
🌹HAPPY READING🌹
"Aku tidak mungkin menduakan istriku, Tante!" ucap Arya tegas yang mampu membuat mereka semua terkejut.
"Apa maksud kamu, Arya?" tanya Mita.
Arya menarik sedikit badan Nana akan berdiri di sebelahnya. Setelah itu Arya mengangkat sebelah tangan Nana dan tangannya yang menggunakan cincin pernikahan mereka.
"Arya dan Nana sudah resmi menjadi pasangan suami istri, Ma," ucap Arya.
Terkejut bukan main. Itulah yang dirasakan Mita dan Meisya. Dinda sedikit terkejut, tapi dia senang dengan tindakan adiknya yang bergerak lebih cepat dari yang dia perkirakan. Atlantik memang tidak memberitahu Dinda, karena dia ingin Dinda tahu sendiri dari Arya. Arya dan Nana lebih berhak memberitahu daripada dia, pikir Atlantik.
"Kamu tidak meminta restu Mama, Arya?" ucap Mita sendu.
Arya yang melihat Mita seperti itu langsung berjalan mendekatinya. Bersimpuh di depan kaki Mamanya. Tangan Arya memegang kedua tangan Mita.
"Ma, Arya hanya tidak ingin apa yang sudah Arya genggam, Arya lepaskan kembali, Ma. Nana segalanya untuk Arya. Maaf jika Arya mengecewakan Mama. Tapi demi Tuhan, Arya tidak bisa menuruti perintah Mama yang meminta Arya untuk menikahi Acha," ucap Arya lembut menatap Mita.
Mita hanya mengangguk mendengar perkataan Arya. Setelah itu dia beralih menatap Nana yang menunduk sedari tadi. "Kemarilah, Nak," ucap Mita memanggil Nana.
Nana mengangkat kepalanya. Dengan langkah pelan, Nana berjalan mendekati Mita. Nana melakukan apa yang dilakukan oleh Arya. Tapi sedetik kemudian, Mita membawa tubuh Nana kepelukannya.
"Maaf jika sikap Mama tidak memikirkan perasaanmu, Nak," ucap Mita menyesal.
Mata Nana berkaca-kaca menerima perlakuan baik Mita. Ini sungguh diluar dugaannya. Dia mengira Mita akan menolak kehadirannya, tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Nana mengangguk mengiyakan perkataan Mita. Suaranya serasa tercekat tidak mampu berkata-kata. Dia merasakan pelukan yang sangat tulus dari Mita. Pelukan seorang Ibu yang sangat dia rindukan.
Arya dan yang lainnya ikut tersenyum melihat pemandangan didepan mereka. Tapi lain hal dengan Meisya yang hanya memasang wajah datarnya.
Bagaimanapun juga, Anakku tetap harus bahagia. Ucap Meisya memandang Acha yang ikut tersenyum.
Mita melepaskan pelukannya dari Nana dan memandang lekat mata Nana. "Tolong bahagiakan anak Mama, ya. Jika dia nakal pukul saja. Jika di berulah, bilang pada Mama. Biar Mama yang memberinya pelajaran," ucap Mita.
Nana tersenyum. "Terimakasih, Ma," ucap Nana.
Mita mengangguk sambil tersenyum lembut. "Sama-sama, Nak," ucap Mita.
"Ma, terimakasih sudah merestui Arya dan Nana," ucap Arya senang.
"Bagaimanapun juga, Mama adalah Mama kamu, Arya. Tidak ada seorang Ibu yang menolak kebahagiaan Anaknya," ucap Mita lembut.
__ADS_1
Arya tersenyum senang mendengar perkataan Mamanya. Sedangkan Nana hanya tersenyum lirih menertawakan nasibnya. Nana memandangi Meisya yang duduk di sebelah Mita dengan pandangan sendu. Sedangkan yang dipandang asik memperhatikan Acha.
Bahkan Mama tidak menoleh sedikitpun kepada Nana. Batin Nana mengasihani nasibnya.
.....
Kini Nana dan Arya sudah berada di kamar Arya. Nana memperhatikan setiap sudut kamar dengan nuansa hitam dan abu-abu tersebut. Sangat rapi dan bersih. Sangat mencerminkan bagaimana Arya sehari-hari yang suka kebersihan.
"Sayang," ucap Arya yang baru keluar dari kamar mandi dan memeluk Nana dari belakang.
Tangan Nana mengusap lembut tangan Arya yang melingkar diperutnya. "Iya, Mas," ucap Nana.
