.

__ADS_1


Arya berdiri dan mengambil amplop tersebut. Dengan perlahan Arya membuka surat tersebut. Mata Arya memanas melihat foto USG dan surat keterangan dari Dokter yang menyatakan bahwa istrinya tengah hamil.


Air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa dia cegah. "Aku membunuh anak dan istriku," gumam Arya lirih bersamaan dengan air mata yang mengalir deras.


"Kenapa tidak bertahan untuk Mama dan Papa, Nak. Kenapa tidak mengizinkan Papa menebus kesalahan Papa," ucap Arya mengusap lembut foto hasil USG tersebut.


Setelah puas memandangi foto tersebut, pandangan Arya beralih pada sebuah kertas putih yang ada disana. Arya mengambil kertas tersebut dan membaca setiap tulisan yang ada di sana.


Untuk Suamiku Tercinta.


Hai Mas. Saat kamu baca surat ini, berarti aku udah nggak ada lagi di dunia. Maaf jika aku memilih pergi bersama Anak kita dan Ayah. Tapi satu hal yang kamu harus tahu, Mas. Cintaku akan selalu untuk kamu, meskipun cinta kamu buat wanita lain, tapi aku ikhlas.


Aku memilih pergi karena sudah tidak akan harapan untuk aku hidup. Aku memilih pergi karena aku takut kehadiran aku akan selalu menganggu kamu bersama Acha, cinta pertamamu.


Mas, aku berani bersumpah bukan aku yang menabrak Acha, Mas. Aku memang iri, tapi aku tidak sejahat itu sampai rela menghilangkan nyawa seseorang.


Terimakasih untuk cinta dan kasih sayang yang kamu berikan kepada aku, Mas. Meskipun hanya sebentar, tapi aku sangat bahagia. Aku kira cinta kita sudah kuat dan mampu memberikan aku semangat, Mas. Tapi aku salah, hanya aku yang memaksakan cintaku untukmu. Ternyata benar apa yang orang-orang katakan, bahwa cinta pertama itu memang tidak akan terganti.


Semoga kamu hidup bahagia dengan Acha ya, Mas. Sebenarnya aku sakit sekali menulis ini, tapi demi kamu bahagia, aku mengabulkan permintaan kamu, Mas. Aku memberikan jantungku untuk cinta pertama kamu. Semoga dengan peninggalan aku itu, senyum selalu terbit di wajah kamu, Mas. Selalu bahagia dan jangan melakukan kesalahan yang sama kepada wanita yang kelak menjadi jodoh dunia akhirat kamu, ya Mas. Aku sangat mencintai kamu, suamiku.


Dari aku, cinta keduamu, Khadijah Nasytiti.


"Hiks, kembali Sayang. Kembali," ucap Arya dengan air mata yang sudah membasahi surat pemberian Nana. Hatinya begitu sakit. penyesalan itu terasa begitu nyata.


"Mengapa harus memberikan penyesalan seperti ini, Sayang. Sakit sekali, hiks. Sakit sekali," ucap Arya memegang dadanya yang terasa sangat sesak.


Arya membuka laci meja disebelah ranjang dan mengambil botol obat disana. Tangan Arya mengambil beberapa butir obat tersebut dan memakannya.


Dengan perlahan mata Arya mulai meredup. "I love you, Sayang," ucap Arya saat kesadarannya benar-benar hilang.


Inilah pilihan Nana, dia memilih kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia telah bahagia di tempat yang abadi. Tempat dimana tidak akan ada orang yang memberinya luka dan kesakitan. Tapi satu yang pasti, cinta Arya dan Nana tidak akan pernah berakhir sampai mereka berdua bertemu dia tempat yang abadi.


Satu hal yang pasti, jika kamu memiliki cinta, jagalah dan jangan sia-siakan. Karena apa? Penyesalan itu datang belakangan. Itu akan terasa sangat menyakitkan dan menyesakkan. Seakan-akan oksigen di dunia ini benar-benar tidak ada.


Selamat jalan, Nana. Hidup dan cintamu merupakan gambaran ketulusan dan pengorbanan. Kamu berhasil melewati ujian takdir hingga akhirnya kebahagiaan abadi itu kamu raih.


......................


...SELESAI...


Terimakasih aku ucapkan buat kalian yang setia menunggu update novel aku, ya.


Maaf jika ending ini tidak sesuai dengan harapan kalian.

__ADS_1


Jangan dibuang dulu dari rak buku dan favorite kalian ya, karena bakal ada extra part buat kisah Nana dan Arya. Aku sayang kalian semuaaaaaaa 🌹🌹🌹


__ADS_2