Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 48


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Malam ini Freya benar-benar menagih janji Arya. Anak itu saat ini sudah duduk dengan tenang di ranjang Arya lengkap dengan boneka kesayangan, menunggu Nana yang berada di kamar mandi. Sedangkan Arya memandangi keponakannya itu dengan tatapan kesal.


"Freya," ucap Arya merengek kepada Freya.


Freya menatap Arya dengan tatapan polosnya dan senyum manisnya. Anak itu terlihat seperti gadis licik yang sedang mengerjai Arya. "Iya, Uncle," jawab Freya dengan sangat manis.


Arya mendengus kesal melihat tingkah Freya. Jika bukan keponakan kesayangannya, dia sudah menaruh Freya di panti asuhan agar tidak mengganggu dia dan Nana.


"Freya, syaratnya dimulai besok malam aja, ya," ucap Arya memohon dengan berusaha selembut mungkin. Berharap Freya akan luluh olehnya.


Freya menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan diikuti kepalanya. "No, no, no," ucap Freya dengan wajah angkuhnya.


"Ayolah, Sayang," ucap Arya dengan terus membujuk Freya.


Freya tetap menggeleng sambil terus memeluk boneka kesayangannya. Hingga akhirnya, Nana keluar dari kamar mandi dengan baju tidur satin sepaha dan cardigan tipisnya.


Arya meneguk ludah kasar melihat penampilan istrinya. Ini bukan pertama kali Nana memaki baju seperti itu didepannya, tapi entah kenapa, efek permainannya tadi siang masih saja ingin dia lanjutkan.


"Freya udah gosok gigi sama cuci kaki dan wajah?" tanya Nana menyusul Freya dan Arya di atas kasur.


dengan senyum mengembang Freya mengangguk. "Sudah, Aunty. Tadi sama Mama," jawab Freya.


Nana tersenyum dan mengangkat Freya untuk duduk di pangkuannya. Nana menoleh kepada Arya yang memasang wajah kesalnya. "Kamu kenapa, Mas?" tanya Nana.


"Freya tidur dikamar sendiri aja, ya," ucap Arya memohon.


"NO!" teriak Freya kencang ketika mendengar perkataan Arya. Nana dan Arya reflek menutup telinga dengan tangan mereka karena mendengar suara melengking Freya.


Freya menatap Nana dengan mata berkaca-kaca. Anak itu bersiap hendak menangis. "Aunty, Fleya mau sama Aunty. Lagi pula Uncle Alya udah janji sama Fleya," ucap Freya.


"Arya, Freya. Buka Alya," ucap Arya mengkoreksi namanya yang disebut Freya dengan suara cadelnya.


Freya hanya cuek, dia terus menatap Nana. Berharap Aunty kesayangannya itu mengabulkan permintaannya.


Nana tersenyum dan mengangguk menatap Freya. "Kita akan tidur bareng," ucap Nana.


"Yeay, Telimakasi, Aunty," ucap Freya senang memeluk erat Nana.


Nana terkekeh senang mendengar suara ruang Freya. Sungguh, Freya memberikan kebahagiaan sendiri kepada Nana.


Arya menghembuskan nafas kasar mendengar perkataan istrinya. Tidak tahukah Nana, bahwa Arya sedang menahan hasratnya saat ini. Sungguh, ingin sekali Arya menyumpahi keponakannya itu.


Nana merebahkan tubuh mungil Freya ditengah-tengah mereka bersiap untuk tidur.

__ADS_1


"Aunty, nyanyiin Fleya," pinta Freya.


"Jangan banyak mau!" ucap Arya ketus ikut merebahkan tubuhnya.


"Bialin, wle!" ucap Freya mengejek Arya.


Nana menggelengkan kepala sambil tertawa pelan melihat tingkah Om dan Ponakan itu. Mereka saling mengejek, tapi mereka juga sangat saling menyayangi.


Nana menuruti keinginan Freya untuk menyanyikan lagu tidur. Dengan suara merdu dan lembutnya, Nana menidurkan Freya. Tidak hanya Freya, bahkan Arya ikut tertidur mendengar nyanyian Nana.


Nana mengecup dahi Freya dan Arya secara bergantian sebelum ikut ke dunia mimpinya.


"Selamat tidur, lelaki kesayangan," ucap Nana pelan setelah mencium dahi Arya. Setelah itu dia merebahkan diri dan ikut memejamkan mata.


.....


Sedangkan di kamar lain, Meisya memandangi anaknya yang masih duduk di balkon. Semenjak kehamilan Acha, Meisya selalu menemani anaknya itu. Tadi dia sudah melihat Acha tertidur, hingga akhirnya dia ikut memejamkan mata. Tapi Meisya terbangun saat merasakan Acha tidak ada disampingnya. Dan benar saja, Meisya melihat anaknya yang duduk sendiri di balkon kamar.


Acha mengusap perutnya yang sedikit menonjol dibalik baju tidurnya sambil memegangi foto seorang lelaki yang merupakan Ayah dari anaknya.


"Zein, aku dan anak kita membutuhkan kamu. Kembalilah," ucap Acha lirih.