"Kita tinggal di apartemen saja, Ya. Di sana lebih leluasa," ucap Arya.
"Mas, kita ikut kemauan Mama buat tinggal disini aja, ya," ucap Nana. Tadi setelah mereka mendapat restu Mita, Mita memang meminta Nana dan Arya untuk tetap tinggal di rumah ini.
"Kamu yakin, Sayang?" ucap Arya.
Nana mengangguk. "Aku ingin merasakan bagaimana memiliki keluarga yang utuh, Mas," ucap Nana sendu.
Arya membalikkan badan Nana dan mengecup kedua mata Nana yang sudah berair. "Jangan merasa sendiri, Sayang. Sekarang ada aku di hidup kamu," ucap Arya lembut.
Nana tersenyum. "Terimakasih banyak, Mas," ucap Nana.
"Oiya, Mas, pakaian aku masih dirumah," ucap Nana saat teringat bahwa semua pakaiannya masih berada dirumahnya. Ini saja adalah pakaian yang tadi dibelikan oleh orang suruhan Arya.
Arya membawa Nana ke walk in closet, dia menunjukan sebuah lemari kaca yang penuh dengan pakaian dan perlengkapan wanita. "Itu semua untuk kamu, Sayang," ucap Arya.
Mulut Nana menganga melihat semua ini. Pakaiannya dirumah saja tidak sampai sebanyak ini. "Mas, ini berlebihan," ucap Nana.
"Tidak ada yang berlebihan jika untuk istriku," ucap Arya.
"Tapi kapan kamu mempersiapkan semuanya, Mas?" tangan Nana heran.
"Malam saat kita menikah. Gilang menyiapkan segalanya, Sayang," ucap Arya.
"Wah, Pak Gilang memang yang terbaik," ucap Nana memuji Gilang.
Wajah Arya berubah kesal mendengar perkataan Nana. "Gilang juga menyuruh anak buah kami, Sayang. Duitnya semua dari aku," ucap Arya kesal.
Nana sadar akan apa yang dia katakan. Sedetik kemudian dia tersenyum melihat wajah masam Arya. "Tapi tetap suami aku yang nomor satu," ucap Nana mengecup sekilas pipi Arya.
__ADS_1
"Gemesin banget si," ucap Arya mencubit pelan hidung Nana.
Ditengah kegiatan mereka, suara mungil Freya mengalihkan pandangan Arya dan Nana.
"Aunty Balbi," pekik Freya senang melihat Aunty kesayangannya.
Nana merentangkan tangannya. Freya yang mengerti langsung berlari dan masuk dengan sempurna kedalam pelukan Nana.
"Aunty, kata Mama Aunty akan tidul disini?" tanya Freya dengan mata berbinar senang.
Nana mengangguk menjawab pertanyaan Freya. "Yeay, berarti Freya bisa tidur bareng Aunty," ucap Freya girang.
"NO!" tolak Arya tegas.
"YES!" ucap Freya tak kalah tegas dengan mata melotot kepada Arya. Bukannya menakutkan, Freya nampak sangat menggemaskan.
"Aunty itu istrinya Uncle, jadi harus tidur berdua dengan Uncle. Freya tidur sendiri di kamar," ucap Arya.
Freya beralih menatap Nana. "Aunty, Freya boleh tidur bareng Aunty kan?" tanya Freya.
Nana mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan Freya.
"Sayang," rengek Arya tidak setuju dengan perkataan Nana.
"Wle," ucap Freya menjulurkan lidahnya meledek Arya.
Arya hanya mendengus kesal melihat tingkah keponakannya itu. Waktunya dengan Nana benar-benar akan berkurang karena gadis kecil ini.
.....
Sedangkan di kamar Acha, nampak Meisya sedang membujuk Acha yang tidak ingin makan. Semenjak hamil, nafsu makan Acha bener-benar hilang.
"Sayang, makan dulu, yuk. Kamu harus isi tenaga untuk anak kamu, Sayang," ucap Nana lembut.
"Acha nggak nafsu, Ma. Mual," ucap Acha menolak.
Aku harus manfaatkan ini untuk mendekatkan Arya dan Acha. Batin Meisya senang.
"Yasudah, kamu tunggu disini. Mama keluar sebentar, ya," ucap Meisya.
"Jangan lama, Ma," peringat Acha.
__ADS_1
Meisya mengangguk dan segera keluar dari kamar Acha.
......................