"Sayang, jadi kekuatan Mama, ya. Kamu harus tumbuh kuat. Biar saat Baba mu kembali, dia senang melihat anaknya yang sangat kuat dan sehat," ucap Nana mengelus perutnya.


Semua itu tidak lepas dari pandangan dan pendengaran Meisya yang berdiri di balik pintu balkon.


Mama tidak akan membiarkan cucu Mama menjadi yatim, Nak. Mama pastikan cucu Mama akan lahir didampingi oleh seorang Ayah. Batin Meisya tidak tega melihat kesedihan Acha.


Tidak ingin menganggu Acha, Meisya kembali ke ranjang dan merebahkan dirinya. Dari tempat tidur, Meisya terus memantau setiap pergerakan Acha.


.....


Hari ini rumah terasa sepi. Arya telah pergi ke kantor, Mita pergi bersama Bumi karena ada keperluan, Dinda yang menemani Acha ke dokter kandungan untuk memeriksa kondisi kandungan Acha. Di rumah hanya ada Nana, Freya dan Meisya.


Meisya sengaja tidak ikut Acha karena ada sesuatu hal yang harus dia lakukan. Meisya berjalan menuju taman belakang untuk menemui Freya dan Nana yang sedang bermain di sana.


"Boleh saya bergabung," ucap Meisya pada Nana yang mengawasi Freya bermain bersama kelincinya.


"Silahkan, Tante," ucap Nana lembut dan Meisya mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Nana.


"Na," panggil Meisya.


Nana menoleh. "Iya Tante," jawab Nana.


"Apa sudah ada tanda-tanda kamu hamil?" tanya Meisya.

__ADS_1


Nana tersenyum dan menggeleng. "Belum, Tante," ucap Nana.


"Kenapa belum? Kamu sehatkan?" tanya Meisya lembut namun menyakitkan bagi Nana.


"Mungkin belum dikasih aja, Tante. Saya dan Arya juga selalu berusaha untuk itu," ucap Nana.


"Nana, tidak bisakah kamu berbagi dengan anak saya?" ucap Meisya memandang Nana.


Nana membalas tatapan Meisya. Sungguh, dia sangat tidak ingin di posisi ini sekarang. Rasanya sangat menyakitkan sekali.


"Arya kebahagiaan saya, Tante," ucap Nana.


"Saya tidak meminta kamu meninggalkan Arya, Na. Saya hanya minta kamu untuk berbagi dengan anak saya," ucap Meisya.


"Tidak ada wanita yang rela berbagi suami, Tante," ucap Nana. Jantungnya sudah berdetak kencang mengerti maksud pembicaraan Meisya.


"Setidaknya kamu berkorban untuk anak yang belum lahir, Na. Kasihani cucu saya," ucap Meisya.


"Tante, di rumah ini banyak orang yang menyayangi Acha dan anaknya. Acha tidak sendiri, Tante," ucap Nana. Sungguh, ingin sekali Nana berteriak mengatakan kesakitan nya kepada Meisya.


"Andai, tidak ada kamu, pasti Acha dan Arya sudah hidup bahagia sekarang," ucap Meisya menyindir Meisya.


Mata Nana sudah berkaca-kaca mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Meisya. Sungguh, Nana bukan wanita sekuat itu. Nana hanya berharap, Arya segera datang menolongnya.


"Dan kamu tahu, Nana. Dulu Acha selalu jadi prioritas Arya, sekarang hanya karena pendatang baru seperti kamu, Arya melupakan sahabat masa kecilnya. Padahal Acha lebih berhak atas Arya daripada kamu, Nana!" ucap Meisya sedikit membentak Nana.


"Dan kamu jangan terlalu berbangga untuk saat ini, Arya menikahi kamu hanya untuk melupakan cintanya kepada Acha. Jadi siap-siaplah dari sekarang, jika suatu hari nanti Arya lebih memilih Acha dan anaknya. Asal kamu tahu, Nana. Bagi seorang lelaki, anak adalah anugrah terindah dalam pernikahannya. Sedangkan kamu, masih belum bisa memberi anak kepada Arya. Jadi jangan heran, jika nanti Arya kembali pada cinta masa kecilnya!" lanjut Meisya.


Nana ingin sekali untuk tidak menangis, tapi air mata sudah jatuh terlebih dahulu tanpa mau dia cegah.


"Pernikahan saya masih seumur jagung, Tante. Masih panjang waktu untuk saya dan suami saya memiliki seorang anak. Tante bukan Tuhan yang bisa menggariskan takdir keluarga kecil saya," ucap Nana dengan suara bergetar memandang Meisya.


"Dan satu lagi, Tante. Saya sangat mencintai suami saya, dan begitu juga sebaliknya. Tidak ada yang namanya pelarian dalam hubungan kami," lanjut Nana berani.


"Kamu jangan bangga dulu. Kamu itu sekarang hanya anak dari keluarga yang tidak tahu kemana orang tuanya, yang beruntung dipungut oleh Arya!" bentak Meisya tepat didepan wajah Nana.


"TANTE MEISYA!"


......................


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa.


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


Jangan lupa, ikuti juga kisah di novel aku yang lain dengan judul "Derajat Rumah Tanggaku" dijamin nggak kalah seru.

__ADS_1


__ADS_2